Insan Utama IBS Gelar Haflah Akhirussanah, Launching Buku Perdana Santri

Sleman — Pondok Pesantren Insan Utama Islamic Boarding School (IBS) Yogyakarta menggelar Haflah Akhirussanah Santri Kelas IX Angkatan ke-2 di Cavinton Hotel Yogyakarta. Acara ini menjadi momen apresiasi atas capaian pendidikan 33 santri yang telah menyelesaikan masa belajarnya, Sabtu (21/6/2025).
Haflah secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Pondok Pesantren Kemenag Sleman, H. Achmad Fauzi, dengan pemukulan gong, disaksikan Panewu Gamping Suyanto, dan Kepala Sekolah Slamet Hadi Riyanto.
Momentum ini juga ditandai dengan peluncuran buku perdana karya santri berjudul “Sabitah”, diluncurkan oleh Muhammad Kamal Ihsan, Lc., M.A. Buku ini memuat kumpulan tulisan reflektif para santri sebagai rekam jejak pemikiran mereka selama menempuh pendidikan.
“Buku ini adalah ikhtiar kecil kami membangun generasi yang berpikir jernih, berbicara santun, dan menulis dengan nurani,” ujar Kamal.
H. Fauzi mengapresiasi karya tersebut, terutama kutipan santri Maulana Alfareza di halaman 67: “Setiap orang ada waktunya, dan setiap waktu ada orangnya.” Menurutnya, kalimat ini menyiratkan pentingnya kesiapan diri menyambut takdir terbaik yang akan datang pada waktunya.
Sementara itu, Ustaz Misko Bariandi, mewakili Yayasan Insan Utama Yogyakarta, menekankan pentingnya kurikulum tiga pilar yang menjadi ciri khas Insan Utama yaitu Al-Qur’an, Adab, dan Bahasa.
“Hafalan Al-Qur’an, pembiasaan adab, serta penguasaan bahasa Arab dan Inggris menjadi fondasi membentuk santri berdaya saing global,” jelas Bariandi.
Pada puncak acara, 33 santri menerima ijazah kelulusan yang diserahkan langsung oleh Kepala BPH Yayasan Insan Utama, Ustadz Suripta, didampingi kepala sekolah.
Lima santri menerima penghargaan lulusan terbaik adalah Maulana Arbiansyah (The Best Adab), Muhammad Rauf Malik Al Hakim (The Best Academic), Anas Abdurrahman Sholih (The Best Al-Qur’an), Muhammad Raihan Mubaroq (The Best English), dan Zaiq Al Mufid (The Best Arabic)
Acara berlangsung penuh khidmat dan haru, menjadi penanda akhir perjalanan belajar sekaligus awal kontribusi santri di tengah masyarakat.
“Semoga perpisahan ini menjadi ibadah yang memudahkan kita tetap bersujud dan bertakwa kepada Allah SWT,” pungkas Slamet Hadi Riyanto. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



