Sanggar Widya Pramana Dorong Regenerasi Wayang Kulit

Sleman — Sanggar Budaya Widya Pramana Banyuraden menegaskan komitmennya dalam pelestarian budaya Jawa melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Dusun Ngabean Kulon, Kalurahan Sinduharjo, Sabtu malam (12/7/2025). Acara ini menarik ribuan penonton lintas usia, sekaligus menjadi ruang tampil bagi dalang muda dalam menjaga keberlanjutan tradisi pewayangan.
Kegiatan ini didukung Dana Keistimewaan DIY melalui kerja sama antara Kundha Kabudayan DIY, DPRD DIY, Sanggar Budaya Widya Pramana, serta masyarakat RT 01 RW 34 Ngabean Kulon.
Sekretaris Sanggar Widya Pramana, Adnan Iman Nurtjahjo, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa regenerasi dalang sangat penting agar pewayangan tetap hidup dan relevan di tengah arus modernisasi.
“Regenerasi dalam dunia pedalangan menjadi kunci agar kesenian ini tidak berhenti pada generasi senior,” tegasnya.
Lakon “Semar Mbangun Khayangan” dibawakan oleh dalang muda Ki Damar Asmoro. Cerita tersebut sarat makna spiritual, membahas kepemimpinan yang bijak, pengabdian tanpa pamrih, serta pentingnya harmoni antara manusia dan alam. Gaya bertutur Ki Damar yang komunikatif dan diselingi guyonan membuat pesan moral mudah diterima penonton.
Anggota Komisi B DPRD DIY, Basit Sugiyanto, bersama Anggota DPRD Sleman, Yani Fathurahman, turut hadir dan menyampaikan apresiasi atas peran generasi muda dalam pelestarian budaya. Basit juga menekankan pentingnya inovasi dalam pertunjukan wayang untuk menarik minat kalangan muda.
“Dalang muda kini mampu memadukan teknik tradisional dengan pendekatan kontemporer seperti tata cahaya modern dan interaksi langsung dengan penonton,” ujar Basit.
Pagelaran ini merupakan bagian dari program “Nguri-uri Kabudayan” yang telah dijalankan Sanggar Widya Pramana sejak 2007. Di bawah pimpinan Murdiyanto Murda Puspita, sanggar ini aktif mengadakan pelatihan karawitan, tari tradisional, dan seni pedalangan bagi generasi muda di Sleman.
Kehadiran dalang muda dalam panggung utama diharapkan menjadi pemicu minat baru generasi milenial dan Gen Z terhadap budaya pewayangan. Ketika anak-anak muda menyaksikan teman sebayanya tampil memukau, akan tumbuh inspirasi untuk ikut belajar dan menjaga seni tradisi.
Dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi lintas lembaga, pagelaran ini menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni, namun juga sarana edukasi, pewarisan nilai, dan harapan baru bagi keberlanjutan budaya Jawa. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)



