Tanamkan Nilai Etika Sejak Dini, FBSB UNY Bersama PCM dan PCA Latih Guru Ciptakan Lagu Anak Bernilai Karakter

Sleman – Departemen Pendidikan Seni Musik, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (FBSB UNY) bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Seyegan menggelar workshop Implementasi Lagu Anak Berbasis Nilai-nilai Karakter Bagis Siswa Sekolah Dasar. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 8-9 Juli 2025, di Gedung Pertemuan Gendhuk Wulan, Margodadi, Seyegan, Sleman.

Workshop ini diikuti oleh sekitar 70 orang peserta yang merupakan Guru TK Aisyiah dan Guru SD Muhammadiyah di Kapanewon Seyegan. Adapun materi yang disampaikan ialah mengenal notasi music, harmoni lagu anak, membuat lagu sederhana, bernyanyi dengan benar, praktik bernyanyi lagu anak, dan pola aba-aba sederhana.

Sementara narasumber yang dihadirkan ialah tujuh orang dosen FBSB UNY, yaitu Heni Kusumawati, Drijastuti Jogjaningrum, Lukas Gunawan Arga Rakasiwi, Fu’adi, Ambar Fidianingsih, Agustianto, dan Panca Putri Rusdewanti.

Pada kesempatan itu, Heni Kusumawati menyampaikan bahwa workshop ini digelar sebagai implementasi kegiatan dosen berkegiatan di luar kampus. Tujuannya untuk memberikan pelatihan membuat lagu sederhana kepada guru, dengan mengenalkan teori musik, menulis notasi, harmoni dan lirik lagu yang mengandung nilai-nilai karakter. Di samping itu, guru juga dilatih membuat lagu anak sederhana dengan muatan karakter dan melatih siswa di sekolah menyanyikan lagu baru yang mengandung karakter. 

“Tujuan kegiatan ini tidak hanya untuk menghidupkan kembali lagu anak-anak, namun juga untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika sejak dini. Semoga dengan ilmu yang diberikan ini dapat membangkitkan semangat dan rasa percaya diri dari para guru untuk mengajarkan lagu baru pada anak-anak didik dengan nada yang benar, sehingga anak menjadi paham akan makna dari lirik lagu yang diajarkan,” ungkapnya, Selasa (8/7/2025).

Di akhir materi, peserta juga diberi tantangan untuk membuat karya lagu sebagai wujud penerapan materi yang telah diterima selama mengikuti workshop.

Pasca pelatihan, diharapkan kerja sama antara FBSB UNY dengan PCM dan PCA Seyegan tidak berhenti sampai di sini. Namun tetap berlanjut, sehingga para tenaga pendidik dapat mengajarkan berbagai lagu baru kepada peserta didik. Sementara tim pengabdi akan melakukan pendampingan untuk melihat keberhasilan implementasi lagu baru di sekolah pada waktu yang sudah disepakati. (Dhian Navitri/KIM Seyegan)




Tingkatkan Profesionalitas, Kemenag Sleman Gelar Pembinaan ASN Pendidik Madrasah

Sleman – Menyambut tahun ajaran baru 2025/2026, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sleman menggelar kegiatan pembinaan bagi tenaga pendidik Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di madrasah swasta seluruh jenjang, mulai dari Roudhatul Athfal (RA), madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Pembinaan yang diikuti oleh sekitar 70 guru dan kepala madrasah ini berlangsung di Aula Lantai 3 Kantor Kemenag Sleman, Rabu (9/7/2025).

Kepala Kantor Kemenag Sleman, Sidik Pramono didampingi para pengawas madrasah membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Sidik Pramono menekankan pentingnya penguatan budaya berkinerja sebagai identitas sekaligus kewajiban ASN Kementerian Agama.

“Sebagai ASN, kita tidak hanya sekadar bekerja, tetapi harus berkinerja. Itu dimulai dari presensi kehadiran hingga pulang, dan dilanjutkan dengan penyusunan LKH maupun LKB secara tertib,” kata Sidik.

“Mari bersama-sama kita maksimalkan peran kita dalam membangun madrasah yang lebih baik, kuatkan teamwork, dan wujudkan pengembangan madrasah yang berkelanjutan,” tegasnya.

Antusiasme para peserta terlihat dari keseriusan mereka dalam menyimak setiap arahan yang disampaikan. Selain itu, acara ini juga diisi dengan pemaparan materi motivasi bertajuk ‘Empowering ASN Kemenag Sleman’ oleh narasumber sekaligus motivator nasional, Nur Wahyudin Al Aziz. 

Dalam paparannya Aziz mengajak para guru untuk lebih berdaya dan siap menghadapi tantangan pendidikan di era transformasi digital dan kurikulum baru.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para ASN pendidik semakin siap menyambut tahun ajaran baru. Tentunya dengan semangat kinerja dan komitmen membangun madrasah yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing tinggi.  (Edy – KIM Moyudan)




Komitmen Perjuangkan Aspirasi Transmirgan Asal Sleman, Bupati Sleman Rencanakan Kembali Kunjungi Konawe Selatan

Sleman – Bupati Sleman Harda Kiswaya bersama jajarannya akan kembali bertolak menuju Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, untuk melakukan koordinasi dengan Pemerintah setempat terkait transmigran asal Sleman pada Minggu (13/7/2025) mendatang.

Keberangkatan Bupati Sleman ini merupakan tindak lanjut dari hasil evaluasi pertemuan sebelumnya dengan Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan dan transmigran asal Sleman pada bulan Juni lalu.

Diketahui, dalam pertemuan tersebut, Bupati Sleman membahas berbagai isu dan kendala yang disampaikan transmigran asal Sleman sebagai aspirasi.

Seperti diberitakan sebelumnya, terdapat sejumlah Kepala Keluarga asal Sleman mengikuti program transmigrasi ke Kabupaten Konawe Selatan, tepatnya di Desa Laikandonga, Kecamatan Ranomeeto Barat. Belakangan diketahui beberapa kepala keluarga memilih untuk kembali pulang ke Sleman karena sejumlah masalah.

Kondisi inilah yang menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Sleman khususnya Bupati Sleman untuk membantu memberikan solusi atas permasalahan maupun kendala yang dialami transmigran asal Sleman di Konawe Selatan.

“Kami berterima kasih atas upaya Pemkab Konawe Selatan dalam melayani para transmigran asal Kabupaten Sleman. Kami upayakan segera ada solusi bersama,” terang Bupati Sleman, Senin (7/7/2025).

Agenda pertemuan yang akan dilakukan kembali dengan Pemkab Konawe Selatan ini juga dinilai sebagai komitmen dan keseriusan Pemkab Sleman dalam menindaklanjuti berbagai permasalahan yang dialami transmigran asal Sleman.

Kunjungan kedua Bupati Sleman di Konawe Selatan akan berlangsung sampai hingga Kamis (17/7/2025) mendatang.

“Saya berharap segera dirumuskan solusi bersama mengenai permasalahan yang dialami transmigran asal Sleman dan Pemkab Konawe Selatan bisa melakukan perjanjian kerja sama kembali dengan Pemkab Sleman,” ujar Harda Kiswaya.

Dalam kesempatan lain, Kepala Bagian Hukum Setda Sleman, Hendra Adi menuturkan tinjauan yuridis dan empiris terkait persoalan ini telah selesai untuk selanjutnya dibahas bersama Pemkab Konawe Selatan.

Ia menyebut, respons cepat Bupati Sleman, pemerintah pusat, dan Pemkab Konawe Selatan, menjadi langkah positif bagi penyelesaian permasalahan para transmigran asal Kabupaten Sleman.

“Apabila alternatif solusi bersama bisa disepakati, pembaruan perjanjian kerja sama daerah tentang penempatan transmigrasi akan memperkuat kebijakan formal dan operasional,” paparnya.

Hal tersebut, sambung Hendra, sekaligus diharapkan menjadi perhatian pemerintah pusat dalam memperbaiki secara keseluruhan tata kelola program transmigrasi.




Revitalisasi Pekarangan dan Edukasi Pengelolaan Sampah Jadi Program Pemberdayaan Masyarakat Mahasiswa KKN UIN Suka

Sleman – Hamparan sawah yang berada di Kawasan Padukuhan Sombangan, Sumbersari, Moyudan belum dimanfaatkan secara optimal. Pekarangan tersebut nampak dipenuhi tanaman liar, bahkan menjadi sarang nyamuk.

Melihat kondisi itu, mahasiswa KKN dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan pemberdayaan masyarakat mengenai ketahanan pangan.

“Guna menberdayakan masyarakat dalam bidang ketahanan pangan maka kami mengambil tema revitalisasi pekarangan dan edukasi pengelolaan sampah,” ungkap Muh. Ali Dzulfikar selaku Ketua KKN kelompok 199.

Hal tersebut disampaikannya dalam sesi paparan program kerja KKN kelompok 199 yang berlangsung pada, Selasa (8/7/205/25) di rumah Dukuh Sombangan.

Acara itu dihadiri oleh Dosen Pembimbing, Yuli Kuswandari, Ketua RT, RW dan tokoh masyarakat setempat.

Lebih lanjut Ali mengatakan bahwa untuk memberdayakan petani akan dilakukan sosialisasi pemanfaatan lahan pertanian yang tidak ditanami.”Kalau hal tersebut penyebabnya karena puso karena serangan hama, kami akan mengusahakan tanaman alternatif sebagai pengganti padi,” tuturnya.

“Selain itu kami juga akan memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk memanfaatkan demplot secara optimal,” sambung Ali.

Ia juga menambahkan bahwa mahasiswa KKN akan mengusahakan berbagai jenis tanaman untuk dibagikan ke warga, agar pekarangan lebih bermanfaat. Ali pun membeberkan salah satu program kegiatan menarik yang akan diimplementasikan ialah program pembuatan magot.

“Sementara ini masih banyak warga yang belum bisa memanfaatkan sisa makanan, maka akan kami berdayakan sebagai bahan makanan magot. Magot merupakan makanan ternak ayam bebek dan unggas lainnya, dan juga dijadikan makan perikanan,” ujar Ali.

Di samping itu, Ali dan kelompoknya juga berusaha untuk mengoptimalkan lembaga Bank Sumpah Sumber Rejeki Padukuhan Sombangan. Mereka juga merencankan program lain seperti pendampingan Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dengan membantu mengajar dan menambah pendidikan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Kemudian melengkapi masjid dengan pojok baca atau perpustakaan. (Giek/KIM Moyudan)




IPAL Komunal, Bukti Kesadaran Warga Kadirojo Jaga Lingkungan

Sleman – IPAL atau Instalasi Pengolahan Air Limbah adalah konstruksi yang mengumpulkan dan mengolah limbah dari sejumlah rumah warga secara kolektif agar aman sebelum dibuang ke lingkungan. IPAL memiliki banyak manfaat dalam konteks kesehatan masyarakat dan pemeliharaan lingkungan.

IPAL mengurangi risiko kuman penyakit karena limbah tidak mencemari lingkungan dan memberikan akses sanitasi yang layak kepada warga. Di sisi yang lain, IPAL mencegah pencemaran sumur penduduk dan sungai dari limbah domestik, serta mencegah bau tidak sedap. Keberadaannya berkontribusi kepada program pemerintah dalam pemenuhan SDGs (Sustainable Development Goals), khususnya butir enam.

Salah satu contohnya ialah IPAL Padukuhan Kadirojo, Margorejo, Tempel yang terletak di pinggir Sungai. Konstruksi IPAL yang dibangun tahun 2016 ini nampak tampak cerah, bersih dan tidak bau.

Mantan Dukuh Kadirojo periode 2002 sampai 2020, Boy Boidi mengatakan IPAL tersebut dibangun dengan partisipasi masyarakat.

“Dana yang diperoleh sebesar 500 juta dan warga berpartisipasi dalam pembangunan saluran dari rumah ke rumah. Seorang warga yang dermawan kemudian mewakafkan tanahnya, untuk instalasi ini,” ungkapnya saat ditemui, Selasa (8/7/2025).

Untuk pemeliharaannya sendiri, Boy mengatakan bahwa warga dipungut biaya yang tidak besar dan dikumpulkan setiap pertemuan warga per RT.

“Kami mengharap warga tidak membuang barang-barang yang sulit terurai ke dalam saluran, demi kelangsungan instalasi ini,” tandas Boy. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)