Dari Kos Sempit ke Pasar Internasional: Jendela Kacamata Buka Peluang dari Sleman ke Dunia

Sleman — Ketekunan, semangat belajar, dan konsistensi menjadi kunci sukses Abqoriyyin Hisan, pemilik brand Jendela Kacamata, yang kini menembus pasar internasional hingga Malaysia, Singapura, Jeddah, dan Arab Saudi.
Tak banyak yang tahu, bisnis ini berawal dari kamar kos sempit di Condongcatur, Depok, Sleman. Di sela-sela kuliah, dengan modal minim bahkan tanpa tabungan, Hisan mulai merintis usaha kacamata. Berbekal tekad kuat, ia belajar otodidak dari internet dan mengikuti kursus singkat dunia optik dan pemasaran.
“Modal saya cuma nekat dan semangat. Saya belajar otodidak, cari kursus, dan terus mencoba,” ungkap Hisan, saat ditemui di gerai Jendela Kacamata, Senin (30/6/2025).
Nama Jendela Kacamata sendiri lahir dari filosofi yang ia resapi saat nyantri di Pesantren Al-Ishlah. Jika buku disebut sebagai jendela dunia, maka kacamata ia maknai sebagai alat pembuka pandangan—secara visual maupun batiniah.
Kini, Jendela Kacamata tidak hanya menyediakan kacamata minus, plus, silinder, tetapi juga sunglasses, lensa blueray dan bluecromic, yang mengikuti tren gaya hidup dan kebutuhan digital masyarakat masa kini.
Hisan membangun mereknya dengan pendekatan personal. Ia aktif berkomunikasi lewat media sosial, memberikan edukasi, hingga membagikan kacamata gratis sebagai strategi membangun kepercayaan.
“Kami rutin update koleksi di Instagram, beri diskon, dan tetap jaga kualitas pelayanan. Saya yakin rezeki datang bersama niat baik,” ujarnya.
Permintaan dari luar negeri mulai berdatangan, terutama dari diaspora Indonesia yang mencari kacamata berkualitas dengan harga terjangkau. Pemesanan dilayani via pre-order dan platform digital yang dibangunnya sendiri.
Kini, dari usaha yang dimulai sendirian, Jendela Kacamata telah mempekerjakan beberapa staf, memperluas layanan konsultasi, hingga edukasi perawatan kacamata.
“Merawat kacamata itu mudah asal disiplin. Jangan dibersihkan dengan tangan langsung, pakai lap khusus dan cairan pembersih yang tepat,” jelasnya.
Kisah Hisan adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukan hambatan. Dari kamar kos kecil di Sleman, ia kini membuka “jendela” ke pasar global. Ia tak hanya melihat peluang, tapi menjemputnya dengan kerja keras dan keberanian untuk terus belajar. (Athiful/KIM Depok)



