Edukasi Sampah Jadi Ajang Kebersamaan dan Kepedulian Lingkungan

Sleman – Kegiatan pengelolaan sampah kembali menjadi momentum edukatif dan kebersamaan bagi warga RW 13 Perumnas Condongcatur, Padukuhan Gempol, Condongcatur, Depok, Sleman. Melalui kegiatan rutin penimbangan dan pemilahan sampah yang digelar oleh Bank Sampah Apel pada Minggu (13/7/2025), semangat peduli lingkungan terlihat semakin tumbuh di tengah masyarakat.

Sebanyak 23 nasabah turut hadir dalam kegiatan ini, yang dipandu langsung oleh pengurus Bank Sampah Apel. Meski sebagian nasabah masih belum sepenuhnya memilah sampah sesuai aturan, kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memperkuat edukasi dan pemahaman tentang pentingnya memilah sampah sejak dari rumah.

Kegiatan kali ini juga mendapat perhatian khusus dari kalangan akademisi. Tamu dari Universitas Islam Indonesia (UII) turut hadir untuk mengamati proses penimbangan sebagai bagian dari studi lapangan dan bentuk dukungan terhadap gerakan lingkungan berbasis masyarakat.

Ketua Bank Sampah Apel, Herlyanti, mengungkapkan bahwa konsistensi dan kedisiplinan warga dalam memilah sampah akan sangat menentukan keberhasilan pengelolaan lingkungan. Ia juga mengapresiasi semangat warga yang terus aktif mengikuti kegiatan.

Salah satu pengurus, Niken Amri, menambahkan bahwa kegiatan ini patut terus didukung.

“Baik warga maupun pengurus terlihat sangat bersemangat. Ini bukti bahwa kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah makin tumbuh dari lingkungan terkecil,” ujarnya.

Selain sebagai wadah edukasi, kegiatan ini juga menciptakan nuansa kebersamaan dan kekompakan antar warga serta pengurus. Kegiatan berlangsung lancar dan penuh antusiasme, meski beberapa nasabah masih datang di menit-menit terakhir waktu penimbangan.

Semangat lokal seperti ini menjadi modal kuat dalam membangun budaya bersih dan berkelanjutan. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus digalakkan di berbagai wilayah sebagai langkah nyata mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan tertib pengelolaannya. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Fakultas Seni Rupa dan Desain UNS Gelar Workshop Seni Visual di Condongcatur

Sleman — Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menggelar Workshop Seni Visual bagi anak-anak dan remaja di Kampung Cepit dan Puren, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, pada Sabtu (12/7/2025). Kegiatan berlangsung di Pendopo Cepit dan diikuti sekitar 50 peserta.

Workshop ini memberikan pengalaman langsung dalam dua aktivitas utama, yaitu melukis tas berbahan kain dengan kreativitas bebas, serta membuat keramik sederhana dari tanah liat, dimulai dari proses pembentukan hingga menghias. Seluruh kegiatan dipandu oleh mahasiswa dan dosen FSRD UNS.

Peserta tidak hanya mendapatkan materi dan praktik secara gratis, tetapi juga memperoleh fasilitas berupa tas kanvas dan tanah liat yang digunakan selama kegiatan.

Dosen FSRD UNS sekaligus penanggung jawab kegiatan, Sigit Purnomo Adi, menjelaskan bahwa tujuan dari workshop ini adalah menumbuhkan keterampilan dasar seni visual sekaligus mengenalkan proses kreatif yang terinspirasi dari budaya lokal, seperti Candi Sewu.

“Harapannya, anak-anak dan remaja memiliki bekal keterampilan kreatif yang dapat terus dikembangkan di masyarakat,” ujar Sigit.

Sementara itu, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih atas pelaksanaan workshop seni visual di wilayahnya. Ia berharap program seperti ini dapat terus berlanjut ke depannya.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dan inspiratif. Kami berharap bisa terus bersinergi dengan pihak kampus agar anak-anak dan remaja kami mendapatkan tambahan keterampilan dan wawasan kreatif,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Reno berharap bahwa melalui kegiatan seperti ini akan muncul bibit-bibit seniman muda dari Condongcatur yang tidak hanya kreatif, tetapi juga mencintai dan melestarikan budaya lokal. (Wasana/KIM Depok)




Friendly Match Semarakkan Launching Tim Sepak Bola “Margomulyo Seyegan FC”

Sleman — Semangat membangkitkan kembali kejayaan sepak bola Seyegan terus bergelora. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui pembentukan dan peluncuran tim sepak bola “Margomulyo Seyegan FC” yang berlangsung meriah di Lapangan Margomulyo, Minggu (13/7/2025).

Acara launching yang turut dihadiri Babinsa, Bhabinkamtibmas, Ketua dan anggota BPKal, perangkat kalurahan, serta masyarakat pencinta sepak bola itu ditandai dengan pertandingan persahabatan antara Margomulyo Seyegan FC melawan Satria Muda Sidomoyo Godean. Pertandingan berlangsung seru dan berakhir dengan kemenangan tuan rumah 4-0.

Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto, menyampaikan bahwa pembentukan klub ini dilatarbelakangi oleh semangat menghidupkan kembali tradisi prestasi sepak bola Seyegan yang sempat berjaya di masa lalu.

“Lapangan Margomulyo sudah kami rehab agar layak digunakan sebagai sarana latihan dan pertandingan. Sekarang tinggal bagaimana kita menjaganya bersama,” ujar Eko dalam sambutannya.

Ia menjelaskan bahwa sebelumnya kondisi lapangan masih jauh dari layak: permukaan tidak rata, banyak gundukan tanah, serta genangan air saat hujan. Setelah direhabilitasi, lapangan kini memenuhi standar untuk latihan dan pertandingan.

Tak hanya membangun semangat, Eko juga menetapkan aturan tegas terkait pemeliharaan lapangan. Di antaranya, larangan penggunaan lapangan untuk latihan stir mobil, pelarangan traktor petani melintasi lapangan, dan pengalihan kegiatan pasar malam ke Bulak Kenari.

“Beberapa kali kami juga menolak permintaan penggunaan lapangan untuk kegiatan yang berdampak pada kerusakan lapangan. Ini demi keberlangsungan fasilitas olahraga masyarakat,” jelasnya.

Sebagai simbol peresmian tim, Lurah Eko menyerahkan bola kepada Ketua Margomulyo Seyegan FC, Agus Purwanto, yang kemudian menyerahkannya kepada wasit sebagai penanda dimulainya pertandingan friendly match.

Dengan terbentuknya Margomulyo Seyegan FC, diharapkan geliat sepak bola di Seyegan kembali hidup dan dapat menorehkan prestasi seperti masa lalu. Animo masyarakat yang besar terhadap olahraga ini menjadi modal sosial penting untuk mendorong kemajuan olahraga di tingkat lokal.

“Mari jadikan sepak bola sebagai sarana membangun kebersamaan, kesehatan, dan kebanggaan Margomulyo,” pungkas Eko.(Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Komunitas Seroja Tanamkan Nilai Kemanusiaan dalam Bingkai Keislaman

Sleman — Dalam upaya menanamkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian integral dari ajaran Islam, Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden menggelar kajian keislaman bertema “Nilai-Nilai Kemanusiaan dalam Islam” di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu (13/7/2025).

Kajian ini menghadirkan narasumber Dr. dr. Bambang Edi Susyanto, Sp.A., Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang menekankan pentingnya menumbuhkan sikap saling menghargai, peduli, dan menolong tanpa pamrih sebagai wujud nyata dari ajaran Islam.

“Islam menanamkan nilai persamaan, keadilan, dan kasih sayang antar sesama manusia,” tegas dr. Bambang.

Dalam paparannya, ia mengangkat beberapa konsep fundamental dari Al-Qur’an terkait kemanusiaan, di antaranya nafs wahidah (asal-usul satu jiwa), menekankan bahwa semua manusia bersaudara dalam kemanusiaan. Berikutnya adalah perbedaan suku dan bangsa untuk saling mengenal, bukan untuk saling merendahkan. Terakhir adalah Kesetaraan spiritual, di mana kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya, bukan status sosial.

Menurutnya, prinsip nafs wahidah mengajarkan solidaritas dan tanggung jawab sosial. Ketika satu pihak mengalami penderitaan, yang lain seharusnya turut merasakan dan bergerak menolong. Ini menjadi dasar etis untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan harmonis.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberagaman dalam Islam adalah rahmat dan sarana mempererat hubungan antarmanusia, bukan menjadi sumber konflik. Perbedaan harus disikapi dengan keterbukaan dan penghargaan, karena pada hakikatnya semua manusia setara di hadapan Allah SWT.

“Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, bukan karena suku, bangsa, atau hartanya,” ungkapnya.

Melalui kajian ini, Komunitas Seroja berharap masyarakat semakin memahami bahwa spiritualitas dan kemanusiaan merupakan dua sisi yang saling menguatkan. Kajian rutin ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah dan membangun karakter masyarakat yang inklusif dan berorientasi pada nilai-nilai kebaikan universal. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Wedang Rempah, Ikon Kuliner Sehat dari Desa Wisata Pentingsari

Sleman — Desa Wisata Pentingsari, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, tak hanya dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga dengan produk kuliner sehat khas daerah, salah satunya wedang rempah dari merek Raos Jogja.

Wedang rempah Raos Jogja telah menjadi produk unggulan desa yang diminati wisatawan dan pasar luar daerah. Produk ini hadir dalam berbagai varian seperti wedang uwuh oven, wedang secang oven, sereh oven, jahe oven, wedang merah instan, kencur seger, hingga wedang seruni, yang semuanya diolah secara tradisional namun higienis.

Menurut Nugroho Widiyatmoko, pengelola Desa Wisata Pentingsari, kehadiran produk lokal seperti Raos Jogja sangat mendukung pengembangan wisata edukasi dan ekonomi kreatif desa.

“Produk wedang rempah tidak hanya menjadi oleh-oleh khas, tetapi juga bagian dari pengalaman wisata. Ini memberi nilai tambah dalam setiap kunjungan ke Pentingsari,” ujarnya, Minggu (13/7/2025) saat menerima kunjungan dari keluarga besar trah Atmo Pawiro Jimat Sleman dalam kegiatan tracking wisata pangan lokal.

Kunjungan ini sendiri mengajak wisatawan menjelajahi potensi pangan dan budaya desa secara langsung.

Ketua rombongan, Slamet Riyadi, menyebut bahwa kegiatan kuliner seperti ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu daya tarik utama dalam pengembangan destinasi wisata berbasis potensi lokal.

“Wisata kuliner dan edukasi pangan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membuka wawasan tentang kearifan lokal,” ungkapnya.

Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dan antusiasme terhadap produk lokal, Desa Wisata Pentingsari semakin mengukuhkan dirinya sebagai destinasi edukatif yang sehat dan berbasis budaya, dengan wedang rempah Raos Jogja sebagai salah satu ikon unggulannya. (Tri Suhartati/KIM Depok)