Kemenko PMK Dorong Sinergi Nasional Pengurangan Risiko Bencana Kekeringan

Sleman – Dalam upaya memperkuat koordinasi dan sinkronisasi program pengurangan risiko bencana hidrometeorologi kering, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan kunjungan lapangan ke Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Minggu (22/6/2025).

Kunjungan ini dipimpin oleh Asisten Deputi Bidang Pengurangan Risiko Bencana Dinas Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, bersama jajaran, dan disambut hangat oleh pengelola sekolah, komunitas Banyu Bening, tokoh masyarakat, serta warga setempat.

Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan penampilan seni Tari Keluang Mas oleh anak-anak Sanggar Banyu Bening. Tarian ini membawa pesan kuat akan pentingnya pelestarian alam dan budaya lokal sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dalam sambutannya, Kamaludin, Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, menjelaskan bahwa gerakan ini bermula dari keresahan masyarakat pasca-erupsi Merapi 2010–2011. Namun dari krisis tersebut, lahir inovasi lokal: konservasi air hujan berbasis masyarakat.

“Keresahan itu menjadi titik balik. Gerakan panen air hujan kami lahir dari kesadaran kolektif untuk menjaga sumber daya air secara mandiri,” kata Kamaludin.

Sejak 2012, gerakan ini berkembang dari wilayah barat Merapi hingga perbatasan Yogyakarta–Jawa Tengah, dan bahkan mendapat perhatian langsung dari Presiden RI yang mengunjungi lokasi pada tahun 2019.

Diskusi bersama akademisi, termasuk Prof. Agus Maryono (UGM), memperkuat dasar ilmiah bahwa air hujan bila dikelola dengan tepat dapat menjadi sumber air utama yang sehat.

“Tidak ada air kemasan sekalipun yang bisa menandingi kemurnian air hujan,” tandas Kamaludin.

Tim komunitas juga mengajak hadirin merenung lewat filosofi air yaitu “Kalau 10 liter saja kita bawa, sudah berat. Tapi triliunan ton air digantung di langit oleh kekuatan-Nya. Itulah tanggung jawab kita—untuk tidak menyia-nyiakannya.”

Dalam sesi kunjungan, Andre Notohamijoyo menekankan bahwa gerakan lokal seperti Banyu Bening adalah contoh nyata dari solusi adaptif, inovatif, dan berbasis budaya dalam menghadapi bencana kekeringan.

“Sekolah Air Hujan ini bukan sekadar teknologi, tapi tentang kesadaran dan budaya baru dalam menghadapi krisis air dan perubahan iklim,” tegas Andre.

Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mendorong sinergi nasional dengan mengedepankan model berbasis masyarakat seperti ini dalam kebijakan pengurangan risiko bencana ke depan.

Kunjungan ini menjadi bukti bahwa solusi atas tantangan perubahan iklim tidak harus selalu bersifat top-down. Sebaliknya, ketika komunitas lokal diberdayakan dan pemerintah hadir sebagai mitra, maka lahirlah langkah-langkah konkret dan berdampak. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Enam Puluh Anak Ikuti Khitan Ceria di Berbah

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-113, LazisMu Berbah menggelar kegiatan Khitan Ceria yang berlangsung di SD Muhammadiyah Semoya, Tegaltirto, Berbah. Sebanyak 60 anak mengikuti khitan massal yang diadakan dengan penuh keceriaan dan kekeluargaan.

Dalam sambutannya, Zuhud Zuliyadi, Ketua Panitia Penyelenggara, mengucapkan terima kasih kepada para orang tua peserta yang telah mempercayakan putranya untuk dikhitan di kegiatan ini. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung suksesnya acara, di antaranya LazisMu Berbah, PKU Muhammadiyah Berbah, PKU Muhammadiyah Gamping, para donatur, PCM, PCA, PRM & PRA Tegaltirto, KOKAM, AMM, SD Muhammadiyah Semoya, Jaga Warga, dan Pemuda Kampung Semoya.

“In syaa Allah, semua dukungan ini menjadi ladang amal yang mendapat ridha Allah SWT,” ujarnya.

Ketua LazisMu Berbah, Ardi Sahemi, yang juga mewakili Ketua PCM Berbah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan realisasi dari enam pilar program LazisMu yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dakwah, kemanusiaan, dan lingkungan.

“Khitan Ceria bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bentuk dakwah dan syiar ukhuwah. Ini menjadi sarana silaturahmi antara donatur, dermawan, dan muzaki. Semoga anak-anak yang dikhitan kelak menjadi generasi sholeh, kader umat dan kader Muhammadiyah,” ucap Ardi.

Acara dibuka secara resmi oleh Murjiyanta, ., Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Berbah, mewakili Panewu Berbah. Ia menyampaikan bahwa peristiwa khitan adalah momen yang akan dikenang seumur hidup, serta menekankan pentingnya optimalisasi fungsi masjid dan musholla dalam pemberdayaan masyarakat.

“Masjid jangan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial dan ekonomi umat. Dana yang dikelola hendaknya juga dialokasikan untuk membantu jamaah yang kurang mampu,” pesannya.

Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi, tidak hanya dari warga Berbah, namun juga dari luar wilayah, termasuk peserta dari Magelang dan Klaten. Hal ini menunjukkan luasnya jangkauan dan kepercayaan masyarakat terhadap kiprah sosial Muhammadiyah Berbah. (M.A. Sanusi – KIM Tirto Gumregah Berbah)




Sarat Nilai Adat dan Budaya, Merti Dusun Tegal Gentan Margoagung Jadi Wujud Syukur dan Pelestarian Tradisi

Sleman – Dalam upaya melestarikan warisan budaya leluhur, Padukuhan Tegal Gentan, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan menggelar Merti Dusun selama sepekan, dari tanggal 15 hingga 22 Juni 2025, bertempat di halaman Dukuh setempat. Rangkaian kegiatan berlangsung meriah, sarat makna, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Kegiatan diawali dengan senam dan jalan sehat (15/6), dilanjutkan dengan pengajian akbar oleh KH. Rohmat Asrofi (19/6), pentas seni jathilan Mekar Budaya (21/6), dan ditutup dengan kirab budaya serta pagelaran wayang kulit oleh Ki Sigit Subagio (22/6) yang menjadi puncak acara.

Kirab budaya yang digelar pada hari terakhir menjadi magnet utama. Acara dilepas oleh Carik Margoagung, Aditya Arif Permana, dan diterima secara simbolis oleh Joko Saptono, mewakili Kundha Kebudayaan (Dinas Kebudayaan) DIY.

Peserta kirab terdiri dari berbagai unsur warga, membawa gunungan hasil bumi, padi, makanan kemasan, hingga perabot rumah tangga, yang semuanya diiringi oleh berbagai bregada (pasukan adat) dari padukuhan sekitar. Di antaranya, Bregada Tegal Gentan bersama Paguyuban RW 17 dan 18, Bregada Randu Alas, Bregada Kuntul Wilanten, Bregada Brojoguno (Watukarung), Bregada Dadap Srep (Nganggrung), Bregada Bregas (Ngino), hingga penampilan ogoh-ogoh dari Padukuhan Somorai yang menambah kemeriahan kirab.

Para ibu dan anak-anak ikut serta membawa gunungan secara simbolis, menunjukkan semangat gotong royong lintas generasi.

Dalam sambutannya, Joko Saptono menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Tegal Gentan atas komitmennya dalam merawat tradisi.

“Merti Dusun berasal dari kata ‘merti’ yang berarti merawat. Ini adalah bentuk syukur kepada Tuhan atas nikmat hasil bumi, kesehatan, dan ketentraman masyarakat. Semangat gotong royong seperti inilah yang akan menguatkan kita dalam membangun masyarakat yang tertib, sejahtera, dan beradab,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Margoagung yang dinilai berhasil membimbing warganya untuk menata lingkungan dan budaya secara harmonis.

Merti Dusun Tegal Gentan tak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan dan menjaga identitas lokal di tengah perubahan zaman. Semangat gotong royong dan pelibatan seluruh lapisan masyarakat menjadikan kegiatan ini sebagai ruang hidup tradisi yang relevan dan membumi. (Sulistyono/KIM Seyegan)




PMI Depok Hadirkan Semangat Kemanusiaan di Turnamen Tenis Pandoyono 2025

Sleman — Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Depok turut memeriahkan Turnamen Tenis Pandoyono 2025 yang digelar pada 20–22 Juni di GOR Tenis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Turnamen ini mempertemukan para pecinta tenis dari kalangan akademisi, ASN, swasta, hingga komunitas olahraga dari berbagai daerah di Indonesia.

Lebih dari sekadar ajang olahraga, turnamen ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penghormatan bagi mendiang Pandoyono, tokoh olahraga dan pegiat kemanusiaan asal Minggir, Sleman.

PMI Depok mengambil peran aktif dengan membuka posko layanan kesehatan, pertolongan pertama, serta menyampaikan edukasi ringan tentang kesehatan dan pentingnya donor darah sukarela.

“Kami tidak hanya hadir saat bencana. Di ruang-ruang komunitas seperti ini pun, PMI berkomitmen hadir membangun solidaritas,” ujar Adi Yananta, anggota Tim Siaga Relawan (TSR) PMI Depok.

Momentum ini juga dimanfaatkan PMI untuk memperluas jaringan relawan dan memperkuat kampanye donor darah di kalangan masyarakat aktif dan pecinta olahraga. Respons positif ditunjukkan oleh para peserta dan pengunjung atas kehadiran PMI yang responsif dan bersahabat.

Turnamen Pandoyono 2025 ditutup pada Minggu (22/6/2025) dengan final yang disaksikan berbagai tamu undangan, termasuk perwakilan PMI dari daerah lain. Kegiatan ini mempertemukan sportivitas, kebersamaan, dan semangat kemanusiaan dalam satu arena. (Adi Yananta/KIM Depok)