Sisir Adminduk Padukuhan Gempol Disambut Antusias Warga

Sleman – Kegiatan Sisir Adminduk kembali digelar di Gedung Sarpras Padukuhan Gempol, Rabu (16/7/2025). Kegiatan ini memberikan berbagai layanan administrasi kependudukan secara langsung kepada warga.

Antusiasme masyarakat Padukuhan Gempol terlihat sangat tinggi. Tercatat sekitar 40 warga memanfaatkan layanan ini, mulai dari pemutakhiran KTP elektronik, aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD), pemutakhiran Kartu Keluarga (KK), hingga pencetakan Kartu Identitas Anak (KIA).

Dukuh Gempol, Ari Susanti menyampaikan bahwa layanan sisir adminduk ini sangat membantu masyarakat. “Adanya kegiatan ini cukup memudahkan warga untuk mendapatkan layanan administrasi kependudukan. Harapannya, seluruh warga Padukuhan Gempol bisa semakin tertib dalam hal administrasi kependudukan,” ungkapnya.

Salah satu kader Jakadara (Jaringan Kader Adminduk Depok agar Tertib dan Tertata) Padukuhan Gempol, Mardliah Noor Fuadiana juga menyampaikan apresiasinya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada Kapanewon Depok dan Pemerintah Kalurahan Condongcatur yang telah memberikan akses layanan sisir adminduk hingga ke tingkat padukuhan,” ujarnya.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Jawatan Umum Kapanewon Depok, Ginoviva Rully Sri Sulistyaningtyas, dan Kasi Tata Laksana Kalurahan Condongcatur, Andre Setiawan. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen nyata dalam mendekatkan layanan publik kepada masyarakat, khususnya dalam hal administrasi kependudukan.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya data kependudukan terus meningkat. Sehingga tidak ada lagi warga yang terkendala dalam mengakses layanan publik karena belum memiliki dokumen kependudukan yang valid. (Tri Suhartati / KIM Depok)




Dukcapil Sleman Gelar Pelayanan Jelita Jiwa di Gempol

Sleman — Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Pemerintah Kalurahan Condongcatur melalui program Jelita Jiwa kembali melaksanakan kegiatan jemput bola perekaman KTP elektronik bagi kelompok rentan, Rabu (16/7/2025). Kegiatan kali ini menyasar warga dengan gangguan jiwa (ODGJ) di wilayah Karangasem RT 16 RW 12, Padukuhan Gempol.

Program Jelita Jiwa merupakan layanan jemput bola dokumen kependudukan bagi penduduk sakit berat, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan orang dengan gangguan jiwa. Program ini bertujuan untuk memastikan seluruh kelompok rentan tetap mendapatkan hak identitas kependudukan secara sah.

Dengan penuh semangat, para kader Jakadara (Jaringan Kader Adminduk Depok), kader adminduk Padukuhan Gempol, Dukuh Gempol, staf tatalaksana, dan petugas Dukcapil Kabupaten Sleman turun langsung ke lapangan. Kegiatan yang dilaksanakan pada siang hari ini berjalan lancar meskipun menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

Dukuh Gempol, Ari Susanti menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program ini. “Saya sangat senang dengan adanya program Jelita Jiwa dari Dinas Dukcapil. Ini sangat membantu kaum rentan agar bisa terakses dan memiliki identitas kependudukan,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh warga dapat terdata secara resmi dan memiliki akses yang setara terhadap layanan publik dan hak sipil lainnya. (Tri Suhartati / KIM Depok)




Fenomena Alam Hiasi Arena Peringatan Hari Jadi Ke-79 Kalurahan Argomulyo

Sleman – Kalurahan Argomulyo, merayakan Hari Jadi ke-79 dengan menggelar upacara dan kirab budaya yang berlangsung di Lapangan Kapanewon Cangkringan, Rabu (16/7/2025).

Peringatan ini dihadiri oleh Lurah Argomulyo beserta pamong, Sekretaris Daerah Sleman, Susmiarto, Wakil Ketua DPRD Sleman, Ani Martanti, Anggota DPRD Provinsi DIY, Sukapdi, Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Yani Faturahman dan Gani Sadat, Panewu Cangkringan, Tamziz Sarwana beserta mantan Panewu Cangkringan, Lurah se-Kapanewon Cangkringan serta anak-anak sekolah di wilayah Kalurahan Argomulyo.

Acara di awali dengan kirab budaya Bregodo Tambak Kali yang mengiringi gunungan yang berisi beraneka ragam hasil bumi di wilayah Argomulyo. Dilanjutkan dengan prosesi catur manunggal dengan bergabungnya empat kalurahan lama, yaitu Kalurahan Jiwosari, Kalurahan Losari, Kalurahan Panggungsari dan Kalurahan Tegalsari.

Momen peringatan Hari Jadi ke-79 Kalurahan Argomulyo diwarnai pemandangan alam yang memukau. Sebuah sinar putih lurus seperti sinar senter dengan terangnya memancar dari langit tepat di tengah-tengah arena. Sinar tersebut seolah menjadi simbol petunjuk, harapan dan kebenaran untuk masa depan Argomulyo yang lebih baik.

Sinar itu pun sontak mengundang decak kagum seluruh peserta upacara. Tak sedikit warga yang mengabadikan momen langka tersebut melalui ponsel mereka.

Lurah Argomulyo, Danang Hendri Bintoro dalam amanatnya menyampaikan bahwa acara ini menjadi momen penting untuk mengenang sejarah berdirinya Kalurahan Argomulyo, yaitu tanggal 16 Juli 1946.

“Kini Kalurahan Argomulyo berusia 79 tahun, dan diharapkan dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan,” katanya.

Sekda Kabupaten Sleman, Susmiarto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Argomulyo dalam menjaga semangat persatuan dan kesatuan sejak meleburnya empat kalurahan lama.

“Hari jadi ke-79 ini bukan hanya peringatan sejarah atau acara seremonial saja, akan  tetapi momentum untuk memperkuat sinergi warga masyarakat dan pamong untuk membangun Kalurahan Argomulyo yang lebih maju lagi,” imbuhnya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan dilanjudkan dengan berebut gunungan hasil bumi oleh peserta upacara. (Mujiyanta  / KIM “Wara Aji” Cangkringan)




Menjaga Warisan Bangsa dari Desa dengan Bangun Peta Budaya

Sleman – Dalam rangka membangun fondasi kebudayaan yang kokoh di tingkat lokal, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, menggelar kegiatan pendataan kebudayaan pada Rabu, (16/7/2025). Kegiatan yang berlangsung di ruang rapat lantai 2 kantor kalurahan setempat itu merupakan titik awal menjadikan Sardonoharjo sebagai Desa Mandiri Budaya, yang memiliki arah pembangunan berbasis identitas dan kekayaan lokal.

Acara tersebut merupakan bagian dari program strategis penguatan kebudayaan yang didanai oleh Dana Keistimewaan (Danais), sekaligus mendukung implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Pendataan dilakukan dengan tujuan menyusun profil kebudayaan yang sistematis dan berbasis data, sebagai pijakan utama dalam pelestarian serta pemanfaatan potensi budaya lokal.

Kamituwa Kalurahan Sardonoharjo, Bayu Kristiyanto dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam memperkuat identitas masyarakat. “Dengan adanya pendataan ini, kami berharap Sardonoharjo memiliki database kebudayaan yang lengkap dan akurat. Ini akan menjadi dasar dalam penyusunan profil kebudayaan kalurahan dan mengarahkan pembangunan desa secara kultural dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Endah Kusuma Wardani selaku narasumber utama pada kesempatan itu memaparkan kerangka kerja pendataan 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). OPK tersebut meliputi tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritus, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, dan olahraga tradisional.

Menurut Endah, OPK bukan sekadar kumpulan warisan masa lalu, namun aset strategis untuk membangun masa depan.

“Pendataan ini bukan hanya kegiatan administratif, tapi bagian dari perlawanan terhadap hilangnya memori kolektif masyarakat. Kami berharap Sardonoharjo menjadi pelopor dalam pemetaan budaya yang menyeluruh dan representatif,” ujarnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Pangripta, para Dukuh, serta tokoh-tokoh budaya dari seluruh padukuhan di wilayah Sardonoharjo. Diskusi yang berlangsung hangat memunculkan beragam gagasan serta identifikasi potensi dan tantangan dari masing-masing wilayah. Hal itu menandakan kuatnya semangat kolaboratif lintas elemen masyarakat dalam memajukan budaya lokal.

Untuk memastikan pendataan dilakukan dengan pendekatan yang tepat dan berkelanjutan, panitia menghadirkan Bapak Kendal sebagai tim ahli pendamping. Ia akan memberikan bimbingan teknis mulai dari metode wawancara, dokumentasi budaya, hingga sistem pengarsipan digital yang bisa digunakan dalam jangka panjang.

Dinas Kebudayaan Sleman pun mengapresiasi langkah progresif ini. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena dapat membantu tugas Dinas Kebudayaan dalam memetakan kekayaan budaya di Sleman. Semoga Sardonoharjo menjadi contoh bagi kalurahan lain dalam mengintegrasikan budaya sebagai instrumen pembangunan,” tutur Endah.

Sebagai penutup, seluruh peserta menyatakan komitmen kolektif untuk menjalankan proses pendataan yang akan dilanjutkan secara bertahap di seluruh padukuhan. Harapannya, Sardonoharjo tak hanya memiliki dokumen budaya yang utuh, tapi juga menggerakkan masyarakat untuk menjadikan budaya sebagai kekuatan utama dalam pembangunan desa. (ESK – KIM DSN Ngaglik)




Salak Pondoh, Peluang Ekspor Masih Terbuka

Sleman – Salak Pondoh kini tak hanya digemari di dalam negeri, berbagai negara mulai dari Asia, Thailand, Kamboja, Vietnam, China, Dubai Timur Tengah hingga Eropa pun menyukainya. Buah manis ini telah menembus pasar ekspor berkat kerja keras para eksportir lokal. Salah satunya, Iskandar, warga Dusun Ngabean, Margorejo, Tempel, Sleman.

Bersama kelompoknya, Iskandar secara rutin mengekspor salak pondoh dari wilayah Sleman dan Muntilan. “Dalam sebulan, sesungguhnya kebutuhan ekspor bisa mencapai 40–50 ton. Namun saat ini baru mampu terpenuhi sekitar 20–40 ton. Artinya, peluang untuk memperluas produksi dan menambah petani mitra masih terbuka lebar,” tuturnya saat ditemui di tempat pengepakan dan penyimpanan di Cold Storage, Srubung, Selasa (15/7/2025).

“Berbeda dengan pasar domestik yang cenderung fluktuatif, pasar ekspor justru lebih aman dan menguntungkan. Pembayarannya lebih pasti, ada Down Payment dan sistemnya sudah terstandarisasi, dan setiap tahapnya terorganisasi dengan baik,” tambahnya.

Iskandar pun menjelaskan secara rinci proses penyortiran buah salak hingga ke tahap pemasaran.

“Mulai dari sertifikasi kebun oleh Departemen Pertanian, seleksi petani yang tergabung, pengepulan, pembersihan dan sortir mutu, pengemasan dan cold storage, sertifikasi karantina, pengurusan dokumen, bea cukai, dan pengangkutan melalui kontainer laut atau kargo udara,” jelasnya.

“Semuanya ditangani oleh tim-tim yang memiliki spesialisasi masing-masing. Tidak mungkin semua proses ini dilakukan oleh satu orang saja, ini hasil kerja satu tim yang solid,” tandasnya.

Untuk menjaga kontinuitas pasokan, ia berani membayar di atas harga pasar dan dijamin paling lambat dua hari petani sudah mendapatkan uangnya.

Inilah contoh nyata bagaimana buah lokal. Jika dikelola dengan serius dan profesional, bisa bersaing di panggung global. Salak pondoh mampu menjadi komoditas ekspor andalan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)