Sleman – Untuk merawat dan menjaga kelestarian wayang kulit sebagai warisan budaya leluhur, Cantrik Sanggar Budaya Widya Pramana melakukan kegiatan Ngisis wayang yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Sabtu (19/8/2025). Tradisi ini bukan sekadar aktivitas teknis, melainkan bagian dari ritual perawatan dan penghormatan terhadap benda-benda sakral dalam dunia pedalangan.
Ngisis Wayang merupakan tradisi penting dalam dunia pedalangan. Sekaligus menjadi momen edukatif, terutama bagi generasi muda atau siswa sanggar yang sedang belajar menjadi dalang. Mereka bisa belajar mengenali karakter dan fungsi tiap tokoh wayang secara langsung. Proses ini menjadi sarana pembelajaran budaya yang tidak hanya teoritis saja, namun juga praktis, karena melibatkan interaksi langsung dengan benda pusaka budaya tersebut.
Cantrik Widya Pramana Banyuraden, Joko Pujianto menerangkan, di balik gemerlap pentas wayang kulit, ada sebuah tradisi yang tak banyak diketahui khalayak yaitu ngisis wayang. “Ngisis” secara harfiah berarti menjemur, dan dalam konteks pewayangan, merujuk pada kegiatan menjemur, membersihkan, dan merapikan kelir, wayang, hingga perlengkapan gamelan dan blencong.
“Tradisi ini lazim dilakukan sebelum pentas besar, atau sekadar perawatan berkala oleh dalang dan krunya,” terangnya.
Joko yang dibantu Dian Darmawanto menambahkan, manfaat utama dari ngisis wayang adalah merawat fisik wayang itu sendiri. Wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi perlu dijemur agar tidak lembap dan berjamur. Kelembapan bisa merusak detail ukiran dan warna cat yang ada pada setiap tokoh wayang. Dengan perawatan rutin, umur wayang bisa bertahan hingga puluhan tahun, bahkan turun-temurun lintas generasi dalang.
Sementara itu, Ketua Sanggar Budaya Widya Pramana, Aryo Tejo menegaskan bahwa lebih dari sekadar merawat benda, ngisis juga punya makna simbolis sebagai proses pembersihan spiritual. Banyak dalang percaya bahwa wayang memiliki isi atau daya spiritual tertentu.
Dengan ngisis, mereka menjaga harmonisasi energi antara dalang, perlengkapan pentas, dan semesta. Tak jarang ngisis dilakukan dengan doa atau tirakat tertentu, terutama bila akan digunakan dalam pentas penting seperti ruwatan atau merti desa.
Kegiatan ngisis menjadi momen pembelajaran bagi generasi muda. Dalam banyak sanggar, anak-anak atau remaja yang belajar pedalangan akan dilibatkan dalam proses ini. Mereka belajar mengenali nama dan posisi setiap tokoh, memahami anatomi dan karakteristik wayang, serta merasakan kedekatan emosional dengan dunia pedalangan yang mereka tekuni.
“Inilah pendidikan budaya yang berlangsung secara alami dan penuh makna,” tegasnya.
Selain itu, dari sudut pandang estetika, wayang yang dirawat dengan baik akan tampil lebih menawan saat dipentaskan. Detail ukiran yang bersih, warna yang tetap cerah, dan bentuk yang tidak melengkung memberi pengalaman visual yang memikat bagi penonton. Dalang pun akan lebih percaya diri ketika memainkan wayang yang terawat rapi.
Dari sisi dokumentasi dan pelestarian, kadang ditemukan wayang yang sudah rusak, hilang bagian, atau perlu direstorasi. Karena itu, ngisis jadi ajang inventarisasi, pencatatan, dan pelestarian koleksi. Beberapa sanggar bahkan menggunakannya sebagai kesempatan untuk memotret dan mendigitalisasi koleksi wayang mereka agar bisa diwariskan dalam bentuk arsip. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)