Gema Takbir Bangunkerto: Harmoni Iman dan Budaya Nusantara, Diikuti 12 Kafilah dengan 700 Peserta

Sleman – Kalurahan Bangunkerto terasa syahdu dengan alunan takbir tahmid pada kegiatan takbir dan budaya dalam acara Festival Takbir Idul Adha 1446 H Bangunkerto 2025, Sabtu (7/6/2025). Kegiatan ini mengusung tema ‘Gema Takbir Bangunkerto: Harmoni Iman dan Budaya Nusantara’.

Acara ini turut dihadiri oleh, Panewu Turi, Danramil Turi Kapolsek Turi dan dan tokoh masyarakat serta warga Bangunkerto. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Karang Taruna Bangunkerto, dan diikuti 12 Kafilah dengan total 700 Peserta dari wilayah Kalurahan Bangunkerto.

Semarak Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah Karang Taruna Kalurahan Bangunkerto ini secara resmi dilepas oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa di Agro Wisata Gadung Bangunkerto Turi.

Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Sleman menyampaikan apresiasi setinggi tingginya kepada seluruh panitia, peserta, dan masyarakat yang telah berpartisipasi maupun mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. 

“Semoga kegiatan ini bukan hanya sebagai ajang kreativitas tetapi juga merupakan sarana dakwah serta penguatan nilai-nilai keagamaan dan kebersamaan,” ujarnya.

Sementara, Lurah Bangunkerto, Anas Makruf berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah di Bangunkerto.

“Agar kegiatan seperti ini dapat terus ditingkatkan meski sempat terhenti beberapa waktu lalu, Alhamdulillah tahun ini bisa terlaksana dengan lancar sebagai syiar Islam serta upaya memperkuat ukhuwah Islamiyah di Bangunkerto”.

Adapun kategori penilaian lomba kali ini meliputi religius, kreativitas, keseuaian tema, partisipasi dan kekompakan, serta ketertiban. Selanjutnya hasil  festival takbir Bangunkerto menempatkan kafilah Ngentak sebagai juara 1, disusul Kawedan sebagai juara 2, dan Ngablak sebagai juara 3. (Arief Hartanto/ KIM Turi Kertomandiri)




Berbagi Berkah, Perkuat Silaturahmi dengan Qurban

Sleman – Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Berbah mengundang Pengurus PCA dan relawan Lazismu  Berbah untuk bersilaturahmi menjalin keakraban, sembari menikmati lezatnya daging kurban dari saudara muslim yang ada di London. Silaturahmi tersebut berlangsung di Rumah Tahfidz Aisyiyah (RTA) Berbah, Padukuhan Krikilan, Tegaltirto, Berbah, Minggu (8/6/2025).

Ketua PCA Berbah, Isrodah menyampaikan bahwa Rumah Tahfidz Aisyiyah Berbah telah diresmikan pemakaiannya pada Rabu 26 Maret 2025 lalu, bertepatan dengan 26 Ramadhan 1446  H. Rumah tahfid tersebut merupakan rumah wakaf dari ibu Betty.

Selain dipergunakaan sebagai rumah tahfidz juga dipakai untuk berkegiatan Aisyiyah, juga gunakan sebagai kantor Biro Keluarga Sakinah Aisyiyah (BIKSA) yang diperuntukan sebagai tempat konsultasi masyarakat dalam masalah rumah tangga, perundungan, KDRT, perselingkuhan, permasalahan ekonomi dan lainnya.

“BIKSA mencoba hadir sebagai tempat curahan hati, mencari solusi agar rumah tangga kembali harmonis menjadi keluarga sakinah,” kata Isrodah.

Pada kesempatan yang sama, Ketua LBSO PDA Sleman, Yuliani Murtiningsih menuturkan Muhammadiyah mendapatkan sodakoh kurban dari Kelompok Muslim Steps 2 Allah yang ada di London, berupa empat ekor sapi dan beberapa ekor kambing. Seluruh daging kurban tersebut disalurkan ke tempat tempat yang membutuhkan.

“Sebagian dari daging  kurban tersebut kita nikmati bersama untuk makan bersama ibu Aisyiyah dan relawan Lazismu PCM Berbah. Penyaluran hewan kurban merupakan bagian hubungan yang sudah terjalin lama antara Steps 2 Allah di London dengan Muhammadiyah. Hubungan itu terjalin melalui Muhammad Hilal salah satu cicit Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan.

 “Semoga amal kebaikan saudara muslim kita mendapatkan pahala yang besar dari Allah,” ungkap Yuli.

Bantuan dana tersebut juga dirasakan oleh yang berada di Indonesia khususnya warga Muhammadiyah Berbah. Sebelumnya, beberapa tahun yang lalu pernah mendapat kurban dua ekor sapi.  Penyembelihan dilakukan di SD Muhammadiyah Karangharjo.

“Juga pada saat bulan Ramadhan kemaren mendapatkan takjil buka puasa yang diselenggarakan rumah tahfidz ini juga,” pungkas Yuli.

Sedekah daging kurban yang sudah dimasak dinikmati bersama pengurus Aisyiyah dan relawan Lazismu Berbah. Selain itu juga di sodakohkan kepada warga sekitar RTA.

 Disamping itu PCA Berbah menyampaikan bingkisan kepada tetangga kiri kanan RTA dalam rangka menyambut hari Raya idul Qurban 1446 Hijriyah.

Steps 2 Allah sendiri merupakan komunitas muslim di London, yang didirikan tahun 2005 oleh 6 orang, pada sebuah rumah di Islington, London. Pertemuan tersebut adalah untuk merayakan peristiwa penting seorang saudara baru masuk Islam.

Dalam perkembangan waktu banyak orang berkumpul sehingga rumah tersebut diberi nama  DARUSSALAM  (tempat tinggal yang damai) Komunitas muslim mualaf tersebut diberi nama Steps 2 Allah.

Dengan berkembangnya komunitas  Steps 2 Allah terbentuklah penggalangan dana, yang digunakan untuk membantu anggota yang membutuhkan. Selanjutnya dana tersebut dipergunakan untuk membantu saudara lain baik yang ada di London maupun yang berada di belahan dunia yang lain.  (Kusnadi / KIM Berbah)




Perpaduan Spiritualitas dan Kreativitas Mewarnai Lomba Gema Takbir Keliling di Sumbersari

Sleman – Semarak Idul Adha 1446 H masih berlanjut sampai berakhirnya hari tasrik, yaitu tiga hari berikutnya. Rangkaian semarak Idul Adha tersebut dibuktikan Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) se-Sumbersari yang menggelar Lomba Gema Takbir keliling Idul Adha 1446 H, Sabtu (7/6/2025), di Lapangan Sumbersari, Moyudan.

Sejak pukul WIB peserta mulai berdatangan dengan busana, serta aksesoris dan maskot yang beragam. Pakaian yang dikenakan peserta secara umum benuansa budaya seperti pakaian prajurit kerajaan, pakaian adat Jawa dan  aksesorisnya dengan ciri khas muslim. Begitupun dengan maskot yang digunakan, berupa miniatur masjid, Al Qur’an, gajah, dan lembu. Selain itu ada juga yang membawa kapal, bahkan kereta kencana yang dinaiki seorang raja.

Sebelum pemberangkatan peserta, Ketua Panitia Takbir, Junaidi melaporkan bahwa peserta takbir keliling kali ini berjumlah 13 regu. Di mana, 12 regu berasal dari wilayah Sumbersari, dan satu regu dari Sumberrahayu.

“Sedangkan jumlah peserta seluruhnya ada orang,” kata Junaidi.

Ia juga menambahkan bahwa lomba tersebut memperebutkan trophy bergilir, trophy tetap, dan uang pembinaan.

“Untuk juara 1 mendapat trophy bergilir dan trophy tetap. Juara 2 dan 3 serta harapan 1, 2,3 memperoleh trophy tetap,” ungkap Junaidi.

“Selain trophy tersebut pantia menyediakan uang pembinaan kepada para juara masing- masing 1,5 juta rupiah untuk juara 1. Untuk juara 2 dan 3 masing 1,25 juta rupiah dan 1 juta rupiah. Sedangkan harapan 1, 2, 3 masing-masing mendapat 500 ribu rupiah,” sambungnya.

Pada kesempatan yang sama, Panewu Moyudan, Agung Dwi Maryoto memberikan apresiasi atas diselenggarakannya Gema Takbir Keliling oleh Forum Koordinasi PRM Sumbersar. Ia berharap kegiatan tersebut dijadikan ajang silaturahmi antara jamaah umat Islam.

“Kegiatan ini kita jadikan sarana untuk silaturahmi, sedangkan kejuaraan jadikanlah pemicu semangat kita,” ujar Agung.  

Lebih lanjut, Panewu Moyudan juga mengungkapkan rasa bangganya karena melihat kreativitas dari peserta yang memakai pakaian, antribut, dan aneka maskot yang menonjolkan budaya adi luhung.

“Dengan takbir, tahlil dan tahmid dengan disertai aneka ragam budaya ini membuktikan perpaduan spiritualitas dan kreativitas,” pungkasnya. (Giek/ KIM Moyudan)




Syiar Idul Adha Lewat Irama Takbir dan Kreativitas Umat

Sleman – Di tengah arus modernisasi dan budaya global, lomba takbir menjadi cara umat Islam menjaga identitas sekaligus menyampaikan pesan dakwah secara kreatif, damai, dan menggembirakan. Guna menyemarakkan Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriyah, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat Nahdlatul Ulama Gamping menggelar lomba dan parade takbir keliling sebagai wujud syiar Islam. Kegiatan ini bukan hanya ajang unjuk kreativitas, namun juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antar warga dan kader Fatayat se-Kapanewon Gamping.

Parade lomba takbir yang berlangsung di lapangan Nur Iman Mlangi, Sabtu malam (7/6/2025) dimulai tepat setelah salat Isya. Para peserta bergerak beriringan menyusuri jalan kampung di seputar Mlangi dengan pengawalan dari Banser dan dukungan aparat keamanan setempat melewati dusun-dusun yang sebagian besar merupakan kawasan pesantren dan lingkungan warga Nahdliyyin. Bedug dipukul bergantian, pengeras suara mengumandangkan takbir, shalawat, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW, sehingga menciptakan suasana spiritual yang menyentuh sekaligus menghibur.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua PAC Fatayat Gamping, Shobiroh Ulfa Kurniyawati mengatakan bahwa kegiatan malam ini sebagai bentuk nyata dari syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah yang digelorakan dengan semangat, kreativitas, dan kebersamaan. Menurutnya, melalui takbir keliling, umat muslim tidak hanya mengumandangkan kebesaran Allah SWT, tetapi juga menanamkan semangat ukhuwah islamiyah dan rasa cinta kepada tradisi Islam Nusantara yang damai dan penuh nilai kebersamaan.

“Kami ingin menciptakan ruang-ruang ekspresi religius yang menyenangkan, mendidik, dan membangkitkan semangat generasi muda,” ujar Ulfa.

Masyarakat sekitar tampak antusias menyambutnya. Banyak warga berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan, bahkan tak sedikit yang mengabadikan momen itu dengan ponsel mereka. Anak-anak kecil pun ikut melompat-lompat di depan rumah, mengikuti irama takbir dan ketukan bedug. Kemeriahan dentuman bedug berpadu dengan takbir menciptakan atmosfer spiritual dan meriah sekaligus.

Ulfa menambahkan, lomba takbir keliling memperebutkan Trophy Bupati Sleman kali ini mengangkat tema ‘Takbir, Syiar dan Kebersamaan Dalam Semangat Idul Adha’ guna mengasah semangat dakwah dan kreativitas warga Fatayat.

“Kami ingin anak-anak muda Nahdlatul Ulama bangga dengan identitas keislaman dan kebudayaan lokal,” imbuhnya.

Lomba semacam ini penting untuk membentuk rasa percaya diri dan kebanggaan terhadap identitas keagamaan di tengah gempuran budaya digital dan sekularisasi. Penilaian lomba mencakup kekompakan, kreativitas, ketepatan syair, hingga pesan keislaman yang dibawa.

Setelah semua kelompok tampil dan parade selesai, dewan juri memutuskan kelompok takbir Pondok Pesantren Narju Syafa’ah sebagai Juara I dan berhak atas Trophy Bupati Sleman, Pondok Pesantren Nahdlatun Nisa sebagai sebagai Juara II, serta Pondok Pesantren Ar-Risalah Mlangi sebagai Juara III. Sedangkan Juara Harapan I diraih oleh Pondok Pesantren Al-Miftah Putri, dan Juara Harapan II diperoleh Pondok Pesantren Aswaja Nusantara. Seluruh pemenang mendapatkan Trophy dan uang pembinaan.

Namun, kemenangan sejati malam itu bukan hanya milik para pemenang lomba. Bagi semua yang hadir, kebersamaan, semangat gotong royong, dan syiar Islam yang menggema menjadi nilai yang jauh lebih berharga. Gema takbir yang menggema di langit Mlangi malam itu menjadi penanda bahwa semangat Islam Ahlussunnah wal Jamaah tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Hadroh Iringi Perayaan  Pentakosta  2025, Bukti Toleransi Beragama

Sleman – Kesenian musik hadroh ikut mengiringi pawai unduh-unduh yang digelar Jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Maguwoharjo dalam rangka perayaan Hari Raya Pentakosta tahun 2025, Minggu (8/6/2025). Pawai dimulai dari Kopi Klotok, Jalan Diponegoro Maguwoharjo sampai GKJ Maguwoharjo.

Pelepasan pawai unduh – unduh dilakukan oleh Panewu Kapanewon Depok, Djoko Muljanto didampingi Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman, Edy Winaryo.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman secara simbolis melakukan panen pisang dan singkong sebagai simbol ngunduh atau panen hasil bumi untuk kelangsungan kehidupan bersama masyarakat.

Kirab pawai  unduh-unduh pun diawali dengan Bregodo Sambi Raharjo Sambilegi Maguwoharjo, didampingi tarian butho gedrug. Iringan bergodo tersebut diikuti dengan arak-rakan dua ekor kuda dari Polda DIY, masyarakat Manisrejo, tonti SMP Bobkri 3.

Kemudian disusul delapan mobil pick up berisi gunungan dari enam GKJ yang ada di wilayah  Maguwoharjo, dan dua gunungan dari masyarakat dan Pemerintah Kalurahan Maguwoharjo. Adapun rute yang dilalui, mulai dari Kopi kKlotok kearah selatan sampai GKJ Maguwoharjo, dengan menempuh jarak sekitar 4 kilo meter .

Pada kesempatan itu, pendeta Heru Sumbodo mengucapkan terima kasih atas dukungan  dari  Pemkab Sleman, Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan, Dinas Sosial, Polda DIY, Kapanewon Depok, Kalurahan, Maguwohjo, dan masyarakat setempat.

“Kami mohon maaf dalam kegiatan pawai unduh – unduh banyak kekurangan serta  mengganggu pengguna jalan,” ungkapnya.

Adapun tema yang diangkat pada perayaan Pentakosta tahun 2025 adalah ‘Roh Kudus Selalu Menyatukan’. Dengan kesatuan yang kuat mewujudkan kebersamaan di tengah masyarakat  berbangsa dan bernegara yang adil dan makmur.

“Supaya program pemerintah bisa berjalan sesuai amanah masyarakat. Karena kehidupan damai sejahtera boleh dinikmati semua orang. Dalam upaya membangun Sleman menjadi lebih baik,” ucap pendeta Heru.

Menariknya, dalam kirab tersebut ada iring-iringan musik hadroh sebagai bentuk toleransi antar umat beragama.  

“Dukungan musik hadroh dari warga muslim sebagai wujud toleransi antara umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.

Adapun pawai unduh – unduh merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas semua anugerah yang diberikan, baik dari hasil pekerjaan, panen sawah dan tegalan para petani, juga  hasil pekerjaan para pengusaha dan pegawai dalam berbagai lembaga dan bidang  manapun.

Selanjutnya, pendeta Heru pun menyampaikan bahwa sesuai tema Pentakosta tahun 2025  Roh Kudus Selalu Menyatukan, maka gereja bersama masyarakat mewujudkan satu kesatuan hidup.

“Dengan hidup guyup dalam kerukunan  toleransi yang baik supaya apapun yang menjadi harapan bersama dapat kita wujudkan secara bersama-sama,” pungkas pendeta Heru. (Kusnadi / KIM Berbah)