Gaungkan Stop KDRT Lewat Outbound, Edukasi Humanis untuk Keluarga Bebas Kekerasan

Sleman — Suasana penuh semangat menyelimuti Lapangan Sekar Tanjung, Cangkringan, Sabtu pagi (21/6/2025) saat sebanyak 43 ibu-ibu mengikuti kegiatan Outbound dan Sosialisasi Stop Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Acara ini diinisiasi oleh Pelopor Perdamaian (PORDAM) Kabupaten Sleman dan menggandeng Dinas Sosial Sleman serta Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Sleman.

Dengan mengusung tema “Cinta Tak Menyakitkan – Lawan KDRT, Lindungi Keluarga”, kegiatan ini menjadi inovasi pendekatan edukatif yang menyentuh hati dan menggugah kesadaran, khususnya bagi perempuan sebagai pilar ketahanan rumah tangga.

Setelah dibuka oleh tim PORDAM Sleman, para peserta langsung terlibat dalam sesi outbound. Berbagai permainan kelompok dirancang untuk menanamkan nilai komunikasi, kerjasama, dan saling menghargai, sebagai fondasi penting dalam membangun keluarga yang bebas dari kekerasan.

“Permainan ini bukan sekadar hiburan. Di balik tawa dan kebersamaan, kami sisipkan pesan tentang pentingnya menciptakan rumah sebagai ruang aman dan penuh kasih,” ujar salah satu fasilitator.

Kegiatan turut dihadiri oleh Sarastomo Ari Saptoto, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sleman, yang mengapresiasi metode pendekatan yang digunakan.

“Ini cara yang sangat efektif. Edukasi sosial semacam ini menyasar langsung pada komunitas, khususnya para ibu, yang perannya sangat strategis dalam mencegah dan mendeteksi dini potensi kekerasan di dalam rumah tangga,” jelasnya.

Dalam sesi materi, Banawa dari LK3 Sleman menyampaikan peran penting lembaganya dalam mendampingi keluarga, mulai dari konseling, konsultasi, hingga advokasi dan pemberdayaan. Ia menegaskan bahwa KDRT adalah bentuk pelanggaran hak asasi yang harus dilawan bersama.

“Perubahan besar tidak muncul tiba-tiba. Ia dimulai dari langkah kecil di dalam rumah kita sendiri. Dan hari ini adalah salah satu langkah itu,” tegas Banawa.

Sebagai penutup, seluruh peserta menuliskan dan menandatangani komitmen bersama STOP KDRT. Komitmen ini bukan hanya simbolis, melainkan peneguhan tekad kolektif bahwa rumah tangga harus menjadi ruang aman, bukan tempat kekerasan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model edukasi sosial yang replikatif, membuktikan bahwa edukasi bisa disampaikan secara ringan, menyenangkan, namun tetap bermakna dan berdampak. (ESK/KIM DSN)




Sanggar Banyu Bening Sleman: Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Menembus Dunia

Sleman — Merayakan enam tahun perjalanannya dalam membina generasi muda pecinta seni tari, Sanggar Banyu Bening Sleman menggelar peringatan hari jadi bertema “Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Mendunia”, Sabtu (21/6/2025) di Warung Mbah Bromo, Tempursari, Kapanewon Ngaglik.

Acara ini menjadi momentum reflektif sekaligus wujud rasa syukur atas konsistensi sanggar dalam menghadirkan karya-karya berestetika tinggi yang mengangkat seni tari sebagai sarana pembentukan karakter dan diplomasi budaya.

Kegiatan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Sri Wahyuningsih, pendiri sanggar. Ia juga memotong tumpeng nasi kuning sebagai simbol syukur dan harapan atas keberlanjutan karya. Dalam sambutannya, Wahyuningsih menuturkan bahwa perjalanan enam tahun sanggar penuh dengan dinamika.

“Estetika tidak lahir dari hal instan. Ia tumbuh dari kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus mencipta meski dalam keterbatasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seni tari bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga cermin perjalanan batin yang membentuk karakter dan semangat hidup anak-anak muda di tengah gempuran budaya digital.

Sementara itu, Elisabeth Panti, Koordinator Sanggar Banyu Bening Sleman, menegaskan bahwa sanggar tidak hanya menjadi ruang belajar menari, melainkan juga ruang tumbuh yang memadukan disiplin, ekspresi diri, dan cinta budaya lokal.

“Kami ingin menjadi ekosistem seni yang hidup dan relevan. Tidak hanya dalam panggung fisik, tapi juga menjelajah ke panggung digital,” jelas Elisabeth.

Rangkaian acara peringatan juga diisi dengan penampilan seni dari para siswa serta uji kompetensi tari sebagai bentuk apresiasi atas proses belajar yang telah dilalui. Kegiatan ini menjadi ruang validasi capaian sekaligus pemacu semangat untuk terus berkarya.

Peringatan ini juga menandai komitmen Sanggar Banyu Bening dalam melahirkan regenerasi seniman lokal, mendorong mereka untuk tampil percaya diri di hadapan publik serta menjadikan seni tradisi sebagai bagian dari dialog budaya global.

Dengan tema “Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Mendunia”, sanggar ini terus menegaskan identitasnya sebagai rumah kreatif yang merawat nilai-nilai luhur budaya Nusantara—bahwa lewat gerak, irama, dan dedikasi, seni tari Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung dunia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




150 Santri Ikuti Munaqosyah Gabungan TKA-TPA Minggir, Moyudan, dan Seyegan

Sleman — Sebanyak 150 santri dari berbagai Unit TPA di wilayah Kapanewon Minggir, Moyudan, dan Seyegan mengikuti Munaqosyah Santri 2025 yang digelar di PKBM Al Bayan Minggir, Minggu (22/6/2025). Kegiatan ini merupakan kolaborasi Badan Koordinasi TKA-TPA (Badko) Rayon Minggir–Moyudan–Seyegan dan menghadirkan 18 munaqisy (penguji) dari Badko TKA-TPA Kabupaten Sleman.

Munaqosyah menjadi ajang evaluasi akhir bagi para santri sebelum diwisuda. Adapun syarat mengikuti ujian ini adalah santri telah menyelesaikan Iqro’ Jilid 6, mampu tadarus minimal 5 juz Al-Qur’an, serta tertib dalam melaksanakan sholat lima waktu.

Dalam proses munaqosyah, santri diuji dalam beberapa aspek, meliputi membaca Al-Qur’an secara tartil, menghafal 15 doa harian, bacaan sholat, 2 ayat pilihan, dan 12 surat pendek

Ketua Panitia, Ustadz H. Barid Setiawan, , menyampaikan bahwa santri yang dinyatakan lulus akan mengikuti Wisuda Santri Kabupaten Sleman yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Juli 2025.

“Namun wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Santri tetap bisa melanjutkan ke jenjang TQA (Ta’limul Qur’an Lil Aulad) untuk memperdalam pembelajaran Al-Qur’an,” tegas Ustadz Barid.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para santri tidak hanya cakap secara bacaan, namun juga memiliki akhlak Qur’ani, disiplin ibadah, dan semangat belajar yang terus menyala. (Dian Navitri/KIM Seyegan)




Donor Darah hingga Edukasi Narkoba, BNNK Sleman Libatkan Komunitas dan Layanan Publik di Stadion Maguwoharjo

Sleman — Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman memanfaatkan momentum Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2025 untuk mendorong kesadaran publik dengan pendekatan yang lebih menyentuh masyarakat. Bertempat di Stadion Maguwoharjo, Minggu (22/6/2025), ratusan warga mengikuti kegiatan sosial yang mencakup donor darah, edukasi bahaya narkoba (P4GN), hingga deklarasi anti narkoba.

Bersama PMI Cabang Sleman dan berbagai komunitas seperti SC 234, Brionesia Jogja, IAS Jogja, dan Bro Sist Sportainment, kegiatan ini menyasar 860 orang untuk menerima edukasi terkait bahaya narkoba. Sebanyak 45 orang juga turut berpartisipasi dalam aksi donor darah.

Tak hanya itu, kegiatan ini terintegrasi dengan Car Free Day Polda DIY yang menyediakan berbagai layanan publik seperti pembuatan SKCK, perpanjangan SIM, dapur sosial, dan patroli Samapta berkuda.

Kepala BNNK Sleman, Kombes Pol Teguh Tri Prasetya, menekankan pentingnya partisipasi aktif masyarakat dalam perang melawan narkoba.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu bahayanya narkoba, tapi juga terlibat langsung menciptakan lingkungan yang bersih dan aman dari peredaran gelap,” ujarnya.

Kepala UPTD Stadion Maguwoharjo, M. Ganang Riswantoro Jati, turut menyatakan dukungannya terhadap kegiatan ini.

“Kegiatan seperti ini bukan hanya memberi manfaat langsung seperti donor darah, tetapi juga membangun kesadaran kolektif akan pentingnya hidup sehat dan bebas narkoba,” jelasnya.

Senada, Ketua Brionesia Jogja, Steven, juga mengajak komunitas lain untuk ikut bergerak. “Kami mendukung penuh dan siap bersinergi dengan BNNK Sleman untuk terus menghadirkan kegiatan positif dalam melawan narkoba,” katanya.

Melalui pendekatan kolaboratif dan partisipatif seperti ini, BNNK Sleman berharap semangat Sleman Sembada Bersinar (Bersih Narkoba) bisa menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari akar komunitas




Uji Kompetensi Sanggar Banyu Bening: Bukan Sekadar Tampil, Tapi Menumbuhkan Karakter

Sleman — Puluhan siswa dari berbagai usia tampil dalam Uji Kompetensi Kelas Menari Sanggar Banyu Bening Sleman di Warung Mbah Bromo, Ngaglik, Sabtu (21/6/2025). Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan, tetapi juga pembuktian proses belajar seni tari yang membentuk karakter.

Koordinator sanggar, Elisabeth Panti, menegaskan bahwa uji kompetensi ini lebih dari sekadar penilaian teknis.

“Kami menilai tanggung jawab, kepercayaan diri, dan sikap menghargai proses. Di dunia seni, hasil itu penting, tapi proses jauh lebih berharga,” ujarnya.

Para peserta dibagi ke dalam kelompok seperti Abimanyu 1 dan 2, Utari, Baladewa 1 dan 2, serta Srikandhi. Mereka menampilkan ragam tari tradisional seperti Tari Bebek, Golek Ayun-Ayun, Kridha Warataruni, hingga Candra Laksita. Penampilan dinilai oleh dua penguji profesional, Rosalia Haryati dan Farid Nur Ramadani, berdasarkan ekspresi, teknik, serta etika panggung.

“Keberanian tampil di depan umum adalah modal penting anak-anak saat ini, di tengah gempuran distraksi digital,” kata Rosalia.

Pendiri Sanggar Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, menyebut uji kompetensi sebagai bagian dari strategi keberlanjutan lembaga.

“Kami ingin siswa dan orang tua melihat bahwa proses belajar tari itu serius, terstruktur, dan membanggakan,” ujarnya.

Setelah penilaian, seluruh warga sanggar mengikuti sesi flashmob “Empat Kata Ajaib”, menegaskan semangat kebersamaan dan pendidikan karakter.

Uji kompetensi ini membuktikan bahwa pendidikan alternatif berbasis seni dan budaya bisa dilakukan dengan serius dan berdampak. Seni tari menjadi ruang belajar yang menyenangkan sekaligus sarana melestarikan budaya.

“Yang dibawa pulang bukan hanya nilai, tapi pengalaman panggung yang berharga. Ini ruang tumbuh yang sehat bagi generasi muda untuk mencintai budayanya dan tumbuh sebagai manusia utuh,” tutup Elisabeth. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)