Harlah Pancasila, Teguhkan Sinergi Nilai Religi Islami dan Kebangsaan

Sleman — Peringatan Hari Lahir (Harlah) Pancasila menjadi momentum penting untuk meneguhkan sinergi antara nilai-nilai religius Islami dan semangat kebangsaan. Kelima sila Pancasila sejajar dengan ajaran Islam, menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya falsafah negara, tetapi juga roh yang harus hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan oleh Ahmad Arif Makruf, Kepala MAN 4 Sleman sekaligus Pembina Upacara Peringatan Harlah Pancasila yang digelar di halaman madrasah, Minggu (1/6/2025). Upacara dihadiri seluruh civitas akademika MAN 4 Sleman.

“Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pondasi segala tindakan, baik dalam bernegara maupun kehidupan sehari-hari,” tegas Ahmad Arif.

Ia melanjutkan, sila kedua menekankan kemanusiaan, keadilan, dan peradaban yang menolak segala bentuk penindasan. Sedangkan sila ketiga, Persatuan Indonesia, disamakan dengan ukhuwah Islamiyah yang mengikat sesama muslim dan ukhuwah wathaniyah yang merajut seluruh anak bangsa.

Nilai Bhinneka Tunggal Ika dijelaskan sebagai tafsir modern dari sabda Nabi Muhammad SAW: “Perumpamaan kaum mukmin dalam cinta dan kasih sayang bagai satu tubuh” (HR. Muslim).

Sila keempat menegaskan pentingnya musyawarah berdasarkan nilai-nilai ketimuran, bukan liberalisme Barat, seperti tertulis dalam Surat Asy-Syura ayat 38: “Sedangkan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah.”

Sementara itu, sila kelima yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan misi para nabi, yaitu memberantas kesenjangan sosial. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah: “Tidak beriman kepadaku orang yang tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan” (HR. Al-Bukhari). Baik Pancasila maupun Islam sama-sama menuntut keadilan ekonomi, bukan oligarki.

“Pancasila bukan sekadar lambang di dinding kelas atau kantor, tetapi roh yang harus hidup dalam denyut nadi kehidupan. Di madrasah, dalam setiap mushaf yang dibuka, di setiap shaf shalat, Pancasila dan Islam harus bersinergi seperti iman dan amal shaleh,” tegas Ahmad Arif.

Sebagai penutup, ia mengutip semangat Bung Karno yaitu “Pancasila itu bukan filsafat mati, tapi api revolusi yang harus terus menyala! Maka nyalakanlah api itu dalam hati kalian! Jadilah generasi yang ‘Ber-Pancasila dengan iman, Ber-Islam dengan kebangsaan!’” (Edy – KIM Moyudan)




Cegah Stunting, Puskesmas Ngaglik 2 Gelar Pelatihan Pembuatan Makanan Tambahan Berbahan Lokal

Sleman — Dalam upaya menekan angka stunting dan meningkatkan status gizi balita serta ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), Puskesmas Ngaglik 2 bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Donoharjo menggelar Pelatihan Pembuatan Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal. Kegiatan ini dilaksanakan di Padukuhan Banteran, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Sabtu (31/5/2025).

Pelatihan diikuti 16 kader Posyandu dari seluruh padukuhan di Kalurahan Donoharjo. Tujuannya untuk membekali para kader dengan keterampilan praktis mengolah makanan tambahan bergizi, aman, dan mudah dibuat, khususnya bagi balita bermasalah gizi dan ibu hamil KEK.

Atri Hastutiningsih, petugas gizi Puskesmas Ngaglik 2, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan strategi intervensi untuk menekan gizi kurang pada balita dan mencegah kekurangan energi kronis pada ibu hamil, yang merupakan salah satu penyebab stunting.

“Makanan tambahan yang diberikan harus memenuhi kebutuhan zat gizi sesuai usia dan kondisi anak agar pertumbuhan optimal tercapai,” ujar Atri.

Selain materi teori, para kader juga mengikuti praktik pembuatan berbagai jenis makanan tambahan sehat dan menarik, seperti rolade daging ayam, puding telur jagung, bakso ikan gurame, dimsum ayam, mento ayam, timus ubi jalar, carang gesing ekstra telur, tempura ikan, siomay ayam ikan kembung, talam pisang pandan, nogosari ayam, dan getuk keju ubi jalar.

Semua resep menggunakan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh di sekitar warga agar kader Posyandu dapat mengajarkan resep tersebut kepada ibu-ibu di wilayahnya masing-masing sehingga keberlanjutan program gizi dapat terjaga di tingkat rumah tangga.

Pelatihan ini juga bertujuan meningkatkan kreativitas kader dalam menyusun menu PMT yang lezat dan sesuai kebutuhan gizi sasaran. “Kreativitas dalam membuat makanan tambahan sangat berpengaruh pada partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu,” tambah Atri.

Dengan pelatihan ini, diharapkan kader Posyandu di Donoharjo semakin berdaya guna dalam menyusun dan menyosialisasikan menu makanan tambahan sehat dan tepat sasaran sehingga angka kekurangan gizi dapat ditekan dan kualitas kesehatan masyarakat meningkat. (Upik Wahyuni/KIM Donoharjo)




Pendidikan Berkemajuan Dimulai dari Ketakwaan dan Keteladanan

Sleman — Mendidik generasi Z memerlukan pendekatan yang sesuai dengan tantangan zaman. Hal ini disampaikan oleh Arief Jamali Muis dalam pengajian bertema “Pendidikan Berkemaajuan” yang digelar di Masjid At-Taqwa, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Sabtu (31/5).

Arief menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan panduan dalam mendidik anak agar tidak menjadi generasi yang lemah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surat An-Nisa ayat 9, yaitu dengan bertakwa dan berkata benar.

“Apabila orang tua dalam mendidik anak dilandasi dengan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT, insyaallah hasilnya akan jauh lebih baik,” jelas Arief. Ia menambahkan, berkata benar berarti orang tua perlu memberi keteladanan yang nyata bagi anak, baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Menurut Arief, kebenaran dalam mendidik harus dilandasi ilmu yang memadai. Dialog yang terbuka dengan anak, sambil menjelaskan mana yang baik dan benar, merupakan pendekatan yang penting dalam pendidikan berbasis nilai.

Arief Jamali Muis saat ini menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sementara itu, Ketua Pengajian Nurul Masajid, Muhammad Subhan, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh jamaah yang hadir dari sembilan masjid sekitar Perumnas Minomartani. Ia juga menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan dibuka Nurul Masajid Mart, sebuah usaha jamaah untuk memenuhi kebutuhan belanja harian masyarakat sekitar. (M.A. Sanusi/KIM Tirto Gumregah Berbah)




Saat Kita Masih Tidur, Mereka Sudah Bekerja

Sleman — Sabtu pagi pukul WIB, Alun-alun Denggung mulai terlihat bersih. Meski masih ada sisa sampah di sudut lapangan dan sepanjang jalan, para petugas kebersihan telah mulai menyapu dan mengangkut tumpukan sampah sejak sebelum fajar.

Salah satu dari mereka adalah Eko, pria paruh baya yang tengah memindahkan sampah ke dalam bak roda. Ia mengaku sudah berangkat dari rumahnya di sekitar Jembatan Krasak, sekitar 10 kilometer dari lokasi sejak subuh.

“Hari Sabtu dan Minggu kami harus berangkat lebih awal karena banyak warga yang akan berolahraga,” tuturnya sambil mengusap keringat.

Malam sebelumnya, Alun-alun Denggung dipadati pedagang dan pengunjung. Namun, begitu aktivitas usai, banyak sampah plastik, styrofoam, dan botol bekas yang ditinggalkan begitu saja. Beberapa ekor kucing liar terlihat menyusup di antara tumpukan, sementara lalat-lalat beterbangan.

Fenomena ini mencerminkan rendahnya disiplin sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Banyak yang menganggap kebersihan sebagai urusan petugas semata, padahal tanggung jawab utama justru berada di tangan para pengguna ruang publik.

“Kalau semua orang membuang sampah pada tempatnya, pekerjaan kami jadi lebih ringan,” tambah Eko.

Upaya menjaga kebersihan membutuhkan kesadaran kolektif. Diperlukan lebih banyak tempat sampah yang mudah dijangkau, kampanye kebersihan rutin, serta kerja sama dengan komunitas olahraga dan pengguna rutin alun-alun. Bahkan, penerapan sanksi ringan atau denda administratif terhadap pelaku buang sampah sembarangan bisa menjadi solusi jangka pendek.

Petugas kebersihan adalah pahlawan pagi hari yang sering tak terlihat. Saat sebagian besar masyarakat masih terlelap, mereka sudah memulai hari demi memastikan ruang publik tetap nyaman dan bersih.

Mereka pantas mendapat terima kasih, penghargaan, dan dukungan nyata bukan hanya dalam bentuk ucapan, tetapi juga dari sikap bertanggung jawab atas sampah masing-masing.

Karena sejatinya, ruang publik yang bersih bukan hanya buah dari kerja keras petugas, tapi juga cerminan etika kolektif warganya. (Sadhono Hadi | KIM Tempel)




Menangkap Langit, Konservasi Air Hujan Demi Kemandirian Air

Sleman — Ancaman krisis air bersih kian nyata. Urbanisasi, perubahan iklim, dan eksploitasi air tanah telah menciptakan ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Menjawab tantangan tersebut, konservasi air hujan kembali mendapat sorotan sebagai solusi konkret dan mandiri.

“Sayangnya, sebagian besar air hujan langsung terbuang ke sungai dan laut tanpa sempat dimanfaatkan. Konservasi air hujan ingin membalik situasi ini, dari air yang terbuang menjadi air yang terselamatkan,” ujar Sri Wahyuningsih, pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, saat memberikan pelatihan konservasi air hujan di Tempursari, Kabupaten Sleman, Sabtu (31/5).

Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta dari Kelompok Tani Lestari, Karang Taruna Wonokerto Turi, serta 10 warga RW 17 Condongcatur. Hadir pula Neta Warastuti, Fungsional Penyuluh Lingkungan Hidup dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Regional Jawa.

Wahyuningsih menjelaskan, konservasi air hujan terdiri atas lima tahap: menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri. Air hujan ditangkap dari atap bangunan, dialirkan melalui filter sederhana, lalu disimpan dalam tandon. Air tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan sanitasi, bahkan bisa diolah menjadi air minum.

Namun, kendala terbesar bukan pada teknologi, melainkan pola pikir masyarakat. Masih banyak yang menganggap air hujan kotor atau tidak layak dikonsumsi. Padahal, menurut penelitian lembaga seperti LIPI dan Balitbangtan, air hujan yang disaring dan diolah dengan baik memenuhi syarat sebagai air minum sehat dan berkelanjutan.

“Sosialisasi dan edukasi menjadi kunci utama agar masyarakat berani mengubah cara pandang terhadap air hujan,” tandas Wahyuningsih.

Dalam sesi praktik, dilakukan pengukuran Total Dissolved Solids (TDS) terhadap sampel air dari sumur dan PDAM milik warga Condongcatur. Hasilnya menunjukkan air sumur RT 16: 167 ppm, air sumur RT 09: 278 ppm, air sumur RT 10: 219 ppm, air sumur RT 12: 273 ppm, air PDAM: 141 ppm dan 150 ppm, serta air hujan olahan Sekolah Banyu Bening: 10 ppm

TDS merupakan indikator penting dalam menilai kebersihan air. Semakin rendah TDS, semakin sedikit kandungan zat terlarut yang dapat membahayakan kesehatan.

“Air hujan yang baru turun dan belum menyentuh tanah memiliki TDS yang sangat rendah, mendekati air murni,” imbuh Wahyuningsih.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan curah hujan tinggi—lebih dari mm per tahun di banyak daerah. Namun ironisnya, menurut BNPB, hingga Agustus 2023, lebih dari 100 kabupaten/kota mengalami kekeringan setiap tahun. Di Yogyakarta, misalnya, warga terdampak kekeringan.

Melalui konservasi air hujan, masyarakat tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memperoleh kedaulatan atas sumber air sendiri. Dengan pengetahuan dan kemauan, kemandirian air bukan lagi utopia, tetapi keniscayaan.

“Kini saatnya menangkap langit. Karena dari langit, bukan hanya hujan yang turun, tapi juga harapan,” pungkas Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)