SD Mubara Sleman Lepas 53 Siswa Kelas VI Tahun Ajaran 2024/2025

Sleman – SD Muhammadiyah Banyuraden (Mubara), Gamping, Sleman, menggelar acara pelepasan dan serah terima 53 siswa kelas VI tahun ajaran 2024/2025 pada Sabtu (14/6/2025). Acara digelar di Auditorium Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJAYA) Yogyakarta.

Acara dihadiri oleh Ketua PCM Gamping Muhaimin, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PCM Gamping Amroni Supriyadi, Ketua PCA Gamping Zuliana Rosyida, Ketua PRM Banyuraden Luswikantoro Haris, Ketua PRA Banyuraden Wijayanti, serta Kapala Padukuhan Somodaran dan Dukuh, yakni Hadi Istanto dan Amin Ahmadi.

Kepala SD Mubara, Maria Ulfa, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas pencapaian para siswa dan mengapresiasi kerja keras mereka selama enam tahun menempuh pendidikan dasar.

“Tetaplah menjadi pribadi yang berakhlak baik, menjaga etika, dan mandiri. Melangkahlah ke jenjang berikutnya dengan percaya diri dan semangat tinggi,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan iman dan ilmu sebagai bekal masa depan, serta berpesan agar silaturahmi antara alumni, orang tua, dan pihak sekolah tetap terjaga.

“Kami berterima kasih kepada orang tua siswa yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada SD Mubara. Bimbingan orang tua tetap dibutuhkan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter,” ujarnya.

Acara pelepasan ini menjadi momen penuh haru dan kebanggaan bagi para siswa, guru, dan wali murid sebagai penutup manis perjalanan pendidikan dasar. (Athiful/KIM Depok)




DPRD Kota Palu Belajar Inovasi Kelola Air Hujan ke SAH Banyu Bening Sleman

Sleman – Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening di Tempursari, Sleman, kembali menjadi sorotan nasional. Pada Sabtu (14/6/2025), lembaga pendidikan lingkungan ini menerima kunjungan kerja dari anggota DPRD Kota Palu, Sulawesi Tengah, yang ingin menggali praktik baik pengelolaan air hujan sebagai solusi krisis air bersih.

Kunjungan ini dipimpin Mutmainah Korona, anggota Komisi A DPRD Kota Palu. Ia mengungkapkan bahwa pascabencana gempa dan tsunami 2018, Kota Palu menghadapi persoalan serius terkait air bersih, terutama akibat rusaknya sumber air tanah dan intrusi air laut di wilayah pesisir.

“Kunjungan ini bukan sekadar formalitas. Kami ingin melihat langsung inovasi yang bisa diterapkan di daerah kami,” ujar Mutmainah.

SAH Banyu Bening dinilai berhasil mengembangkan sistem pemanenan dan pemurnian air hujan yang edukatif dan efisien. Air hujan tidak hanya dimanfaatkan, tetapi juga menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran lingkungan berbasis aksi nyata.

Selama kunjungan, rombongan DPRD Kota Palu melihat langsung proses pemanenan air hujan, mulai dari penampungan di atap bangunan, penyaringan, hingga penyimpanan di reservoir. Mereka juga berdiskusi dengan pengelola dan komunitas lokal yang terlibat dalam sistem ini.

Sri Wahyuningsih, pendiri SAH Banyu Bening, menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam keberhasilan sistem ini.

“Air hujan adalah berkah yang sering diabaikan. Padahal di tengah krisis air tanah dan perubahan iklim, hujan bisa menjadi harapan,” jelas Wahyuningsih.

Tak hanya sistem teknis, DPRD Kota Palu juga tertarik pada model kolaborasi SAH Banyu Bening dengan perguruan tinggi, LSM, dan pemerintah daerah. Pendekatan ini memungkinkan pengembangan inovasi secara berkelanjutan tanpa harus bergantung pada satu sumber anggaran.

Menurut Mutmainah, sistem pengelolaan air hujan bisa menjadi alternatif nyata bagi Kota Palu, menggantikan metode yang selama ini mengandalkan pengeboran atau distribusi air kemasan yang mahal dan tidak ramah lingkungan.

“Dengan curah hujan yang cukup tinggi, sistem ini sangat mungkin kami adopsi, tentu dengan penyesuaian kondisi sosial dan geografis kami,” tambahnya.

Kunjungan ini membuka harapan baru bagi wilayah pesisir seperti Palu untuk membangun ketahanan air secara mandiri, murah, dan ramah lingkungan. Dari Sleman, semangat gotong royong dan keberanian mencoba yang ditunjukkan SAH Banyu Bening menginspirasi solusi konkret yang bisa menjawab tantangan air bersih lintas daerah. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Dosen UII: Belajar Menulis ya dengan Menulis

Sleman – Menulis bukanlah bakat, melainkan keterampilan yang bisa dipelajari oleh siapa pun. Demikian disampaikan M. Husnaini, Dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dalam webinar “Pelatihan Pra-Penulisan Buku Kisah-Kisah Menggugah Kader Mubaligh di Pelosok Negeri” yang diselenggarakan oleh DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Sabtu (14/6/2025).

“Menulis itu mudah dan bisa dipelajari. Syaratnya cuma satu, mulai menulis,” tegasnya.

Husnaini menjelaskan bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa paling kompleks setelah berbicara, mendengar, dan membaca. Menulis bahkan disebutnya sebagai keterampilan puncak yang mencerminkan intelektualitas seseorang.

“Dengan menulis, seseorang telah memilih jalan menjadi manusia berguna. Ia belajar berpikir runtut, kritis, dan sistematis,” ujarnya.

Menurut doktor jebolan International Islamic University Malaysia (IIUM) itu, kemampuan berpikir sistematis sangat penting, terutama bagi kader IMM dan kalangan akademisi. Sayangnya, banyak orang yang mampu berbicara panjang lebar, namun kesulitan menuangkannya dalam tulisan.

Dalam pelatihan tersebut, Husnaini membagikan beberapa kiat praktis menulis yaitu, pertama tentukan objek tulisan secara jelas dan spesifik. Berikutnya adalah dengan memulai dari hal yang mudah dan kita kuasai. Terakhir, jangan mengedit sebelum tulisan selesai.

“Kesalahan umum penulis pemula adalah terlalu cepat mengedit sebelum selesai menulis. Akibatnya, tulisan tak pernah rampung,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menulis adalah aktivitas berbagi gagasan. Untuk itu, seorang penulis harus menjadi pembaca yang tekun agar punya banyak “isi” untuk dibagikan.

Mengakhiri pemaparannya, Husnaini menegaskan bahwa nelajar menulis itu seperti belajar berenang. “Tidak cukup hanya teori. Harus langsung praktik,” tegasnya. (Athiful/KIM Depok, Foto: Freepik)




Perkuat Peran Relawan Sosial, Sleman Segarkan Kepengurusan IPSM Seyegan

Sleman – Dinas Sosial Kabupaten Sleman menggelar Rapat Koordinasi Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) pada Jumat (13/6/2025) di Aula Lantai II Kantor Kapanewon Seyegan. Kegiatan ini melibatkan para PSM yang didampingi oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Tenaga Pendamping Sosial Kalurahan (TPSK), serta dihadiri Kepala Jawatan Sosial Kapanewon.

Dalam sambutan pengarahannya, Subagyo Rahayu, Kepala Seksi Sosial Kapanewon Seyegan, menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang selama ini menjadi garda terdepan dalam pelayanan kesejahteraan sosial.

“Ketugasan PSM sangat krusial. Mereka memahami kondisi wilayah, termasuk data kemiskinan, stunting, dan dinamika kasus penyakit seperti DBD. Maka, keberadaan lembaga yang mewadahi PSM, seperti IPSM, menjadi penting untuk diperkuat,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, juga dilakukan penyegaran kepengurusan Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) tingkat Kapanewon Seyegan, mengingat selama ini keberadaannya belum resmi.

Sementara itu, Sri Handayani dari Dinas Sosial Sleman, menyoroti pentingnya pendataan PSM yang lebih akurat dan terkini. Ia menyampaikan bahwa data yang tidak update kerap menjadi kendala dalam pelaksanaan bimbingan teknis (bimtek) atau pelatihan.

“Data PSM yang valid sangat penting untuk perencanaan pelatihan, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam penentuan peserta,” ujarnya.

Sri juga menjelaskan perbedaan mendasar antara Pekerja Sosial Profesional (Peksos) dan PSM dari segi latar belakang, status, dan kewenangan. Meski berbeda, keduanya saling melengkapi dalam sistem pelayanan kesejahteraan sosial.

Pada sesi berikutnya, Okta, TKSK Seyegan, mengajak para TPSK untuk memperbarui data PSM di masing-masing kalurahan sebagai bagian dari verifikasi. Ia juga memaparkan rencana pembentukan Kelompok Masyarakat (Pokmas) Lansia, yang akan menjalankan program permakanan bagi lansia, terutama lansia tunggal yang hidup sendiri.

“Melalui Pokmas Lansia, kami ingin memastikan kebutuhan gizi para lansia terpenuhi, sekaligus melibatkan masyarakat sekitar dalam penyediaan dan pendampingan,” jelas Okta.

Program ini dirancang agar PSM dapat berperan aktif dalam manajemen kegiatan, mulai dari pengadaan bahan makanan, memasak, hingga mendampingi lansia. Ibu rumah tangga di sekitar pun dapat dilibatkan sebagai juru masak atau pengantar makanan.

Program permakanan ini akan dievaluasi secara berkala oleh Dinas Sosial untuk menjaga kualitas layanan dan memastikan ketepatan sasaran.

Rapat koordinasi ditutup dengan diskusi terbuka dan pemilihan pengurus baru IPSM Kapanewon Seyegan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Suling Muhammadiyah Ngemplak, Pererat Ukhuwah dan Keilmuan

Ngemplak – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ngemplak kembali menggelar kegiatan Shubuh Keliling (Suling) pada Sabtu (14/6/2025), bertempat di Masjid Al Hidayah Krajan, Wedomartani. Kegiatan yang dimulai sejak pukul hingga WIB ini bertujuan mempererat ukhuwah dan meningkatkan keilmuan warga Muhammadiyah se-Kecamatan Ngemplak.

Kegiatan diawali dengan shalat Shubuh berjamaah dan dilanjutkan kajian pagi oleh Ustadz H. Drs. Sudarto, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman. Dalam kajiannya, Ustadz Sudarto menyampaikan pentingnya semangat hijrah dan memahami sejarah tahun Hijriyah sebagai pondasi keilmuan dalam menjalani kehidupan.

Ia juga menyampaikan sembilan kebiasaan emas yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk pribadi Muslim yang unggul dan produktif.

Setelah kajian, jamaah melanjutkan dengan shalat Dhuha (Shuruq) dan menikmati sarapan bersama berupa soto. Dalam momen tersebut, LazisMu Ngemplak turut membagikan paket sayuran kepada peserta sebagai bentuk kepedulian dan semangat berbagi.

Ketua PCM Ngemplak menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat mempererat silaturahmi antarlembaga dan warga, serta memperkuat basis keilmuan warga Muhammadiyah.

“Kami berharap acara ini menjadi ajang mempererat ukhuwah dan menambah keilmuan bersama,” ujarnya.

Acara terbuka untuk seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar. Selain warga jamaah masjid, kegiatan ini juga dihadiri sesepuh Muhammadiyah, anggota PCM dan PCA Ngemplak, serta perwakilan dari berbagai amal usaha dan organisasi otonom Muhammadiyah.

Kegiatan ini rutin digelar sebagai bagian dari upaya PCM Ngemplak membangun semangat kebersamaan dan pembinaan keislaman berbasis jamaah. (Arief Hartanto/KIM Turi)