Mengenal Pematung Asal Surowangsan yang Menghidupkan Imajinasi dalam Dimensi Tiga

Sleman – Di balik tembok pagar sebuah pabrik di Dusun Surowangsan, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sleman, seniman patung Hana Syamsudin tampak khusyuk menyelesaikan karya terbarunya—sebuah patung naga melilit setinggi lebih dari tiga meter. Dibuat dari bahan fiber-glass, patung ini dipesan sebuah pertokoan di Surabaya bagian utara sebagai elemen dekoratif tiang bangunan.

“Pesanannya sepasang, nanti akan dipotong menjadi tiga bagian agar mudah diangkut, lalu dipasang kembali di lokasi,” ujar Hana saat ditemui di bengkel kerjanya, Senin (14/7/2025).

Sebelum masuk tahap cetakan, Hana selalu memulai dari model tanah liat. Tanah liat berkualitas tinggi ia datangkan dari Kebumen, daerah yang dikenal sebagai sentra produksi genteng. “Tanah liatnya bagus dan bisa dipakai berulang kali setelah dicairkan kembali dengan air,” jelasnya. Untuk patung yang berukuran sangat besar, ia beralih menggunakan gips sebagai bahan dasar model.

Setelah model tanah liat atau gips selesai, Hana mencetak mold berbahan fiber-glass, kemudian baru mencetak patung utamanya menggunakan bahan serupa.

Tak hanya sosok naga atau figur manusia, Hana juga melayani berbagai bentuk lain sesuai permintaan—mulai dari replika hewan, buah-buahan, bahkan masakan.

“Selama bentuknya tiga dimensi, kami bisa wujudkan,” kata perupa yang telah berkarya selama lebih dari 30 tahun ini.

Proses pembuatan selalu dimulai dari referensi visual seperti foto atau gambar. Dalam beberapa kasus, Hana ikut menggambar sketsa bersama klien hingga bentuk akhir benar-benar sesuai harapan.

Karyanya telah tersebar di berbagai kota besar di Pulau Jawa, bahkan pernah dipesan hingga ke Kalimantan. Beberapa di antaranya digunakan untuk menghiasi rumah ibadah, taman kota, tempat wisata, hingga kawasan geo-park.

“Kadang juga ada pesanan untuk patung logam. Tergantung permintaan,” tambahnya.

Dengan jam terbang tinggi, Hana rata-rata menyelesaikan satu patung berukuran besar dalam waktu dua bulan. Saat ini ia dibantu dua pekerja tetap, namun bisa mengajak hingga lima pekerja lepas saat pesanan sedang ramai.

“Alhamdulillah, pesanan selalu ada. Dunia patung ini niche, tapi pasarnya tetap hidup,” ucap Hana, sembari melirik karya-karyanya yang memenuhi halaman bengkel.

Di sudut dusun yang tenang, Hana Syamsudin terus mengukir imajinasi menjadi karya nyata. Baginya, setiap patung bukan sekadar benda seni, tapi cerminan ketekunan, ketelitian, dan dedikasi yang tumbuh dari proses panjang dalam senyap. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




UNY dan Warga Karangmojo Perkuat Ketangguhan Menghadapi Bencana Hidrometeorologi

Sleman – Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang, hingga gelombang panas semakin nyata di tengah perubahan iklim global. Menyikapi hal ini, Departemen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menyelenggarakan Sosialisasi Bencana Alam Hidrometeorologi dan Mitigasinya bagi komunitas warga Dusun Karangmojo, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Minggu (13/7/2025), di Perumahan Citra Ringin Mas.

Kegiatan ini menjadi wadah edukasi ilmiah sekaligus penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi berbagai bentuk bencana berbasis cuaca ekstrem. Empat dosen UNY dari latar belakang keilmuan fisika dan kebencanaan hadir sebagai narasumber, yaitu Dr. Sukardiyono, Dr. Tsania Nur Diyana, Dr. Febrina Siska Widyaningtyas, dan Roma Widiyansari.

Dr. Sukardiyono membuka sesi dengan menekankan pentingnya kesadaran kolektif terhadap risiko bencana hidrometeorologi. Ia menjelaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di jalur cincin api dan wilayah tropis membuat negeri ini sangat rentan terhadap bencana geologis dan meteorologis.

“Fenomena El Nino dan La Nina memperparah frekuensi dan intensitas bencana. El Nino menyebabkan kekeringan panjang, sedangkan La Nina meningkatkan risiko banjir dan longsor,” ujarnya.

Menurutnya, mitigasi harus dilakukan secara struktural dan non-struktural, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali hingga edukasi masyarakat dan simulasi evakuasi. “Mitigasi harus menjadi budaya. Masyarakat perlu memiliki tas siaga, memahami jalur evakuasi, dan membangun posko tanggap bencana di tingkat lokal,” tegasnya.

Dr. Tsania Nur Diyana membahas secara khusus ancaman tanah longsor yang banyak terjadi di kawasan Sleman timur. Ia menjelaskan bahwa tanah longsor bukan hanya fenomena alam, tetapi hasil akumulasi dari kondisi geologi, curah hujan ekstrem, dan aktivitas manusia.

“Jenis-jenis tanah longsor seperti translasi, rotasi, rayapan, dan runtuhan batu memiliki karakteristik masing-masing. Warga harus bisa mengenali tanda-tanda awalnya seperti retakan tanah, pohon miring, atau aliran air baru,” jelasnya.

Ia juga memberikan tips mitigasi seperti penanaman vegetasi berakar kuat, pemeliharaan terasering, serta pentingnya menjaga saluran air agar tidak tersumbat. “Namun yang terpenting tetap edukasi. Pemahaman risiko bisa menyelamatkan banyak nyawa,” tegasnya.

Dr. Febrina Siska Widyaningtyas dalam sesinya mengajak warga memahami karakteristik dan bahaya angin kencang. Menurutnya, fenomena ini sering terjadi saat musim pancaroba dan bisa menimbulkan kerusakan besar dalam waktu singkat.

“Angin puting beliung, downburst dari awan kumulonimbus, serta angin musiman, semuanya punya potensi merusak, terutama di kawasan permukiman yang tidak dilindungi vegetasi atau memiliki struktur bangunan yang rapuh,” ungkapnya.

Ia mendorong warga untuk mengenali tanda-tanda kemunculan angin kencang dan melakukan langkah mitigasi, seperti memperkuat struktur atap, memangkas cabang pohon yang rapuh, serta memastikan prosedur evakuasi cuaca ekstrem dipahami bersama.

Dosen lainnya, Roma Widiyansari, menjelaskan bahwa gelombang panas juga termasuk bencana hidrometeorologi yang perlu diwaspadai, meski risikonya relatif kecil di wilayah tropis seperti Indonesia.

“Panas ekstrem bisa berdampak pada kesehatan, lingkungan, dan ekonomi. Risiko seperti heatstroke, kebakaran hutan, hingga penurunan produktivitas harus diantisipasi,” terangnya.

Ia menekankan pentingnya pola hidup sehat, pemanfaatan ruang hijau, dan penyediaan fasilitas publik yang ramah iklim. Roma juga mengingatkan bahwa meskipun Indonesia relatif aman dari gelombang panas, dampak tidak langsung seperti kekeringan dan kebakaran tetap harus diwaspadai akibat perubahan iklim.

Isu kekeringan menjadi penutup penting dalam rangkaian sosialisasi. Dosen UNY lainnya, Pramudya Wahyu Pradana, menyebut bahwa kekeringan bukan hanya karena hujan tak turun, tapi akibat kombinasi degradasi lingkungan, buruknya pengelolaan air, dan dampak perubahan iklim.

“Kekeringan adalah silent disaster. Ia datang pelan tapi melumpuhkan. Sawah gagal panen, air sumur menyusut, dan warga mulai kesulitan air bersih,” ujarnya.

Pramudya mendorong pembangunan embung, sumur resapan, dan kolam retensi di tingkat rumah tangga dan desa. Ia juga menyoroti pentingnya konservasi lingkungan dan budaya hemat air.

“Kita perlu mengubah cara pandang: air bukan sumber daya tak terbatas, tapi harta yang rapuh. Mitigasi kekeringan bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga pola hidup,” katanya.

Sosialisasi ini berlangsung interaktif. Warga aktif berdiskusi dan menyampaikan kekhawatiran terkait kondisi geografis Karangmojo, seperti lereng yang mulai tergerus dan fenomena cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.

Para narasumber mendorong pemetaan risiko berbasis komunitas dan kolaborasi warga dengan pemerintah kalurahan serta BPBD dalam menyusun rencana kontinjensi dan jalur evakuasi.

“Literasi bencana adalah pondasi penting dalam membangun ketangguhan. Sosialisasi seperti ini bukan sekadar memberi informasi, tapi menumbuhkan kesadaran kolektif agar warga siap, sigap, dan selamat,” tutup Sukardiyono.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen UNY untuk terus mendampingi masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim dan bencana yang menyertainya melalui pendekatan edukatif, kolaboratif, dan aplikatif. (Athiful/KIM Depok)




Panewu Depok Buka Workshop Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025 bagi Kader Caturtunggal

Depok – Panewu Depok, Djoko Muljanto, S.P., secara resmi membuka Workshop Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK-25) Tahun 2025 bagi para kader pendata Kalurahan Caturtunggal. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Anglocitatama, Kapanewon Depok, pada Senin (14/7/2025).

Dalam sambutannya, Djoko Muljanto, S.P. menyampaikan bahwa pendataan keluarga merupakan fondasi penting dalam merumuskan kebijakan pemerintah, terutama yang menyangkut program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana. Ia menegaskan bahwa data yang akurat dan mutakhir menjadi dasar utama dalam menentukan arah pembangunan yang tepat sasaran, serta menyampaikan apresiasi atas peran para kader sebagai ujung tombak proses ini di lapangan.

 PKB Kapanewon Depok Siti Juwariyah, dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kesamaan pemahaman teknis dan komitmen kader dalam menjalankan tugas pendataan. Ia menyampaikan bahwa kualitas data sangat bergantung pada pemahaman dan ketelitian para kader, dan workshop ini diharapkan menjadi wadah peningkatan kapasitas sebelum mereka turun ke lapangan.

Materi pertama disampaikan oleh Ika Noviastuti, PKB Kapanewon Depok, dengan topik Tata Cara Pengisian Instrumen Pemutakhiran PK-25 Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga. Dalam pemaparannya, iamenjelaskan secara rinci langkah-langkah pengisian instrumen, mulai dari definisi variabel, kategori data, hingga teknis pelaporan.

“Instrumen PK-25 dirancang untuk menggambarkan kondisi keluarga secara menyeluruh, sehingga pemahaman terhadap setiap item pertanyaan sangat penting dalam menjamin keberhasilan pengumpulan data,” ujar Ika.

Pemateri kedua, Indrawati, dari PLKB Kapanewon Depok, menyampaikan materi mengenai Penggunaan dan Pengelolaan Aplikasi PK-25. Dalam sesi ini, para kader diberikan pemahaman teknis tentang cara mengoperasikan aplikasi pendataan keluarga, mulai dari login, input data, hingga proses sinkronisasi dan pengiriman data ke server pusat.  Indrawati juga memberikan simulasi langsung serta menjawab berbagai pertanyaan teknis yang diajukan peserta terkait kendala lapangan yang mungkin dihadapi.

Workshop berlangsung dengan interaktif dan penuh antusias dari para kader pendata, yang menyadari pentingnya peran mereka dalam mendukung kebijakan pembangunan berbasis data yang valid dan terkini. Kegiatan ini menjadi bekal penting sebelum para kader terjun langsung dalam pelaksanaan pemutakhiran data keluarga di wilayah masing-masing. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Pengelola Buper Tanggalsari Studi Tiru ke Buper Banyunibo untuk Tingkatkan Kualitas Wisata Edukatif

Sleman — Pengelola Bumi Perkemahan (Buper) Tanggalsari, Padukuhan Gungan, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, melakukan kunjungan studi tiru ke Bumi Perkemahan Banyunibo, Prambanan, Sleman, Senin (14/7/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan wisata edukatif berbasis perkemahan.

Sebanyak 20 pengelola Buper Tanggalsari disambut langsung oleh tim pengelola Buper Banyunibo. Kegiatan diawali dengan pemaparan profil Buper Banyunibo oleh salah satu pengelolanya, Imron.

“Buper Banyunibo dulunya merupakan ladang tebu, kemudian dikembangkan menjadi bumi perkemahan sejak 2017. Karena lokasinya berdekatan dengan Candi Banyunibo yang merupakan situs cagar budaya, kawasan ini kini menjadi ruang edukasi, rekreasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat,” jelas Imron.

Ketua Desa Wisata Tanggalsari, Jaka Kurniawan, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan. Ia juga menilai banyak hal yang bisa dipelajari dan diterapkan di Tanggalsari.

“Kami sangat terbantu dengan kunjungan ini. Banyak praktik baik yang bisa kami adopsi dan sesuaikan di Buper Tanggalsari, agar kawasan kami menjadi lebih edukatif, aman, dan berkelanjutan,” ujar Jaka.

Usai sesi pemaparan, rombongan melakukan peninjauan langsung ke berbagai fasilitas Buper Banyunibo. Mereka juga mengikuti sesi tanya jawab mengenai pengelolaan sarana, pengembangan program edukatif, hingga strategi promosi dan kemitraan.

Melalui kegiatan ini, pengelola Buper Tanggalsari berharap dapat memperkuat peran kawasan perkemahan sebagai ruang pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus memperluas jejaring kerja sama antar-pengelola Buper di Sleman dan sekitarnya. (Lilik/KIM Wara Aji Cangkringan)




Pasar Tiban Klaci 3 Resmi Dibuka, Dorong UMKM dan Ekonomi Warga Margoluwih

Sleman — Warga Klaci 3, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, bersama Pemerintah Kalurahan, Bumkal Makarti, dan Forkom UMKM Kalurahan Margoluwih, resmi membuka Pasar Tiban Klaci 3, Minggu (13/7/2025). Pembukaan pasar ditandai dengan kegiatan senam dan jalan sehat yang diikuti sekitar 350 warga dari berbagai wilayah sekitar.

Acara turut dihadiri oleh Lurah Margoluwih Sunaryo, Ketua Forkom UMKM Kabupaten Sleman Ardi Sehami, Ketua Forkom UMKM Kalurahan Margoluwih Cut Mutia, serta penggagas Pasar Tiban Klaci 3, Sugeng Musanto.

Lurah Margoluwih, Sunaryo, menyambut baik keberadaan pasar ini sebagai upaya menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Semoga pasar ini membawa manfaat timbal balik antara pedagang dan warga sekitar. Pemerintah Kalurahan juga telah menganggarkan pembangunan pasar melalui dana BKK, meski bersifat non-permanen karena menggunakan Tanah Kas Desa (Sultan Ground) yang pengelolaannya harus hati-hati,” ujarnya.

Ia juga berharap ke depan Pasar Tiban yang saat ini hanya digelar tiap Minggu, bisa diselenggarakan setiap hari.

Sementara itu, Ketua Forkom UMKM Kabupaten Sleman, Ardi Sehami, mengapresiasi pembukaan pasar ini sebagai bentuk nyata dukungan Kalurahan Margoluwih terhadap pengembangan UMKM lokal.

“Pasar Tiban Klaci 3 bisa menjadi contoh sinergi UMKM dan masyarakat. Harapannya muncul gerakan saling jual dan beli berbasis potensi lokal,” ungkapnya.

Sugeng Musanto, penggagas pasar, menjelaskan bahwa ide pembentukan Pasar Tiban muncul secara spontan.

“Pasar ini awalnya digagas oleh 10 warga RT 05 Klaci yang membuka lapak bersama pada 17 Agustus 2024. Kini, sudah berkembang menjadi 17 pedagang dari berbagai dusun seperti Klaci, Cibuk, Barak, Kawanan, bahkan dari Godean dan Moyudan,” katanya.

Ia menambahkan, Pasar Tiban terbuka bagi siapa saja tanpa retribusi. Saat ini pasar dibuka mulai subuh hingga siang hari atau sampai dagangan habis, dengan rencana ke depan akan dibagi menjadi dua sesi: siang hari untuk bahan pangan dan malam hari untuk kuliner.

Sebagai bentuk apresiasi kepada warga, kegiatan ditutup dengan pembagian door prize yang awalnya hanya satu sepeda gunung dari hasil penjualan tiket, namun berkembang berkat donatur menjadi beragam hadiah seperti sembako, voucher mancing, kipas angin, dispenser, televisi, hingga mesin cuci.

“Setiap menempuh jalan kebaikan, pasti akan ada jalan keluar dan bantuan,” pungkas Sugeng. (Abida/KIM Seyegan)