Margokaton Gelar Sarasehan Budaya, Susun Profil Menuju Desa Budaya

Sleman — Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, menggelar Sarasehan Budaya sebagai bagian dari rangkaian acara Merti Bumi, Minggu (13/7/2025), bertempat di Gedung Pertemuan Kalurahan Margokaton. Kegiatan ini menjadi langkah awal penyusunan Profil Kebudayaan Kalurahan sebagai upaya menuju status Desa Budaya.
Sarasehan dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain perwakilan Keraton Yogyakarta, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Panewu Seyegan, Polsek dan Koramil Seyegan, Pendamping Desa, Lurah dan Pamong Kalurahan, BPKal, serta tokoh-tokoh budaya Margokaton.
Lurah Margokaton, Anggit Bimanyu, menyampaikan bahwa penyusunan profil budaya penting untuk merekam dan mendokumentasikan sejarah, seni, serta adat istiadat lokal.
“Penyusunan buku profil budaya memerlukan dukungan dari pelaku sejarah dan pakar budaya. Karenanya, sarasehan ini kami gelar sebagai forum awal menggali potensi budaya Margokaton,” ujarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Edi Winarya, mengapresiasi penyelenggaraan sarasehan ini. Ia menegaskan bahwa buku profil budaya merupakan salah satu syarat untuk naik status menjadi Desa Budaya.
“Profil budaya menjadi potret kemajuan dan pelestarian budaya lokal, serta menjadi bahan pertimbangan kebijakan pemerintah. Tanpa dokumentasi yang jelas, kebudayaan setempat sulit dikenal lebih luas,” jelasnya.
Sementara itu, penggiat sejarah M. Anjar Wintolo dalam paparannya menegaskan bahwa kebudayaan terdiri dari empat unsur utama, yaitu sejarah, seni, ritual, dan adat istiadat.
“Margokaton sangat kaya akan unsur budaya. Hampir setiap padukuhan memiliki situs budaya seperti candi, sendang, arca, dan artefak kuno,” ungkap Anjar.
Ia menambahkan bahwa keberadaan artefak di berbagai padukuhan menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki peradaban dan teknologi yang sudah maju pada masa lalu.
Narasumber lain, Muhammad Yaser Arafat—dosen UIN Sunan Kalijaga dan pemerhati makam kuno—menyampaikan bahwa makam-makam di Pasarean Somokaton diperkirakan berasal dari abad ke-16, bahkan menjadi pusat pendidikan Islam pada masanya.
“Ornamen di batu nisan menunjukkan bahwa di Somokaton dahulu berdiri pesantren besar, menandakan kawasan ini sebagai pusat keislaman seperti pada era Walisongo,” jelas Yaser.
Ia juga mengusulkan program edukasi budaya dan lingkungan untuk anak-anak dan ibu-ibu, termasuk pelestarian sendang serta pengembangan motif batik yang mencerminkan peradaban Margokaton.
Menutup acara, RM Rachmadi dari Kerabat Keraton Yogyakarta menyatakan dukungannya atas upaya Kalurahan Margokaton dalam menyusun profil kebudayaan.
“Keraton mencatat ada 150 makam, 68 masjid, dan sejumlah sumber mata air yang termasuk dalam situs budaya. Penyusunan profil seperti ini sangat penting untuk pelestarian,” ujar Rachmadi.
Kegiatan sarasehan juga dimanfaatkan sebagai forum dialog antara pemerintah kalurahan dan para tokoh masyarakat, budaya, agama, dan pelaku sejarah. Sebelumnya, rangkaian Merti Bumi diawali dengan ziarah ke makam sesepuh di Padukuhan Susukan III dan ditutup dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Supangat dan Ki Sukirno dengan lakon “Wahyu Widayat.” (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



