Membumikan Literasi Digital Lewat Rapat Koordinasi Forum KIM DIY

Sleman – Rapat Koordinasi Forum Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang digelar di Kantor Sekretariat KIM Kertomandiri Turi, Sleman, Rabu (23/7/2025) menjadi momentum penting dalam memperkuat peran KIM sebagai ujung tombak literasi digital di tengah masyarakat.
Di era digital yang penuh informasi ini, masyarakat dituntut tidak hanya mengakses informasi, namun juga harus mampu memilah, memahami, dan memanfaatkannya secara bijak. Melalui forum ini, KIM Daerah Istimewa Yogyakarta menyatukan langkah untuk memastikan literasi digital bukan sekadar jargon, melainkan praktik yang membumi dan menyentuh kehidupan warga.
Lewat diskusi yang dipandu oleh Sekretaris Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, Sutarto Agus Raharjo masing-masing perwakilan dari Forum KIM Kabupaten Kulon Progo, Bantul, Gunung Kidul, dan Sleman menyampaikan program kerjanya dihadapan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika DIY, Riris Puspita Wijaya Kridaningrat beserta Kepala Bidang IKP Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sleman, Muhammad Arif Rahman.
Dalam rakor tersebut, dibahas berbagai strategi dan tantangan yang dihadapi KIM dalam menumbuhkan kesadaran literasi digital, mulai dari isu hoaks, keamanan digital, hingga pemanfaatan teknologi untuk pemberdayaan lokal. Menurut Riris Puspita, Kelompok Informasi Masyarakat sebagai mitra strategis pemerintah dalam diseminasi informasi, memainkan peran krusial di tengah masifnya arus informasi digital.
“Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan solusi konkret antardaerah dalam mengedukasi masyarakat secara inklusif,” terangnya.
Senada hal tersebut, Muhammad Arif memandang perlunya penguatan kolaborasi antarsektor karena KIM tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu, dibutuhkan sinergi dengan perangkat kalurahan, pegiat literasi, media lokal, dan komunitas digital untuk memperluas jangkauan literasi digital. Melalui kerja sama ini, program-program KIM dapat lebih relevan dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.
Lebih lanjut, Ketua Forum KIM DIY, H. Suripto mendukung inovasi pendekatan dalam menyampaikan pesan literasi digital, termasuk pemanfaatan media sosial, podcast, dan video kreatif berbasis lokalitas. Penggunaan media kekinian tidak hanya menarik perhatian generasi muda, tetapi juga memperluas jangkauan kampanye literasi digital hingga pelosok desa. Kreativitas dan narasi yang membumi menjadi kunci keberhasilan transformasi digital berbasis komunitas.
Sementara itu, Ketua Forum KIM Sembada Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo mendorong anggotanya untuk melakukan registrasi KIM yang telah terbentuk di masing-masing kapanewon maupun kalurahan lewat platform . Menurutnya, Kelompok Informasi Masyarakat yang telah terdaftar di platform memperoleh berbagai keuntungan strategis dalam pengembangan kapasitas dan eksistensi kelembagaan. Salah satu manfaat utama adalah pengakuan resmi secara nasional, yang mempermudah akses terhadap program-program pemerintah, misalnya pelatihan literasi digital.
“Selain itu, juga mendapat legalitas yang memudahkan dalam menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta,” ujar Adnan.
Platform menyediakan ruang promosi dan dokumentasi digital bagi setiap KIM yang terdaftar. Melalui laman profil KIM yang tersedia secara daring, masyarakat luas bisa mengenal lebih dekat kegiatan, produk unggulan, hingga inovasi yang telah dilakukan KIM di masing-masing wilayah. Hal ini membantu memperluas jangkauan informasi, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi antar-KIM dari berbagai daerah untuk saling bertukar pengalaman dan praktik baik.
Rakor Forum KIM DIY menjadi bukti bahwa pembangunan literasi digital harus dimulai dari akar rumput. Ketika warga desa melek digital, maka transformasi digital akan lebih merata dan berdaya guna. KIM hadir sebagai penghubung antara teknologi dan kebutuhan nyata masyarakat, menjadikan literasi digital tidak hanya dipahami, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)



