Matsama MAN 3 Sleman, dari Rasa Malu Menuju Prestasi

Sleman — Dalam rangka kegiatan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) bagi peserta didik baru Tahun Ajaran 2025, MAN 3 Sleman menyelenggarakan acara inspiratif yang bertujuan memberikan gambaran tentang perjuangan dan keberhasilan dalam dunia pendidikan.

Kegiatan yang berlangsung pada, Rabu (16/7/2025) di aula madrasah ini diikuti oleh 298 peserta didik baru kelas X. Para peserta didik nampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan dan motivasi awal.

Acara ini dirancang untuk memberikan semangat dan motivasi kepada para siswa baru agar dapat mengembangkan potensi diri secara optimal.

Salah satu narasumber, Ilham Agus Prasetyo menyampaikan pentingnya membangun disiplin diri serta menetapkan target dan impian sejak awal memilih bersekolah di MAN 3 Sleman (Mayoga).

Ia mengajak peserta didik untuk menikmati proses yang dijalani serta memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang yang ada di lingkungan madrasah.

“Pengalaman paling berharga akan diraih ketika kita berani melangkah dan mengambil peluang. Di situlah proses pembentukan pribadi unggul dimulai,” ujarnya.

Ilham juga menekankan pentingnya rasa percaya diri yang harus dibangun serta membiasakan diri untuk bertransformasi dari rasa malu menjadi kemajuan.

“Proses pendidikan bukan hanya soal benar atau salah. Tetapi tentang keberanian untuk mencoba, belajar dari kesalahan, dan menjadikannya sebagai bagian dari perjalanan menuju keberhasilan,” tuturnya.

Ilham punu berpesan kepada para siswa untuk menjadikan masa muda sebagai waktu terbaik dalam mencari pengalaman, memperluas pergaulan positif, dan membangun lingkungan positif yang akan mendukung pertumbuhan pribadi yang berkualitas di masa depan. (Ilham Agus / KIM Seyegan)




Puskesmas Depok II Gelar Refreshing Pendampingan Ibu Nifas untuk Kader Posyandu Condongcatur

Sleman – Puskesmas Depok II menyelenggarakan kegiatan refreshing pendampingan ibu nifas pada Jumat, (18/7/2025) di Aula Puskesmas Depok II. Kegiatan ini diikuti oleh 40 kader Posyandu dari berbagai wilayah di Kalurahan Condongcatur.

Acara ini dipandu oleh Bidan Lilis Rohani yang memberikan pemaparan penting mengenai masa nifas, yaitu periode 42 hari setelah ibu melahirkan. Dalam paparannya, Bidan Lilis menekankan bahwa masa nifas merupakan masa pemulihan fisik, hormonal, dan emosional ibu.

Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan penuh dari suami, keluarga, dan lingkungan sekitar. Ibu nifas perlu mendapatkan perhatian khusus karena selama masa ini terjadi perubahan besar secara fisik maupun psikis. Dukungan moral dan bantuan praktis dari orang-orang terdekat sangat penting untuk mencegah komplikasi.

Dalam masa nifas, ibu dan bayi harus rutin memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan, ibu perlu mengonsumsi tablet tambah darah (TTD) untuk mencegah anemia, serta mengenali tanda-tanda bahaya setelah melahirkan.

“Tanda bahaya tersebut antara lain adalah demam lebih dari dua hari, ibu terlihat sedih atau murung bahkan mengalami depresi, keluar cairan yang tidak normal dari jalan lahir, nyeri di ulu hati, serta pandangan kabur. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi indikasi preklamsia dan harus segera mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Bidan Lilis juga menegaskan bahwa dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan dalam masa nifas, seperti mengantar ibu kontrol kesehatan ke fasilitas kesehatan, memastikan ibu mengonsumsi makanan sehat bergizi serta vitamin. Kemudian membantu dalam pengasuhan bayi, dan yang tak kalah penting, mengajak ibu berbicara tentang perasaannya agar tidak merasa sendiri dalam menjalani masa pemulihan pasca persalinan.

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas para kader Posyandu dalam mendampingi ibu nifas di wilayah masing-masing, serta memperkuat peran komunitas dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi. (Tri Suhartati / KIM Depok)




Bangkit dari Keterbatasan, Waluyo Buktikan Disabilitas Bukan Halangan untuk Sukses

Sleman — Kisah inspiratif datang dari sudut Kalurahan Sardonoharjo, tepatnya di Padukuhan Candi 3, Ngaglik, Sleman. Waluyo, seorang ayah dari tiga anak, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari kondisi itulah semangat hidupnya tumbuh dan mekar menjadi harapan—bagi dirinya, keluarganya, dan komunitas disabilitas di sekitarnya.

Saat ditemui pada Jumat (18/7/2025), Waluyo bercerita bagaimana ia memulai segalanya dari nol. Dengan keterbatasan gerak, ia menjajakan parfum dan madu dari rumah ke rumah menggunakan kursi roda, setiap hari dari pukul enam pagi hingga menjelang sore.

“Saya harus bangkit, walau pelan-pelan, yang penting jalan terus,” ucapnya tenang.

Usaha gigihnya mulai berbuah manis. Produk madu yang ia jual ternyata diminati banyak pelanggan. Dari situlah lahir merek Madu Hutan Raya, madu asli yang kini sudah dikenal hingga luar kota. Dengan usaha yang konsisten, Waluyo mampu membeli motor roda tiga, yang kini membantunya mengirim pesanan dengan lebih mudah.

Namun perjuangan Waluyo tak berhenti pada urusan ekonomi pribadi. Ia aktif dalam kepengurusan PPDI (Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia), sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib sesama penyandang disabilitas. Bersama komunitasnya, ia mendirikan koperasi serta mengembangkan usaha peternakan domba dan produksi telur organik, yang semuanya dikelola dengan semangat kemandirian.

Tak mau tertinggal zaman, Waluyo juga mulai merambah dunia digital. Ia kini memasarkan produk secara online, tak hanya produknya sendiri, tapi juga menjadi affiliate dari berbagai produk.

“Alhamdulillah, dari semua ini saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” ungkapnya dengan mata berkaca.

Sebagai seorang ayah, Waluyo menyimpan mimpi yang besar untuk anak-anaknya. Ia ingin ketiga buah hatinya kelak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, sukses, dan mampu mengangkat nama keluarga.

“Semoga mereka bisa jadi anak-anak hebat yang membanggakan, membawa nama baik keluarga seperti Yogyakarta yang istimewa, tempat kami tinggal saat ini,” tuturnya.

Kisah Waluyo bukan sekadar perjalanan hidup seorang penjual madu, tapi kisah tentang ketabahan, kerja keras, dan harapan. (Sastra DSN / Kim Ngaglik)




Upaya Petani Sombangan Wujudkan Ketahanan Pangan

Sleman – Pangan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Fakta di lapangan membuktikan bahwa seringnya gagal panen banyak petani yang enggan lagi untuk menggarap tanah pertanian. Untuk menumbuhkan semangat bertani diperlukan kreatifitas dan strategi untuk menghasilkan tanaman pangan.

Hal tersebut diungkapkan salah satu warga Sombangan, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Bardani. “Gagal panen jangan membuat putus asa, tapi perlu strategi untuk menggarap lahan pertanian, agar kita tetap bisa makan,” katanya ketika ditemui Kamis, (17/7/2025) di sawahnya.

Hal itu dibuktikannya setelah berkali-kali gagal panen dari tanaman padi. Kemudian mengubah pola tanam dengan menanam jenis tanaman pangan lainnya. Sejak tahun 2023, Bardani mulai menanam lombok, terong, bawang merah, kancang panjang. Lalu dari tanaman itulah Bardani dapat menghasilkan panen yang cukup baik.

Lain lagi yang dilakukan Gustam Andreyanto, dan Wakiman yang juga warga Sombangan. Untuk mensiasati lahan pertanian yang kosong, mereka menanam jeruk, pepaya dan lombok.

“Memang diperlukan kreatifitas, dan strategi dalam mengolah tanah untuk menghasilkan pangan,” ujar mereka berdua.

Berbeda yang dilakukan oleh Muji Suparyanto 48 tahun, salah satu warga Nglahar, Sumbersari. Untuk tetap mempertahankan lahan pertaniannya, Muji mengubah pola tanam yang semula hanya mengandalkan menanam padi di sawahnya, mulai tahun 2022 Ia mulai beternak kambing.

“Sawah yang semula saya biarkan tidak ditanami apa-apa, bisa saya berdayakan tumbuh rumput sebagai makanan ternak,” ujar Muji.

Bahkan seiring dengan bergulirnya waktu dengan usaha ternak yang berkembang dan bertambah banyak, Muji menyewa   sawah yang nganggur untuk ditanami berbagai jenis rumput.

“Dari usaha tersebut memiliki hasil ganda, pertama rumput untuk makanan ternak, kedua kotoran ternak untuk pupuk rumput agar tetap tumbuh segar,” pungkasnya.  (Giek/KIM Moyudan)




Polri Masuk Sekolah, Bangun Generasi Tangguh Sejak MPLS

Sleman – Momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025/2026 dimanfaatkan Polsek Ngaglik untuk masuk ke dunia pendidikan dan menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, etika, serta kesadaran hukum kepada pelajar sejak dini. Kegiatan ini menyasar semua jenjang sekolah mulai dari SD, SMP, MTsN, hingga SMA/SMK di wilayah hukum Kapanewon Ngaglik.

Dengan mengusung tema “Polri Masuk Sekolah, Membangun Generasi Tangguh dan Tertib Sejak Dini”, jajaran Polsek Ngaglik memberikan penyuluhan mengenai kenakalan remaja, bullying, bahaya narkoba, keselamatan berlalu lintas, serta pelatihan baris-berbaris (PBB). Penyampaian dilakukan secara edukatif, interaktif, dan ramah anak, sehingga mudah diterima oleh pelajar dari berbagai usia.

Kapolsek Ngaglik AKP Yuliyanto, saat ditemui usai memberikan penyuluhan pada di SMP Negeri 3 Ngaglik, Rabu (16/7/2025), menyatakan bahwa kehadiran polisi di sekolah bukan sebatas tugas formal, melainkan bentuk nyata peran Polri dalam membina generasi muda.

“Kami hadir bukan hanya sebagai penegak hukum, tapi juga sebagai sahabat dan pembina. MPLS adalah momen emas untuk membekali siswa agar tidak salah jalan dalam pergaulan,” tegasnya.

Para personel Polsek Ngaglik juga membawakan materi dengan pendekatan empati dan komunikasi terbuka. Tak hanya melalui ceramah, mereka menyisipkan kisah nyata, video edukatif, hingga sesi tanya jawab interaktif. Pelajar pun diajak memahami langsung dampak hukum dan sosial dari penyalahgunaan narkoba, serta pentingnya etika berlalu lintas demi keselamatan diri dan orang lain.

Program ini telah bergulir sejak awal Juli dan direncanakan menjangkau seluruh sekolah di Kapanewon Ngaglik. Adapun sejumlah lokasi yang telah dan akan dikunjungi di antaranya, SMK YPPN dan SMP IT Alfar Mriyunan pada Senin, 14 Juli 2025. SD Ngebel Gede, SMK PIRI Ngabean, dan SMA Insan Mulia Lempongsari, pada Selasa, 15 Juli 2025. SMP Hamong Putra, SMP Negeri 2 Ngaglik, SMP Negeri 3 Ngaglik, SDN Sariharjo, SMP Karitas Nandan, MTsN Darul ‘Ulum 2 Sinar Melati, dan SMK Bina Harapan, pada Rabu, 16 Juli 2025.

Kemudian pada Kamis, 17 Juli 2025 edukasi digelar di SMA Negeri 2 Ngaglik. Sementara itu, Jumat, 18 Juli 2025 giliran SD Muhammadiyah Ngaglik, SMA Negeri 1 Ngaglik, dan SD Negeri Sardonoharjo yang menjadi lokasi penyuluhan.

“Anak-anak ini adalah pemimpin masa depan. Tugas kita hari ini adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh nilai positif,” pungkas AKP Yuliyanto. (ESK – KIM DSN Ngaglik)