Enam Puluh Anak Ikuti Khitan Ceria di Berbah

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan Milad Muhammadiyah ke-113, LazisMu Berbah menggelar kegiatan Khitan Ceria yang berlangsung di SD Muhammadiyah Semoya, Tegaltirto, Berbah. Sebanyak 60 anak mengikuti khitan massal yang diadakan dengan penuh keceriaan dan kekeluargaan.

Dalam sambutannya, Zuhud Zuliyadi, Ketua Panitia Penyelenggara, mengucapkan terima kasih kepada para orang tua peserta yang telah mempercayakan putranya untuk dikhitan di kegiatan ini. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung suksesnya acara, di antaranya LazisMu Berbah, PKU Muhammadiyah Berbah, PKU Muhammadiyah Gamping, para donatur, PCM, PCA, PRM & PRA Tegaltirto, KOKAM, AMM, SD Muhammadiyah Semoya, Jaga Warga, dan Pemuda Kampung Semoya.

“In syaa Allah, semua dukungan ini menjadi ladang amal yang mendapat ridha Allah SWT,” ujarnya.

Ketua LazisMu Berbah, Ardi Sahemi, yang juga mewakili Ketua PCM Berbah, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan realisasi dari enam pilar program LazisMu yaitu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dakwah, kemanusiaan, dan lingkungan.

“Khitan Ceria bukan hanya kegiatan sosial, tetapi juga bentuk dakwah dan syiar ukhuwah. Ini menjadi sarana silaturahmi antara donatur, dermawan, dan muzaki. Semoga anak-anak yang dikhitan kelak menjadi generasi sholeh, kader umat dan kader Muhammadiyah,” ucap Ardi.

Acara dibuka secara resmi oleh Murjiyanta, ., Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Berbah, mewakili Panewu Berbah. Ia menyampaikan bahwa peristiwa khitan adalah momen yang akan dikenang seumur hidup, serta menekankan pentingnya optimalisasi fungsi masjid dan musholla dalam pemberdayaan masyarakat.

“Masjid jangan hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat sosial dan ekonomi umat. Dana yang dikelola hendaknya juga dialokasikan untuk membantu jamaah yang kurang mampu,” pesannya.

Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi, tidak hanya dari warga Berbah, namun juga dari luar wilayah, termasuk peserta dari Magelang dan Klaten. Hal ini menunjukkan luasnya jangkauan dan kepercayaan masyarakat terhadap kiprah sosial Muhammadiyah Berbah. (M.A. Sanusi – KIM Tirto Gumregah Berbah)




Sarat Nilai Adat dan Budaya, Merti Dusun Tegal Gentan Margoagung Jadi Wujud Syukur dan Pelestarian Tradisi

Sleman – Dalam upaya melestarikan warisan budaya leluhur, Padukuhan Tegal Gentan, Kalurahan Margoagung, Kapanewon Seyegan menggelar Merti Dusun selama sepekan, dari tanggal 15 hingga 22 Juni 2025, bertempat di halaman Dukuh setempat. Rangkaian kegiatan berlangsung meriah, sarat makna, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

Kegiatan diawali dengan senam dan jalan sehat (15/6), dilanjutkan dengan pengajian akbar oleh KH. Rohmat Asrofi (19/6), pentas seni jathilan Mekar Budaya (21/6), dan ditutup dengan kirab budaya serta pagelaran wayang kulit oleh Ki Sigit Subagio (22/6) yang menjadi puncak acara.

Kirab budaya yang digelar pada hari terakhir menjadi magnet utama. Acara dilepas oleh Carik Margoagung, Aditya Arif Permana, dan diterima secara simbolis oleh Joko Saptono, mewakili Kundha Kebudayaan (Dinas Kebudayaan) DIY.

Peserta kirab terdiri dari berbagai unsur warga, membawa gunungan hasil bumi, padi, makanan kemasan, hingga perabot rumah tangga, yang semuanya diiringi oleh berbagai bregada (pasukan adat) dari padukuhan sekitar. Di antaranya, Bregada Tegal Gentan bersama Paguyuban RW 17 dan 18, Bregada Randu Alas, Bregada Kuntul Wilanten, Bregada Brojoguno (Watukarung), Bregada Dadap Srep (Nganggrung), Bregada Bregas (Ngino), hingga penampilan ogoh-ogoh dari Padukuhan Somorai yang menambah kemeriahan kirab.

Para ibu dan anak-anak ikut serta membawa gunungan secara simbolis, menunjukkan semangat gotong royong lintas generasi.

Dalam sambutannya, Joko Saptono menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Tegal Gentan atas komitmennya dalam merawat tradisi.

“Merti Dusun berasal dari kata ‘merti’ yang berarti merawat. Ini adalah bentuk syukur kepada Tuhan atas nikmat hasil bumi, kesehatan, dan ketentraman masyarakat. Semangat gotong royong seperti inilah yang akan menguatkan kita dalam membangun masyarakat yang tertib, sejahtera, dan beradab,” ujarnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kalurahan Margoagung yang dinilai berhasil membimbing warganya untuk menata lingkungan dan budaya secara harmonis.

Merti Dusun Tegal Gentan tak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan dan menjaga identitas lokal di tengah perubahan zaman. Semangat gotong royong dan pelibatan seluruh lapisan masyarakat menjadikan kegiatan ini sebagai ruang hidup tradisi yang relevan dan membumi. (Sulistyono/KIM Seyegan)




PMI Depok Hadirkan Semangat Kemanusiaan di Turnamen Tenis Pandoyono 2025

Sleman — Palang Merah Indonesia (PMI) Kapanewon Depok turut memeriahkan Turnamen Tenis Pandoyono 2025 yang digelar pada 20–22 Juni di GOR Tenis Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Turnamen ini mempertemukan para pecinta tenis dari kalangan akademisi, ASN, swasta, hingga komunitas olahraga dari berbagai daerah di Indonesia.

Lebih dari sekadar ajang olahraga, turnamen ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus penghormatan bagi mendiang Pandoyono, tokoh olahraga dan pegiat kemanusiaan asal Minggir, Sleman.

PMI Depok mengambil peran aktif dengan membuka posko layanan kesehatan, pertolongan pertama, serta menyampaikan edukasi ringan tentang kesehatan dan pentingnya donor darah sukarela.

“Kami tidak hanya hadir saat bencana. Di ruang-ruang komunitas seperti ini pun, PMI berkomitmen hadir membangun solidaritas,” ujar Adi Yananta, anggota Tim Siaga Relawan (TSR) PMI Depok.

Momentum ini juga dimanfaatkan PMI untuk memperluas jaringan relawan dan memperkuat kampanye donor darah di kalangan masyarakat aktif dan pecinta olahraga. Respons positif ditunjukkan oleh para peserta dan pengunjung atas kehadiran PMI yang responsif dan bersahabat.

Turnamen Pandoyono 2025 ditutup pada Minggu (22/6/2025) dengan final yang disaksikan berbagai tamu undangan, termasuk perwakilan PMI dari daerah lain. Kegiatan ini mempertemukan sportivitas, kebersamaan, dan semangat kemanusiaan dalam satu arena. (Adi Yananta/KIM Depok)




Gaungkan Stop KDRT Lewat Outbound, Edukasi Humanis untuk Keluarga Bebas Kekerasan

Sleman — Suasana penuh semangat menyelimuti Lapangan Sekar Tanjung, Cangkringan, Sabtu pagi (21/6/2025) saat sebanyak 43 ibu-ibu mengikuti kegiatan Outbound dan Sosialisasi Stop Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Acara ini diinisiasi oleh Pelopor Perdamaian (PORDAM) Kabupaten Sleman dan menggandeng Dinas Sosial Sleman serta Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Sleman.

Dengan mengusung tema “Cinta Tak Menyakitkan – Lawan KDRT, Lindungi Keluarga”, kegiatan ini menjadi inovasi pendekatan edukatif yang menyentuh hati dan menggugah kesadaran, khususnya bagi perempuan sebagai pilar ketahanan rumah tangga.

Setelah dibuka oleh tim PORDAM Sleman, para peserta langsung terlibat dalam sesi outbound. Berbagai permainan kelompok dirancang untuk menanamkan nilai komunikasi, kerjasama, dan saling menghargai, sebagai fondasi penting dalam membangun keluarga yang bebas dari kekerasan.

“Permainan ini bukan sekadar hiburan. Di balik tawa dan kebersamaan, kami sisipkan pesan tentang pentingnya menciptakan rumah sebagai ruang aman dan penuh kasih,” ujar salah satu fasilitator.

Kegiatan turut dihadiri oleh Sarastomo Ari Saptoto, Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinas Sosial Sleman, yang mengapresiasi metode pendekatan yang digunakan.

“Ini cara yang sangat efektif. Edukasi sosial semacam ini menyasar langsung pada komunitas, khususnya para ibu, yang perannya sangat strategis dalam mencegah dan mendeteksi dini potensi kekerasan di dalam rumah tangga,” jelasnya.

Dalam sesi materi, Banawa dari LK3 Sleman menyampaikan peran penting lembaganya dalam mendampingi keluarga, mulai dari konseling, konsultasi, hingga advokasi dan pemberdayaan. Ia menegaskan bahwa KDRT adalah bentuk pelanggaran hak asasi yang harus dilawan bersama.

“Perubahan besar tidak muncul tiba-tiba. Ia dimulai dari langkah kecil di dalam rumah kita sendiri. Dan hari ini adalah salah satu langkah itu,” tegas Banawa.

Sebagai penutup, seluruh peserta menuliskan dan menandatangani komitmen bersama STOP KDRT. Komitmen ini bukan hanya simbolis, melainkan peneguhan tekad kolektif bahwa rumah tangga harus menjadi ruang aman, bukan tempat kekerasan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi model edukasi sosial yang replikatif, membuktikan bahwa edukasi bisa disampaikan secara ringan, menyenangkan, namun tetap bermakna dan berdampak. (ESK/KIM DSN)




Sanggar Banyu Bening Sleman: Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Menembus Dunia

Sleman — Merayakan enam tahun perjalanannya dalam membina generasi muda pecinta seni tari, Sanggar Banyu Bening Sleman menggelar peringatan hari jadi bertema “Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Mendunia”, Sabtu (21/6/2025) di Warung Mbah Bromo, Tempursari, Kapanewon Ngaglik.

Acara ini menjadi momentum reflektif sekaligus wujud rasa syukur atas konsistensi sanggar dalam menghadirkan karya-karya berestetika tinggi yang mengangkat seni tari sebagai sarana pembentukan karakter dan diplomasi budaya.

Kegiatan dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Sri Wahyuningsih, pendiri sanggar. Ia juga memotong tumpeng nasi kuning sebagai simbol syukur dan harapan atas keberlanjutan karya. Dalam sambutannya, Wahyuningsih menuturkan bahwa perjalanan enam tahun sanggar penuh dengan dinamika.

“Estetika tidak lahir dari hal instan. Ia tumbuh dari kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk terus mencipta meski dalam keterbatasan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seni tari bukan hanya soal pertunjukan, tetapi juga cermin perjalanan batin yang membentuk karakter dan semangat hidup anak-anak muda di tengah gempuran budaya digital.

Sementara itu, Elisabeth Panti, Koordinator Sanggar Banyu Bening Sleman, menegaskan bahwa sanggar tidak hanya menjadi ruang belajar menari, melainkan juga ruang tumbuh yang memadukan disiplin, ekspresi diri, dan cinta budaya lokal.

“Kami ingin menjadi ekosistem seni yang hidup dan relevan. Tidak hanya dalam panggung fisik, tapi juga menjelajah ke panggung digital,” jelas Elisabeth.

Rangkaian acara peringatan juga diisi dengan penampilan seni dari para siswa serta uji kompetensi tari sebagai bentuk apresiasi atas proses belajar yang telah dilalui. Kegiatan ini menjadi ruang validasi capaian sekaligus pemacu semangat untuk terus berkarya.

Peringatan ini juga menandai komitmen Sanggar Banyu Bening dalam melahirkan regenerasi seniman lokal, mendorong mereka untuk tampil percaya diri di hadapan publik serta menjadikan seni tradisi sebagai bagian dari dialog budaya global.

Dengan tema “Enam Tahun Berestetika, Seni Tari Mendunia”, sanggar ini terus menegaskan identitasnya sebagai rumah kreatif yang merawat nilai-nilai luhur budaya Nusantara—bahwa lewat gerak, irama, dan dedikasi, seni tari Indonesia mampu berdiri sejajar di panggung dunia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)