Ketel Uap UGM Meningkatkan Produktivitas Pengrajin Tahu Krapyak

Sleman – Sentra Tahu di dusun Krapyak, Margoagung, Seyegan, Sleman yang memiliki 68 pengrajin tahu tradisional, telah ada sejak tahun 1960 an. Tahu Krapyak dikenal cita rasa khas cocok untuk dimasak sayur.

Tahu Krapyak banyak mengisi kebutuhan tahu di pasar-pasar tradisional Jogja, terutama di wilayah bagian barat. Kini Tahu Krapyak bisa juga dipesan lewat on-line dengan kemasan plastik tebal.

Irwanto (50 tahun), salah seorang pengrajin, Rabu, (23/07/2025) mengatakan pengrajin Tahu Krapyak kini menyusut.

“Pada tahun 2006, masih sekitar 120 pengrajin. Menyusut, karena anak muda sudah kurang minatnya meneruskan usaha tahu. Tapi produksi tahunya tidak menurun, karena pasar tahu stabil, pengrajin yang menambah produksinya,” jelasnya.

Irwanto yang tetap setia meneruskan warisan usaha orang tuanya, dalam sehari ia rata-rata menghabiskan 70 kilogram kedelai. “Rata-rata pengrajin di sini, skala kecil 10 sampai 15 kilogram kedelai sehari. Total sentra tahu Krapyak yang terdiri dari tiga padukuhan, membutuhkan 1,5 ton kedelai per hari,” tandasnya.

Pada Desember 2021, perusahaannya mendapatkan hibah dari UGM sebuah ketel uap. Ketel ini menghasilkan uap air panas yang bertekanan tinggi guna memasak bubur kedelai dengan cara “Direct Steam Injection” (DSI). Berbeda dengan cara masak tradisional yang memasak tahu didalam bejana, DSI langsung menyemprotkan uap air panas dari ketel uap ke dalam bubur kedelai.

“Cara ini sangat efektif, mengurangi waktu memasak dari satu sampai dua jam menjadi hanya sekitar 15 sampai 20 menit saja. Selain itu panasnya juga stabil, sehingga mutu tahu terjaga dan bahan bakarnya lebih irit,” ujar Irwanto.

Dibalik kelebihannya dalam memanfaatkan energi panas secara maksimal, cara ini menuntut ketelitian dalam menjaga komposisi dan mutu kandungan air.

Ditengah serbuan makanan kekinian, produk tradisional olahan kedelai yang lembut, gurih dan kaya protein ini tetap diminati tua-muda dan dari semua kalangan masyarakat. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




DWP Kemenag Sleman Tasyarufkan Beasiswa Kepada 17 Siswa Madrasah

Sleman – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kankemenag Kabupaten tasyarufkan beasiswa kepada 17 siswa madrasah yang berada di sekitar Kapanewon Pakem dan Cangkringan Kabupaten Sleman. Pentasyarufan dilaksanakan pada Rabu (23/7/2025) di Ruang Ketrampilan Desain Komunikasi Visual (DKV) MAN 4 Sleman.

Beasiswa diberikan langsung oleh Ketua DWP Kankemenag, Sleman Sri Wulandari didampingi Sekretaris DWP, Fatikhatul Qoriah Sangaji kepada para siswa-siswa MIS AL Qodir, MTs Negeri 7 Sleman dan MAN 4 Sleman.

Dalam sambutannya, Wulandari menyampaikan bahwa beasiswa tersebut berasal dari infaq bulanan pengurus dan anggota DWP saat agenda Pertemuan Rutin DWP Kemenag Sleman. “Kami mengagendakan pentasyarufan beasiswa ke siswa-siswi madrasah pada pertengahan tahun. Sementara untuk tour ke bawah (turba) ke KUA dilaksanakan di akhir tahun dengan agenda pentasyarufan sembako bagi warga sekitar KUA Kapanewon,” terangnya.

Wulandari juga menyampaikan terima kasih kepada ibu-ibu yang telah menyisihkan rezekinya untuk berinfaq. “Semoga Allah membalas kebaikan ibu-ibu semua serta Allah ganti dengan rezeki yang lebih baik dan lebih banyak. Alhamdulillah, pentasyarufan beasiswa bertepatan dengan hari anak nasional yang jatuh pada hari ini,” pungkasnya menutup sambutan.

Hadir dalam kesempatan ini Kepala Urusah Tata Usaha (TU) MAN 4 Sleman, Wahir Tupono beserta isteri, pengurus dan anggota DWP Kemenag Sleman. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Sugihartini, dengan paparan materi Workshop Direct To Film (DTF) Karya Jadi Nyata. Kegiatan diakhiri dengan praktek bersama dengan memindahkan desain sablon ke media tas berbahan kain menggunakan setrika sebagai pengganti mesin press panas.

“Mudah dan praktis memindahkan desain yang kita inginkan ke tas berbahan kain.  Ibu-ibu bisa mengembangkan di media lain.  Kami insyaallah siap untuk membantu dan mendampingi,” tegas Sugihartini memotivasi.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




POR KORPRI Sleman 2025: Sinergi Melalui Catur, Agus Dwi Subekti Sabet Juara Tanpa Kekalahan

Sleman – Dalam semangat “Bersinergi dalam Prestasi”, Pekan Olahraga (POR) KORPRI Kabupaten Sleman Tahun 2025 resmi menutup cabang olahraga catur pada Rabu (23/7/2025). Pertandingan yang digelar selama dua hari, Selasa (22/7) sampai dengan Rabu (23/7) di Wilayah Kantor Bupati Sleman Aula Rapat Sembada ini, diikuti oleh 55 peserta dari berbagai instansi di Kabupaten Sleman.

Kompetisi berlangsung dalam format catur cepat tujuh babak, dan melahirkan para juara terbaik. Agus Dwi Subekti dari Kapanewon Turi berhasil menyapu bersih seluruh babak tanpa kekalahan, mengumpulkan tujuh poin sempurna, dan meraih peringkat pertama.

Disusul Afrif Budi dari Satpol PP Sleman untuk posisi kedua dengan enam poin, dan Agus Triyatno di posisi ketiga dengan poin yang sama. Sementara gelar best women diraih oleh Vina Dwi Nurcahyani dari Korwil Timur.

Sekretaris Umum Pengkab PERCASI Sleman, Achmad Ridlo mengapresiasi antusiasme peserta tahun ini yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. “Peserta putri juga menunjukkan semangat luar biasa, terlebih dengan adanya kategori khusus best women. Ini bentuk apresiasi panitia untuk mendorong keterlibatan lebih luas,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar ke depan ada inovasi seperti kategori beregu per instansi (dua atlet per tim), serta penggunaan seragam instansi untuk menambah semarak dan semangat kompetisi.

“Tujuannya agar kompetisi ini bukan hanya soal menang, tapi memperkuat sinergi antaranggota KORPRI di Sleman,” ujar Ridlo.

Sementara itu, sang juara, Agus Dwi Subekti, menyampaikan rasa terima kasih kepada panitia. “Kegiatan ini sangat positif dan memberikan ruang aktualisasi diri bagi anggota KORPRI. Saya berharap bisa berlanjut ke tingkat provinsi bahkan nasional,” tuturnya.

Kegiatan berjalan lancar tanpa kendala, menjadi bukti bahwa olahraga catur di kalangan ASN Sleman terus berkembang dan patut didukung untuk jenjang yang lebih tinggi. (Ilham Agus/KIM Seyegan)




IGTKI Depok Gelar Pembinaan Mental Agama Islam, Tingkatkan Keimanan dan Silaturahmi Guru TK

Sleman – Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kapanewon Depok menyelenggarakan kegiatan pembinaan mental agama Islam di Gedung Serbaguna TK Anggono Rini, Padukuhan Gowok, Kalurahan Caturtunggal, Rabu, (23/7/2025). Kegiatan ini dihadiri oleh para anggota IGTKI dari seluruh wilayah Kapanewon Depok.

Acara diawali dengan sambutan ketua pengajian, Ikwanudin yang menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dengan niat yang baik, tulus, dan ikhlas. “Semoga kegiatan ini menambah khasanah keilmuan, meningkatkan iman dan takwa, serta mempererat tali silaturahmi antar guru TK di wilayah kita,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Fakhrudin. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya keseimbangan antara kebutuhan materi dan rohani dalam kehidupan.

“Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kekayaan hati. Orang yang bahagia adalah mereka yang banyak bersyukur, bersabar, dan senantiasa bertobat ketika melakukan kesalahan,” ungkapnya.

Dengan suasana penuh kekhusyukan dan kehangatan, kegiatan ini menjadi momen berharga bagi para guru TK untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mempererat kebersamaan dalam bingkai keimanan. (Widayat Hk / KIM Depok)




FKDM Sleman, Garda Awal Deteksi Dini Gangguan Keamanan Wilayah

Sleman – Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Sleman terus menunjukkan eksistensinya sebagai ujung tombak pencegahan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sebagai wadah partisipatif masyarakat dalam mengidentifikasi potensi konflik sosial dan ancaman lainnya, FKDM menjalankan peran strategis dalam mendeteksi secara dini berbagai dinamika yang berpotensi mengganggu stabilitas wilayah.

Untuk memperkuat jejaring kewaspadaan masyarakat di Kabupaten Sleman yang semakin kompleks secara sosial dan ekonomi, maka Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (kesbangpol) Kabupaten Sleman menggelar rapat kerja FKDM yang berlangsung di Op Room Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Rabu (23/7/2025).

Rapat kerja yang dipimpin oleh Kepala Bidang Bina Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa Badan Kesbangpol Kabupaten Sleman, Bagus Jalu Anggara menghadirkan Kepala Satuan Intelkam Kepolisian Resort Kota Sleman, AKP Supriyanto sebagai narasumber yang mengupas tentang implementasi peran aktif FKDM dalam mewujudkan keamanan di wilayah Kabupaten Sleman.

Dalam presentasinya, AKP Supriyanto menjelaskan bahwa konflik sosial adalah perseteruan dan atau benturan fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau dampak luas yang mengakibatkan ketidak amanan dan disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional dan menghambat pembangunan nasional.

Disisi lain potensi konflik sosial merupakan efek samping dari pelaksanaan pembangunan nasional yang apabila tidak ditangani secara serius akan mengganggu kelancaran pembangunan nasional itu sendiri. Masalah potensi konflik sosial bukan semata-mata tanggungjawab kepolisian, namun menjadi tanggungjawab semua pihak, baik aparat keamanan, pemerintah danseluruh masyarakat secara terpadu mengupayakan kondisi kamtibmas.

Menurut AKP Supriyanto peran kepolisian dan masyarakat dalam menjaga konflik sosial antara lain sebagai Negosiator atau juru runding dalam menyelesaikan konflik, sebagai Dinamisator terwujudnya kerukunan hidup berbangsa dan bernegara dalam rangka Bhinneka Tunggal Ika dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta sebagai Katalisator atau pendorong terwujudnya toleransi, penetralisir terhadap perbedaan pendapat, dan mencegah konflik paham keagamaan.

Dalam berbagai peristiwa penting, seperti pemilu, kegiatan keagamaan, ataupun isu-isu sosial yang berpotensi menimbulkan friksi, FKDM menjadi pihak yang turut aktif memberikan analisis situasi dan saran tindakan. Bahkan, di beberapa kapanewon, keberadaan FKDM terbukti mampu meredam potensi konflik yang awalnya kecil namun berpeluang membesar jika tidak segera ditangani. Hal ini merupakan bukti nyata bahwa forum ini tidak hanya simbolik, tetapi benar-benar bekerja di lapangan.

Mengedepankan prinsip keterbukaan informasi dan kedekatan emosional dengan masyarakat, FKDM Sleman bukan hanya menjadi pengumpul data, melainkan fasilitator dialog dan solusi. Karena mereka hadir bukan untuk menggantikan peran aparat, melainkan untuk menguatkan pencegahan sebagai garda awal dalam sistem keamanan sosial masyarakat.

Harapannya, bersama aparat TNI/Polri dan pemerintah kapanewon, FKDM bisa menggalang forum-forum dialog untuk meredam ketegangan antar pihak yang berkonflik. Termasuk, terlibat dalam deteksi dini terhadap isu radikalisme, intoleransi, hingga penyebaran hoaks di media sosial yang berpotensi meresahkan masyarakat.

Untuk menyikapi perkembangan dinamika sosial yang kini juga terjadi di ranah digital, FKDM juga mulai mengintegrasikan pendekatan digital dalam kerja-kerjanya dengan menerapkan etika bermedia sosial seperti berkomunikasi dengan santun, menghindari penyebaran informasi yang menyerang SARA, pornografi dan tindak pidana, memeriksa kebenaran informasi, menghargai karya orang lain, serta tidak mengumbar informasi pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa FKDM Sleman adaptif terhadap perubahan zaman dan terus memperkuat kapasitas anggotanya.

Pemerintah Kabupaten Sleman pun mendukung penuh peran FKDM sebagai mitra strategis dalam membangun keamanan partisipatif. Melalui Badan Kesbangpol, forum rutin diberi ruang untuk menyampaikan laporan perkembangan situasi kewilayahan. Kolaborasi ini semakin mengukuhkan model keamanan berbasis komunitas yang inklusif dan berbasis data.

Namun demikian, tantangan ke depan tidaklah ringan. Kompleksitas sosial seperti migrasi penduduk, dampak ekonomi pasca pandemi, hingga perkembangan politik nasional turut berimplikasi ke daerah. Karena itu, FKDM Sleman terus mendorong peningkatan jejaring komunikasi antar wilayah dan memperkuat sinergi dengan aparat keamanan, organisasi masyarakat sipil, dan tokoh-tokoh lokal.

“Keberhasilan FKDM bukan hanya diukur dari jumlah laporan yang dibuat, tetapi seberapa efektif forum ini mampu mencegah terjadinya konflik, mempererat kohesi sosial, dan menciptakan rasa aman bersama,” ujar AKP Supriyanto mengakhiri presentasinya.(Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)