Takmir Masjid se-Condongcatur Ikuti Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan dan Mengikuti Penyerahan Simbolis Santunan JKM Kepada Ahli Waris

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur bersama DMI Kapanewon Depok bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman menyelenggarakan Sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan bagi pengurus Takmir Masjid se-Kalurahan Condongcatur, di ruang Wacana Loka Kalurahan Condonghcatur, Jumat (18/7/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Takmir Masjid yang tergabung dalam Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ranting Condongcatur dihadiri DMI Kabupaten Sleman, DMI Kapanewon Depok, BPJS Ketenagakerjaan Sleman, RS. Condongcatur, Bank Syariah Indonesia (BSI), Lurah Condongcatur, Istri Wakil Bupati Sleman, R. Ay Sri Hapsari Suprobo Dewi.

Pada kesempatan itu, Sekdin PMK Sleman untuk menyerahkan santunan secara simbolis kepada ahli waris Ketua RT 20 Tambakboyo Dero Condongcatur yang meninggal dunia beberapa waktu yang lalu

Dalam sambutanya Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menekankan pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi pengurus masjid.

“Takmir masjid memiliki peran yang luar biasa dalam berbagai aspek, mulai dari penyusunan rencana kegiatan keagamaan sampai aspek teknis seperti pemeliharaan bangunan hingga kebersihan lingkungan tempat ibadah,” katanya.

“Dalam menjalankan tugas-tugas tersebut, para takmir tidak lepas dari risiko kerja yang mungkin terjadi. Dalam hal ini sangat penting pengurus takmir masjid mendapatkan perlindungan yang sesuai. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam melaksanakan tugas mereka harus memiliki jaminan perlindungan sosial yang memadai,” sambung Reno.

Ketua DMI Kapanewon Depok, Suryadi yang memberikan dukungan penuh terhadap program ini. Mengingat, sosialisasi ini merupakan tindak lanjut sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan di Kapenewon Depok beberapa waktu yang lalu.

“Di wilayah Condongcatur terdapat 83 masjid dan 21 mushola diharapkan nantinya semua pengurus takmir masjid tersebut dapat mengikuti program kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap pekerja informal bidang keagamaan,” ujar Suryadi.

“DMI Kapanewon Depok akan maraton bersama BPJS Ketenagakerjaan melakukan sosialisasi ini. Hari ini di Condongcatur, besok jumat tanggal 25 Juli 2025 pekan depan di Kalurahan Maguwoharjo, dan Jumat 1 Agustus 2025 di Kalurahan Caturtunggal. Sehingga diharapkan setelah mengikuti kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan ini para pengurus takmir masjid menjadi tambah semangat, iklas bekerja sosial keagamaan mengurusi umat,” tuturnya.

Wakil Ketua 1 DMI Kabupaten Sleman, Dumono menjelaskan bahwa kerja sama antara BPJS Ketenagakerjaan dan DMI Kabupaten Sleman merupakan tindak lanjut dari Peraturan Bupati Sleman Nomor 45 Tahun 2022 tentang Perluasan Kepesertaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan melalui Program Sleman Melindungi Pekerja Rentan.

“Program ini mencakup tenaga sosial keagamaan, seperti takmir, imam, muazin dan marbot masjid,” ungkapnya.

Sementara itu, Istri Wakil Bupati Sleman, Sri Hapsari Suprobo Dewi Pada kesempatan ini bersama BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman menyerahkan secara simbolis santunan manfaat program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan kepada ahli waris almarhum Isroni Ketua RT 20 Tambakboyo Dero Condongcatur yang meninggal dunia pada tanggal 12 April 2025 yang lalu. Santunan yang diserahkan kepada istrinya Sri Pujiati sebesar Rp. .

“Kami bersama BPJS Ketenagakerjaan hari ini mennyerahkan secara simbolis santunan JKM kepada ahli waris bapak Isroni Ketua RT 20 Tambakboyo Dero Condongcatur yang meninggal dunia ketika masih menjabat sebagai Ketua RT dan Pemkal Condongcatur. (Alm) telah mendaftarkan kepesertaan semua Ketua RT dan RW di Condongcatur melalui program JKK dan JKM, sehingga berhak mendapatkan santunan ini. Semoga dapat bermanfaat bagi ahli warisnya” tutur Hapsari.

Selanjutnya sosialisasi dari petugas BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sleman disampaikan oleh Taufik Seno Nugroho, yang menjelaskan prosedur pendaftaran, pembayaran iuran, hingga klaim manfaat. Ia menegaskan bahwa calon peserta harus didaftarkan oleh pengurus takmir dengan melampirkan fotokopi KTP serta SK dari DMI Ranting atau DMI Kapanewon sebagai bukti keanggotaan.

BPJS Ketenagakerjaan mengungkapkan rasa antusiasnya atas tingginya partisipasi dalam sosialisasi ini. Ia menekankan pentingnya perlindungan bagi tenaga keagamaan

“Kerja ikhlas saja tidak cukup tanpa jaminan kesejahteraan. Oleh karena itu, BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memberikan perlindungan bagi takmir masjid dengan mengikuti dua program, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) dengan iuran sangat terjangkau, hanya per bulan atau per tahun,” jelasnya. (Wasana / KIM Depok)




Program Abdimas FT Industri UII: Menyemai Inovasi, Membumikan Teknologi

Sleman – Di tengah kearifan lokal yang masih lestari di Dusun Kaliabu, Banyuraden, Sleman, hadir semangat baru yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengembangan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) oleh Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Program ini bukan sekadar kegiatan formalitas perguruan tinggi, melainkan perwujudan nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Wanadesa Kaliabu yang selama ini dikenal sebagai kawasan yang memadukan pelestarian alam, budaya, dan kegiatan ekonomi berbasis masyarakat, Jumat sore (18/7/2025) menjadi ruang kolaborasi hidup antara masyarakat dan akademisi dalam membangun ketahanan lingkungan dan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Namun, tantangan teknologi tepat guna dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan masih menjadi pekerjaan rumah. Kehadiran tim Abdimas Fakultas Teknik Industri UII yang dipimpin oleh Agus Mansur menjawab kebutuhan tersebut. Dengan pendekatan rekayasa sosial dan teknologi sederhana yang membumi, mahasiswa FTI UII menciptakan sebuah metode pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di wilayah tersebut.

Adapun program Abdimas itu berupa penyediaan sistem pengolahan limbah ramah lingkungan, pelatihan digitalisasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta motivasi untuk membentuk karakter sumber daya manusia sebagai penggerak desa.

Lebih dari sekadar teknologi, Abdimas FTI UII juga membawa pendekatan humanistik dengan membangun dialog intensif bersama tokoh masyarakat, kelompok tani, dan karang taruna. Mereka diajak untuk tidak hanya menjadi objek penerima manfaat, tetapi subjek aktif dalam inovasi.

Pelatihan manajemen komunitas, kewirausahaan sosial, hingga digital marketing menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan. Termasuk motivasi bagaimana menyintai desa sehingga mendorong warga untuk mandiri dan kreatif dalam memanfaatkan potensi desanya.

Bagi seluruh civitas akademika yang terlibat dalam program ini pun merasakan manfaat besar. Mereka tidak hanya mengasah keterampilan teknis, namun juga belajar membumikan ilmu dalam konteks sosial yang nyata. Proses ini dapat memperkaya wawasan mengenai pentingnya empati, komunikasi lintas generasi, serta memahami dinamika pembangunan dari akar rumput.

“Dengan demikian, Abdimas menjadi ruang belajar dua arah antara kampus dan masyarakat,” ujar Agus dihadapan audiens.

Pengelola Wanadesa Kaliabu, Paryoto yang didampingi Sekretarisnya, Roihan Afifurrofi mengapresiasi kehadiran rombongan FTI Universitas Islam Indonesia. Ia berharap kerja sama ini dapat berlanjut secara berkesinambungan.

Paryoto menilai bahwa program semacam ini mampu menumbuhkan semangat gotong royong berbasis ilmu pengetahuan, yang menjadi pondasi penting dalam menjaga kedaulatan desa di tengah arus modernisasi.

“Program Abdimas ini membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat melahirkan perubahan positif yang berakar kuat dan tumbuh sesuai kebutuhan lokal,” ujarnya.

“Wanadesa Kaliabu bukan sekadar tempat pengabdian, tapi juga titik awal lahirnya inovasi berkelanjutan yang berakar pada tradisi, sekaligus terbuka pada kemajuan zaman,” sambung Paryoto.

Dengan semangat kolaboratif ini, Fakultas Teknik Industri UII menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu harus rumit dan mahal. Justru, ketika ilmu pengetahuan hadir dengan rendah hati dan penuh kepedulian, maka akan mampu mengubah wajah desa menjadi lebih mandiri, lestari, dan bermartabat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Lima Karakteristik Muslim Berkemajuan

Sleman – Islam, bagi Muhammadiyah adalah agama yang mendorong pada nilai-nilai kemajuan untuk mewujudkan kehidupan umat yang mencerahkan dan meneduhkan.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY, M. Husnaini mengulas hal ini dalam Kajian Malam Sabtu Masjid Darul Hikmah, Sembung, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Jum’at (18/7/2025).

Menurutnya, kemajuan yang menjadi semangat Muhammadiyah adalah kemajuan yang Islami dan menghadirkan kebaikan serba utama, serta melahirkan keunggulan hidup lahiriah dan ruhaniah.

“Islam berkemajuan bukan mazhab atau aliran Islam baru. Melainkan cara pandang Muhammadiyah dalam memahami dan mengamalkan Islam sebagai agama secara universal yang mengajarkan spirit rahmatan lil ‘alamin,” ungkapnya.

Husnaini menggugah kesadaran jamaah dengan pertanyaan, “Lalu apa karakteristik muslim berkemajuan menurut Muhammadiyah?”

Karakteristik pertama, ujarnya, harus berlandaskan pada tauhid. Muslim berkemajuan dituntut untuk memiliki akidah yang kuat dan tauhid yang murni.

“Ini diwujudkan dalam bentuk perjuangan membebaskan manusia dari aneka ketidakadilan dan penindasan menuju kemaslahatan dan kesejahteraan bersama,” ungkapnya.

Karakteristik kedua adalah kembali kepada Al-Qur’an dan sunah Nabi. Muslim berkemajuan harus memiliki komitmen kokoh untuk senantiasa memahami dan mengamalkan dua sumber utama agama Islam tersebut.

“Al-Qur’an merupakan sumber keyakinan, ilmu, hukum, norma, moral, serta inspirasi sepanjang zaman. Sedangkan Nabi Muhammad adalah personifikasi dari Al-Qur’an yang harus dijadikan teladan dan uswah,” ujarnya.

Kemudian karakteristik ketiga adalah menghidupkan ijtihad dan tajdid. Menurutnya, ijtihad dihidupkan melalui pemanfaatan akal murni, ilmu, dan teknologi agar pemahaman Islam yang dihadirkan tidak kering, kaku, dan ketinggalan zaman.

“Tajdid diperlukan karena zaman dan situasi terus berubah, dan Islam harus menjadi solusi dari problematika kehidupan yang ada,” ulasnya.

Adapun karakteristik keempat adalah mengembangkan wasatiyah. Muslim berkemajuan harus menolak ekstremisme dalam beragama dan bersosial, baik dalam sikap berlebihan (ghuluw) maupun pengabaian (tafrith).

Menurut Husnaini, wasatiyah bermakna posisi seimbang dan tidak berat sebelah antara kehidupan lahir dan batin, pribadi dan sosial, serta dunia dan akhirat.

“Muslim berkemajuan harus tegas pendirian, luas pikirannya tetapi luwes dalam perbuatan, menghargai perbedaan pendapat, menghindari fanatisme berlebihan, dan memudahkan pelaksanaan ajaran agama,” paparnya.

Karakteristik kelima, menurut Husnaini, adalah mewujudkan rahmat bagi semesta. Prinsip kerahmatan atau kasih sayang ditujukan bukan hanya untuk umat Islam. Melainkan untuk manusia secara luas tanpa pandang suku, agama, ras, dan antar golongan.

“Singkat kata, keberadaan muslim berkemajuan harus menjadi solusi, dan bukan masalah,” tandasnya. (Athiful/KIM Depok)




Cegah Bullying, Anti Napza, Tolak Judol dan Pinjol, Satpol PP Sleman “Goes To School”

Sleman – Satpol PP Kabupaten Sleman bersama Polresta, BNN, KPID dan Dinas P3AP2KB menyelenggarakan kegiatan “Goes to School”, Jumat (18/7/2025). Acara yang berlangsung di SMK Negeri 1 Seyegan itu bertujuan untuk mengedukasi siswa terkait ketertiban umum, sekaligus mencegah aksi kenakalan remaja.

Program Goes to School kali ini bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026. Gelaran ini pun menjadi media penyuluhan, sosialisasi peraturan daerah, serta kegiatan lainnya yang relevan dengan tugas dan fungsi Satpol PP.

Kasat Binmas Polresta Sleman, AKP Sugiyanto mengawali kegiatan dengan mengajak siswa baru untuk menyadari posisinya sebagai generasi penerus bangsa. Ia menekankan bahwa pondasi negara adalah generasi muda.

“Sebagai generasi muda penerus bangsa, harus berkontribusi positif pada masyarakat. Dengan menaati hukum, menjauhi tindakan negatif sehingga mampu menjadi generasi harapan,” tegas Sugiyanto.

Ia kemudian mengajak para siswa untuk menghindari perilaku negatif termasuk penyalahgunaan obat terlarang dan napza, yang dapat merusak moral.

“Dengan rusaknya moral generasi muda, faham terlarang dengan mudah masuk ke Indonesia. Meracuni generasi muda dengan budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Inilah yang dimaksud dengan penjajahan di zaman sekarang,” tandasnya.

Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, Diyah Purwanti pada kesempatan yang sama menuturkan bahwa Sleman menyandang predikat sebagai Kabupaten Ramah Anak dengan kategori utama. Untuk itu, ia mengajak seluruh warga menciptakan suasana nyaman di lingkungan sekolah.

“Stop bullying, stop kekerasan di sekolah. Karena kalau tidak ditangani sejak dini bisa menjadi kebiasaan yang mengarah pada tindakan kriminal dan termasuk perbuatan pidana,” jelas Diyah.

Ia pun mengenalkan program yang bisa diikuti oleh peserta didik, yaitu Forum Anak dan PIKR (Pusat Informasi dan Konseling Remaja).

“Dengan memberi ruang yang cukup, memadai, dan sehat, diharapkan anak anak juga menjadi generasi yang hebat yang menolak pergaulan bebas, napza dan tuntas dalam bersekolah,” kata Diyah.

Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Seyegan, Yon Fatkhunal Huda menyampaikan terima kasih atas dukungan dari Tim Satpol PP Goes to School. Ia menuturkan bahwa dengan adanya kegiatan tersebut, sekolah tidak merasa sendiri dalam menghadapi kasus kenakalan remaja.

“Kami harap kegiatan ini dapat berkesinambungan, karena bagi siswa mempunyai kasus akan menjalani pembinaan secara khusus,” tuturnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Lima Dalang Tampil di Pagelaran Wayang Kulit HUT ke-79 Kalurahan Argomulyo

Sleman – Pagelaran wayang kulit memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-79 Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Sabtu (19/7/2025). Berbeda dari biasanya, pentas kali ini menghadirkan lima dalang sekaligus, terdiri atas tiga dalang cilik dan dua dalang senior, seluruhnya merupakan warga Kalurahan Argomulyo.

Pertunjukan yang digelar di Taman Kuliner Kalurahan Argomulyo tersebut membawakan lakon “Parikesit Dadi Ratu” secara bergantian oleh para dalang cilik, yaitu Ki Nabil Ahmad Nasir (Padukuhan Kliwang), Ki Abyan Hafiz Setiawan (Padukuhan Kliwang), Ki Gilang Syawaludin (Padukuhan Jetis). Sementara untuk dalang senior adalah Ki Suharjo (Padukuhan Gayam) dan Ki Timbul Cermo Busono (Padukuhan Kuwang)

Pagelaran diawali dengan penyerahan wayang kulit oleh perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Krisna Wicaksono kepada dalang termuda, Ki Nabil Ahmad Nasir.

Lurah Argomulyo, Danang Hendri Bintoro mengucapkan terima kasih kepada warga dan tamu undangan yang turut menyukseskan peringatan hari jadi. Ia juga mengajak masyarakat untuk hadir dalam pentas ketoprak “Argo Budaya” yang akan digelar Minggu (20/7/2025) malam, melibatkan pamong kalurahan, karang taruna, dan warga setempat.

“Terus dukung semua kegiatan pemerintah, terutama dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan di Argomulyo,” pesannya.

Mewakili Dinas Kebudayaan DIY, Drs. Suparno selaku tim monitoring dan evaluasi Desa Budaya DIY, mengapresiasi peringatan hari jadi tersebut. Menurutnya, status Argomulyo sebagai Kalurahan Mandiri Budaya harus dijaga dengan mempertahankan tradisi yang ada.

“Jangan sampai budaya seperti wiwit panen padi, dawetan saat anak sapi lahir, dan tradisi lainnya punah di wilayah kita,” ujarnya. (Marmansyah/KIM Wara Aji Cangkringan)