Mentoring Menulis: Merangkai Gagasan, Menempa Diri

Sleman — Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kapanewon Gamping menggelar pelatihan menulis bertajuk Mentoring Circle With Writers di Pondok Pesantren Putri Al-Miftah Mlangi, Minggu sore (1/6/2025). Kegiatan ini diikuti oleh 30 mahasiswa dari Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta.

Kegiatan yang menjadi bagian dari program Ngaji Santai Barokah (Ngasah) ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Ketua Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo, dan jurnalis , Fadhilatul Aisyah.

Dalam pemaparannya, Adnan menjelaskan bahwa artikel yang efektif adalah tulisan yang menyampaikan gagasan secara jelas, padat, dan mudah dipahami. Menurutnya, efektivitas ditentukan oleh struktur tulisan yang baik, bahasa yang lugas, serta pemilihan diksi yang tepat.

“Pembaca saat ini sangat selektif. Mereka ingin mendapatkan informasi dengan cepat tanpa harus membaca ulang. Karena itu, penulis harus mampu langsung ke inti dan tidak membingungkan,” ujarnya.

Adnan juga menekankan pentingnya kemampuan menulis di lingkungan akademik maupun profesional. Mahasiswa, katanya, perlu menguasai berbagai bentuk penulisan, mulai dari makalah, artikel ilmiah, hingga konten digital. Pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dasar dan lanjutan peserta agar karya tulis mereka tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan komunikatif.

Sementara itu, Fadhilatul Aisyah membagikan panduan menulis berita dengan struktur yang tepat, mulai dari headline (judul), lead (pembuka), body (isi), hingga ekor berita. Ia menekankan bahwa judul berperan penting untuk menarik perhatian pembaca.

“Buatlah judul yang mampu membangkitkan rasa penasaran pembaca agar mereka terdorong untuk membaca sampai akhir,” ujarnya.

Aisyah juga menjelaskan bahwa lead berfungsi memberikan gambaran awal isi tulisan dan menjadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan membaca atau tidak. Lead yang baik, katanya, harus singkat, padat, dan memuat unsur 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, dan How).

Selain efektivitas, pelatihan ini juga menekankan pentingnya kreativitas. Menurut para narasumber, di era digital yang penuh dengan informasi, gaya menulis yang unik, sudut pandang yang segar, dan analogi yang menarik menjadi pembeda utama agar tulisan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Pelatihan ini dirancang untuk membantu mahasiswa mengasah kemampuan menyampaikan gagasan secara terstruktur, komunikatif, dan kreatif. Keterampilan ini berguna tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam berbagai sektor seperti promosi, kampanye sosial, penyuluhan, dan presentasi proyek. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sinau Bareng Qurban, Bekal Teknis dan Syar’i untuk Juru Sembelih Halal

Sleman — Manajemen penyembelihan hewan qurban yang baik sangat penting untuk menjamin proses yang aman, tertib, dan sesuai syariat Islam. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Nurhadi Bambang Handoko dalam acara Sinau Bareng Juru Sembelih Halal yang digelar di Aula Masjid Baitul Hasanah Penen, Minggu (1/6/2025).

Kegiatan ini diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari takmir tiga masjid, yaitu Masjid Baitul Hasanah Penen, Masjid Hidayatullah Gondangan, dan Masjid Baitur Rohim Tegal Mulyo. Dalam paparannya, Ustadz Nurhadi menjelaskan bahwa manajemen qurban mencakup tiga tahapan utama: persiapan, pelaksanaan penyembelihan, dan pengelolaan daging qurban.

“Seorang juru sembelih harus tenang, percaya diri, dan memperlakukan ternak dengan baik. Tidak boleh takut, ragu, kasar, atau menimbulkan kebisingan yang dapat menakuti hewan,” ujar Ustadz Nurhadi.

Ia menekankan pentingnya menyiapkan tempat transit hewan yang tenang, tertutup, cukup luas, dan terpisah dari lokasi penyembelihan. Hewan disarankan berpuasa selama 12 jam sebelum disembelih untuk menjaga ketenangan, meskipun tetap diperbolehkan minum.

Dalam praktiknya, lokasi transit, penyembelihan, dan pengulitan sebaiknya dipisahkan. Jika tidak memungkinkan, maka harus dipasang sekat agar hewan tidak melihat proses penyembelihan. Untuk sapi, bisa digunakan penutup wajah yang kini tersedia secara daring.

Terkait alat penyembelihan, ia menyarankan penggunaan pisau yang sangat tajam, minimal 30 cm untuk sapi dan 15–25 cm untuk kambing. “Ketajaman pisau bisa diuji dengan memotong kertas. Selain itu, juru sembelih harus membawa pisau cadangan untuk mengantisipasi insiden,” jelasnya. Ia juga menekankan agar pengasahan pisau tidak dilakukan di depan hewan.

Lebih lanjut, Ustadz Nurhadi menggarisbawahi pentingnya koordinasi tim penyembelihan yang dibagi menjadi beberapa kelompok: tim sembelih, tim kelet (pengulitan), tim timbang, tim pisah tulang, tim potong daging, dan tim pengemasan. Area kerja juga dibagi menjadi zona merah (transit, penyembelihan, pengulitan) dan zona biru (pemotongan dan pengemasan daging). Petugas dari zona merah tidak diperbolehkan memasuki zona biru tanpa pembersihan diri. Merokok pun dilarang di kedua zona karena dapat memengaruhi kualitas daging.

Ketua Takmir Masjid Baitul Hasanah Penen, Bambang Ananto, yang juga menjabat sebagai ketua panitia, menyampaikan bahwa tahun ini masjid mereka akan menyembelih 7 ekor sapi dan 16 ekor kambing, dan jumlah ini kemungkinan masih akan bertambah.

“Kami berharap pelatihan ini dapat menambah wawasan dan keterampilan tim. Meskipun kami telah berpengalaman, kami ingin terus belajar agar pelaksanaan qurban tahun ini lebih baik dan lebih syar’i,” tuturnya. (Endarwati / KIM Donoharjo)




Reforestasi, Kunci Kedaulatan dan Kemandirian Air

Sleman – Reforestasi atau penghijauan kembali hutan menjadi langkah strategis dalam menjaga kedaulatan dan kemandirian air bersih. Kegiatan penanaman pohon tidak hanya berfungsi sebagai penghijau lingkungan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga siklus hidrologi dan mencegah krisis air yang semakin mengancam.

Di Kabupaten Sleman, kegiatan reforestasi digelar di Embung Bedog Gondorejo, Kapanewon Turi, Minggu (1/6/2025). Kegiatan ini diinisiasi oleh Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman dan didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, serta Forestry and Other Land Use – Norway Contribution. Puluhan anggota kelompok Tani Lestari dan pemuda Karang Taruna Wonokerto Turi berpartisipasi dalam penanaman 50 bibit pohon beringin (Ficus benjamina).

Sri Wahyuningsih, Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, menegaskan bahwa reforestasi bukan sekadar menanam pohon, melainkan upaya pemulihan ekosistem yang vital. “Pohon menjadi sumur hidup yang menopang kehidupan manusia dan makhluk lain. Kedaulatan air dimulai dari akar yang dalam dan daun yang rimbun,” ujarnya.

Kerusakan hutan akibat penggundulan untuk industri, pertambangan, dan ekspansi lahan pertanian telah merusak siklus air alami. Tanah kehilangan daya serap, mata air mengering, dan hujan yang turun lebih sering menimbulkan bencana seperti banjir dan kekeringan. Reforestasi berperan mengembalikan fungsi hutan dalam menyimpan air hujan, menyaringnya ke dalam tanah, dan melepasnya secara perlahan sebagai mata air dan aliran sungai.

Namun, reforestasi memerlukan dukungan kebijakan, pendanaan memadai, serta kesadaran kolektif lintas sektor, mulai dari pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, hingga masyarakat adat. Pendidikan lingkungan juga penting agar generasi muda memahami hubungan antara pohon, air, dan kehidupan.

Selain menjaga kelestarian hutan, reforestasi mendorong kemandirian air masyarakat melalui pengelolaan sumber air secara berkelanjutan. Desa-desa dapat mengembangkan sistem pemanenan air hujan, irigasi mikro, dan sumur resapan berbasis hutan rakyat. Dengan demikian, ketahanan air terbangun dari komunitas, tidak bergantung pada pasokan eksternal.

“Reforestasi bukan solusi instan, tetapi investasi jangka panjang. Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru dapat memanen air bersih 10 hingga 20 tahun mendatang. Tanpa menanam sekarang, masa depan air akan semakin suram,” tutup Sri Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Menguatkan Cerita Asal Usul: Review Penulisan Toponimi 51 Kampung Wedomartani

Sleman — Proses penulisan toponimi 51 kampung di Kalurahan Wedomartani berjalan penuh dinamika dan kemajuan, namun tidak lepas dari berbagai tantangan. Beberapa penulis masih menghadapi kesulitan, terutama dalam mengolah informasi lapangan menjadi narasi yang baik dan sesuai kaidah bahasa Indonesia.

Menurut Nyadi Kasmoredjo, anggota Pasbuja Kawi Merapi sekaligus pendamping penulisan toponimi, kendala utama ditemukan pada penulisan narasi, penggunaan bahasa, dan struktur tulisan. “Banyak penulis masih pemula sehingga sering terjadi kesalahan ejaan dan pemilihan kata yang kurang tepat. Beberapa juga cenderung menulis hal-hal yang kurang relevan, seperti perjalanan menuju lokasi atau rincian nama narasumber secara berlebihan,” ujarnya saat sesi review di komplek lapangan Wedomartani, Minggu (1/6/2025).

Selain itu, judul tulisan yang kurang menarik dan paragraf pembuka yang tidak memikat pembaca menjadi perhatian serius. “Judul dan paragraf pertama seharusnya dibuat semenarik mungkin agar pembaca terdorong untuk terus membaca sampai akhir,” tambah Nyadi.

Meski demikian, ada juga penulis yang sudah menunjukkan kualitas baik dalam menggali informasi, menyusun judul, memperkuat fokus tulisan, dan mengatur urutan penulisan secara runtut. Hal ini diharapkan bisa menjadi contoh dan motivasi bagi penulis lain.

Dalam proses pendampingan ini, penulis juga didorong untuk menambah bahan informasi yang dianggap perlu, sehingga mempermudah kerja tim editor dalam melakukan revisi dan penyempurnaan naskah.

Sumber bahan tulisan toponimi beragam, mulai dari cerita turun-temurun (cerita rakyat, legenda, dongeng), artefak, prasasti, hingga referensi dari buku dan internet. Penggunaan berbagai sumber ini penting agar tulisan lebih kuat, obyektif, dan terpercaya.

Nyadi mengingatkan, “Dengan banyaknya sumber dan data yang dikumpulkan, hasil penulisan toponimi 51 kampung ini diharapkan dapat terselesaikan sesuai jadwal dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat Kalurahan Wedomartani.”

Review penulisan ini sekaligus menjadi momentum peringatan Hari Lahir Pancasila. “Semangat menjaga Pancasila juga harus menjadi motivasi untuk menjaga sejarah dan asal-usul kampung di Kalurahan Wedomartani,” pungkas Nyadi. (Kusnadi/KIM Berbah)




Dua Jiwa Dalam Gerak, Membentuk Manusia yang Punya Hati

Sleman — Sanggar Banyu Bening menggelar pertunjukan tari terbuka menampilkan dua karya unggulan, yakni Tari Gebyar Muncar dan Tari Merak Sutera, di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Tempursari, Kabupaten Sleman, Sabtu sore. Karya-karya ini dipilih bukan hanya karena keindahan visual, melainkan kekuatan narasi dan emosi yang dapat dirasakan oleh semua penonton, termasuk yang awam terhadap tari.

Tari Gebyar Muncar dibawakan oleh Cinta Novella Rohana Tsania Putri, pelajar kelas 6 SD dari kelompok Baladewa 2, sementara Tari Merak Sutera ditampilkan oleh Cita Putri Aabida, siswa kelas 5 SD dari kelompok Srikandi. Keduanya dilatih oleh Ludtina Pangestu Eka Nur Utami dan Farid Nur Ramadani, sarjana seni tari dari Universitas Negeri Yogyakarta, serta Diky Rahmaditya Bagaskara dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Elizabeth Panti, koordinator sanggar, menjelaskan bahwa pembagian kelas tari di Banyu Bening berdasarkan kemampuan, bukan usia. Kelas pemula, Abimanyu 1, fokus pada pengenalan gerak dan musik, sedangkan Abimanyu 2 mengajarkan tari kreasi dasar seperti tari ikan dan tari kuthuk.

Lebih dari sekadar mengasah teknik, sanggar ini menekankan pembentukan karakter dan kemanusiaan melalui metode asah, asih, dan asuh. “Kami membentuk manusia yang punya hati, bukan hanya penari luwes,” ujar Elizabeth.

Atmosfer latihan di Banyu Bening terasa hangat namun disiplin, berbeda dari sanggar lain yang kaku. Anak-anak didorong untuk belajar dengan rasa aman dan empati, bahkan bisa mengekspresikan emosi tanpa takut salah.

Untuk mengukur perkembangan siswa, sanggar rutin mengadakan ujian kenaikan tingkat setiap enam bulan, dengan penilaian meliputi sikap, kedisiplinan, dan kemampuan menari. Ujian berikutnya dijadwalkan pada 21 Juni 2025.

Ujian tidak hanya menjadi tolok ukur teknis, tetapi juga pembentukan mental dan karakter, melatih keberanian dan rasa tanggung jawab siswa dalam menghadapi penilaian. Selain itu, ujian berfungsi sebagai penghargaan atas dedikasi dan motivasi siswa untuk terus berkembang.

Di tengah tren seni yang sering terjebak pada pencapaian dan popularitas, Sanggar Banyu Bening menegaskan bahwa seni adalah ruang pendidikan yang utuh. “Di sini, anak-anak belajar menari sekaligus belajar menjadi manusia,” tutup Elizabeth. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)