Mengatasi Mandek Menulis Novel

Sleman — Paguyuban Sastra Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman kembali menggelar Sekolah Sastra Sleman (S3) dengan tema “Mengatasi Menulis Novel Mandek di Tengah Jalan”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Sabtu (5/7/2025) dan diikuti oleh 25 peserta dari berbagai daerah, termasuk Sleman, Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, dan Magelang.

Ketua Pasbuja Kawi Merapi Sleman, Sutopo Sugi Hartono, menjelaskan bahwa banyak penulis cerita pendek maupun novel sering mengalami hambatan dalam proses menulis, terutama ketika ide mulai buntu.

“Untuk itu, kami mengadakan S3 kali ini dengan menghadirkan narasumber Bapak Budi Sarjono, seorang novelis yang telah berpengalaman menulis cerita pendek, cerita bersambung, dan novel,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Budi Sarjono yang akrab disapa Budsar menyampaikan bahwa mandek menulis adalah hal yang wajar dan bisa terjadi pada siapa saja, baik penulis pemula maupun berpengalaman. Menurutnya, salah satu cara untuk mengatasi kebuntuan menulis adalah dengan menerapkan teknik cerita dalam cerita.

“Cerita dalam cerita adalah teknik naratif yang menyisipkan kisah tambahan di dalam alur utama, biasanya diceritakan oleh karakter dalam cerita utama. Teknik ini bisa memperkaya ide, menambah sudut pandang, dan memperdalam karakter,” jelas Budsar.

Ia menambahkan, teknik ini juga dapat membangun ketegangan, menciptakan alur yang lebih kompleks, dan memberikan informasi latar belakang yang lebih mendalam tentang karakter utama.

“Cerita selipan juga bisa menjadi cara untuk menyegarkan alur saat cerita utama mulai terasa stagnan, selama tidak menyimpang dari tema pokok,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Pasbuja Kawi Merapi berharap dapat terus mengembangkan minat dan kualitas kepenulisan anggotanya serta memperluas kontribusi dalam dunia sastra, khususnya sastra berbahasa Jawa di Kabupaten Sleman dan sekitarnya. (Giek / KIM Moyudan)




Holiday with Robot, Tumbuhkan Minat Robotika Sejak Dini

Sleman – CORE  Academy menunjukkan kiprahnya dalam pengembangan dunia pendidikan berbasis teknologi melalui kegiatan bertajuk Holiday with Robot di SMP Muhammadiya 3 Depok, Sleman, Sabtu (5/7/2025).

Workshop ini diikuti 13 peserta dari berbagai sekolah dasar dan menengah, seperti SD Muhammadiyah Condongcatur, SD Muhammadiyah Sapen, SD Muhammadiyah Sagan, SDIT Taruna Alquran, MBS Prambanan, dan SD Model Sleman.

Acara dibuka Koordinator Program Core Academy, Ary Gunawan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan teknologi robotika kepada siswa sejak usia dini, agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, namun juga pencipta inovasi di masa depan.

Workshop dipandu langsung oleh Senior Trainer CORE Academy Adjie Purwanto. Ia memulai sesi dengan pemaparan tentang dasar-dasar robotika, termasuk pengenalan robot secara umum dan sistem kerja robot line follower atau robot pengikut garis.

Peserta tampak antusias ketika masuk pada sesi praktik, yakni merakit robot secara berkelompok. Masing-masing peserta membawa pulang hasil kreasi robot mereka sendiri.

Direktur CORE Academy, Eko Priyantoro, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aktivitas liburan, melainkan bagian dari visi jangka panjang untuk membangun fondasi kecakapan abad 21 bagi anak-anak Indonesia.

“CORE Academy adalah lembaga edukasi yang bergerak aktif dalam bidang koding, robotika, dan penguasaan bahasa asing. Kami tidak sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi ingin menumbuhkan cara berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif pada anak-anak sejak dini,” ujar Eko.

Lebih lanjut, Eko menyampaikan bahwa perkembangan dunia kerja dan pendidikan saat ini menuntut generasi muda untuk memiliki kompetensi yang adaptif dan visioner.

Oleh karena itu, CORE Academy berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis bagi sekolah, komunitas, dan orang tua dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi tantangan zaman.

“Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah, lembaga pendidikan, hingga komunitas, dalam menciptakan ekosistem belajar yang inovatif dan inspiratif. Pendidikan masa depan adalah pendidikan yang memberi ruang eksplorasi, bukan hanya hafalan. Dan robotika adalah salah satu gerbangnya,” pungkasnya.

Melalui kegiatan seperti Holiday with Robot, CORE Academy berharap dapat menjadi jembatan awal bagi anak-anak dalam memahami dunia teknologi secara menyenangkan, aplikatif, dan berorientasi masa depan. (Athiful/KIM Depok)




Sedekahan Suro, Warisan Leluhur yang Tetap Hidup di Karangasem Gempol

Sleman — Tradisi Sedekahan Suro masih dijaga dan dilestarikan oleh warga Kampung Karangasem, Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, Sabtu (5/7/2025). Kegiatan ini digelar pada Sabtu malam bertepatan dengan malam 10 Suro dalam penanggalan Jawa, dan dipusatkan di rumah Dukuh Gempol.

Acara dimulai dengan pembacaan doa dan tahlil yang dipimpin oleh Rois setempat, Rahmat Mizan, sebagai bentuk permohonan keselamatan dan keberkahan bagi warga serta lingkungan sekitar. Suasana khidmat dan penuh kekhusyukan menyelimuti kegiatan tersebut.

Dukuh Gempol, Ari Susanti, menyampaikan bahwa Sedekahan Suro merupakan bagian dari rasa syukur atas nikmat yang telah diterima, sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual dan budaya warisan leluhur.

“Tradisi ini adalah pengingat agar kita senantiasa menjaga harmoni—dengan Tuhan, sesama, alam, dan para pendahulu,” ujarnya.

Sedekahan atau kenduri malam Suro merupakan tradisi yang telah hidup lama di tengah masyarakat Jawa, Madura, hingga Sumatra. Momentum ini diperingati setiap bulan Suro atau Muharam sebagai bentuk penghormatan terhadap pergantian tahun Hijriyah, serta refleksi diri melalui doa bersama dan kebersamaan warga.

Selain sebagai ungkapan syukur, Sedekahan Suro juga diyakini memiliki nilai spiritual untuk tolak bala dan pembersihan diri secara lahir dan batin. Bulan Suro dianggap sebagai bulan sakral, sehingga kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan meningkatkan ketakwaan.

Melalui kegiatan ini, Karangasem Gempol menunjukkan komitmen untuk terus nguri-uri kabudayan (melestarikan budaya), membuktikan bahwa kearifan lokal tetap relevan dan bermakna dalam kehidupan masyarakat masa kini. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Warga Kebur Kidul Gelar Kenduri Malam 10 Suro, Doa Bersama untuk Keberkahan dan Kerukunan

Sleman — Masyarakat Padukuhan Kebur Kidul, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, menggelar kenduri sedekahan dalam rangka memperingati malam 10 Suro atau 10 Muharam 1447 H, pada Sabtu (5/7/2025) malam di Masjid Istiqlaal Kebur Kidul.

Tradisi kenduri dilaksanakan usai salat Magrib dan diikuti oleh seluruh kepala keluarga yang membawa ubo rampe berupa nasi, sayur matang, rempeyek, dan makanan lainnya. Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat atau Rois padukuhan, Sudarman.

Dalam tausiyahnya, Sudarman menyampaikan makna penting dari malam 10 Suro yang sarat dengan nilai spiritual dan historis. Ia mengingatkan kisah-kisah Nabi, seperti Nabi Yunus yang diselamatkan dari perut ikan, serta Nabi Ayyub yang diangkat penyakitnya oleh Allah SWT.

“Bulan Suro menjadi momentum penting untuk memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah. Kita mohon diberi keberkahan, kesehatan, serta kelapangan rezeki yang halal,” ujar Sudarman.

Ia juga mengajak warga untuk terus menjaga semangat guyub rukun, memperkuat gotong royong, dan menjaga ketenteraman lingkungan. Selain itu, ia mendorong warga agar mendukung setiap program pemerintah demi tercapainya kesejahteraan bersama.

Tradisi kenduri malam Suro menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Kegiatan ini diharapkan terus berlangsung sebagai bagian dari warisan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang membumi. (Marmansyah/KIM Wara Aji Cangkringan)




Warga Gempol Dibekali Informasi BPJS PBI dan JPS

Sleman — Kelompok PKK Padukuhan Gempol menggelar pertemuan rutin dengan menghadirkan narasumber dari Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, Sabtu sore (5/7), di Gedung Sarpras Padukuhan Gempol. Sosialisasi ini mengangkat tema penting seputar akses layanan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan Jaring Pengaman Sosial (JPS).

Ketua PKK Padukuhan Gempol, Tri Suhartati, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman langsung kepada warga terkait program perlindungan sosial, terutama bagi masyarakat kurang mampu.

“Dengan menghadirkan narasumber langsung dari Jawatan Sosial, warga bisa lebih memahami alur dan persyaratan pengajuan layanan, sehingga tidak bingung saat membutuhkan bantuan,” jelasnya.

Dalam paparannya, Subekti Handayani menjelaskan bahwa BPJS PBI ditujukan bagi warga yang memenuhi kriteria tertentu, dan dapat diajukan melalui Dinas Sosial Kabupaten Sleman atau Mal Pelayanan Publik (MPP) Sleman.

“Hal terpenting adalah melengkapi seluruh persyaratan sesuai ketentuan agar proses pengajuan berjalan lancar,” ujarnya.

Selain itu, Subekti juga memperkenalkan program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan biaya pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial lainnya. Seluruh proses pengajuan JPS dapat dilakukan melalui Dinas Sosial dengan prosedur dan persyaratan yang telah ditetapkan.

Pertemuan ini disambut antusias warga karena memberikan informasi langsung dan teknis mengenai layanan sosial yang kerap dibutuhkan masyarakat. Diharapkan, informasi tersebut dapat disebarluaskan ke warga lainnya agar semakin banyak yang memahami hak dan cara mendapatkan akses perlindungan sosial dari pemerintah. (Tri Suhartati/KIM Depok)