Bahas Raperda Miras, DPRD Gandeng DMI Perkuat Regulasi Demi Lindungi Generasi

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan lingkungan sosial yang aman, tertib, dan sehat melalui pengendalian minuman beralkohol. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Public Hearing Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol, yang digelar di Sasana Anglocita Tama, Kantor Kapanewon Depok, Sabtu (19/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan salah satu Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Ali Imron, bekerja sama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kapanewon Depok sebagai mitra dalam menyerap aspirasi keagamaan dan sosial masyarakat. Agenda ini juga menjadi wadah strategis dalam memperluas partisipasi publik terhadap proses legislasi daerah yang menyentuh langsung kehidupan warga.

Dalam paparannya, Ali Imron menegaskan bahwa Peraturan Daerah Kabupaten Sleman Nomor 8 Tahun 2019 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta Pelarangan Minuman Oplosan sudah tidak lagi relevan dengan dinamika sosial dan kebutuhan hukum saat ini.

Ia menyebut bahwa tingginya angka konsumsi miras, khususnya miras oplosan, telah menimbulkan beragam persoalan serius di Kabupaten Sleman, termasuk keracunan massal, kejahatan jalanan, tindak kriminalitas, dan gangguan keamanan yang meresahkan masyarakat.

“Regulasi lama sudah tidak memadai untuk menjawab tantangan hari ini. Kita perlu perda baru yang lebih tajam, lebih tegas, dan responsif terhadap ancaman nyata di masyarakat. Miras bukan hanya soal pelanggaran, tapi ancaman langsung terhadap masa depan generasi muda kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ali menyampaikan bahwa penyusunan Raperda ini juga diarahkan sebagai bentuk perlindungan terhadap visi besar bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, regenerasi yang sehat dan unggul hanya dapat tumbuh dalam lingkungan sosial yang terbebas dari candu dan kehancuran moral akibat minuman keras.

“Membangun Indonesia Emas tidak bisa dilakukan dengan generasi yang dirusak oleh miras. Sleman harus mengambil posisi tegas, menjadi contoh bahwa perlindungan anak bangsa bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata dalam kebijakan publik,” tambahnya.

Ketua Dewan Masjid Indonesia Kapanewon Depok, Muhammad Suryadi, turut menyampaikan pandangan dari sisi nilai-nilai keagamaan. Ia menegaskan bahwa minuman beralkohol merupakan barang haram dalam perspektif syariat Islam, yang tidak hanya merusak akal sehat, tetapi juga menghancurkan nilai-nilai sosial dalam kehidupan masyarakat.

Dalam hal ini, dukungan DMI terhadap penguatan perda bukan hanya dalam tataran moral, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial umat.

“Kami berharap perda ini nantinya benar-benar diberlakukan secara tegas. Tidak cukup hanya larangan di atas kertas, harus ada tindakan nyata dari aparat penegak hukum terhadap pelanggar, demi menjaga akhlak dan ketenteraman masyarakat,” tegas Suryadi.

Public hearing ini tidak hanya menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga ruang diskusi aktif yang melibatkan unsur tokoh agama, takmir masjid, pemuda, perangkat kalurahan, hingga perwakilan kepolisian dan Babinsa.

Berbagai masukan dan catatan disampaikan, di antaranya perlunya pengawasan distribusi hingga tingkat kelurahan, penertiban tempat-tempat yang menjadi sumber penjualan ilegal, serta pendidikan dan rehabilitasi bagi pengguna.

Dari sisi kelembagaan, kegiatan ini juga menjadi bukti sinergi antara legislatif dan masyarakat sipil dalam mendorong tata kelola sosial yang lebih sehat dan berorientasi masa depan. Melalui partisipasi aktif berbagai unsur, diharapkan Raperda yang sedang dibahas dapat disusun secara komprehensif, inklusif, dan menjawab kebutuhan riil masyarakat Sleman hari ini.

Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui keterlibatan lintas sektor ini, menegaskan bahwa perlindungan terhadap generasi muda dan penegakan ketertiban umum bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan amanat bersama.

Sebagaimana ditekankan dalam forum tersebut, peraturan hanyalah alat, tetapi kesadaran kolektif dan keberanian untuk menindaklanjuti adalah kunci keberhasilan dalam implementasi di lapangan. (Athiful/KIM Depok)




Tingkatkan Kapasitas, Forum UMKM Margorejo Ikuti Pelatihan Digital Marketing

Sleman – Pelatihan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Era Digitalisasi kembali digelar di ruang pertemuan balai Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Sabtu (19/07/2025).

Kegiatan pelatihan ini merupakan kerja sama Forum UMKM Kalurahan Margorejo dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) BINA DESA Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Program tersebut dilaksanakan dalam bentuk workshop interaktif yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang aplikatif bagi para pelaku UMKM.

Hadir dalam kegiatan ini sejumlah pelaku UMKM di Kalurahan Margorejo, Lurah Margorejo yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Carik Margorejo, Ariyanto Wibowo dan Ketua komunitas di FEB UMY Periode 2020/2021, Jejen Jaenul Haq selaku narasumber.

Carik Margorejo dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemasaran digital merupakan pelatihan yang sangat penting.

“Kalurahan Margorejo memiliki beragam jenis usaha produk dan jasa, dengan potensi pengembangan yang luas. Untuk itu pemasaran dalam bentuk digital merupakan salah satu strategi untuk mengenalkan produk. Maka setelah pelatihan ini diharapkan semua peserta bertambah wawasan dan pengetahuannya terutama dalam mengembangkan usahanya menggunakan platform digital baik dalam pembukuan yang dulu manual,” kata Ariyanto.

“Sekarang lebih mudah dengan menggunakan aplikasi guna mengembangkan usaha dan memaksimalkan pemasaran. Untuk itu atas nama pemerintah Kalurahan Margorejo mengucapkan terimakasih kepada adik-adik mahasiswa dari FEB UMY yang telah memberikan ilmu yang mahal ini,” sambungnya.

Selanjutnya Jejen Jaenul Haq yang juga seorang Marketing, Public Relation & Customer Experience PT Jetorbit Teknologi Indonesia menyampaikan bahwa workshop ini mencakup bidang digital marketing, yang membahas berbagai topik penting seperti strategi pemasaran digital, optimalisasi media sosial, pembuatan konten yang menarik, serta penggunaan platform e-commerce.

“Persiapan yang diperlukan saat akan memulai pemasaran digital berupa foto produk, video produk, dan copywriting dalam menyiapkan konten serta materi untuk pemasarannya. Foto produk berfungsi sebagai magnet dalam menarik pembeli, mendorong perluasan informasi sesuai segmentasi pasar, meningkatkan konversi, sebagai iklan dan testimoni dalam media informasi, serta membangun database,” ungkap Jaenul.

“Video produk berfungsi sebagai strategi meningkatkan jangkauan, mengambil data karakter, dan membantu calon pembeli dalam menentukan keputusan. Sementara copywriting berfungsi sebagai leadmagnet. Nanti juga akan kita praktekkan teknik sederhana dalam pengambilan foto produk,” tandasnya.

Jejen menambahkan, strategi untuk meningkatkan dan menjaga performa produk dan performa pelayanan sebagai sarana digital marketing.

“Performa produk berkaitan dengan kualitas dan jaminan tertulis, keunikan jasa dan produk, semangat berinovasi dalam menciptakan variasi produk, menjaga kualitas produk kemudian penting juga untuk membuat daftar manfaat dan testimoni dengan memperhatikan pentingnya merk dan pengemasan,” jelasnya.

“Setelah perfoma produk, maka performa pelayanan juga perlu dicapai, yakni dengan respon cepat terhadap pelanggan, pembayaran mudah, sistem pengiriman nya cepat, handling komplain yang bagus, tersedia layanan COD, dan ready e-commerce. Pada akhirnya bertujuan untuk mencapai dan meningkatkan trafik organik dalam pemasaran digital kita,” pungkas Jaenul.

Lebih lanjut, peserta diajak mengikuti simulasi praktis seperti membuat akun bisnis, merancang konten promosi, hingga memahami dasar – dasar analitik digital. Untuk memperkuat pemahaman, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi studi kasus, diskusi kelompok, serta konsultasi singkat secara langsung dengan pemateri. Dengan pendekatan yang partisipatif ini, workshop tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga sebagai ajang bertukar pengalaman dan memperluas jejaring antar pelaku UMKM. (Sih Budi / Kim Tempel)




Groundbreaking SD Muhammadiyah KKCC Sleman Diresmikan Mendikdasmen Abdul Mu’ti

Sleman – Sebuah langkah strategis dalam dunia pendidikan kembali diukir Persyarikatan Muhammadiyah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, secara resmi memulai prosesi groundbreaking pembangunan Gedung SD Muhammadiyah Komplek Kolombo Condongcatur (KKCC), Sleman, pada Jumat (18/7/2025).

Momentum ini bukan hanya menjadi simbol pembangunan fisik semata, tetapi juga cerminan visi besar untuk mencetak generasi masa depan yang cerdas, unggul, dan berdaya saing tinggi.

Bertempat di kawasan strategis Condongcatur, pembangunan gedung sekolah dasar ini dirancang dengan total anggaran mencapai Rp18 miliar.

Hadir dalam acara tersebut Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Irwan Akib, Kepala UPT Kemendikdasmen Wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sekretaris Dinas Pendidikan DIY Muhammad Ali Said, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sleman, Haris Martopo, Ketua PWM DIY Muhammad, Ikhwan Ahada, Ketua PWA DIY, Widiastuti, Ketua PDM Sleman, Harjaka, dan para tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan penghargaan mendalam kepada Muhammadiyah, khususnya kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Depok.

Ia menilai bahwa inisiatif pembangunan SD Muhammadiyah Komplek Kolombo merupakan wujud nyata komitmen Muhammadiyah dalam mendukung agenda nasional mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Ini menjadi sumbangan yang sangat bermakna dalam rangka kita mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun generasi Indonesia yang kuat, sehat, dan unggul,” ujar Mu’ti.

Selain mengapresiasi semangat dan kontribusi Muhammadiyah, Abdul Mu’ti juga menyoroti kecepatan dan kesiapan proyek yang ditargetkan rampung dalam waktu delapan bulan. Ia menilai hal ini sebagai cerminan budaya kerja Muhammadiyah yang konsisten sejak awal berdirinya.

“Inilah hebatnya Muhammadiyah. Filosofi Kiai Ahmad Dahlan, ‘sedikit bicara banyak bekerja’, itu ternyata menjadi prinsip yang terus menerus kita kembangkan,” tegas dia.

Lebih lanjut, Abdul Mu’ti mengaitkan pembangunan sarana pendidikan ini dengan kebijakan nasional yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas utama.

Menurutnya, pemerintah telah melakukan revitalisasi terhadap lebih dari sekolah di seluruh Indonesia dan akan terus mengarahkan fokus anggaran tahun 2025 untuk mengakselerasi digitalisasi pendidikan.

“Prioritas anggaran pada tahun 2025 juga akan difokuskan pada digitalisasi pendidikan melalui pembangunan smart classroom dan fasilitas pendukung pembelajaran yang menyenangkan,” ungkapnya.

Namun demikian, Mu’ti mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur pendidikan tidak akan optimal tanpa kualitas SDM yang mengelolanya. Ia memberikan catatan penting bahwa peran guru dan pengelola lembaga pendidikan adalah faktor kunci dalam menentukan keberhasilan pendidikan itu sendiri.

“Yang sangat menentukan dalam konteks pemajuan pendidikan adalah sumber daya manusia yang menjadi penyelenggara dan pengelola. Tanpa kualitas pelayanan, terutama tanpa kualitas guru, fasilitas yang lengkap itu tidak berkontribusi langsung terhadap pencapaian mutu pendidikan,” tegasnya.

Acara groundbreaking ini tidak hanya menggambarkan sinergi antara pemerintah dan ormas Islam dalam pembangunan nasional, tetapi juga menjadi simbol semangat kolektif untuk mendorong transformasi pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi masa depan.

SD Muhammadiyah KKCC sendiri dirancang sebagai sekolah dasar unggulan berbasis nilai-nilai Islam dan kemajuan teknologi. Keberadaannya diharapkan menjadi episentrum baru pendidikan dasar di wilayah Sleman dan sekitarnya.

Dengan semangat kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi keagamaan, pembangunan sekolah ini menjadi penanda optimisme bahwa masa depan pendidikan Indonesia tengah ditata dengan fondasi yang lebih kokoh, bukan hanya pada tembok-tembok fisik, melainkan pada jiwa dan nilai yang hidup dalam proses pendidikan itu sendiri. (Athiful/KIM Depok)




Margoagung Dampingi Pengelola Sampah demi Jaga Kesehatan Masyarakat

Sleman – Pemerintah Kalurahan Margoagung bersama Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan dan Puskesmas Seyegan mengadakan kunjungan pendampingan kebersihan lingkungan di rumah Mul Sahadat, Dukuh, Margoagung, Seyegan, Sleman, Jumat (18/7/2025).

Pendampingan dihadiri oleh didampingi oleh Dukuh Margoagung, Sunaryo, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Rini Nurhidayati, petugas sanitarium Puskesmas Seyegan, Retno Indriawati, ibu Lurah Margoagung, Setyaningsih dan Bhabinkamtibmas Margoagung, Sudahlan.

Kegiatan dilatarbelakangi adanya laporan warga tentang aktivitas pengepulan sampah yang menimbulkan bau menyengat. Hal itu menyebabkan warga sekitar merasa terganggu dan tidak nyaman.

Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Seyegan mengungkapkan pendampingan sebagai wujud perhatian, kepedulian dan mencari solusi bersama jika menemukan permasalahan.

“Kita mendukung setiap usaha warga. Ia berharap usaha tidak menimbulkan masalah dengan lingkungan sekitar, sehingga usaha bisa berkembang, nyaman dan berkah,” kata Rini Nurhidayati.

Salah satu petugas sanitarium Puskesmas Seyegan, Retno Indriawati memberi saran agar aktivitas usaha bisa menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang menumpuk lama dan menimbulkan bau agar segera dibersihkan karena mendatangkan lalat, tikus, nyamuk, kecoa yang rentan menimbulkan penyakit.

“Untuk itu pemilahan sampah organik seperti kertas, daun dan sampah anorganik seperti plastik, kaca harus dilakukan. Sampah kering dan basah harus disendirikan,” kata Retno.

“Sampah sebaiknya bisa terkena paparan sinar matahari langsung sehingga cepat membantu pengeringan. Tapi juga harus diberi atap agar sampah tidak terkena air hujan dan lembab. Sampah juga jangan dibuang di saluran air agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,” sambungnya.

Sementara Babinkamtibmas Margoagung, Sudahlan mengatakan bahwa pihaknya tidak bermaksud menutup ataupun melarang kegiatan usaha warga. Hanya saja setiap usaha sebaiknya tetap menjaga kebersihan lingkungan hingga tidak ada yang dirugikan.

“Dalam UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pelanggar lingkungan bisa didenda hingga 10 miliar. Jarak ideal tempat pembuangan sampah sekitar 10-50 meter dari pemukiman warga,” tuturnya.

“Terus limbah dari sisa makanan seperti nasi basi, sisa sayuran, buah tidak hanya dibuang di kolam begitu saja. Tapi bisa dikembangkan menjadi maggot pakan ikan, burung yang nilai harganya bisa menjadi lebih tinggi,” pungkas Sudahlan.

Nuri Haryanti, istri Mul Sahadat pemilik usaha menceritakan usaha pengepulan sampah ini sudah berjalan dua tahun. Ia mengambil sampah dari sebuah perusahaan seminggu dua kali dengan kontrak tiga juta tiap bulan. Setelah dipilah pilih lalu disetorkan di pengolahan sampah di wilayah Turi dengan tambahan pendapatan 600 ribu, belum dipotong untuk tenaga dan transportasi.

“Sudah lama saya tidak melakukan pembakaran sampah setelah ada beberapa warga yang keberatan. Setelah program pendampingan ini akan mencari lahan sawah untuk disewa menjadi lahan penampungan dan pengolahan sampah dengan mematuhi peraturan yang ada,” pungkas Nuri Hayanti.

Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan kesepakatan oleh Nuri Haryanti selaku pengelola pengepulan sampah yang akan segera menyelesaikan permasalahan lingkungan dengan saksi dari pihak Kapanewon, Bhabinkamtibmas dan Dukuh Padukuhan Dukuh. (Sulistiyono/Kim Seyegan)




Pengusaha Muda Dorong Peningkatan Program Pemerintah di Sektor Pembangunan

Sleman — BPC HIPMI Sleman menggelar diskusi strategis bertempat di Jordan Artha Perkasa, Jenengan, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Jumat (18/7/2025). Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran pengusaha muda dalam mendukung program pemerintah, khususnya melalui sektor pengadaan barang dan jasa.

Materi diskusi mencakup cara pembuatan akun LPSE serta metode dan prosedur mengikuti pengadaan melalui sistem e-procurement pemerintah. Melalui diskusi ini, diharapkan dapat membuka peluang bagi pengusaha muda di Sleman untuk terlibat dalam ekosistem Business to Government (B2G).

Kepala LKPP Kabupaten Sleman, Widodo menyampaikan apresiasinya terhadap HIPMI Sleman. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan positif seperti ini. Keterlibatan pengusaha muda dalam mendukung program pemerintah sangat penting, dan HIPMI telah menunjukkan langkah nyata dalam hal itu,” ujarnya.

Ketua BPC HIPMI Sleman, Haryo Arif Primanto menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk komitmen HIPMI dalam berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

“Melalui diskusi ini, kami ingin mendorong pengusaha muda agar lebih siap berkolaborasi dengan pemerintah,” tutur Haryo.

Sementara itu, Ketua Bidang X HIPMI Sleman, Eggi Affandi, menambahkan bahwa pihaknya akan terus menginisiasi kegiatan serupa secara rutin.

“Kami ingin meningkatkan kualitas dan kesiapan pengusaha muda Sleman agar mampu bersaing dan berkontribusi dalam proyek-proyek pemerintah,” pungkasnya. (Ilham Agus/KIM Seyegan)