Menanamkan Jiwa Nasionalisme Sejak Dini, Pentingnya Sosialisasi Anak dengan TNI Polri

Sleman – Di tengah semangat membentuk karakter anak sejak usia dini, TK Tunas Mulia Cokrowijayan mengambil langkah progresif dengan menjalin kegiatan sosialisasi bersama anggota TNI dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta tanah air, disiplin, serta keberanian sejak dini melalui interaksi langsung dengan figur penjaga keamanan negara. Sosialisasi ini tidak hanya menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak, tetapi juga memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan aparat negara.

Anak-anak usia dini berada dalam masa emas perkembangan kognitif dan emosional. Berinteraksi dengan anggota TNI dan Polri di lingkungan kerjanya, Banyuraden, Sleman, Rabu (25/6/2025), TK Tunas Mulia Cokrowijayan membuka ruang bagi anak didiknya untuk mengenal lebih dekat profesi yang selama ini mereka lihat dari kejauhan. Melalui pertemuan yang bersahabat dan penuh semangat, anak-anak belajar bahwa anggota TNI/Polri bukan sosok yang menakutkan, melainkan sahabat yang melindungi.

Kepala Sekolah TK Tunas Mulia Cokrowijayan, Erna Erawati mengatakan, memperkuat interaksi anak usia dini dengan anggota TNI/Polri, pihaknya sesungguhnya sedang menanamkan benih kebangsaan dan karakter luhur dalam jiwa generasi penerus. Sosialisasi ini bukan semata-mata perkenalan profesi, melainkan pembentukan kepribadian anak yang utuh, cinta tanah air, hormat pada sesama, dan peduli terhadap bangsa. Hal itu merupakan sebuah langkah kecil yang berdampak besar di masa depan.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga mengenal nilai-nilai nasionalisme dan keberanian sejak dini,” tandasnya.

Selain itu, kehadiran Babinsa Banyuraden, Serda Heri Prabowo bersama Bhabinkamtibmas Banyuraden, Bripka Suyanto memberikan pengaruh positif dalam membentuk karakter anak didiknya. Melalui cerita-cerita inspiratif, permainan kolaboratif, dan pengenalan nilai-nilai kebangsaan, anak-anak diajak memahami pentingnya persatuan, kedisiplinan, dan kepedulian sosial. Ini adalah fondasi awal untuk membentuk warga negara yang baik di masa depan.

Dalam kegiatan sosialisasi yang dikemas dengan pendekatan edukatif, anak-anak diajak bernyanyi lagu nasional Garuda Pancasila. Termasuk menceritakan pengalaman mereka menjaga negara dengan bahasa yang sederhana dan menarik bagi anak-anak. Suasana pun tampak ceria, penuh antusiasme dan rasa ingin tahu yang tinggi dari para siswa.

Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan ini adalah saat anak-anak diberi kesempatan untuk mencoba baris-berbaris sederhana dipandu langsung oleh Serda Heri Prabowo. Mereka diajak berdiri tegap, memberi salam, hingga belajar kompak dalam gerakan. Meski tampak lucu karena masih lugu, latihan ini secara tidak langsung melatih kedisiplinan dan kebersamaan sejak kecil.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa membangun karakter bangsa dimulai dari lingkungan terdekat anak-anak, yaitu sekolah. Sosialisasi dengan TNI dan Polri membuka ruang baru bagi pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada penanaman nilai. TK Tunas Mulia Cokrowijayan telah memulai langkah kecil namun berdampak besar untuk masa depan generasi penerus bangsa.

“Kami senang bisa berbagi semangat cinta tanah air dengan anak-anak. Semoga dari sini akan lahir generasi yang kuat, disiplin, dan peduli pada negara,” ucap Serda Heri Prabowo. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Perpustakaan Sarana Efektif sebagai Taman Bermain Literasi Anak Usia Dini

Sleman – Di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat, kebutuhan akan kemampuan literasi dasar semakin penting. Namun literasi tak sekadar soal bisa membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, dan mengekspresikan diri dengan baik. Maka, pendidikan literasi perlu ditanamkan sedini mungkin, terutama pada masa emas pertumbuhan anak usia dini.

Menanamkan literasi sejak dini tak bisa ditunda, apalagi diabaikan. Seperti yang dilakukan Erna Erawati selaku Kepala Sekolah TK Tunas Mulia Cokrowijayan yang mengajak anak didiknya mengunjungi perpustakaan pemerintah Kalurahan Banyuraden, Kabupaten Sleman, Rabu (25/6/2025). Kegiatan ini sebagai salah satu sarana yang efektif dan ramah anak guna mencapai tujuan tersebut.

Perpustakaan menjadi ruang aman sekaligus jendela dunia bagi anak-anak. Di sana, tak hanya mengenal huruf dan kata, tetapi juga belajar membangun imajinasi, mengasah rasa ingin tahu, dan mengembangkan empati melalui cerita-cerita yang mereka baca. Buku-buku bergambar, cerita rakyat, hingga buku sains sederhana bisa menjadi alat stimulasi yang kuat dalam tumbuh kembang kognitif anak usia dini.

“Pengalaman interaktif dengan buku di perpustakaan akan membekas lebih dalam dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat satu arah,” ujar Erna.

Penting juga ditekankan bahwa perpustakaan memberi akses yang adil bagi semua anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi atau pendidikan orang tua. Masyarakat pedesaan maupun perkotaan yang belum semua warganya akrab dengan buku, perpustakaan berperan sebagai jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan sumber belajar yang berkualitas. Ini sangat penting dalam upaya mengurangi kesenjangan literasi yang bisa berdampak jangka panjang pada masa depan anak.

Para pendidik dan orang tua pun memiliki peran penting dalam mendorong minat anak mengakses perpustakaan. Membiasakan anak berkunjung ke perpustakaan sejak kecil bisa membentuk budaya literasi dalam keluarga. Kegiatan sederhana seperti membacakan buku cerita di ruang perpustakaan atau menuliskan cerita bersama bisa menjadi aktivitas menyenangkan sekaligus edukatif.

Ketika anak diajak berkunjung ke perpustakaan, mereka belajar lebih dari sekadar mengeja huruf. Melainkan belajar duduk bersama, mendengarkan cerita, menjawab pertanyaan, dan menyusun narasinya sendiri. Hal ini mengembangkan banyak aspek kemampuan bahasa, keterampilan sosial, kecerdasan emosi, hingga empati. Literasi yang ditanamkan melalui aktivitas-aktivitas di perpustakaan akan memberi bekal penting bagi kesiapan anak memasuki pendidikan formal.

Erna pun menekankan bahwa peran orang tua dan pendidik dalam penguatan literasi sangat penting. Menurutnya, anak-anak yang dibiasakan berkunjung ke perpustakaan sejak kecil akan memiliki hubungan emosional yang positif dengan buku. Ketika orang tua membacakan cerita, duduk bersama anak di ruang perpustakaan, atau membiarkan anak memilih buku kesukaannya, hal itu menciptakan pengalaman literasi yang membekas dan menyenangkan.

Pendidikan literasi dasar bagi anak usia dini melalui perpustakaan bukanlah program tambahan, melainkan kebutuhan mendasar. Melalui akses terhadap bahan bacaan yang bermutu dan lingkungan yang mendukung, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi pembelajar seumur hidup, yang siap menghadapi tantangan zaman dengan bekal pengetahuan dan karakter kuat.

“Dengan menjadikan perpustakaan sebagai taman bermain literasi, kita bukan hanya mencetak pembaca cilik yang cerdas, tetapi juga menyemai benih-benih generasi masa depan yang kritis, kreatif, dan berdaya saing,” pungkas Erna. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Pahami Hak dan Peran, Forum Anak Depok Dalami Konvensi Hak Anak

Sleman – Forum Anak Kapanewon Depok mendapatkan bekal penting terkait kesadaran hak-hak anak dalam kegiatan penguatan dan pengembangan kapasitas yang digelar Dinas P3AP2KB Sleman, di gedung Anglocita Tama Kantor Kapanewon Depok, Rabu (26/6/2025).

Perwakilan Yayasan Anak Bumi Dwipantara, Arif Winarko hadir sebagai narasumber, membawakan materi Konvensi Hak Anak (KHA). Sebuah landasan internasional yang menjamin perlindungan dan partisipasi anak dalam kehidupan sosial.

Dalam pemaparannya, Arif mengajak para peserta forum anak untuk mengenali hak-haknya. Tidak hanya sebagai individu yang dilindungi, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki suara, pendapat, dan pengaruh dalam lingkungan mereka.

“Anak bukan sekadar objek perlindungan, tetapi juga subjek yang punya suara. Konvensi Hak Anak menjamin bahwa anak punya hak untuk didengar, untuk berpendapat, dan untuk berpartisipasi aktif dalam keputusan yang menyangkut hidup mereka,” ujar Arif.

Ia menegaskan bahwa pemahaman terhadap KHA sangat penting agar Forum Anak tidak hanya menjadi simbol kehadiran anak-anak dalam kegiatan pemerintah. Melainkan juga menjadi ruang aktualisasi nilai keadilan, kesetaraan, dan perlindungan yang melekat pada setiap anak.

Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan diskusi kelompok, studi kasus, dan refleksi pengalaman peserta. Anak-anak diajak untuk melihat bagaimana prinsip-prinsip KHA bisa diterapkan di lingkungan padukuhan, sekolah, maupun dalam komunitas mereka.

“Kalau ada teman yang tidak diberi kesempatan bicara di forum kelas, atau merasa takut menyampaikan pendapat karena dibungkam, itu bukan sekadar masalah kecil. Itu pelanggaran terhadap hak partisipasi. Kita harus belajar mengubah itu mulai dari lingkup kecil,” jelas Arif.

Sesi ini menjadi bagian penting dalam kegiatan penguatan Forum Anak karena menyasar hal paling mendasar, yaitu membentuk kesadaran kritis sejak dini tentang posisi anak dalam masyarakat.

Arif juga menekankan pentingnya keberanian anak untuk menyampaikan aspirasi secara konstruktif.

“Forum Anak bukan tempat untuk diam. Ini ruang untuk tumbuh, menyampaikan ide, dan menyemai perubahan. Tapi agar bisa berdampak, anak-anak harus paham dulu, apa hak mereka, dan bagaimana memperjuangkannya dengan bijak,” tegasnya.

Sekitar 30-an peserta tampak antusias merespons materi ini, bahkan beberapa menyampaikan gagasan proyek komunitas yang berbasis prinsip-prinsip KHA, seperti kegiatan mendengar suara anak-anak di padukuhan, forum diskusi pelajar, hingga kampanye hak anak melalui media sosial. (Athiful/KIM Depok)




Penguatan Forum Anak, Kabupaten Sleman Komitmen Ciptakan Lingkungan Ramah Anak

Sleman – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung suara dan peran anak-anak di tingkat dasar.

Melalui Penguatan dan Peningkatan Kapasitas Forum Anak Kapanewon Depok yang dilaksanakan di Gedung Anglocita Tama Kantor Kapanewon Depok, Rabu (25/6/2025), peserta forum anak mendapat bekal inspiratif dan strategis untuk berperan aktif dalam perubahan lingkungan sosial mereka.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DP3AP2KB Sleman, Diyah Purwanti menggarisbawahi pentingnya forum anak sebagai ruang tumbuhnya pemimpin muda masa depan, bukan sekadar simbol. Tetapi juga pelaku aktif pembangunan berbasis hak anak.

“Kami berharap partisipasi anak-anak di Kapanewon Depok akan terus meningkat dan lebih baik lagi. Anak-anak tidak hanya bisa berbicara, tetapi juga menyumbangkan pemikiran, kreativitas, dan aksi nyata yang membawa perubahan, terutama di lingkungan padukuhan,” ujar Diyah.

Ia menekankan bahwa forum anak memiliki peran strategis dalam menyuarakan aspirasi dan kebutuhan anak-anak, serta menjadi jembatan komunikasi antara generasi muda dan para pengambil kebijakan di tingkat lokal. Dengan memperkuat kapasitas mereka, maka peluang untuk menghadirkan kebijakan yang lebih ramah anak semakin terbuka.

Lebih lanjut, Diyah mengajak Forum Anak Kapanewon Depok untuk tidak sekadar aktif dalam kegiatan seremonial, tetapi juga menciptakan program-program positif dan berkelanjutan di lingkungan masing-masing. Mulai dari kampanye anti-bullying, literasi digital, hingga penguatan nilai kepedulian sosial di kalangan anak dan remaja.

“Lingkungan yang baik untuk anak tidak hanya diciptakan oleh orang dewasa. Anak-anak juga punya kekuatan untuk membentuknya. Forum Anak ini adalah bukti bahwa mereka bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya penerima dampak,” tambahnya.

Kegiatan ini tidak hanya memberi penguatan teknis dan motivasi, tetapi juga ruang untuk refleksi dan menyusun rencana aksi.

Para peserta forum anak dari berbagai kalurahan di Kapanewon Depok diberi kesempatan untuk menyampaikan ide dan gagasan mereka dalam bentuk proyek sosial sederhana yang dapat diterapkan langsung di lingkungan mereka masing-masing.

Inisiatif penguatan ini menjadi bagian dari strategi besar Kabupaten Sleman untuk mendorong terbentuknya Kabupaten Layak Anak, yang tidak hanya fokus pada infrastruktur atau pelayanan, tetapi juga pada tumbuhnya agen-agen perubahan dari kalangan anak itu sendiri.

“Kami ingin anak-anak kita punya mimpi, tapi juga punya tempat untuk mewujudkan mimpi itu. Forum Anak adalah jembatan antara imajinasi dan aksi. Dari sinilah masa depan yang lebih baik bisa kita bangun bersama,” tutup Diyah. (Athiful/KIM Depok)




Lima Cara Bijak Kelola Emosi agar Hidup Selalu Damai dan Harmonis

Sleman – Di dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat pasti ada hal-hal yang tak diinginkan. Acap kali perlakuan orang lain mengecewakan bahkan menyakitkan hati, apalagi bagi lansia yang perasaannya lebih peka. Ketidakmampuan mengelola emosi dapat memicu adanya perselisihan antara orang tua dan anak atau menantu, permasalahan hubungan dengan tetangga, dan sebagainya.

Hal itulah yang mendorong Lembaga Pendidikan Profesi Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyelenggarakan pelatihan pendampingan bagi para lansia dan kader lBKL (Bina Keluarga Lansia) di Pendapa Kalurahan Sumbersari, Selasa (24/6/2025).

Kegiatan tersebut dihadiri Kamituwa Sumbersari dan staf, Dukuh Blendung, Rizky Anas Ikhwanudin, dan 24 kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dan perwakilan para lansia. Adapun tujuan kegiatan tersebut agar para lansia dapat mengelola emosi dengan tepat, membekali para kader dengan pengetahuan dalam mendampingi lansia jika ada permasalahan, dan menumbuhkan semangat dan kepedulian para kader lan keluarganya terhadap lansia.

Kamituwa Sumbersari, Agus Iskandar dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada UMBY dan mengapresiasi kegiatan tersebut, yang dinilai sangat positif untuk pembinaan mental masyarakat.

“Semoga dengan kegiatan ini, ilmu yang diberikan dapat menambah pengetahuan yang kemudian dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.

Acara yang dikemas ringan dan menyenangkan itu dimoderatori oleh Adi Guzali dan menghadirkan seorang mahasiswa Fakultas Psikologi UMBY, Nurul Fatiha Berherd selaku narasumber.

Dalam paparannya, Nurul Fatiha atau akrab disapa Caca itu menyampaikan materi bertajuk Bijak Mengelola Emosi di Usia Emas. Caca mengatakan bahwa permasalahan pada lansia meliputi permasalahan fisik permasalahan sosial, dan permasalahan emosional. Sedang kebutuhan lansia meliputi kebutuhan fisik, kebutuhan psikis, dan kebutuhan sosial.

Diungkapkan pula bahwa dalam menghadapi permasalahan, masing-masing orang berbeda kemampuannya dalam mengeloma emosi.

“Regulasi emosi adalah kemampuan mengelola atau mengontrol emosi yang melibatkan pikiran, perilaku, dan ekspresi, terkait apa yang dirasakannya,” ungkap Caca.

Lebih lanjut, ia menuturkan ada lima langkah bijak yang bisa diterapkan untuk mengelola atau mengontrol emosi lengkap dengan contohnya. Adapun kelima cara tersebut yaitu seleksi situasi (memilih situasi yang lebih nyaman, atau menghindari pemicu), modifikasi situasi (mengubah situasi dan kondisi menjadi lebih baik), penyebaran perhatian (mengalihkan perhatian ke hal yang lebih mendamaikan), pengubahsn kognitif (berfikir positif), dan modulasi respon (pengendalian emosi).

Mahasiswa lulusan S2 UMBY tersebut juga menerangkan manfaat regulasi emosi, yaitu untuk menjaga kesehatan mental, hubungan sosial lebih harmonis, merasa lebih dihargai dan bahagia, dapat mengendalikan diri, dapat tidur nyenyak dan tekanan darah stabil, serta dapat menikmati hari tua.

“Jija kita dapat mengelola emosi dengan bijak, maka kita dapat hidup damai dan nyaman, hubungan keluarga dan sosial menjadi harmonis,” pungkasnya. (Eny MS/ KIM Moyudan).