GP Ansor Turi Teguhkan Integritas Kader dalam Konferancab 2025

Sleman – Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kapanewon Turi digelar pada Minggu (15/6/2025) di lingkungan Masjid Baitussalam, Bangunkerto, Sleman. Forum ini menegaskan kembali pentingnya integritas sebagai nilai utama kader dalam pengabdian kepada bangsa dan umat.

Dalam forum tersebut, Muamar Hidayat ditetapkan sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Turi masa khidmat 2025–2028. Penetapan dilakukan oleh Muhammad Amin Ismanto selaku Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Akreditasi Pimpinan Cabang GP Ansor Sleman, disaksikan Sekretaris PC GP Ansor Sleman, Taufiq Arif Mulyadi.

Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap peran GP Ansor sebagai organisasi kepemudaan berbasis nilai keagamaan dan kebangsaan. Ia berharap kader GP Ansor Turi mampu menjadi pemimpin muda yang berintegritas, adaptif terhadap zaman, dan aktif dalam pembangunan sosial.

“Mari jadikan forum ini sebagai momentum memperkuat komitmen organisasi dan melahirkan program kerja yang responsif terhadap kebutuhan umat dan bangsa,” ujar Danang.

Sekretaris PW GP Ansor DIY, Lilik Budi Hartanto dalam sambutannya menegaskan bahwa integritas merupakan fondasi utama gerakan Ansor. “Bergerak tanpa pamrih, bekerja dengan hati, itulah wujud dari integritas kader,” ucapnya.

GP Ansor Turi yang berada di wilayah lereng Merapi diharapkan dapat menyusun program strategis yang menyentuh isu-isu lokal seperti mitigasi bencana, pemberdayaan ekonomi kader, pendidikan keagamaan, dan penguatan peran pesantren. Sinergi dengan Badan Otonom NU, pemerintah, dan sektor lainnya disebut sebagai kunci penguatan gerakan.

Konferancab ini tidak hanya menjadi ajang regenerasi kepemimpinan, tetapi juga penegasan bahwa integritas kader adalah modal utama dalam menghadapi tantangan zaman. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Wayang Kristal, Dari Sampah Jadi Karya Bernilai Tinggi

Sleman — Limbah botol plastik bekas air mineral di tangan Sardi Beib (66), warga Sleman, berubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Ia menciptakan wayang kristal, jenis wayang unik yang dibuat dari bahan plastik daur ulang, dan kini diminati banyak kolektor serta pegiat seni.

Karya ini dipamerkan saat acara Pencanangan Gerakan Sejuta Biopori yang digelar di Lobi Utara Sekolah Pascasarjana UGM Yogyakarta, Minggu (15/6/2025).

“Wayang ini muncul dari ide saat pandemi, ketika semua aktivitas berhenti. Saya mulai bereksperimen menggunakan sampah plastik, terutama botol air mineral,” ujar Sardi. Ia menambahkan, satu wayang memerlukan sekitar empat botol, tergantung ukuran.

Berbeda dengan pembuatan wayang kulit yang menggunakan tatah dan palu, wayang kristal hanya membutuhkan solder listrik yang telah dimodifikasi. Proses ukirnya pun tidak menembus bahan, melainkan hanya berupa goresan halus di permukaan plastik.

“Dengan solder modifikasi, proses jadi lebih mudah dan hasilnya halus. Ornamen dibuat seperti digores, bukan ditatah seperti kulit,” jelasnya.

Meski berbahan dasar sampah, harga wayang kristal bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sardi sendiri tidak mematok harga tetap. Konsumen biasanya menilai berdasarkan keunikan dan kerumitan ornamen.

“Satu wayang bisa dihargai Rp200 ribu hingga tak terhingga, tergantung kehalusan dan ukuran,” kata Sardi yang merupakan lulusan SMK Pertambangan.

Menariknya, Sardi tidak menyimpan ilmunya untuk diri sendiri. Ia membuka sanggar bagi siapa pun yang ingin belajar. Bahkan, ia menyediakan tutorial gratis di media sosial.

“Saya percaya ini anugerah dari Yang Maha Kuasa. Saya ingin berbagi agar sampah bisa jadi sumber penghasilan,” ungkapnya.

Proses pembuatan dimulai dari mencuci botol plastik, memotong dan membelahnya, lalu memanaskannya dengan setrika hingga berbentuk lembaran. Setelah itu, gambar pola wayang diterapkan, lalu proses ukir dilakukan. Jika dikerjakan penuh, satu wayang bisa selesai dalam sehari.

Selain membuat, Sardi juga sering tampil sebagai dalang dalam pertunjukan wayang kristal, terutama saat pameran atau undangan komunitas bank sampah.

“Pentas akan lebih menarik saat malam, dengan pencahayaan warna-warni yang membuat efek pendar dari plastik,” pungkasnya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Pasar Ngemplak, Simbol Kehidupan Sosial Tradisional yang Masih Bertahan

Sleman — Terletak di Padukuhan Kadiluwih, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Pasar Ngemplak masih berdiri sebagai pasar tradisional yang menjadi pusat interaksi sosial warga. Meski kecil dan jauh dari jalan raya, pasar ini menyimpan pesona khas pedesaan yang kian langka.

Pasar Ngemplak biasanya mulai buka sejak pagi dan kembali sepi menjelang pukul WIB. Jumlah pedagang saat ini tidak sampai 20 orang, termasuk yang berjualan di sebuah pendopo kecil tanpa meja, hanya menggelar dagangan di lantai.

“Dulu cukup ramai, bisa sampai 50 pedagang. Sekarang tinggal sekitar 15 orang, kalau hari libur bisa 20,” ujar Bu Eko, mantan pengurus pasar, saat ditemui Minggu (15/6/2025). Ia menambahkan bahwa pasar ini dikelola secara mandiri oleh para pedagang.

Menurut Bu Eko, berkurangnya aktivitas pasar disebabkan oleh tiga hal. Pertama, semakin banyak warung rumahan yang menyediakan barang dagangan lengkap. Kedua, menjamurnya pedagang keliling (eyek) yang datang langsung ke rumah-rumah warga. Ketiga, meredupnya perdagangan salak, yang dulunya menjadi komoditas utama pasar ini.

Meskipun begitu, Pasar Ngemplak tetap menjadi tempat jual beli hasil bumi lokal seperti sayur mayur segar, pisang, singkong, tempe, ikan asin, bumbu dapur, dan jajanan tradisional. Bahkan, ada pola ekonomi sirkular sederhana di pasar ini.

“Misalnya, tetangga menjual singkong, dibeli tetangga lain, diolah menjadi jajanan, lalu dijual kembali di sini,” jelas Bu Eko.

Suasana pasar ini khas dan penuh keakraban. Penjual dan pembeli sudah saling mengenal, proses tawar-menawar berlangsung singkat, dan diselingi obrolan hangat seputar kabar warga. Interaksi seperti ini menjadi hal yang tak bisa ditemukan di pasar modern.

Warga berharap pasar ini terus bertahan sebagai ruang sosial sekaligus simbol kearifan lokal yang tetap hidup di tengah modernisasi. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)




Menuju Sejuta Biopori, Upaya Nyata Menjaga Lingkungan

Sleman — Gerakan Sejuta Biopori resmi dicanangkan dalam kegiatan bertajuk Menuju Gerakan Sejuta Biopori yang digelar di Lobi Utara Sekolah Pascasarjana UGM, Pogung Lor, Sinduadi, Mlati, Sleman, pada Minggu (15/6/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kolektif untuk mengatasi persoalan sampah dan krisis lingkungan melalui perubahan perilaku masyarakat.

Dalam sambutannya, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya pendekatan perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah.

“Penanganan sampah seperti menangani penyakit. Kita tidak hanya mengatasi gejalanya, tapi juga harus menyelesaikan penyebabnya. Salah satunya adalah perilaku masyarakat yang masih abai,” ujarnya.

Hasto menambahkan, berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, termasuk pengelolaan sampah organik menggunakan teknologi seperti komposter, ember tumpuk, dan biopori. Salah satu solusi strategis yang terus didorong adalah pemanfaatan bank sampah.

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Yogyakarta menyerahkan peralatan pembuatan biopori secara simbolis sekaligus menandatangani deklarasi pencanangan Gerakan Sejuta Biopori.

Sekretaris Perkumpulan Bank Sampah DIY, Erwan Widiyanto, turut mengapresiasi kegiatan ini. Ia menyoroti pentingnya pemahaman yang benar mengenai teknologi biopori.

“Selama ini masyarakat mengenal istilah biopori, tapi belum tentu memahami prinsip dan teknisnya dengan tepat. Perlu ada edukasi yang benar agar manfaat biopori benar-benar optimal,” katanya.

Untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar biopori, panitia menghadirkan langsung pencetus teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB), Ir. Kamir Raziudin Brata, ., Guru Besar Ilmu Tanah dari IPB. Dalam sesi pembelajaran, Kamir memaparkan fungsi utama biopori sebagai metode pengelolaan sampah organik sekaligus pengendali air hujan.

“Biopori bisa dibuat secara mandiri di rumah. Fungsinya bukan hanya mengurai sampah organik, tapi juga membantu menjaga cadangan air tanah dan mencegah banjir,” jelasnya.

Lubang biopori yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah akan menjadi ruang hidup bagi organisme tanah yang membantu proses penguraian. Teknologi ini dinilai sangat relevan diterapkan di kawasan perkotaan yang menghadapi persoalan drainase dan penumpukan sampah. (Kusnadi/KIM Berbah)




Sipajo, Wadah Silaturahmi Warga Palembang-Jawa di Sleman

Sleman — Perkumpulan Palembang Jowo (Sipajo) menggelar silaturahmi rutin di Rodjo Coffee Prawiro, Penen, Sendangadi, Mlati, Sleman, Minggu (15/6/2025). Kegiatan ini menjadi ajang temu kangen warga Palembang yang menikah dengan orang Jawa dan kini menetap di Sleman dan sekitarnya.

Silaturahmi ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Lantunan musik khas Jawa dan Palembang mengiringi pertemuan yang diwarnai dengan perbincangan dalam tiga bahasa: Jawa, Palembang, dan Indonesia. Ragam kuliner khas seperti pempek, pindang patin, gudeg, dan wedang jahe turut disajikan, mempererat keakraban antarpeserta.

Ketua Sipajo, Alpian, menyampaikan bahwa paguyuban ini telah berdiri selama belasan tahun dan terus berkembang. Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang profesi dan aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial di lingkungan masing-masing.

“Selain menjadi wadah silaturahmi, kami juga saling berbagi informasi dan mendukung kegiatan-kegiatan sosial,” ujarnya.

Alpian juga mengajak seluruh anggota untuk terus menjalin hubungan baik dengan masyarakat Yogyakarta.

“Kami berharap warga Sipajo dapat terus membaur dan bersosialisasi. Kita hidup di tanah yang ramah dan berbudaya, mari bersama-sama menjaga harmoni antarkultur,” katanya.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa perbedaan budaya bukanlah halangan, melainkan jembatan untuk membangun persaudaraan dan toleransi di tengah masyarakat yang beragam. (ESK/KIM DSN)