LUKADESI, Implementasi Negara Hadir di Rumah Duka

Sleman – Inovasi pelayanan administrasi kependudukan berbasis desa terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Sleman demi menghadirkan layanan publik yang cepat, humanis, dan berpihak pada masyarakat. Salah satu program andalan yang kini dirasakan langsung manfaatnya oleh warga adalah LUKADESI (Keluarga Berduka Desa Siaga). Sebuah layanan urusan kependudukan di kalurahan secara terintegrasi.

Program ini kembali menjadi perhatian setelah dijalankan di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, pada Jumat (11/07/2025). Pada kesempatan itu, Dukuh Candi Karang, Harun Aroni menyerahkan akta kematian atas nama almarhum Ngadimin bin Ahmad Rusdi (78 tahun) kepada ahli waris di rumah duka, Candi Mendiro RT 05 RW 10. Akta kematian tersebut diserahkan sebelum prosesi pemakaman dilaksanakan di Makam Candi.

Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho mengapresiasi sinergi antara pamong kalurahan, dukuh, dan Dinas Dukcapil Sleman. “Program LUKADESI ini sangat membantu warga kami, terutama dalam situasi kedukaan. Warga tidak perlu mengurus dokumen di tengah suasana duka, karena pemerintah hadir langsung melalui perangkat desa. Ini bukan sekadar administrasi, tapi bentuk empati dan pelayanan yang berlandaskan kemanusiaan,” ujar Harjuno.

“Untuk memperoleh akta kematian melalui LUKADESI, warga cukup menyiapkan surat keterangan kematian dari rumah sakit atau kalurahan, foto kopi KTP dan KK almarhum, foto kopi KTP pelapor dan dua orang saksi, serta mengisi formulir . Bila dikuasakan, cukup menyertakan surat kuasa. Semua layanan ini tanpa dipungut biaya,” sambungnya.

Harjuno menegaskan bahwa Kalurahan Sardonoharjo berkomitmen untuk terus menjalankan program LUKADESI secara konsisten. Ia menambahkan bahwa selain akta kematian, pihaknya juga aktif mengurus akta kelahiran, KTP elektronik, dan dokumen kependudukan lainnya melalui pendekatan berbasis padukuhan.

“Kami ingin menjadikan Sardonoharjo sebagai pelayanan publik yang inklusif dan dekat dengan warganya,” imbuhnya.

Sementara, dari pihak keluarga almarhum Ngadimin menyampaikan rasa terima kasih atas kemudahan dan perhatian yang diberikan oleh pemerintah. Layanan ini dinilai sangat membantu di tengah situasi duka dan menjadi contoh nyata bagaimana negara bisa hadir secara konkret di tengah masyarakat.

Dengan semakin berkembangnya program LUKADESI, Pemerintah Kabupaten Sleman berharap masyarakat dapat memperoleh dokumen kependudukan secara lebih cepat, efisien, dan tanpa hambatan. Layanan ini adalah bagian dari reformasi birokrasi pelayanan publik yang menempatkan kepentingan warga sebagai prioritas utama. (ESK – KIM DSN Ngaglik)




Dinsos Sleman Beri Bantuan Kursi Roda untuk Salah Satu Warga Sombangan

Sleman- Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Sosial memberikan bantuan kursi roda untuk Tukinem, salah satu warga Padukuhan Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Moyudan.

Kursi roda itu diserahkan langsung oleh perwakilan Dinsos Sleman bagian logistik, Marsudi dan Sutopo, pada Jumat (11/7/2025), di rumah Tukinem.

Penyerahan bantuan didampingi oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Moyudan, Tenaga Pendamping Sosial Kalurahan (TPSK), dan dukuh setempat.

Pada kesempatan itu, Marsudi mengatakan bahwa sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap keluarga miskin perlu pelayanan kesejahteraan sosial. “Berdasarkan laporan yang kami terima, Ibu Tukinem yang sudah berusia 67 tahun ini menderita sakit dan tidak bisa jalan. Maka kami berikan bantuan kursi roda,” ungkap Marsudi.

Ia menambahkan bahwa Ibu Tukinem masuk dalam data keluarga miskin.

Selanjutnya, salah satu anak dari Ibu Tukinem, Noryanti mengucapkan terima kasih kepada Dinsos Sleman dan TKSK yang telah memberikan perhatian kepada ibunya.”Bantuan ini cukup bermanfaat bagi kami,” ujarnya. (Giek/KIM Moyudan)




Stunting Jadi Prioritas Nasional, Caturtunggal Bergerak Lewat Rembug Stunting 2025

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menyelenggarakan kegiatan rembug stunting sebagai upaya memperkuat konvergensi pencegahan stunting melalui forum musyawarah lintas sektor, Kamis (10/7/2025). Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Puspadenta Kantor Kalurahan Caturtunggal ini dihadiri oleh Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok, PJ Lurah Caturtunggal, Perwakilan Puskesmas Depok 3, BPKal Caturtunggal, pamong kalurahan, serta tokoh masyarakat.

Rembug stunting kali ini menghadirkan dua orang narasumber, yaitu Kader Pembangunan Manusia (KPM), Kristin Wiwit dan perwakilan Puskesmas Depok 3, Arditiya Sejati. Keduanya menekankan pentingnya peran data eHDW dan pemetaan rumah tangga risiko stunting sebagai dasar penyusunan program yang tepat sasaran.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD), yang membahas hasil pemetaan sosial dan layanan, serta menyusun prioritas kegiatan intervensi untuk dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) dan APBKal.

Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Fransiskus Suharyadi menyampaikan bahwa stunting merupakan program prioritas nasional.

“Stunting adalah program nasional yang harus mendapat perhatian bersama. Pemerintah kalurahan memegang peran penting dalam menyukseskan program ini melalui kolaborasi dan intervensi yang terarah,” ungkap Fransiskus.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penandatanganan berita acara sebagai bentuk komitmen bersama seluruh pihak dalam mendukung pencegahan stunting secara terencana, terukur, dan berkelanjutan. (Oktaviana / Kim Depok)




Temui Panewu, KIM Depok Perkuat Peran Informasi Publik

Sleman – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Depok, Sleman melakukan audiensi dengan pemerintah kapanewon di Ruang Kerja Panewu Lantai 2, pada Jum’at (11/7/2025).

Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sinergi antara komunitas informasi masyarakat dan pemerintah dalam mendorong keterbukaan informasi publik serta penguatan partisipasi warga.

Panewu Depok, Djoko Muljanto didampingi Kepala Jawatan Sosial, Fransiskus Suhyadi dan Heri Purnomo, menemui jajaran pengurus KIM Depok, yang terdiri dari Ketua, Adi Yananta, Wakil Ketua, Tri Suhartati, Sekretaris, Sri Wahyuni, dan Bendahara, Lidya Agustina Kristanti.

Djoko menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif KIM Depok untuk menjalin komunikasi langsung dengan pemerintah kapanewon.

Ia menegaskan bahwa keberadaan KIM memiliki nilai strategis dalam menjembatani informasi antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam menghadapi tantangan komunikasi publik di era digital.

“KIM menjadi penyaring dan penjaga kualitas informasi yang sampai ke masyarakat. Jadi, perannya sangat penting untuk mencegah disinformasi sekaligus memperkuat kesadaran warga,” ujar Djoko.

Ia menambahkan, bahwa Pemerintah Kapanewon Depok siap mendukung langkah-langkah KIM Depok dalam memperluas jejaring komunikasi, meningkatkan kapasitas SDM, dan menjalankan peran edukatif di masyarakat.

“Sinergi KIM dan pemerintah penting untuk memastikan kebijakan dan program yang dilaksanakan betul-betul sampai dan dipahami warga,” imbuh Djoko.

Sementara Ketua KIM Depok, Adi Yananta menyampaikan bahwa audiensi ini merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi kelembagaan yang lebih kuat, sekaligus mempertegas posisi KIM sebagai mitra aktif pemerintah dalam pembangunan informasi publik.

“Kami ingin hadir sebagai mitra yang bukan hanya menjalankan fungsi diseminasi informasi, tetapi juga sebagai pendengar dan penghubung aspirasi warga dengan pemerintah,” jelas Adi.

Adi juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas internal KIM, baik dari sisi sumber daya manusia maupun dukungan kelembagaan.

Ia menyampaikan harapan agar ke depan ada ruang kolaborasi yang lebih konkret antara KIM dan pemerintah kapanewon, khususnya dalam menyasar kelompok-kelompok masyarakat yang paling membutuhkan informasi berkualitas.

“Kami siap mendukung program-program pemerintah, tetapi kami juga berharap ada dukungan balik agar KIM memiliki kekuatan yang cukup untuk menjangkau masyarakat secara luas dan mendalam,” tuturnya.

Audiensi ini ditutup dengan komitmen untuk membangun komunikasi lebih intensif dan kolaboratif antara KIM Depok dan Pemerintah Kapanewon Depok, sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang melek informasi, kritis, dan aktif. (Athiful/KIM Depok)




Pasar Krempyeng dari Masa ke Masa

Sleman – Pasar Krempyeng adalah pasar tradisional yang karena sifatnya yang sementara atau cepat bubar, biasanya hanya buka pada hari-hari tertentu dalam satu pekan. Istilah “Krempyeng” sendiri dalam bahasa Jawa berarti “cepat bubar” atau tidak bertahan lama.

Nama Pasar Krempyeng banyak berdiri di beberapa daerah, baik di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasar ini biasanya berlokasi di desa atau daerah tertentu dan menjadi pusat transaksi jual beli kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat sekitar. Salah satunya adalah pasar Krempyeng yang berada di Dakawon, Sumbersari, Moyudan, Sleman.

Carik Sumbersari, Junaidi menjelaskan bahwa pasar tradisional tersebut sudah berdiri sejak zaman Kolonial Belanda. Semula banyak penjual yang berderet di pinggir jalan. Para penjual menjajakan dagangannya dengan menggelar alas seadanya, ada juga yang membuat gubuk bambu sebagai tempatnya.

“Pada tahun 1975, Pemerintah Kalurahan Sumbersari memfasilitasi tempat berjualan dengan membuatkan los (kedai) dalam satu lokasi, dan dilengkapi kios-kios yang lebih permanen. Dengan menggunakan tanah kas desa seluas meter persegi, para pedagang mulai menempati los dan kios tersebut, sehingga tidak lagi berada di tepi jalan,” jelasnya saat ditemui, Kamis (10/7/2025).

Pada tahun 1982, los pasar yang kurang memadai dibangun yang lebih permanen dengan lantai keramik dan atap asbes. Seiring dengan munculnya pasar modern yang tumbuh di mana-mana, diikuti dengan pola hidup masyarakat, Pasar Krempyeng mulai sepi. Aktifitas pasar mulai berkurang pula.

Sebagai upaya menghidupkan kembali, Pemerintah Kalurahan Sumbersari menggunakan dana desa pada tahun 2023, mulai memindahkan kios di sisi timur ke belakang. Kios yang semula mepet jalan sehingga menutup los yang di belakangnya. Kemudian di tahun 2024 memindahkan kios di sisi barat. Untuk melengkapi sarana parkir yang lebih preventif maka pada tahun 2025 dibangun tempat parkir yang berada di depan los-los tersebut.

Setelah dibangun sarana tersebut pasar Krempyeng Dakawon mulai menggeliat, pedagang kebutuhan sehari-hari berjualan setiap hari.

Pasar Krempyeng yang semula sepi sekarang nampak hidup kembali. Carik Sumbersari, berharap dengan adanya Pasar Krempyeng diharapkan bisa menjadi penyangga ekonomi masyarakat.

“Pasar ini diharapkan dapat membangkitkan sekaligus menyangga perekonomian warga,” ujarnya. (Giek / KIM Moyudan)