Ribuan Jamaah Padati Stadion Maguwoharjo dalam Peringatan Tahun Baru Islam

Sleman — Ribuan jamaah memadati halaman parkir Stadion Maguwoharjo, Minggu malam (14/7/2025), dalam peringatan Tahun Baru Islam 1447 Hijriah yang dirangkai dengan pelantikan Pengurus Rayon IKSASS DIY masa khidmat 2024–2026. Acara yang mengusung tema “Munajat Cinta – Demi Masa…” ini menjadi momentum spiritual dan kebersamaan yang sarat makna.

Kegiatan diselenggarakan oleh IKSASS (Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah), organisasi yang menaungi para santri dan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. IKSASS dikenal aktif menyebarkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dan semangat kebangsaan di tengah masyarakat.

Suasana malam itu terasa syahdu dan penuh kekhusyukan. Lantunan sholawat dari Majelis Sholawat Sokarajjhe menggema, menyentuh hati ribuan hadirin. Panggung megah, tata cahaya memesona, serta tari sufi dan alunan hadroh yang menghanyutkan memperkaya suasana rohani acara.

Dalam mauidzah hasanahnya, KHR. Achmad Azaim Ibrahimy mengajak jamaah menjadikan tahun baru Hijriah sebagai momen muhasabah, memperkuat iman, dan menjaga semangat santri dalam kehidupan bermasyarakat.

“Tahun baru Islam bukan sekadar pergantian waktu, tapi ajakan untuk memperbaiki diri, mempererat ukhuwah, dan menjaga warisan nilai-nilai pesantren,” tuturnya.

Puncak acara ditandai dengan pelantikan Pengurus Rayon IKSASS DIY, yang menjadi tonggak baru dalam penguatan dakwah dan kaderisasi santri di wilayah Yogyakarta.

Antusiasme jamaah sangat tinggi. Salah satu peserta, Ibu Rukoyah dari Condongcatur, mengaku terharu mengikuti rangkaian acara.

“Saya merinding mendengarkan tausiyah Kiai Zaim. Ini bukan hanya acara, tapi energi rohani yang luar biasa. Semoga IKSASS terus berkembang,” ungkapnya.

Malam pergantian tahun Islam itu ditutup dengan dzikir dan sholawat. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Polsek Ngaglik Siap Gelar Operasi Patuh Progo 2025, Fokus Pada Pelanggaran Prioritas

Sleman — Dalam rangka menekan angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas, Polsek Ngaglik siap melaksanakan Operasi Patuh Progo 2025 mulai 14 hingga 27 Juli 2025. Operasi ini merupakan bagian dari program nasional yang digelar serentak oleh seluruh jajaran kepolisian, termasuk di wilayah hukum Polres Sleman.

Kapolsek Ngaglik AKP Yulianto, menjelaskan, operasi tahun ini akan difokuskan pada tujuh pelanggaran prioritas yang selama ini menjadi penyumbang utama kecelakaan di jalan, yakni pengendara di bawah umur, berboncengan lebih dari satu orang, tidak menggunakan helm SNI atau sabuk pengaman, melawan arus lalu lintas, melebihi batas kecepatan, mengemudi dalam pengaruh alkohol, dan menggunakan ponsel saat berkendara.

“Operasi Patuh bukan hanya soal penindakan hukum, tapi juga perubahan perilaku. Edukasi akan dilakukan secara masif ke masyarakat, sekolah-sekolah, hingga komunitas pengguna jalan,” tegas AKP Yulianto saat ditemui di Mapolsek Ngaglik, Senin (14/7/2025).

Operasi akan menyasar sejumlah titik rawan pelanggaran dan kecelakaan di Kecamatan Ngaglik. Selain pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan, petugas juga akan memastikan pengendara mematuhi standar keselamatan di jalan.

Kapolsek menekankan pentingnya kesadaran kolektif sebagai kunci sukses operasi. “Helm, sabuk pengaman, dan tidak bermain ponsel saat berkendara bukan soal tilang, tapi keselamatan diri sendiri dan orang lain,” imbuhnya.

Untuk mendukung pendekatan persuasif, operasi juga akan melibatkan Bhabinkamtibmas di tiap kelurahan guna mendampingi kegiatan sosialisasi dan memberi edukasi langsung kepada warga.

Polsek Ngaglik mengimbau masyarakat untuk memeriksa kondisi dan kelengkapan kendaraan sebelum bepergian, mematuhi aturan lalu lintas, serta menjadikan keselamatan sebagai prioritas.

Dengan partisipasi aktif masyarakat, Operasi Patuh Progo 2025 diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi benar-benar membawa dampak nyata dalam menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas dan menciptakan jalan raya yang lebih aman di wilayah Sleman. (ESK/KIM DSN)




SD Idea Baru Kalasan Tekankan Nilai Kebersamaan dan Anti-Bullying di Hari Pertama MPLS

Sleman – SD Idea Baru Kalasan mengawali tahun ajaran 2025/2026 dengan semangat kebersamaan dan kepedulian melalui pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru kelas 1. Digelar pada Senin (14/7/2025), hari pertama MPLS menjadi momen penting untuk membangun lingkungan sekolah yang ramah, aman, dan inklusif.

Kegiatan dibuka dengan upacara bendera, kemudian dilanjutkan senam bersama serta sesi perkenalan antara siswa dan guru.

Kepala SD Idea Baru, Veronica Mudawati, menegaskan komitmen sekolah sebagai zona bebas perundungan. Ia mengingatkan seluruh warga sekolah untuk menciptakan ruang belajar yang aman, menyenangkan, dan mendukung tumbuh kembang anak-anak.

“Di SD Idea Baru, tidak boleh ada bullying. Semua anak, terutama siswa kelas 1, harus merasa diterima dan bahagia. Kita semua adalah satu keluarga,” ujar Veronica.

Sebagai bentuk nyata nilai empati yang ditanamkan, siswa kelas atas secara sukarela membantu mengantar siswa kelas 1 menuju ruang kelas masing-masing. Tindakan sederhana namun bermakna ini mencerminkan budaya solidaritas dan kepedulian antarsiswa yang menjadi ciri khas sekolah.

Tahun ini, SD Idea Baru menerima 56 siswa baru yang terbagi dalam dua kelas. Kepala sekolah juga menyampaikan apresiasi kepada para orang tua atas kepercayaan yang diberikan.

“Pendidikan anak adalah kerja kolaboratif antara sekolah dan keluarga. Terima kasih telah mempercayakan anak-anaknya kepada kami. Mari bersama-sama mendampingi tumbuh kembang mereka,” ucapnya.

Melalui MPLS, SD Idea Baru tidak hanya memperkenalkan lingkungan fisik sekolah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter sejak hari pertama seperti empati, inklusivitas, dan keberanian untuk menjadi diri sendiri tanpa takut dibully. (Lathif Fadhlan Hidayat/KIM Depok)




DLH Sleman Tanamkan Karakter Cinta Lingkungan Lewat Latihan Krida Saka Kalpataru

Sleman – Dalam upaya mencetak generasi muda yang peduli lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menggelar latihan krida lingkungan hidup bagi anggota Satuan Karya (Saka) Kalpataru. Bertempat di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sleman, Senin (14/7/2025), kegiatan ini mengangkat tema pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alam berkelanjutan.

Sebanyak 40 pramuka penegak dan pandega mengikuti pelatihan yang dirancang dengan pendekatan interaktif. Selain materi teori, peserta juga diajak praktik langsung memanen air hujan dan membuat alat penampung sederhana dari bahan daur ulang. Program ini menjadi bagian dari pendidikan nonformal berbasis aksi nyata untuk membentuk karakter cinta lingkungan.

Ketua Dewan Saka Kalpataru Sleman, Rizki Mario Pamungkas, menjelaskan bahwa latihan ini mengasah tiga krida utama dalam Saka Kalpataru, yaitu Krida 3R (Reduce, Reuse, Recycle), Krida Keanekaragaman Hayati, dan Krida Perubahan Iklim.

Sementara itu, Pimpinan Saka Kalpataru Sleman, Dewi Setyowati, menegaskan bahwa pelatihan ini memperkuat sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pendidikan dalam membangun gaya hidup ramah lingkungan. “Kami ingin air hujan tidak hanya menjadi wacana, tapi dikonversi menjadi aksi nyata. Misalnya, peserta dapat membuat sistem pemanen air hujan di rumah atau sekolah mereka,” ujarnya.

Peserta juga mendapatkan materi dari pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, penerima KEHATI Award 2024 bidang Perubahan Iklim. Ia memperkenalkan konsep 5M dalam pengelolaan air hujan: Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Konsep ini menjadi solusi konkret menghadapi tantangan perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, dan tanah longsor.

“Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi air hujan melimpah. Namun, tanpa edukasi dan teknologi sederhana, potensi ini bisa terbuang,” jelas Sri Wahyuningsih.

Menambah sisi teknis pelatihan, Sapto Wahyu Buwono, relawan Sekolah Air Hujan, mengajarkan cara merakit instalasi pemanen air hujan serta sistem elektrolisa yang mampu meningkatkan kualitas air dengan memisahkan kandungan menjadi air basa dan air asam.

DLH Sleman berharap kegiatan ini menjadi titik awal gerakan ekologis yang lebih luas, dengan air hujan sebagai pintu masuk edukasi lingkungan. Dengan membekali generasi muda melalui pendekatan praktis dan ilmiah, latihan krida ini diharapkan melahirkan agen perubahan yang memiliki empati dan tanggung jawab ekologis. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Legi Market Day, Pasar Rakyat yang Hidupkan Ekonomi dan Wisata Salam-Krajan

Sleman – Suasana meriah kembali terasa di kawasan Sabo Dam Opak, Padukuhan Salam-Krajan, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Minggu (13/7/2025), dalam gelaran Legi Market Day. Kegiatan bulanan yang digagas oleh Desa Wisata Dewi Saka ini menjadi ruang produktif bagi pelaku UMKM lokal sekaligus destinasi wisata belanja yang kian diminati.

Sebagai agenda rutin setiap Minggu Legi, Legi Market Day menghadirkan suasana pasar rakyat dengan deretan stan yang menjajakan aneka produk lokal, dari kuliner tradisional, hasil pertanian, hingga kerajinan khas warga. Bertempat di ruang terbuka berlatar nuansa pedesaan yang sejuk, kegiatan ini menyatu dengan atmosfer alam dan budaya lokal.

Tak sekadar transaksi jual beli, gelaran kali ini juga dilengkapi kegiatan pendukung seperti senam massal, pemeriksaan kesehatan untuk deteksi diabetes oleh tim STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, serta kehadiran komunitas Paguyuban Gerobak “Pager Merapi” yang turut menyemarakkan acara.

“Legi Market Day bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga ruang kolaborasi dan gotong royong warga,” ujar Bambang Tri Atmojo, Dukuh Salam-Krajan. “Ini adalah upaya mengangkat potensi lokal sekaligus menumbuhkan semangat ekonomi kreatif di tingkat dusun.”

Sejak pagi, area pasar dipadati pengunjung dari berbagai kalangan. Selain berbelanja, mereka menikmati suasana akrab dan interaktif yang memperkuat ikatan sosial antarwarga. Banyak pengunjung juga menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari pengalaman wisata, mengingat potensi alam dan budaya Salam-Krajan yang kian dikenal luas.

Dengan konsep pasar terbuka yang berpadu dengan destinasi wisata edukatif, Legi Market Day tak hanya mendukung pemberdayaan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi salah satu ikon baru wisata komunitas di lereng Merapi. (Lilik/KIM Wara Aji Cangkringan)