PPDI Condongcatur Dorong Kemandirian Difabel Lewat Pelatihan Olahan Ikan

Sleman – Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kalurahan Condongcatur terus mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas melalui berbagai program pemberdayaan. Dalam pertemuan rutin bulanan yang digelar Sabtu (26/7/2025) di kediaman Sulha, Padukuhan Ngropoh, pengurus PPDI mengumumkan akan mengadakan pelatihan pembuatan olahan ikan dan aneka kripik untuk anggota difabel.

Ketua PPDI Condongcatur, Setyawati Marheni, menyampaikan terima kasih atas kehadiran para difabel, pendamping keluarga, serta kader pendamping dari Kalurahan Condongcatur. Menurutnya, pertemuan ini penting sebagai ajang silaturahmi dan koordinasi agar pendampingan terhadap penyandang disabilitas berjalan optimal.

“Tanpa kebersamaan ini, kegiatan tidak akan bisa berjalan lancar seperti hari ini. Terima kasih atas semangat dan dukungannya,” ujarnya.

Setyawati juga menjelaskan bahwa pelatihan akan difokuskan untuk penyandang disabilitas, namun pendamping juga diperbolehkan mengikuti bila diperlukan. Produk-produk yang akan dikembangkan antara lain frozen food dari lele dan ikan, serta berbagai olahan kripik sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi mandiri.

Dalam rangka menyambut HUT ke-80 Republik Indonesia, komunitas difabel “Difa Mandiri Condongcatur” juga akan menyelenggarakan sejumlah lomba yang bersifat inklusif dan rekreatif. Kegiatan ini ditujukan untuk mempererat kebersamaan serta menggali potensi kreatif penyandang disabilitas.

Pengurus PPDI berharap seluruh padukuhan di Condongcatur dapat ikut mendukung dan menyebarluaskan informasi ini, agar semakin banyak penyandang disabilitas dan pendamping yang terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan pemberdayaan ke depan. (Tri Suhartati/KIM Depok)




TNI-Polri Warnai Aksi Donor Darah di SMAN 1 Gamping

Sleman – Dalam semangat kolaborasi dan kemanusiaan, SMA Negeri 1 Gamping menggelar kegiatan donor darah di aula sekolah, Jumat (25/7/2025). Tak hanya melibatkan siswa, guru, dan alumni, kegiatan ini juga menggandeng personel TNI dari Koramil 17/Gamping serta Polsek Gamping, menjadikannya momen sinergi yang hangat dan inspiratif.

Kehadiran aparat berseragam memberi warna tersendiri. Mereka tak hanya menyumbangkan darah, tapi juga menyuntikkan semangat bagi para siswa untuk berani berpartisipasi. Wibawa dan keteladanan mereka menjadi pemantik semangat solidaritas di kalangan pelajar.

“Ini implementasi nyata pendidikan karakter. Sekolah adalah tempat menanamkan empati dan kepedulian sosial,” ungkap Serda Heri Prabowo, Babinsa Banyuraden.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan TNI dalam kegiatan sosial adalah bagian dari pengabdian prajurit kepada masyarakat, tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga kemanusiaan.

Hal senada disampaikan Bripka Suyanto, Bhabinkamtibmas Banyuraden, yang menegaskan kehadiran polisi dalam kegiatan kemasyarakatan seperti donor darah merupakan bentuk pelayanan nyata.

“Kami ingin hadir tak hanya saat ada masalah, tapi juga saat masyarakat membutuhkan uluran tangan,” ujarnya.

Kegiatan ini turut didukung oleh PMI Kabupaten Sleman yang mengelola proses donor dan edukasi. Selain donor darah, peserta juga mendapat pemeriksaan kesehatan gratis dan penjelasan tentang manfaat donor bagi tubuh dan bagi sesama.

Para siswa mengaku terinspirasi. Banyak yang semula ragu, akhirnya turut mendonorkan darah setelah melihat langsung anggota TNI-Polri menjadi peserta pertama. Antusiasme ini menjadi bukti bahwa aksi kecil bisa membentuk kesadaran besar tentang pentingnya kepedulian sosial.

Donor darah ini berhasil mengumpulkan puluhan kantong darah, yang akan sangat bermanfaat bagi pasien-pasien di rumah sakit.

Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Gamping menunjukkan bahwa pendidikan yang membumi tak sekadar soal akademik, melainkan juga tentang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan dan cinta tanah air. Kehadiran TNI-Polri memperkuat pesan itu dengan nyata: bahwa gotong royong dan solidaritas adalah jantung dari pengabdian. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Food Court UMKM Lumbungrejo, Simpul Ekonomi dan Sosial Baru di Tempel

Sleman – Sebuah lapangan tenis lama di Kalurahan Lumbungrejo, Tempel, kini menjelma menjadi Food Court UMKM Lumbungrejo, pusat kuliner sekaligus ruang interaksi warga. Berlokasi strategis di tepi jalan Bibis yang merupakan akses penghubung antara Jalan Raya Magelang, Jalan Turi, dan rencana Tol Jogja–Bawen, kawasan ini kini menjadi titik baru geliat ekonomi kerakyatan.

Sebanyak 12 kios terbuka dibangun khusus untuk anggota UMKM Lumbungrejo. Namun, tempat ini bukan sekadar lapak jualan.

“Tempat ini jadi ruang berjualan sekaligus tempat berkegiatan dan bersilaturahmi,” ujar Dewi Sulastri, pengurus UMKM Lumbungrejo, Sabtu (24/07/2025).

Dengan lahan parkir luas dan dikelilingi fasilitas umum seperti sekolah, Kantor Kalurahan, Kantor Kapanewon, Koramil, Polsek, dan Pegadaian, food court ini potensial menjadi simpul ekonomi baru di kawasan Tempel. Letaknya yang hanya sepelemparan batu dari Pasar Tempel dan Lapangan Olahraga Tempel semakin memperkuat daya tariknya.

Menu yang ditawarkan pun beragam. Selain makanan harian, ada lapak khusus jajanan tradisional buatan anggota UMKM sendiri, memperkuat identitas kuliner lokal. Aktivitas di food court ini tak hanya ramai di siang hari, namun juga hidup hingga malam, menjadikannya tempat favorit bersantai warga.

Lebih dari sekadar pusat ekonomi, kawasan ini juga kerap dimanfaatkan komunitas dan organisasi sosial sebagai tempat berkumpul. Dengan konsep terbuka, Food Court UMKM Lumbungrejo menghadirkan ruang publik yang menyatukan nilai ekonomi, sosial, dan budaya.

“Kami berharap tempat ini terus berkembang, bukan hanya untuk jualan, tapi juga sebagai simpul kebersamaan warga,” pungkas Dewi.

Dengan semangat gotong royong dan pengelolaan berbasis warga, Food Court UMKM Lumbungrejo menjadi bukti bahwa pembangunan ekonomi desa bisa bersandar pada kekuatan komunitas. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Amerti Kekandhangan, Cara Sanggar Widya Pramana Merawat Ruh Kebudayaan

Sleman – Setelah sukses tampil di panggung ibu kota dalam ajang The Local Market Jakarta, Sanggar Widya Pramana Banyuraden, Gamping, tidak larut dalam euforia. Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus perenungan spiritual, sanggar seni ini menggelar prosesi Amerti Kekandhangan di Pendhapa Sanggar, Jumat malam (25/7/2025).

Amerti Kekandhangan—berasal dari kata “amerti” (merawat) dan “kekandhangan” (rumah/ruang batin)—merupakan tradisi khas sanggar sebagai simbol pemeliharaan ruang kreatif dan spiritual. Prosesi ini digelar untuk mensyukuri kelancaran pertunjukan, sekaligus memperbarui niat dan komitmen berkesenian yang berakar pada nilai luhur budaya Jawa.

“Kami rayakan keberhasilan bukan dengan pesta, tapi dengan amerti. Sebab keberhasilan sejati bukan di panggung luar, tapi di dalam diri dan komunitas,” ujar Aryo Tejo, Ketua Sanggar Widya Pramana.

Prosesi diawali dengan kenduri tumpeng dan ingkung ayam—tradisi yang sarat simbol keselamatan, kelimpahan, dan kerendahan hati. Tumpeng disusun dari hasil bumi sekitar, sedangkan ingkung menggambarkan sikap tunduk dan kembali ke jati diri.

Pemotongan tumpeng dilakukan oleh Sarwono Gembok, Pengasuh Sanggar, dan disaksikan pengurus Komunitas Kekandhangan Banyuraden. Momen ini menjadi lambang rasa syukur dan harapan agar perjalanan seni sanggar selalu dinaungi keselamatan dan ketulusan.

“Tanpa niat bersih, tanpa restu leluhur, para cantrik tak mungkin tampil penuh rasa di Jakarta,” tambah Aryo.

Lebih dari sekadar ritual, prosesi Amerti Kekandhangan menjadi wujud nyata bagaimana seni dan tradisi saling menghidupi. Di tengah zaman yang serba cepat, Sanggar Widya Pramana menunjukkan bahwa jeda, refleksi, dan kebersamaan adalah panggung utama dalam berkesenian.

Bagi mereka, keberhasilan di luar daerah hanyalah jejak lahiriah. Yang lebih penting adalah menjaga ruh budaya, merawat ruang batin, dan menyatu dengan komunitas.

“Seni bukan hanya pertunjukan di luar, tapi juga proses menyucikan niat dan membangun nilai di dalam,” tegas Aryo.

Dengan Amerti Kekandhangan, Sanggar Widya Pramana meneguhkan diri sebagai ruang budaya yang tidak hanya produktif secara kreatif, tapi juga kokoh dalam spirit kebersamaan dan spiritualitas lokal. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




KIM Imogiri Studi Tiru ke Sardonoharjo, Dorong Literasi Informasi dan Digitalisasi Desa

Sleman – Dalam upaya memperkuat peran informasi publik dan percepatan digitalisasi desa, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Imogiri Mulyo bersama Pamong dan Lembaga Kalurahan Imogiri, Kabupaten Bantul, melakukan kunjungan studi tiru ke Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Sabtu (26/7/2025).

Rombongan dipimpin oleh Carik Kalurahan Imogiri, Sigit Nugroho, dan disambut oleh jajaran Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo yang diwakili oleh Kamituwa Bayu Kristiyanto. Kegiatan ini menjadi ajang tukar pengetahuan dan praktik baik dalam pengelolaan informasi publik serta penguatan kelembagaan KIM di tingkat desa.

“Kami menyambut baik inisiatif ini. KIM bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pilar penting dalam membangun kesadaran masyarakat dan mendorong partisipasi publik,” ujar Bayu dalam sambutannya di Balai Kalurahan Sardonoharjo.

Acara dipandu oleh Saviera Ajeng dan menghadirkan dua narasumber utama yaitu Suripto, Ketua KIM DIY, yang menekankan bahwa KIM harus menjadi garda terdepan literasi informasi masyarakat desa.

Narasumber kedua adalah Andy Ahmad Zulfikar, Ketua KIM Dinamika Sinema Nusantara Sardonoharjo, yang menggarisbawahi pentingnya narasi lokal dan strategi komunikasi kreatif.

“Pengelolaan informasi desa tidak cukup hanya menyampaikan berita. Harus ada strategi, pemahaman isu lokal, dan keberanian mengangkat potensi desa melalui media digital,” kata Andy.

Carik Imogiri, Sigit Nugroho, menyatakan pentingnya pertukaran praktik baik antar-kalurahan sebagai cara memperkuat kapasitas KIM sebagai mitra strategis dalam pembangunan desa.

Kegiatan ditutup dengan sesi diskusi interaktif dan rencana tindak lanjut kolaborasi antar-KIM se-DIY. Dalam sesi ini juga diberikan materi pelatihan jurnalistik berbasis prinsip 5W+1H, sebagai bekal KIM dalam menyusun berita yang informatif dan sesuai kaidah jurnalistik.

Studi tiru ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya inovasi pengelolaan informasi desa yang lebih inklusif, profesional, dan berbasis kebutuhan warga. (ESK/KIM DSN)