Sleman – Dalam upaya membangun gerakan yang relevan dengan zaman dan tetap berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman, H.M. Najib Yuliantoro menulis sebuah buku berjudul Peta Jalan Ansor Masa Depan. Sebuah konsep strategis bagi Gerakan Pemuda Ansor sebagai organisasi kepemudaan yang telah menjadi tulang punggung perjuangan sosial-keagamaan Nahdlatul Ulama di Indonesia.
Berdasarkan keterangannya saat dijumpai di Pondok Pesantren Nurul Ishlahiyyah, Ngemplak, Sleman, Kamis (24/7/2025), buku ini bukan sekadar catatan reflektif, melainkan sebuah visi strategis yang dirumuskan berdasarkan pengalaman, dinamika organisasi, dan tantangan global. Ditulis dengan gaya naratif yang kuat dan argumentatif yang tajam, sehingga menjadi bahan diskusi hangat di kalangan kader muda Nahdlatul Ulama dan pemerhati gerakan kepemudaan.
Dalam setiap bab yang sistematis, Ia mengajak pembaca untuk memahami ulang orientasi dasar GP Ansor, serta pentingnya revitalisasi peran kader dalam menjawab isu-isu kebangsaan, teknologi, dan lingkungan. Sekaligus menegaskan bahwa gerakan pemuda hari ini tidak cukup hanya hadir dalam kegiatan seremonial, melainkan harus hadir di ruang-ruang strategis pengambilan keputusan, pengembangan inovasi, dan advokasi sosial.
Dengan pendekatan yang menggabungkan pembacaan historis, refleksi teoritis, dan desain praksis gerakan, penulis yang akrab dipanggil Gus Najib tersebut mendorong para kader dan pemimpin Ansor untuk menata ulang orientasi, memperbarui energi, serta memperkuat daya tahan organisasi di tengah tantangan zaman yang penuh ketidakpastian.
“Gerakan pemuda tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia berpijak pada sejarah, dibentuk oleh gagasan, dan bergerak dalam medan aksi yang terus berubah,” tandasnya.
Pentingnya digitalisasi organisasi menjadi salah satu benang merah yang ditarik dalam buku ini. Pria yang juga sebagai Dosen di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menekankan bahwa Ansor harus mampu menjadi pelopor dalam literasi digital, memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat dakwah dan pemberdayaan. Salah satu bab bahkan memuat konsep aplikasi berbasis komunitas yang bisa memetakan potensi kader dan kebutuhan sosial di tiap kapanewon.
Lebih dari itu, buku Peta Jalan Ansor Masa Depan ini juga menjadi otokritik terhadap pola kaderisasi yang stagnan dan cenderung repetitif. Gus Najib menawarkan model kaderisasi berbasis minat dan potensi, di mana setiap kader diberi ruang untuk berkembang sesuai keahlian, tanpa meninggalkan nilai-nilai ideologis ke-NU-an dan keindonesiaan.
Dengan buku yang akan diluncurkan secara resmi pada 27 Juli 2025 di Wedomartani, Sleman, Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman tidak hanya menulis buku, tetapi menyusun cetak biru gerakan yang transformatif dan adaptif terhadap tantangan zaman. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan yang kuat tidak hanya terwujud dalam pidato dan rapat, tetapi juga dalam gagasan tertulis yang mampu menginspirasi dan menggerakkan. “Buku ini bukan sekadar peta, tetapi juga kompas moral dan strategi menuju masa depan Ansor yang lebih progresif dan berdaya guna,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping).