Ogoh-ogoh Kirab Budaya Mbah Demang: Simbol Penaklukan Diri dan Keselarasan Alam

Sleman – Derap langkah kirab, dan ogoh-ogoh menarik perhatian pengunjung dalam Kirab Budaya Suran Mbah Demang Cokrodikromo. Gelaran yang berlangsung di Gamping, Sleman, Kamis (3/7/2025) ini menjadi salah satu perayaan adat yang sarat makna spiritual dan sosial.
Keikutsertaan ogoh-ogoh dalam kirab bukan sekadar hiasan teatrikal, melainkan wujud akulturasi budaya dan peneguhan nilai filosofis yang hidup di tengah masyarakat. Secara simbolis, ogoh-ogoh mewakili unsur kekuatan destruktif dalam diri manusia seperti amarah, keserakahan, dan nafsu duniawi. Ogoh-ogoh menjadi media pengingat akan pentingnya mengendalikan hawa nafsu dan ego dalam hidup bermasyarakat.
“Hal ini sejalan dengan semangat bulan Syura yang diyakini sebagai momen introspeksi, membersihkan jiwa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” tutur Titus Wijanarko dari keluarga besar Trah Ki Demang Cokrodikromo.
Berkaitan dengan Kirab Suran Mbah Demang, ogoh-ogoh menyatu dalam narasi perjuangan batin. Di mana masyarakat diajak untuk “memikul” dan “mengarak” egonya sendiri agar dapat dikendalikan, bukan dilepaskan secara liar.
Menurutnya, keunikan kirab ini terletak pada cara masyarakat Jawa memaknai ogoh-ogoh dengan pendekatan spiritual Jawa, bukan dalam konteks agama tertentu. Ogoh-ogoh juga bukan sekadar boneka menyeramkan, namun personifikasi dari energi negatif yang harus dijinakkan.
Di balik bentuknya yang menyeramkan dan tematik, ogoh-ogoh mencerminkan keberanian komunitas dalam menghadapi perubahan zaman. Ia menjadi wujud kritik terhadap sifat manusia yang mudah tergoda kekuasaan dan materi. Dengan menjadikan ogoh-ogoh bagian dari kirab budaya, masyarakat secara tidak langsung mengangkat isu-isu moral dan sosial ke ruang publik secara simbolik dan artistik.
Mbah Demang Cokrodikromo sendiri dikenal sebagai tokoh pemersatu, pelindung kampung, dan figur yang mengedepankan keseimbangan antara spiritualitas dan kehidupan duniawi. Kehadiran ogoh-ogoh seolah menjadi simbol bahwa perjuangan batin yang pernah dilakukan anak seorang bekel (abdi dalem Kasunanan Surakarta Adiningrat) yang memiliki nama asli Asrah ini masih relevan hingga kini. Sehingga, kirab tidak hanya menjadi seremoni saja, tetapi juga panggung edukasi nilai luhur warisan leluhur.
“Anak-anak muda yang terlibat dalam pembuatan dan pengarakan ogoh-ogoh pun memperoleh ruang belajar yang bernilai,” tambah Titus.
Mereka diajak memahami bahwa tradisi tidak sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi cermin untuk memahami diri dan zaman. Proses kreatif menciptakan ogoh-ogoh menjadi sarana refleksi, sekaligus pembelajaran penting tentang budaya, seni, dan spiritualitas.
Dalam perspektif masyarakat Gamping, kirab Suran Mbah Demang bukanlah ruang eksklusif milik satu budaya atau agama, melainkan representasi gotong-royong spiritual masyarakat multikultural. Keikutsertaan ogoh-ogoh dalam kirab mengisyaratkan keterbukaan, dialog budaya, dan penghormatan terhadap nilai simbolik dari berbagai tradisi yang hidup berdampingan secara damai.
Titus pun mengajak warga Banyuraden khususnya untuk senantiasa mawas diri, menyadari potensi destruktif dalam jiwa, serta mengolahnya menjadi kekuatan yang positif. Di tengah era modern yang sering terjebak pada simbolisme kosong, tradisi ini justru hadir sebagai pengingat bahwa spiritualitas dan kebijaksanaan lokal tetap memiliki tempat dan peran yang penting. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)



