Pawiyatan Pamong Jogja: Menanamkan Nilai Budaya Lokal dan Perkuat Kepemimpinan

Sleman— Di tengah arus globalisasi yang kian deras, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Namun demikian, sejumlah pihak tetap berkomitmen menjaga warisan budaya. Salah satunya melalui program Pawiyatan Pamong Jogja Angkatan 110 yang diinisiasi oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program ini menyasar para pamong kalurahan se-DIY, arsitek, dan anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) DIY, serta melibatkan delapan dukuh dan carik dari Kabupaten Kulon Progo. Tujuan utamanya ialah memperkuat peran pamong di tingkat lokal, sekaligus menanamkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai keistimewaan DIY.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat (16–18 Juli 2025), dan bertempat di Gedung Punakawan – Ragam Kriya. Hari pertama dibuka dengan nuansa kebangsawanan Jawa yang kental. Disusul dengan pemaparan sejarah asal-usul desa di Indonesia yang dipadukan dengan materi Ngelmu Pamong: Kaweruh Momong Warga. Materi ini menghadirkan nilai-nilai kearifan lokal sebagai fondasi menuju masa depan.
Peserta juga mendapatkan pemahaman tentang mandat Undang-Undang Keistimewaan DIY, yang menekankan kekhususan dan kemandirian DIY sebagai entitas budaya dan sosial. Pemaparan dilanjutkan dengan sejarah panjang DIY yang menjadi akar identitas wilayah ini.
Selain itu, materi mengenai capaian dan implementasi Perda Keistimewaan Pertanahan dan Tata Ruang menjadi fokus utama, menyoroti pentingnya pengelolaan ruang yang berkelanjutan. Pengetahuan tentang tata krama di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman juga turut diberikan, memperkaya wawasan peserta tentang nilai-nilai etika dalam kepemimpinan lokal.
Salah satu peserta, Ilham Agus Prasetyo menyampaikan kesan positifnya terhadap kegiatan tersebut. “Kelas Pawiyatan Pamong merupakan salah satu wujud upaya menjaga keistimewaan Yogyakarta sebagai kearifan lokal. Diharapkan nantinya mampu berperan serta menyampaikan sejarah Yogyakarta kepada lingkungan sekitar,” ungkapnya.
Ke depan, partisipasi dalam program ini diharapkan menjadi langkah awal membangun kepemimpinan lokal yang kuat, inklusif, dan berdaya saing, dengan sinergi antara pamong, masyarakat, dan kebijakan pemerintah. (Ilham Agus/KIM Seyegan)



