Serahkan Bantuan Baznas, Wabup Sleman Dorong Upaya Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Sleman

Sleman – Wakil Bupati Sleman yang sekaligus Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Sleman, Danang Maharsa menyerahkan bantuan logistik dan subsidi dana Baznas Sleman kepada lansia dan masyarakat penerima manfaat pada Selasa (17/6/2025) di Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman.

Adapun jumlah penerima manfaat terdiri dari lansia non produktif sejumlah 59 orang. Bantuan yang diberikan antara lain bantuan logistik sembako dan bantuan dana subsidi untuk kebutuhan sehari-hari.

Danang menyampaikan bantuan ini merupakan hasil sinergi dari Baznas Sleman dan Baznas DIY bersama Pemkab Sleman. Danang mengatakan ini merupakan salah satu bentuk komitmen Pemkab Sleman dan Baznas dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Semoga bantuan ini dapat membantu meringankan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari serta mengantisipasi resiko sosial di masyarakat,” ujar Danang.

Lebih lanjut, Danang menyampaikan bantuan ini akan terus disalurkan rutin dan berkesinambungan setiap tiga bulan kepada penerima manfaat. Ia berharap bantuan ini dapat meringankan pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Sementara itu, Wakil Ketua 4 Baznas DIY, Ahmad Luthfi mengatakan penanganan dan pengentasan kemiskisnan adalah bagian dari tugas utama Baznas dengan menyalurkan dana infaq dan zakat dari para muzaki.

“Dalam penanganan kemiskinan, Baznas bersinergi dengan pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Sleman. Untuk jumlah dan sasaran yang diberikan, Baznas menggunakan data dari pemerintah daerah sehingga bantuan tepat sasaran,” ujar Ahmad.

Lebih lanjut, bantuan yang diserahkan ini merupakan bantuan lansia seumur hidup. Ia menyampaikan, Baznas DIY menyalurkan total anggaran 452 juta yang dialokasikan di 5 kabupaten/kota se-DIY.




Tingkatkan Transparansi dan Partisipasi Masyarakat, Wakil Bupati Sleman Luncurkan Inovasi SINAR

Sleman – Guna meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat, Pemkab Sleman berkomitmen memanfaatkan teknologi informasi agar lebih mudah dioperasikan dan diakses oleh siapa saja. Salah satunya melalui inovasi SINAR atau Sistem Informasi Ngudi Aspirasi Masyarakat.

Inovasi SINAR ini diluncurkan oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa pada Selasa (17/6/2025), bertempat di Ruang Rapat Wakil Bupati Sleman. SINAR merupakan inovasi digital yang dikembangkan oleh Kapanewon Ngemplak sebagai upaya untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam siklus pembangunan daerah.

Muhammad Falak Susanto, selaku penggagas inovasi tersebut menyebut sistem ini berbasis website dan dirancang untuk menjadi sarana publikasi data pembangunan, ruang partisipatif masyarakat, sekaligus instrumen evaluasi program yang terbuka dan dapat diakses oleh siapa pun.

“Melalui SINAR Ngemplak, seluruh informasi terkait rencana dan realisasi pembangunan dipublikasikan dalam bentuk dokumen digital yang dapat diakses secara mudah di laman resmi Kapanewon,” jelasnya.

Tidak kalah terpenting, inovasi SINAR ini memberikan ruang yang lebih besar bagi masyarakat untuk terlibat secara aktif dalam proses pembangunan. Menurut Falak, masyarakat tidak hanya sebagai penerima kebijakan, tetapi juga sebagai mitra yang turut serta dalam merencanakan, memantau, dan mengevaluasi jalannya program pemerintah.

Sementara itu, Danang Maharsa mengapresiasi peluncuran inovasi SINAR yang diinisasi Kapanewon Ngemplak ini. Diharapkan dengan adanya SINAR ini dapat meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat dalam siklus pembangunan daerah, khusunya di Kapanewon Ngemplak serta dapat dikembangkan pada 17 Kapanewon di Kabupaten Sleman.

“Kita harus mampu beradaptasi dengan semakin majunya teknologi informasi, sehingga kita dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kita kepada masyarakat,” kata Danang.




TPN XII Sleman 2025 Dorong Guru Siapkan Generasi Tangguh Iklim

Sleman — Sebanyak 150 guru dari berbagai jenjang pendidikan di Kabupaten Sleman mengikuti Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII 2025 yang digelar di Afkaaruna Primary School, Senin (16/6/2025). Kegiatan ini menjadi forum penting bagi para pendidik untuk merumuskan strategi menyiapkan generasi tangguh menghadapi krisis iklim melalui pendidikan di ruang kelas.

TPN XII Sleman diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) DIY, bekerja sama dengan Guru Belajar Foundation, Kampus Guru Cikal, Dinas Pendidikan Sleman, dan Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY. Dukungan juga datang dari organisasi profesi guru lainnya seperti PGRI, AGPAII, dan Lingkar Dunia Belajar.

Para peserta yang berasal dari sekolah umum, madrasah, dan pesantren diajak untuk membangun perspektif bahwa isu lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab pendidikan. Anak-anak yang kini belajar di sekolah diyakini akan menjadi pemimpin masa depan yang harus siap menghadapi tantangan krisis iklim global.

Dalam diskusi panel, Kepala Dinas Pendidikan Sleman, Mustadi, dan Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, menyampaikan komitmen untuk mendorong integrasi pendidikan lingkungan di sekolah dan madrasah. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar upaya ini tidak berhenti sebatas seminar, tetapi terwujud dalam kurikulum dan praktik belajar-mengajar.

“Pendidikan harus adaptif dan kontekstual. Madrasah dan pesantren perlu menanamkan literasi lingkungan sebagai bagian dari nilai Islam rahmatan lil ‘alamin,” tegas Ahmad Bahiej.

Ketua PERGUNU DIY, Samsul Ma’arif Mujiharto, menyampaikan bahwa guru harus menjadi pelopor budaya peduli lingkungan. Menurutnya, pendidikan yang baik tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan karakter peduli terhadap keberlanjutan bumi.

Acara berlangsung interaktif melalui sesi diskusi yang dipandu Nur Jannah, dengan narasumber Nismatul Khoiriyah, ., . (Guru Berprestasi DIY) dan Sari Oktaviana, ., M.A. (Pengembang Kurikulum Nasional). Keduanya memantik semangat guru untuk mengembangkan kurikulum yang responsif terhadap isu lingkungan.

Ketua Panitia, Ahmad Faozi, berharap kegiatan ini meningkatkan kesadaran guru sebagai agen perubahan.

“Guru adalah garda terdepan dalam mengubah cara pikir generasi muda. Pendidikan iklim harus dimulai dari sekarang,” ujarnya.

TPN XII Sleman menjadi bukti bahwa pendidikan bisa menjadi jalan perubahan nyata. Dengan semangat gotong royong dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), para guru NU mengambil peran aktif dalam merawat bumi dan membentuk generasi masa depan yang lebih tangguh, berkarakter, dan peduli lingkungan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Combine Harvester Akan Permudah Proses Panen Para Petani di Kalitirto

Sleman — Para petani di Kalurahan Kalitirto, Berbah, kini mulai merasakan kemudahan panen berkat bantuan alat mesin pertanian (alsintan) Combine Harvester. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sedyo Manunggal menggelar tasyakuran atas diterimanya alat tersebut, Senin (16/6/2025), di kompleks Kantor Kalurahan Kalitirto.

Alat ini membawa perubahan besar dalam praktik pertanian lokal. Proses panen yang sebelumnya memakan waktu dan tenaga kini dapat dilakukan lebih cepat, efisien, dan dengan hasil yang lebih optimal. Selain mengurangi kerugian akibat kehilangan hasil saat panen manual, combine harvester juga meningkatkan kualitas gabah yang dipanen.

“Combine harvester sangat membantu petani. Dengan lahan seluas 257 hektare, alat ini bisa memangkas waktu panen hingga lebih dari separuhnya. Petani bisa hemat biaya, tenaga, dan hasilnya pun lebih bersih,” ujar Fitri Isnaini, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kalitirto.

Bantuan alsintan ini diperoleh melalui dukungan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman, serta aspirasi dari Anggota DPR RI, Siti Hediati Soeharto. Sebelum digunakan, petani akan mendapatkan bimbingan teknis agar dapat mengoperasikan alat sesuai standar.

Ketua Gapoktan Sedyo Manunggal, Maryoto, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan tersebut. Ia berharap alat ini dapat dimanfaatkan secara merata oleh seluruh anggota kelompok tani.

“Kami ingin memastikan alat ini membawa manfaat jangka panjang. Selain mempercepat panen, kami berharap kesejahteraan petani juga meningkat,” ujarnya.

Lurah Kalitirto, Arihadi, juga menekankan pentingnya pengelolaan alat secara kolektif dan bertanggung jawab. Ia berharap alsintan ini dapat menjadi pemicu modernisasi pertanian di Kalitirto.

Penggunaan combine harvester bukan sekadar soal kecepatan panen, tetapi juga transformasi menuju pertanian yang lebih maju. Dengan alat ini, petani bisa lebih fokus pada pascapanen, pengolahan hasil, hingga strategi pemasaran yang dapat membuka peluang peningkatan ekonomi dari sektor pertanian secara signifikan. (M.A. Sanusi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Tumbuhkan Jiwa Wirausaha Siswa Lewat Gelar Karya

Sleman — SMP Budya Wacana menggelar pameran hasil karya siswa bertema entrepreneurship atau kewirausahaan di Atrium Sleman City Hall, Senin (16/6/2025). Acara yang mengusung moto “Learn to Live, Live to Learn” ini menampilkan berbagai produk hasil pembelajaran ekstrakurikuler yang telah dijalani siswa selama satu tahun.

Pameran terbuka untuk umum dan dihadiri oleh orang tua, kerabat, serta pengunjung pusat perbelanjaan. Ratusan pengunjung tampak antusias melihat langsung karya dan produk kreatif para siswa. Mulai dari aneka makanan dan minuman, kerajinan tangan, aksesori, photobooth, hingga terapi kaki dengan ikan, batik, dan produk sibori dipajang menarik di setiap stan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Eva, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini.

“Kami ingin siswa terbiasa berpikir kreatif, menyusun rencana, dan mempresentasikan ide mereka dengan percaya diri,” ujarnya di sela acara.

Sebelum memulai usaha, setiap siswa diwajibkan menyusun proposal business plan yang mencakup uraian usaha, analisis pasar, strategi pemasaran, rincian produk, hingga proyeksi keuangan. Meskipun baru setahun meninggalkan bangku SD, para siswa mampu menyusun perencanaan bisnis dengan tampilan menarik dan sistematis.

Selain pameran produk, acara juga dimeriahkan oleh penampilan band siswa dan sesi berbagi pengalaman dari para alumni yang kini telah sukses. Dalam sesi tanya jawab, siswa menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan pertanyaan kritis kepada para pembicara.

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah batik dan sibori hasil karya siswa yang dipajang di stan khusus. Menurut Ermi, guru keterampilan batik dan sibori, sebanyak 116 produk ditampilkan dalam bentuk kain, kaus, dan hiasan berbingkai.

Gelar Karya ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter dan kewirausahaan bisa ditanamkan sejak dini. Para siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung menghadapi tantangan pasar. Mereka belajar merancang, memproduksi, memasarkan, dan menjual produk secara nyata.

Dengan semangat Live to Learn, Learn to Live, para siswa SMP Budya Wacana tengah menapaki kehidupan, belajar menjadi kreatif dan mandiri sejak usia muda. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)