Bregodo Wongso Manggolo Kendal Tampil sebagai Prajurit Norokaryo dalam Grebeg Besar Kraton Ngayogyokarto

Sleman – Tradisi Grebeg Besar Keraton Yogyakarta  masih terus dilestarikan. Hal ini merupakan rangkaian perayaan Hari Raya Idul Adha 1446 H, sebagai simbol sedekah raja kepada rakyatnya sekaligus wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Acara tahun yang berlangsung pada, Sabtu (7/6/2025) di Kagungan Dalem Pagelaran serta Halaman Masjid Gedhe Kauman Jogja ini nampak dipenuhi oleh masyarakat dan wisatawan sejak pagi untuk melihat prosesi Grebeg Besar tersebut. Grebeg Besar merupakan satu dari tiga Grebeg yang dilaksanakan Kraton, di samping Grebeg Syawal dan Grebeg Mulud. Sebanyak tujuh gunungan dibagikan di empat titik.

Salah satu bagian dari masyarakat Yogyakarta, dalam hal ini 38 warga yang tergabung dalam Bregodo Wongso Manggolo turut berpartisipasi sebagai prajurit Norokaryo.

Salah satu pengurus Bregodo Wongso Manggolo, Ahmad Sujadi menuturkan pihaknya merasa senang dan bangga dapat berpartisipasi menyemarakkan acara tersebut.

“Kami merasa bangga meskipun baru satu tahun di kukuhkan, Bregodo Wongso Manggolo yang beralamat di Kendal, Bangunkerto, Turi, Sleman yang di ketuai oleh Tri Haryanto, namun kami sudah di beri amanat kepercayaan dalam acara kegiatan nguri-uri peninggalan Ngerso Dalem Sultan Ngayogyokarto Hadiningrat,“ tandasnya.

Dalam acara budaya Grebek kraton ini, Kami Bregodo Wongso Manggolo ditugasi sebagai prajurit Norokaryo yaitu sebagai pembawa persembahan untuk Rakyat Ngayogyokarto berupa Gunungan Lanang dan Gunungan Wadon yang dibawa dari kraton menuju Masjid Agung Kauman Yogyakarta.

“Kebudayan Ngayogyokarto memang banyak sekali yang bekembang di wilayah Yogyakarta ini, dari inisiatif beberapa warga kami membuat perkumpulan Bregodo, yang bertujuan untuk membina persatuan dan kesatuan warga padukuhan, dan yang lebih penting lagi adalah ‘ngguri-uri budaya Jawa’ atau melestarikan budaya Jawa yang berlandaskan pada Kraton Ngayogyokarto,” jelas Sujadi.

“Kami berupaya mendalami pengetahuan tentang budaya Bregodo melalui BRS (Bregodo Rakyat Sembada) yang dikoordinasi oleh Toegar Adi Saputra. Bregodo Wongso Manggola di percaya untuk ikut dalam acara grebeg tersebut, dan merupakan suatu amanat yang kita junjung tinggi untuk kita laksanakan. Kami sangat bangga bisa ikut andil menyukseskan kegiatan grebeg yang dilaksanakan di Kraton,” sambungnya.  (Arief Hartanto / KIM Turi Kertomandiri)    




Realisasi Program TNI Manunggal Membangun Desa; Jalan Baru Kurangi Laka Lantas

Sleman – Jalan baru sepanjang 800 meter dengan lebar 5 meter dengan selokan yang berada di sisi kiri dan kanan, sudah mulai dimanfaatkan warga. Jalan ini merupakan realisasi program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) yang telah diresmikan oleh Komandan Korem 072/Pamungkas, Brigjen TNI Bambang Sudjarwo, pada tanggal 4 Juni lalu.

Mantan Dukuh Jlapan, Desa Pondokrejo Tempel, Wardani (72 tahun) mengaku bahagia dan lega dengan keberadaan jalan itu. Pasalnya jalanan yang selama ini dilalui hanya berupa jalan pintas setapak. Namun kini jalan tersebut bertransformasi menjadi jalan besar yang dapat dilalui oleh truk.

“Karena jalan yang selama ini hanya jalan pintas setapak, kini truk pun bisa lewat. Kalau cuaca cerah, banyak warga mencoba jalan baru ini,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Minggu (8/6/2025).

Selanjutnya, pembangunan jalan dengan talud di kedua sisinya ini dilaksanakan secara gotong royong antara TNI dan masyarakat. Di mana, setiap RT mengirimkan perwakilannya untuk berpartisipasi membangun dan diselesaikan dalam waktu satu bulan tepat. Di samping itu, para pemilik sawah dan ladang dengan senang hati ikut menyumbangkan sebagian tanahnya untuk dilewati jalan baru ini.

Wardani menambahkan bahwa jalan ini akan mengurangi kecelakaan lalu lintas yang sering terjadi di perempatan Jlapan. Ia bersama warga lain, mengharap jalan yang dibangun oleh TNI bersama warga ini dapat dilanjutkan dengan pengaspalan oleh pemerintah setempat.

“Diharapkan pembangunan jalan ini dapat berlanjut hingga ke tahap pengasapalan,” tandasnya. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)




Berkurban Jadi Media Penyatuan dan Penguatan Ukhuwah Islamiyah

Sleman – Dalam rangka menyemarakkan Hari Raya Idul Adha 1446 H, Yayasan Rumpun Nurani dan Kawasan Wakaf Produktif (KWP) Munzalan berkolaborasi menggelar Festival Dzulhijah yang penuh keberkahan, Sabtu (7/6/2025). Kegiatan ini diselenggarakan di Kawasan Yayasan Rumpun Nurani yang berada di Kebur Lor, Argomulyo, Cangkringan, Sleman.

Salah satu pengurus KWP Munzalan, Ahmad Muttaqin Habibi menyampaikan bahwa Festival Dzulhijah 2025 ini pertamakali dilaksanakan berkolaborasi dengan Pesantren Nurani. Festival tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi, tetapi juga mempererat hubungan sosial dan memperkuat nilai-nilai kepedulian antar sesama.

“Kegiatan serupa diharap dapat dilaksanakan tahunan dengan lebih baik dan bermanfaat untuk masyarakat luas,” ujarnya.

Festival ini menghadirkan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang sarat manfaat, mulai dari potong rambut, pelayanan kesehatan, pasar amal (bazar) hingga pembagian daging kurban untuk masyarakat yang membutuhkan.

Pasar amal (bazar) menjadi daya tarik tersendiri. Sebab dengan menjual berbagai macam pakaian layak pakai seharga serba 5000 rupiah, hasil penjualan nantinya akan disalurkan ke Pondok Pesantren Nurani. Selain itu, potong rambut gratis yang diberikan oleh relawan barbershop, disambut antusias oleh anak-anak dan lansia.

Panitia juga bekerja sama dengan tenaga medis dari Rekan (Relawan Kesehatan) Rumpun Nurani untuk mengadakan pemeriksaan kesehatan gratis, seperti cek tekanan darah, cek asam urat, cek kolesterol dan konsultasi kesehatan ringan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat.

Sementara, Yazid Subakti selaku pengelola dan pengasuh Pesantren Nurani menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata dari semangat berbagi dan gotong royong di bulan yang mulia.

“Kami ingin menghadirkan suasana kebersamaan dan berbagi kebahagiaan di tengah masyarakat di Hari Raya Idul Adha tahun ini,” ujarnya.

Acara diakhiri dengan pembagian daging kurban sejumlah 170 paket untuk masyarakat dan kaum dhuafa. Proses penyaluran daging kurban pun berlangsung tertib dan lancar. (Mujiyanta / KIM “Wara Aji” Cangkringan)




Jama’ah Muslim Singapura Ikut Berkurban Wujudkan Rasa Cinta dan Berbagi antar Sesama

Sleman – Alunan takbir, tahlil dan tahmid membahana di segenap penjuru alam pertanda wujud syukur kepada sang Pencipta yang dilakukan umat Islam untuk melaksanakan salat Idul Adha 1446 H, pada Jum’at (6/6/2025). Hal itu pun terjadi di Masjid Baitul Qowwam Khairul Sofian, kompleks Pondok Pesantren Baitul Qowwam, Plumbon, Mororejo, Tempel.  

Suasana semakin terasa istimewa dengan hadirnya sejumlah jama’ah Muslim dari Singapura dari keluarga Khairul Sofian yang dipimpin Suprato Januri dan Salimah beserta rombongan yang membaur bersama para warga yang mengikuti sholat Idul Adha kali ini.

Imam sekaligus Khatib salat id kali ini ialah Agus Triyanta, yang pada kesempatan itu menyampaikan bahwa umat muslim harusnya belajar dari kisah Siti Hajar, mengenai pentingnya keimanan, tawakkal, dan ikhtiar saat menghadapi cobaan.

“(Kemudian) jika perintah Allah, maka yakinlah Allah akan mencukupkan. Siti Hajar menerima perintah Allah dengan ikhlas, ditinggalkan di padang pasir dengan anak bayinya, tidak panik atau putus asa,” ujar Agus.

“Ia (Siti Hajar) tetap berharap pada Allah, yakin bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dan Allah berikan jawaban dengan munculnya air zam zam, dan hal itu kemudian diabadikan menjadi prosesi thawah, sa’i dalam ibadah haji,” sambungnya.

Setelah salat, acara dilanjutkan dengan penyampaian hewan qurban yang akan disembelih secara simbolis oleh Suprato Januri. Pada momen itu, ia menyampaikan harapannya agar kegiatan qurban kali ini dapat memberikan manfaat bagi panti asuhan, warga sekitar, dan sejumlah masjid binaan jama’ah Muslim Singapura. Adapun hewan yang dikurbankan sebanyak dua ekor sapi dan 79 kambing .

“Kami berharap hewan qurban ini dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.

Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat Plumbon, Karanggawang, dan lain-lain. Di mana, sebanyak 70 keluarga mendapatkan paket sembako dan daging kurban.

Lurah Desa Mororejo H. Jaka Ristanta menyambut baik kegiatan ini dan merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari acara yang penuh berkah ini. “Kami sangat berterima kasih kepada masyarakat Muslim Singapura yang telah menggelar kurban di Baitul Qowwam dan berbagi untuk warga kami,” ungkapnya.

Setelah seremonial penyampaian hewan kurban, acara dilanjutkan dengan sarapan pagi bersama. Para pengurus panti, tamu undangan, dan perwakilan dari Singapura menikmati hidangan soto, aneka jajanan tradisioanal dan es puter dalam suasana keakraban. Momen ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan mempererat tali silaturahmi antara warga dan saudara Muslim mereka dari Singapura.

Proses penyembelihan hewan kurban pun dilakukan secara profesional dan tertib, dengan memperhatikan syarat-syarat yang telah ditentukan. Tim penyembelihan yang terlatih memastikan bahwa semua proses dilakukan sesuai dengan syariat Islam.

Setelah penyembelihan, daging kurban dibagikan kepada yang berhak, termasuk anak-anak panti asuhan dan warga sekitar yang membutuhkan, serta perwakilan warga sekitar Tempel, Kulon Progo, dan Magelang. (Arief Hartanto / KIM Turi)




Berkurban Jadi Salah Satu Cara Penyembelihan Ego Keakuan dalam Diri

Sleman – Pelaksanaan ibadah qurban bukan sekedar penyembelihan hewan qurban semata, namun bukti ketaqwaan kepada Allah dan penyembelihan ego, keakuan dan kerekatan manusia terhadap dunia. Hal itu diungkap ustaz Nurhadi saat menyampaikan khutbah Idul Adha 1446 H, di serambi dan halaman Masjid Sulthan Wotgaleh, Sendangtirto, Berbah, Jum’at (6/6/2025).

Lebih lanjut, ustaz Nurhadi pun menyampaikan bahwa terdapat tiga rangkaian ibadah dalam Hari Raya Idul Adha yang dilaksanakan bersamaan. Pertama ialah ibadah haji bagi orang yang mampu baik secara finansial maupun fisik.  Di mana, ibadah ini hanya wajib dilakukan sekali seumur hidup. Perintah ibadah haji pun termaktub dalam surat Al Baqarah 196 dan Ali Imran 97. Hikmah yang dapat diambil dari ibadah haji adalah  manifestasi penghambaan dan ungkapan rasa syukur akan semua yang diberikan Allah kepada manusia. 

Rangkaian ibadah yang kedua adalah salat Idul Adha, salah satu salat sunah yang sangat baik dan dianjurkan. Maka pada tanggal  10 Dzulhijah, umat Islam berbondong- bondong melaksanakan ibadah salat Idul Adha sebagai syiar agama  Islam. Ibadah ini terdiri dari dua kegiatan yang tidak terpisahkan, yaitu salat ldul Adha dan khutbah Idul Adha.

“Maka disarankan untuk jamaah salat Idul Adha tidak pulang sebelum khutbah Idul Adha berakhir,” pesan Ustaz Nurhadi.

Ibadah yang ketiga adalah berqurban atau menyembelih hewan qurban berupa kambing, sapi atau unta sesuai syarat dan rukunnya. Berqurban merupakan ibadah sunah yang dianjurkan. Bahkan beberapa ulama mewajibkan berqurban bagi yang mampu. Berqurban bermakna dimensi spiritual dan sosial. Secara spiritual meningkatkan kedekatan kepada Allah sesuai perintah Allah melalui surat Al Kautsar ayat 2 yang artinya:

‘Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah’.

Ustaz Nurhadi menjelaskan, dari dimensi sosial terasa saat  pembagian daging korban kepada yang yang membutuhkan. Pelaksanaan ibadah qurban tidak bisa dilepaskan dari kisah perjalanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam menyikapi perintah Allah lewat mimpi bahwa perintah untuk menyembelih Nabi Ismail yang masih kecil.

Namun keduanya sangat patuh menjalankan perintah sebagai bentuk kepatuhan dan ketaqwaan.  Hikmah yang bisa diteladani dari kisah tersebut  adalah keikhlasan dan kepasrahan seseorang hamba yang bersabar betapapun beratnya cobaan hidup.

“Berdasar kisah tersebut dapat sebagai contoh bahwa anak juga merupakan bagian dari keluarga. Sebaiknya juga dilibatkan diajak bicara bila terjadi permasalah dalam keluarga,” pungkas Ustaz Nurhadi. (Kusnadi / KIM Berbah)