Tanam Padi Serentak di Godean, Bupati Sleman dan HKTI Dukung Ketahanan Pangan Daerah

Sleman — Bupati Sleman, Harda Kiswoyo, bersama Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sleman memimpin kegiatan tanam padi serentak di area persawahan Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Godean, Jumat (30/5). Kegiatan ini menjadi simbol dimulainya musim tanam 2025 di wilayah Sleman Barat, sekaligus bentuk komitmen bersama dalam menjaga ketahanan pangan daerah.

Acara yang dimulai sejak pukul WIB ini dihadiri ratusan petani, Ketua DPC HKTI Sleman, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Camat Godean, Lurah Sidomulyo, penyuluh pertanian, serta tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada para petani yang tetap menjaga produktivitas di tengah tantangan seperti perubahan iklim, kelangkaan pupuk, hingga alih fungsi lahan.

“Ini bukan sekadar seremoni, tetapi komitmen nyata untuk menjaga ketersediaan pangan lokal. Saya harap ini menjadi awal musim tanam yang baik dan menghasilkan panen melimpah,” ujar Harda.

Ia juga mendorong penerapan teknologi pertanian modern, seperti penggunaan pupuk organik, irigasi efisien, dan benih unggul tahan hama.

Ketua DPC HKTI Sleman, Setiyati Prihatini, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program pendampingan intensif kepada petani di Sleman.

“HKTI mendorong petani tidak hanya menanam, tetapi memahami proses pertanian secara menyeluruh, termasuk pengolahan lahan hingga pemasaran hasil panen,” jelas Setiyati.

Ia menambahkan bahwa HKTI berkomitmen memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyuluhan, dan kemitraan dengan pemerintah maupun sektor swasta, agar kegiatan pertanian menjadi berkelanjutan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat, produksi padi DIY tahun 2024 mencapai ton GKG, turun 15,22% dibanding tahun sebelumnya. Luas panen pun berkurang 8,25%. Situasi ini menjadi latar belakang pentingnya program tanam serentak sebagai upaya konkret mengangkat kembali produktivitas pertanian.

Puncak kegiatan ditandai dengan penanaman simbolis benih padi varietas IR 64 oleh Bupati dan jajaran. Varietas ini dipilih karena adaptif terhadap kondisi lokal dan berdaya hasil tinggi.

Salah satu petani dari Kelompok Tani Ngudi Rahayu, Joko, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dukungan langsung dari pemerintah daerah.

“Kami senang dan termotivasi dengan kehadiran Pak Bupati. Ini jadi penyemangat baru bagi kami,” tuturnya.

Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi krisis pangan, memperkuat ekonomi petani, dan menegaskan sinergi lintas sektor dalam menjaga ketahanan pangan daerah. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




PPDI Kapanewon Depok Dorong Kemandirian Disabilitas Lewat Pelatihan Usaha dan Kolaborasi

Depok — Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kapanewon Depok menegaskan pentingnya penguatan kemandirian penyandang disabilitas melalui pelatihan wirausaha dan sinergi antaranggota. Hal ini disampaikan Ketua PPDI Depok, Setyawati Marheni, dalam rapat koordinasi rutin yang berlangsung Sabtu (31/5).

Menurut Setyawati, pertemuan rutin bukan sekadar forum komunikasi kelembagaan, melainkan ruang strategis untuk merancang langkah konkret pemberdayaan penyandang disabilitas.

“Pertemuan rutin ini adalah media untuk menyusun program nyata yang mendukung kemandirian teman-teman disabilitas,” ujarnya.

Salah satu fokus program tahun ini adalah peningkatan keterampilan usaha melalui pelatihan membuat batik ecoprint dan kuliner seperti bakso dan basreng. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan jiwa wirausaha dan membuka peluang usaha mandiri.

Pengurus PPDI Depok, Bonie, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mendukung pemasaran produk-produk hasil pelatihan, khususnya produk kuliner kering yang memiliki daya simpan tinggi.

“Kami akan memprioritaskan produk makanan kering agar dapat dipasarkan secara daring, sehingga jangkauan pemasarannya lebih luas,” jelas Bonie.

Selain kuliner, pelatihan batik ecoprint juga akan dilaksanakan secara swadaya. Kegiatan ini dinilai tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga ramah lingkungan, dan menjadi alternatif usaha kreatif bagi penyandang disabilitas.

PPDI Depok menegaskan bahwa keberhasilan pemberdayaan disabilitas bergantung pada sinergi dan kolaborasi seluruh elemen, baik dari internal komunitas maupun dukungan eksternal.

“Kunci keberdayaan adalah kerja sama. Dengan kolaborasi, penyandang disabilitas bisa lebih mandiri dan produktif,” pungkas Setyawati. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Jelang Iduladha, Margomulyo Gelar Bimtek Pemotongan Hewan Kurban Sesuai Syariat dan Kesehatan

Sleman — Menjelang Hari Raya Iduladha 1446 H, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) tata cara pemotongan dan penanganan hewan kurban yang sesuai dengan syariat Islam dan standar kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo dan diikuti oleh lebih dari 100 peserta, Kamis (30/5/2025).

Peserta terdiri dari rois padukuhan, panitia kurban masjid dan musala, ketua takmir, serta warga masyarakat yang terlibat langsung dalam pelaksanaan kurban. Acara ini merupakan kerja sama antara Kamituwo Margomulyo, Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Seyegan, dan Kantor Urusan Agama (KUA) Seyegan.

Narasumber pertama, Achmad Haedar dari KUA Seyegan, menekankan pentingnya memperlakukan hewan kurban dengan penuh kasih (ihsan). Ia mengingatkan panitia agar tidak membuat hewan stres dengan kebisingan atau menunjukkan alat penyembelihan sebelum waktunya.

“Panitia juga harus memahami bahwa besaran iuran Shohibul Kurban bisa berbeda tergantung jenis dan ukuran hewan. Ini harus dikelola dengan adil agar tidak menimbulkan fitnah di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pemateri kedua, drh. Adik Ismaryanto dari Puskeswan Seyegan, menyoroti aspek kesehatan dan kesejahteraan hewan. Ia menjelaskan pentingnya memastikan hewan kurban bebas dari penyakit menular seperti PMK dan antraks.

“Kurban bukan hanya ritual, tapi juga amanah sosial. Harus dilakukan dengan ilmu, tanggung jawab, dan mematuhi aturan agama serta standar kesehatan,” kata drh. Adik.

Ia juga menjelaskan teknik penyembelihan yang higienis dan ramah hewan, serta prosedur pengelolaan dan distribusi daging kurban agar tetap aman untuk konsumsi masyarakat.

Pemateri terakhir, H. Muhammad Ridwan, tokoh agama Margomulyo, mengulas pendekatan fikih dalam pelaksanaan kurban. Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain, syarat hewan kurban harus ternak (sapi, kambing, domba, atau unta), sehat, tidak cacat, dan cukup umur (min. 1 tahun untuk kambing, 2 tahun untuk sapi). Waktu penyembelihandilakukan setelah salat Id hingga 13 Zulhijah. Tata cara syar’I yaitu penyembelih harus Muslim, menyebut nama Allah, dan memotong saluran pernapasan serta makanan (hulqum dan mari’). Pembagian daging dibagi tiga yaitu untuk yang berkurban, fakir miskin, dan kerabat atau tetangga. Berikutnya adalah larangan, yaitu tidak diperbolehkan menjual bagian apa pun dari hewan kurban, termasuk kulit, sebagai bentuk imbalan.

“Kurban adalah bentuk taqarrub kepada Allah. Maka harus dilaksanakan dengan niat tulus dan mengikuti tuntunan syariat,” tegas H. Ridwan.

Ia menutup paparannya dengan harapan agar Bimtek ini dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan kurban yang tidak hanya sah secara agama, tetapi juga sehat dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




RS UAD Rayakan Satu Abad SD Muhammadiyah Blunyah dengan Layanan Medis Gratis

Sleman — Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (RS UAD) Yogyakarta menggelar bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangka peringatan 100 tahun SD Muhammadiyah Blunyah, Sinduadi, Mlati, Sleman, Sabtu (31/5/2025). Kegiatan ini berlangsung di halaman SMK Dirgantara Putra Bangsa, Sinduadi, dan menyasar masyarakat umum serta keluarga besar SD Muhammadiyah Blunyah.

Direktur RS UAD Yogyakarta, dr. Muallim Hawary, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kontribusi nyata rumah sakit terhadap masyarakat, sekaligus sebagai bentuk sinergi antar amal usaha Muhammadiyah.

“Aksi sosial ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan deteksi dini terhadap penyakit,” ungkap dr. Muallim.

Jenis layanan medis yang diberikan meliputi pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, hingga fisioterapi. Warga pun tampak antusias memanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara cuma-cuma.

“Kami berharap kegiatan ini bermanfaat, terutama bagi mereka yang belum memiliki akses mudah ke fasilitas kesehatan,” tambah Muallim.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa RS UAD berkomitmen untuk memberikan pelayanan kesehatan yang ramah, menyenangkan, dan penuh kekeluargaan. Melalui kegiatan semacam ini, RS UAD juga ingin lebih dikenal dan diakui masyarakat sebagai rumah sakit yang “bisa nguwongke”, atau memperlakukan pasien dengan kemanusiaan dan empati.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasinya kepada Muhammadiyah atas kontribusinya dalam bidang pendidikan.

“Muhammadiyah telah mengambil bagian dari tanggung jawab negara, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa melalui kegiatan pendidikan,” ujar Bupati Sleman.

Perayaan satu abad SD Muhammadiyah Blunyah ini diharapkan tidak hanya menjadi momen refleksi sejarah, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan antara institusi pendidikan, layanan kesehatan, dan masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Pentas Seni Anak PAUD Tampilkan Atraksi Menawan di Balai Desa Margorejo

Sleman — Suasana Balai Desa Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, mendadak semarak pada Sabtu pagi saat ratusan anak dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Terpadu Al Fitroh menggelar Pentas Seni Tutup Tahun. Sebanyak 160 anak didik hadir memeriahkan acara, yang menjadi penanda berakhirnya masa belajar bagi 29 siswa yang akan lulus.

Anak-anak yang hadir didampingi orang tua, bahkan kakek-nenek mereka, menampilkan berbagai atraksi menggemaskan di hadapan para guru dan undangan. Pertunjukan mencakup tarian, nyanyian, drama, dan peragaan busana, dengan kostum yang unik dan penuh warna, menghibur seluruh hadirin dengan gelak tawa dan tepuk tangan riuh.

“Acara ini kami selenggarakan untuk memberikan ruang kepada anak-anak agar berani tampil dan mengekspresikan diri sejak dini. Ada lebih dari 10 atraksi yang ditampilkan,” ujar Ulfatun Nihayah, ., pimpinan PAUD Terpadu Al Fitroh.

Momen ini menjadi ajang penting bagi anak-anak untuk belajar tampil percaya diri di depan umum. Seorang kakek dari Dukuh Kadisono yang hadir untuk menyaksikan cucunya tampil mengungkapkan kekagumannya.

“Anak-anak tampak sangat antusias. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga pembelajaran penting bagi mereka untuk tampil berani dan mandiri,” ujarnya.

Meskipun beberapa anak terlihat malu-malu, dengan dukungan orang tua, mereka tetap berhasil menyelesaikan penampilannya. Suasana balai desa pun penuh keceriaan dan kehangatan kebersamaan.

Pihak penyelenggara berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara rutin setiap tahun sebagai wadah untuk menumbuhkan kreativitas, keberanian, dan rasa percaya diri anak sejak usia dini. Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara lembaga PAUD dan masyarakat desa. (Sadhono Hadi/KIM Tempel)