Lakukan Ground Breaking Pembangunan TK ABA Semesta, Bupati Sleman Harap Jadi Awal Perkuat Pondasi Peradaban melalui Pendidikan

Sleman – Bupati Sleman, Harda Kiswaya melakukan Ground Breaking Pembangunan Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Semesta bersama dengan Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Selasa (3/6/2025) di lokasi pembangunan Dusun Bodeh, Ambarketawang, Gamping. Ground Breaking ditandai secara simbolis dengan menekan tombol sirine.

Pembangunan TK ABA Semesta merupakan inisiasi Aisyiyah bersama dengan Universitas Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) dan dibangun di lahan seluas m2 dengan luas bangunan kurang lebih m2.

Harda mewakili Pemkab Sleman memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada keluarga besar Aisyiyah, Unisa Yogyakarta serta semua pihak yang telah menginisiasi dan mengupayakan pembangunan TK ABA Semesta ini. Ia mengatakan pembangunan TK ABA Semesta ini terwujud atas sinergi antara masyarakat, organisasi keagamaan, dan pemerintah, dalam memperkuat pondasi peradaban melalui pendidikan.

“Pembangunan gedung TK ABA Semesta ini bukan sekadar membangun fisik sebuah bangunan. Ini adalah komitmen nyata dari berbagai pihak – termasuk Aisyiyah sebagai salah satu elemen penting dalam gerakan pendidikan nasional untuk menghadirkan lembaga pendidikan yang ramah anak, inklusif dan mendukung pembelajaran yang menyenangkan,” ujar Harda.

Lebih lanjut, Harda mengatakan melalui pembangunan pendidikan inklusif yang menjadi prioritas di Sleman, keberadaan lembaga pendidikan usia dini seperti TK ABA Semesta menjadi sangat strategis. Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan yang berpihak pada anak, berlandaskan nilai-nilai kebhinekaan, dan mampu menjawab tantangan zaman.

“Besar harapan kami, TK ABA Semesta nantinya akan menjadi pusat pembelajaran anak usia dini yang unggul, representatif, dan menjadi teladan baik dari segi manajemen pendidikan maupun dari partisipasi masyarakatnya. Semoga proses pembangunan TK ABA Semesta ini berjalan lancar, aman, dan membawa keberkahan bagi kita semua,” kata Harda.

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan bahwa pembangunan dan pendirian TK ABA Semesta ini sangatlah relevan dan kontekstual. Ia menyampaikan di bidang pendidikan, dunia saat ini sungguh sarat kompetisi dan melahirkan beragam model keunggulan lembaga-lembaga pendidikan di tingkat lokal dan nasional dalam tekanan dinamika global yang terus bergerak ke depan.

“Masa depan jangan dibiarkan datang sendiri tanpa persiapan, tetapi harus diikhtiarkan dengan rancangbangun yang berwawasan luas dan jauh ke depan atau futuristic oriented,” tegas Haedar.

Lebih lanjut, Unisa Yogyakarta dan ‘Aisyiyah dengan mendirikan TK ABA Semesta ini menunjukkan diri berwawasan ke depan yang global atau mendunia. Penguatan diksi “semesta” pada TK ABA tersebut tentu merupakan wujud mata rantai berpikir dan dinamika eksistensi Pendidikan Usia Dini (PAUD) milik organisasi perempuan tertua yang dikenal progresif dalam menghadapi perkembangan dunia baru yang yang dikenal globalisasi sejak beberapa dekade terakhir.




Vape: Bahaya Dibalik Kepulan Asap Modern

Sleman – Dalam rangka mendukung peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh pada 31 Mei lalu, Puskesmas Depok II mengadakan rapat koordinasi dan sosialisasi kesehatan bertema ‘Waspadai Bahaya Vape bagi Kesehatan’. Kegiatan ini diselenggarakan pada, Selasa (3/6/2025) di Aula Pudewa dan diikuti oleh 40 kader dari masing-masing posyandu di wilayah Kalurahan Condongcatur.

Sosialisasi ini bertujuan untuk memberikan edukasi mendalam terkait dampak negatif penggunaan rokok elektrik atau vape, yang kini marak di kalangan masyarakat khususnya remaja. Materi disampaikan oleh dua narasumber dari Puskesmas Depok II, yakni Bernadetta Dewantari dan Ardika Rahman Putra yang menyoroti berbagai kandungan berbahaya dalam cairan vape.

“Vape sering kali disalah artikan sebagai pilihan yang lebih aman dibandingkan rokok biasa. Padahal, faktanya vape mengandung zat kimia berbahaya seperti nikotin, diacetyl, gliserol, glikol, logam berat, acetaldehyde, dan akrolein. Zat-zat ini dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru, jantung, bahkan otak,” ujar Bernadetta dalam pemaparannya.

Ia menambahkan bahwa diacetyl diketahui bisa memicu popcorn lung, yaitu penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang menyebabkan penyempitan saluran napas. Sementara itu, nikotin bersifat adiktif dan dapat mengganggu perkembangan otak remaja. Vape juga menjadi salah satu pintu masuk yang berisiko menuju penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya), karena tampilan dan aroma vape yang dianggap menarik dan aman.

Sementara Andika Rahman selaku narasumber kedua menuturkan kegiatan ini diharapkan dapat mendorong semangat para kader kesehatan dalam menyebarluaskan informasi dan mengedukasi masyarakat secara aktif. Tak hanya soal vape, tetapi juga tentang pentingnya gaya hidup sehat, bebas asap rokok, dan upaya perlindungan terhadap generasi muda.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk membangun lingkungan yang sehat dan sadar risiko. Edukasi tentang bahaya rokok dan vape akan terus kami galakkan, demi terwujudnya masyarakat yang lebih sehat dan bebas asap rokok,” ungkap Ardika Rahman.

Dengan semangat kolaborasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat, sosialisasi ini menjadi langkah nyata untuk menurunkan angka perokok pemula, dan meningkatkan kesadaran akan bahaya tersembunyi dari produk tembakau modern seperti vape.  (Tri Suhartati /KIM Depok)




Capai Hasil Panen Maksimal, KWT Kendalikan OPT

Sleman – Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada budidaya pertanian sangat penting dilakukan dalam upaya menjaga pertumbuhan tanaman, dan mendapatkan hasil panen yang maksimal. Materi pengendalian OPT ini disampaikan oleh Natali Dwi kepada KWT Bulu Makmur, dalam acara pelatihan pemanfaatan pekarangan, yang berlangsung di rumah Dukuh Bulu, Jogotirto, Berbah, Senin (2/6/2025).

Pada kesempatan itu, Natali menjelaskan bahwa OPT dikelompokkan menjadi tiga golongan, yaitu hama tanaman, penyakit tanaman, dan gulma atau tumbuhan hidup yang tidak diinginkan.

“Hama tanaman  adalah semua hewan yang mengganggu dan merusak tanaman yang dibudidayakan dan menimbulkan kerusakan. Seragan hama  bisa dilihat dengan mata, seperti belalang, ulat , lalat buah, dan lainnya. Penyakit tanaman adalah kondisi dimana tanaman terganggu sehingga kualitas turun dan menimbulkan  kerugian,” jelas Natali.

“Tanaman yang yang  terkena penyakit akan kelihatan dampak kerusakannya. Namun organime pengganggu tidak kelihatan oleh mata  biasa. Sedangkan gulma merupakan tumbuhan yang hidup tapi tidak diinginkan seperti rumput atau tanaman lain yang tidak di budidayakan,” sambungnya.

Natali menambahkan dalam upaya menghasilkan panen yang optimal, harus diiringi dengan upaya pengendalian hama terpadu (PHT). Metode ini dilakukan dengan budidaya tanaman sehat, meliputi  pengolahan lahan yang  baik dengan  penjemuran tanah, pemberian pupuk kompos fermentasi, pengkondisian drainase, hingga penyiapan bibit yang sehat melalui pembibitan mandiri.

“Namun bila menggunakan bibit dari pembibitan orang lain, pemilihan bibit yang baik secara visual ditengarai dengan kondisi bibit yang tidak cacat, daun halus tidak berkerut, tidak tebal dan keras. Warna bibit hijau segar tidak kekuningan,” ujar Natali.

Selanjutnya dalam pengendalian hama penyakit, Natali menyarankan agar menggunakan musuh alami. Namun apabila menggunakan pestisida, dianjurkan menggunakan pestisida alami.

Apabila terpaksa menggunakan pestisida kimia, maka terdapat enam prinsip yang diterapkan, yaitu tepat  sasaran, mutu, jenis, waktu aplikasi, dosis, dan cara penggunaan.

Natali menuturkan, pengendalian hama sejatinya dapat dilakukan dengan pemasangan mulsa, pemasangan perangkap, mekanis, sanitasi, pemupukan, pemanfaatan predator musuh seperti coccinella, SP, lana laba, penyemprotan pestisida nabati dan penyemprotan pestisida kimiawi.

“Pengendalian penyakit bisa menggunakan jamur Trichoderma SPP, menggunakan pupuk kandang fermentasi yang telah matang, mengurangi penggunaan pupuk urea, pergiliran tanam, pemakaian mulsa pengaturan jarak tanam, pemusnahan tanaman terserang, pemanfaatan PGPR atau pupuk hayati, perbaikan drainase dan penggunaan fungisida kimia,” jelasnya. (Kusnadi / KIM Berbah)




KWT Jadi Garda Terdepan Ketahanan Pangan

Sleman – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikan Kabupaten Sleman menggelar pelatihan pemanfaatan tanah pekarangan untuk tiga Kelompok Wanita Tani (KWT) di lokasi yang berbeda, yaitu Padukuhan Krasan, Padukuhan Margobinangun, dan Padukuhan Bulu. Kegiatan pelatihan ini dibuka oleh Lurah Jogotirto, Mitha Mayasari, di rumah Dukuh Bulu, Jogotirto, Berbah, Senin (2/6/2025).

Pada kesempatan itu, ketiga KWT mendapatkan materi pelatihan pemanfaatan tanaman pekarangan  dan stimulan bantuan berupa 30 ekor ayam bahagia atau ayam petelur dengan kandang battery. Ayam jenis ini apabila dalam proses pemeliharaan dan pemberian ransum pakan sesuai dengan anjuran, akan menghasilkan telur omega tiga yang harganya lebih mahal dibanding telur ayam pada umumnya.

Selain itu, bantuan lainnya berupa  600 ekor bibit lele beserta kolam terpal bundar,  berbagai benih  sayuran. Namun, khusus bagi KWT Bulu Makmur, mendapat tambahan bantuan berupa rumah bibit.

Terkait hal itu, Lurah Jogotirto mengatakan kelompok wanita tani diharapkan bisa mandiri dalam penyediaan bibit sayuran.

“Kalau memungkinkan bisa menyiapkan bibit sayuran untuk  KWT satu Kalurahan Jogotirto,” ungkap Mitha Mayasari.

Ia juga berpesan untuk memanfaatkan pelatihan tersebut dengan baik. Sehingga pasca pelatihan, seluruh KWT bisa memelihara bantuan yang diberikan dengan baik. Kemudian pengelolaan keuangan KWT juga harus teliti.

“Jangan sampai nanti setelah panen tidak ada dana untuk mengisi kandang lagi. Eman (sayang) kalo kandang atau kolam jadi mangkrak. Management pengelola keuangan KWT  harus teliti agar nantinya setelah panen tetap masih bisa melanjutkan usaha. Baik budidaya lele ataupun ayam bahagia,” pesan Mitha.

Sementara, Panewu Anom Kapanewon Berbah, Noor Bramantyo di dampingi Kepala Jawatan Kemakmuran, Ringgo  Anthoni Suryo dalam sambutannya memberikan pesan untuk KWT Bulu Makmur agar memanfaatkan pekarangan yang ada. Selain menanam di tanah pekarangan bisa juga menanam  tanaman sayuran.

“Banyak sampah yang bisa dipakai seperti galon bekas, bekas tempat cat, bekas wadah minyak goreng atau yang lain. Yang penting ada semangat niat untuk mempergunakan sampah yang masih bisa di manfaatkan,” ucap Noor.

“Bila dirasa memerlukan pelatihan misal pembuatan kompos, pembibitan dan lainya bisa mengajukan permintaan pelatihan melalui jawatan Kemakmuran . Banyak program pelatihan  yang ada di pemerintahan,” sambungnya. (Kusnadi / KIM Berbah)




Jelang Idul Adha 1446 H, Harga Domba di Yogyakarta Alami Penurunan

Sleman – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, harga domba mengalami penurunan signifikan di Yogyakarta. Bambang Priyono, seorang peternak domba asal Tempel membenarkan hal tersebut. Ia pun hanya bisa bersabar menyikapi fenomena itu.

“Penurunan harga domba dibandingkan dengan tahun lalu sampai sekitar 20%,” katanya pasrah saat dijumpai di kandang miliknya yang berada di Padukuhan Mangkudranan, Margorejo, Senin (2/6/2025).

“Yang ini, tahun ini (seekor domba lokal) saya lepas 2,3 juta rupiah. (Sedangkan) betina-betina muda itu, harganya tidak sampai 1 juta,” tambahnya sambil menunjuk sekelompok kambing betina lokal muda.

Penurunan harga hewan qurban ini diduga terjadi akibat beberapa faktor, seperti pembukaan kran impor domba beberapa bulan lalu yang menekan harga domba lokal. Kemudian adanya lonjakan pasokan domba di beberapa wilayah di pulau Jawa terutama Jawa Timur, selama musim hujan tahun ini.

Lalu, munculnya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi pada awal tahun 2025 turut memengaruhi kepercayaan konsumen terhadap kesehatan hewan ternak. Selain itu, Bambang memperkirakan adanya tren peralihan dari domba ke sapi. Di mana, sahibul qurban (orang yang berkurban) lebih memilih sapi sebagai hewan qurban. Hal itu tentunya berdampak pada penurunan harga jual domba.

“Bila hitung-hitungan jatah daging sapi jauh lebih banyak, sekalipun mereka lebih banyak membayar iuran untuk qurban sapi. Lagi pula daging sapi lebih disukai daripada daging domba,” ujar Bambang.

Harga sapi pada lebaran qurban kali ini mengalami kenaikan sekitar 10% dibandingkan tahun lalu. Di wilayah pinggiran Yogyakarta saja, seekor sapi muda memiliki harga terendah mencapai 23 juta rupiah (Sadhono Hadi/KIM Tempel)