Depok Raih Predikat Kapanewon Terbaik Satu Evaluasi Kinerja Kapanewon Empat Tahun Beturut-turut 

Sleman – Kapanewon Depok pada periode Tahun 2024 kembali berhasil mempertahankan Predikat Terbaik I dalam Evaluasi Kinerja Kapanewon selama empat tahun berturut-turut, dari tahun 2021, 2022, 2023 dan 2024. Penghargaan diberikan langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya pada upacara peringatan Hari Keluarga Nasional ke-32, Hari Koperasi ke-78 dan Hari Anak Nasional ke-41 Tahun 2025, di Lapangan Pemda Sleman, Kamis (17/6/2024).

“Ikhlas Nglayani Lan Ngrampungi. Mewujudkan Kapanewon Depok sebagai etalase pencapaian visi Sleman sebagai Rumah Bersama,” jelas Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Depok, Isti Fajaroh mewakili Panewu Depok dalam presentasi Evaluasi Kinerja Kapanewon.

Dalam presentasi itu diketahui adanya peningkatan kualitas pelayanan publik, efektivitas penggunaan anggaran, dan pencapaian program-program strategis yang selaras dengan visi misi Kabupaten Sleman. Hal itu menjadi salah satunya indikator dasar penilaian.

“Beberapa program strategis yang menjadi unggulan di Kapanewon Depok yang menjadi fokus  dalam penilaian evaluasi kinerja, E-Government, GEDE LAMPAH (Gerakan Depok Memilah Sampah), Percepatan Penerapan GISA (Gerakan Indonesia Sadar Adminduk) dengan program turunannya SiPakde (Sistem Informasi Pelayanan Administrasi Terpadu Kapanewon Depok Kabupaten Sleman), Kado untuk Dilan, Peduli Dadi, dan Kader Adminduk), UMKM Naik Kelas, dan Tim Reaksi Cepat Aduan Masyarakat merupakan inovasi-inovasi yang diusung Kapanewon Depok dalam mengakselerasi peningkatan kualitas pelayanan publik,” ucapnya.

 “Prestasi ini tidak terlepas dari dukungan, kerja sama, sinergi, dan kolaborasi yang sangat baik dengan, ketiga Pemerintah Kalurahan diwilayah Kapanewon Depok yaitu Kalurahan Caturtunggal, Condongcatur dan Kalurahan Maguwoharjo, tentu juga peran serta Polsek Depok Raya, Koramil 11 Depok, ketiga Puskesmas (Depok I, II, III), Korwil Pendidikan, UPTD BP4 Wil. VII, UPTD Stadion Maguwoharjo, UPTD Taman Kuliner, KUA Kapanewon Depok, berbagai lembaga dan instansi baik negeri maupun swasta, serta segenap warga masyarakat Depok,” sambung Isti.

Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi Kapanewon Depok untuk meningkatkan kualitas kinerjanya menjadi lebih baik. Terlebih dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.  (Adi Yananta/KIM Depok)




WKSBM Mulyo Mandiri Ngabean Luncurkan KANGEN ROSO

Sleman- Wahana Kesejahtreaan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) Mulyo Mandiri yang beralamatkan di Padukuhan Ngabean, Banyurejo, Tempel, Sleman memiliki program yang beraneka ragam. Salah satu programnya adalah membuka lapak jajan pasar yang diberi nama ‘KANGEN ROSO’.

Menurut Ketua WKSBM Mulya Mandiri, Tri Yoga Zuliyanto, lapak tersebut menjual hasil olahan dari warga setempat. “Pada saat ini kami baru dalam awal peluncuran produk secara terbatas,” tutur Yoga saat ditemui, Kamis (17/7/2025).

Ia menuturkan bahwa lapak tersebut rencananya akan dibuka secara resmi pada tanggal 17 Agustus 2025, dalam momen Peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

“Lapak tersebut nantinya akan menjajakan berbagai jenis makanan hasil olahan rumah tangga. Hal tersebut merupakan terobosan baru bagi WKSBM Mulya Mandiri, karena bukan hanya sekedar kumpulkan dana dan dibagikan lagi untuk Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di wilayah ini. Tetapi memiliki usaha untuk pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

“Sedangkan untuk WKSBM nantinya akan menerima 500 rupiah setiap hari per lapak, yang juga nanti akan kita kembalikan lagi untuk kepentingan masyarakat,” imbuh Yoga.

Lokasi lapak yang cukup strategis yaitu berada di tepi Jalan Tempel-Deksa Km 6,7 pun cukup menjajikan sebuah usaha. Sebab lapak tersebut dimungkinkan bukan hanya masyarakat setempat sebagai pembelinya, tetapi juga masyarakat luas yang melewati jalan tersebut.

“Yang tidak kalah pentingnya setelah lapak ini berjalan dengan baik, WKSBM Mulya Mandiri akan membuka counter pulsa, baik reguler maupun paket data,” pungkas Yoga. (Giek / KIM Moyudan)




Kapanewon Pakem Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-32, Hari Koperasi ke-78, dan Hari Anak Nasional ke-41

Sleman – Kapanewon Pakem menyelenggarakan upacara dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) ke-32, Hari Koperasi ke-78, dan Hari Anak Nasional ke-41 pada Kamis (17/7/2025).

Bertindak sebagai inspektur upacara Kapolsek Pakem, AKP Samiyono, yang dalam sambutannya menuturkan bahwa ketiga momen ini bukan hanya seremonial belaka, melainkan komitmen bersama dalam membangun masa depan bangsa.

“Masa depan yang dibangun dari keluarga yang harmonis, didukung oleh ekonomi kerakyatan berbasis koperasi, dan diperkuat oleh generasi muda yang kuat serta terlindungi,” ujarnya.

Pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke-32, disampaikan bahwa keluarga merupakan penentu dan kunci kemajuan bangsa, selaras dengan tema “Dari Keluarga untuk Indonesia Maju,” katanya.

“Urgensinya adalah membangun keluarga yang tangguh demi melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan adaptif terhadap kemajuan zaman. Oleh karena itu, ketahanan keluarga menjadi pondasi dalam menyusun berbagai kebijakan strategis nasional, sehingga keluarga menjadi pusat kasih sayang, pendidikan, dan perlindungan. Saya berharap kepada para peserta upacara untuk menjadikan keluarga sebagai pusat pendidikan terbaik untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan,” sambung AKP Samiyono.

Mengenai Hari Koperasi ke-78, AKP Samiyono menegaskan bahwa koperasi hendaknya menjadi tonggak utama perekonomian bangsa, sesuai tema “Koperasi Maju, Indonesia Adil dan Makmur”.

“Koperasi dijalankan atas dasar prinsip gotong royong dan kekeluargaan sesuai Pasal 33 UUD 1945. Untuk itu, kita perlu mendorong koperasi agar semakin profesional, inklusif, inovatif, selaras dengan tuntutan global dan digitalisasi, serta mampu menjalin kerja sama dengan badan usaha yang peka terhadap perubahan zaman,” tegasnya.

“Kita patut berbangga karena Kabupaten Sleman telah berhasil membangun Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Bahkan Kalurahan Tamanmartani, Sinduadi, dan Sidomulyo terpilih menjadi mark-up atau contoh nyata KDMP. Dengan percepatan pembangunan koperasi ini, Sleman menjadi percontohan nasional program pembentukan KDMP,” tandas AKP Samiyono.

Lebih lanjut, pada peringatan Hari Anak Nasional ke-41, ia menyampaikan pentingnya momentum ini untuk merefleksikan pemenuhan hak-hak anak.

“Pasal 28B ayat (2) UUD 1945 menyebutkan setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh berkembang, serta terlindungi dari kekerasan dan diskriminasi. Hal ini selaras dengan tema Hari Anak Nasional 2025, ‘Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045,” ujar AKP Samiyono.

“Anak harus dilindungi dari kekerasan, pelecehan, dan penyalahgunaan teknologi digital, serta dijaga kecukupan gizinya untuk mendukung program nasional pemberantasan stunting,” pungkasnya.

Acara peringatan ini diakhiri dengan menyanyikan lagu “Bagimu Negeri” sebagai bentuk semangat kebangsaan seluruh peserta upacara. (Asrori Wardan / Kim Pakem)




Keunikan Wayang Sorot dari Sanggar Widya Pramana Banyuraden

Sleman – Wayang sorot menjadi medium seni pertunjukan yang unik dan mulai bangkit kembali di tengah perkembangan zaman. Dalam sebuah gladi yang berlangsung di Patran, Sleman, Rabu (16/7/2025) komunitas seni Sanggar Widya Pramana Banyuraden menampilkan wayang sorot dengan gaya khas dan pendekatan modern yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi.

Gladi yang dilakukan oleh Alifiyan selaku dalang muda berusaha memadukan kearifan lokal dengan semangat generasi baru dibawah arahan seniman senior, Sarwono Gembok. Berbeda dengan wayang kulit konvensional, wayang sorot memanfaatkan permainan cahaya proyeksi untuk menciptakan visual yang lebih hidup di layar kelir.

Dalang muda dari Sanggar Widya Pramana tersebut secara kreatif menyusun alur cerita dan memanfaatkan cahaya serta bayangan untuk menciptakan efek dramatis yang memikat penonton. Tak heran, anak-anak hingga orang tua terpaku menyaksikan setiap adegan yang tampil secara dinamis dan puitis.

Keunikan lain dari pertunjukan ini terletak pada penggabungan unsur cahaya. Musik gamelan tetap dipertahankan sebagai pengiring utama, namun dipadukan dengan efek pencahayaan yang memperkuat suasana cerita. Kolaborasi ini memberi pengalaman baru yang menyegarkan bagi penonton tanpa kehilangan ruh budaya wayang yang sesungguhnya.

Alifiyan yang berlatih pertunjukan tersebut bukan hanya pandai memainkan tokoh-tokoh wayang, namun juga piawai menyisipkan pesan moral kekinian. Dalam lakon yang dibawakannya, ia menyisipkan pesan-pesan sosial yang dibalut dalam kisah epik tokoh pewayangan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Menurut Sarwono, Sanggar Widya Pramana memang dikenal sebagai sanggar yang memberi ruang eksplorasi kreatif kepada generasi muda. Mereka tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menghidupkannya dengan pendekatan baru yang ramah bagi semua kalangan. Wayang sorot menjadi salah satu bentuk eksperimen yang kini justru mendapat respons positif, terutama dari penonton muda yang akrab dengan visual dan teknologi. Ia pun menjelaskan teknik pembuatan tokoh wayang sorot, penyusunan cerita, hingga pengaturan cahaya dan musik.

“Pendekatan ini menjadi bagian dari pendidikan budaya yang menyenangkan dan membumi,” ujarnya.

Kekuatan wayang sorot terletak pada kemampuannya menyampaikan nilai tradisi melalui bentuk pertunjukan yang lebih inklusif. Tanpa harus memahami bahasa Jawa secara penuh, penonton tetap dapat mengikuti alur cerita karena didukung oleh visualisasi dan narasi yang komunikatif. Ini menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan sentuhan inovasi.

Dengan konsistensi dan semangat kolaboratif, Sanggar Widya Pramana Banyuraden membuktikan bahwa seni tradisi bisa terus hidup dan berkembang. Wayang sorot bukan sekadar hiburan, melainkan jembatan antargenerasi yang menyatukan nilai-nilai budaya dengan tantangan zaman.

Harapannya, dalang muda tak hanya mewarisi ilmu dari para pendahulunya, tetapi juga berani menciptakan gaya baru yang tetap berakar kuat pada nilai luhur budaya. Semangat ini menjadi harapan baru bagi dunia pewayangan di tengah era digital. “Dari Banyuraden, cahaya kebudayaan terus memancar, menyinari masa depan pewayangan Indonesia,” tutup Sarwono. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Polresta Sleman dan Satpol PP Bangun Ketangguhan Warga Banyumeneng Lewat Pembinaan Kamling

Sleman – Upaya nyata untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif dilakukan Kepolisian Resort Kota (Polresta) Sleman yang berkolaborasi dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman bersama melakukan pembinaan keamanan lingkungan warga di Balai RW. 04 Banyumeneng, Sleman, Rabu (16/7/2025).

Pembinaan yang dipimpin oleh Anggota Polresta Sleman, Aiptu Mugi Prawata bersama Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi dihadiri anggota DPRD Kabupaten Sleman, Suryana menjadi ruang dialog antara aparat dan masyarakat.

Aiptu Mugi Prawata menjelaskan berbagai aspek penting terkait keamanan lingkungan. Mulai dari pencegahan potensi konflik antar warga, penanganan gangguan ketertiban umum, hingga peningkatan peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungannya. Warga tidak hanya diberi teori, tapi juga diajak menyusun langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan di tingkat RT dan RW.

Ia menegaskan bahwa pendekatan humanis menjadi kunci keberhasilan pembinaan ini. Pihaknya memilih pendekatan persuasif dan partisipatif karena warga merupakan mitra utama dalam menjaga ketertiban.

“Kami hadir bukan untuk mengawasi, tapi untuk mendampingi,” ungkapnya dalam sesi diskusi bersama tokoh masyarakat Banyumeneng.

Lebih lanjut, Kepala Satpol PP Kabupaten Sleman, Shavitri Nurmala Dewi mendorong pembentukan satuan tugas kecil di tingkat RT seperti pos ronda dan forum komunikasi warga. Satgas tersebut menjadi ujung tombak pelaporan dan pencegahan sekaligus memperkuat sistem keamanan lingkungan yang sudah ada. Mereka nantinya dibekali pengetahuan dasar tentang cara berkordinasi dengan aparat jika terjadi gangguan ketertiban atau tindak pelanggaran hukum ringan.

Warga pun sangat antusias menerima pencerahan tentang regulasi yang berlaku, seperti peraturan daerah mengenai ketertiban umum, hingga tips menghadapi persoalan sosial seperti kenakalan remaja, penggunaan fasilitas umum yang tidak semestinya, termasuk potensi bahaya minuman keras dan narkoba. Semua dikemas secara komunikatif agar mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang usia.

Menariknya, pembinaan ini turut menyasar kaum muda sebagai agen perubahan. Melalui pendekatan budaya dan diskusi kreatif, pemuda Banyumeneng diajak menjadi pelopor keamanan lingkungan yang adaptif terhadap tantangan zaman. Sekaligus didorong menggunakan media sosial secara bijak untuk membantu menjaga ketertiban, seperti membuat grup komunikasi yang responsif terhadap laporan warga.

Dalam kesempatan ini, Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Suryana memberikan peralatan keamanan lingkungan berupa lampu senter dan lampu stik yang diterima secara simbolis oleh warga Banyumeneng disaksikan Jagabaya Banyuraden, Sidig Wijanarko sebagai bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap kondisi keamanan di masyarakat.

“Kami merasa diperhatikan dan diperlengkapi sehingga membuat lebih percaya diri dan kompak menjaga keamanan lingkungan di sini,” ujar salah satu ketua RT yang ikut aktif dalam kegiatan tersebut.

Harapannya, pembinaan ini memberikan efek jangka panjang. Usai kegiatan, warga dapat mulai merancang sistem pelaporan yang lebih cepat, mengaktifkan kembali jadwal ronda malam, serta menjadwalkan forum warga rutin untuk mendiskusikan isu-isu keamanan. Polresta Sleman bersama Satpol PP Kabupaten Sleman pun berkomitmen untuk terus memantau dan mendampingi proses ini secara berkala.

Dengan pendekatan edukatif dan kolaboratif, Pemerintah Kabupaten Sleman berhasil menanamkan nilai ketangguhan komunitas yang akan menjadi fondasi kuat bagi keamanan lingkungan yang berkelanjutan. Banyumeneng pun bergerak menjadi dusun yang bukan hanya nyaman dihuni, tetapi juga tangguh secara sosial. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)