Sleman – Pemerintah Kapanewon Ngaglik terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kemajuan pelaku UMKM di wilayahnya. Salah satu bentuk dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pembinaan Digital Marketing yang diselenggarakan pada Rabu, (16/7/2025), bertempat di Warung Lor Kreteg, Padukuhan Dayakan, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman.
Kegiatan itu diikuti oleh perwakilan Tim Penggerak PKK, Karang Taruna, dan pelaku UMKM dari seluruh kalurahan se-Kapanewon Ngaglik. Pembinaan bertujuan untuk memberikan pemahaman dan keterampilan praktis dalam memanfaatkan platform digital, khususnya instagram, sebagai media promosi dan penjualan produk usaha.
Hadir sebagai narasumber utama, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta sekaligus praktisi digital marketing, Wajar Bimantoro. Dalam paparannya, Wajar mengajak para peserta untuk memahami urgensi adaptasi teknologi digital, khususnya dalam menghadapi persaingan bisnis yang kian kompetitif.
“Instagram bukan hanya tempat berbagi foto, tetapi sudah menjadi marketplace visual yang sangat strategis untuk UMKM. Dengan jutaan pengguna aktif setiap hari, ini menjadi peluang yang tidak boleh disia-siakan oleh pelaku usaha,” jelas Wajar di hadapan peserta.
Ia menyampaikan bahwa kekuatan utama instagram terletak pada kemampuannya menyajikan visual yang menarik dan interaktif. Dengan fitur seperti instagram story, reels, dan shopping tag, pelaku usaha bisa menciptakan pengalaman belanja yang menyenangkan sekaligus personal bagi konsumen.
“Basis visual instagram sangat cocok untuk UMKM, apalagi yang produknya menarik secara tampilan seperti kuliner, fashion, kerajinan, atau jasa kreatif. Foto produk yang bagus bisa menjadi magnet. Sementara interaksi yang konsisten bisa membangun loyalitas pelanggan,” tambahnya.
Menurut Wajar, penggunaan instagram sebagai alat pemasaran memiliki banyak keuntungan, antara lain biaya promosi yang relatif murah, jangkauan yang luas bahkan hingga pasar internasional, dan fitur interaktif yang dapat meningkatkan keterlibatan pelanggan.
“Dulu promosi harus cetak brosur, pasang baliho. Sekarang cukup dengan satu foto atau video singkat yang menarik, bisa menjangkau ribuan orang dalam waktu singkat. Bahkan bisa disertai tombol beli langsung,” terangnya.
Ia juga menyampaikan bahwa algoritma instagram saat ini sangat mendukung pelaku usaha kecil yang aktif dan kreatif.
“Kuncinya konsisten, konten harus rutin diunggah, dan jangan lupa gunakan tagar yang tepat. Gunakan fitur-fitur interaktif seperti polling, Q&A, atau live untuk mendekatkan diri dengan audiens,” papar Wajar.
Selama pelatihan terlihat antusiasme peserta sejak awal kegiatan. Beberapa di antara mereka baru pertama kali belajar langsung mengenai strategi pemasaran digital secara praktis. Beberapa peserta mengaku baru memahami bahwa instagram memiliki potensi besar untuk bisnis mereka.
“Saya sangat terbantu. Biasanya cuma pakai WhatsApp dan Facebook saja. Sekarang jadi tahu kalau instagram juga sangat bagus untuk promosi. Apalagi saya jualan keripik, tampilannya bisa menarik kalau difoto bagus,” ujar Ibu Yuni, salah satu pelaku usaha dari Donoharjo.
Selanjutnya ia menilai pelatihan ini membuka wawasannya dalam pengelolaan media sosial.
“Dari dulu sudah punya akun instagram, tapi belum tahu cara pakainya secara optimal. Sekarang saya paham bagaimana bikin konten, caption yang menarik, dan cara membangun brand,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Ngaglik, Kusmiyanto dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong pelaku UMKM naik kelas dengan memanfaatkan teknologi digital.
“Kami memahami tantangan yang dihadapi pelaku usaha saat ini, terutama yang belum akrab dengan teknologi. Maka dari itu, pelatihan ini sangat penting agar UMKM kita tidak tertinggal. Pemerintah kapanewon akan terus mendampingi melalui pelatihan-pelatihan lanjutan,” ungkapnya.
Dengan semangat kolaboratif dan dukungan dari berbagai pihak, kegiatan ini menjadi tonggak awal pemberdayaan masyarakat melalui jalur ekonomi digital. Harapannya, pelaku UMKM lokal tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo Ngaglik)