Jadi Tempat Pendidikan, MTQ Adalah Wahana Peradaban

Sleman – Keikutsertaan mahasiswa dalam ajang MTQ bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan sebuah proses peradaban.

Hal itu disampaikan Pembina MTQ UNY, Benni Setiawan dalam “Santioning Hasil Karya Mahasiswa Menuju Seleksi Pra-Nasional MTQMN XVII Tahun 2025” yang diselenggarakan pada Selasa (1/7/2015) di Ballroom Magister–Doktoral FMIPA UNY.

Dalam pembekalan khusus kepada peserta, Benni menyampaikan bahwa MTQ merupakan ruang pembinaan karakter yang selaras dengan misi UNY sebagai kampus pendidikan masa depan.

“MTQ adalah ruang pembentukan intelektual Qur’ani. Di sini mahasiswa ditempa untuk mengintegrasikan nilai Al-Qur’an dalam praktik keilmuan dan kehidupan sehari-hari,” ujar dia.

Wakil Dekan Bidang Perencanaan Kepegawaian, Umum, dan Sumber Daya Fishipol UNY 2023-2025 ini mengingatkan bahwa karya-karya mahasiswa, baik dalam bentuk tulisan ilmiah, desain digital, hingga seni baca Al-Qur’an, harus mencerminkan pemahaman mendalam terhadap pesan-pesan Al-Qur’an sekaligus respons kritis terhadap isu-isu kemasyarakatan.

“Karya kita harus tidak hanya indah di permukaan, tetapi punya kedalaman makna dan relevansi sosial,” tambahnya.

Dalam sesi pembekalan, Benni mengajak para mahasiswa untuk menjadikan proses MTQ sebagai jalan pengabdian intelektual. Menurutnya, setiap cabang lomba yang diikuti adalah bagian dari dakwah kreatif yang mampu menghidupkan nilai-nilai Islam secara progresif.

Ia mencontohkan bahwa karya tulis ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) dan desain aplikasi Qur’ani adalah bentuk konkret dari tafsir sosial yang kontekstual.

“Jangan jadikan MTQ sebagai aktivitas temporer yang selesai setelah lomba. Jadikan ini sebagai awal dari gerakan intelektual Qur’ani di kampus dan masyarakat,” ungkapnya

Acara santioning ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas yang telah melalui seleksi internal dan siap mengikuti tahapan Pra-Nasional MTQ Mahasiswa Nasional XVII Tahun 2025. (Athiful/KIM Depok)




Gelar FGD, BPBD Sleman Latih Kalurahan Perbaharui KRB

Sleman — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung selama dua hari (3 dan 4 Juli 2025) untuk seluruh Kalurahan se-Kabupaten Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) melalui pengisian data menggunakan aplikasi InaRISK Personal.

Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Praja 1 Setda Kabupaten Sleman ini dihadiri oleh perwakilan dari setiap kalurahan yang membidangi kebencanaan. Masing-masing peserta dibekali dengan peta wilayah kalurahannya untuk memetakan potensi bencana secara mandiri.

Perwakilan BPBD Sleman, Hendri dalam sambutannya menekankan bahwa dokumen KRB perlu diperbarui setiap lima tahun.

“Dalam rentang waktu lima tahun, potensi bencana dan kondisi wilayah bisa berubah, sehingga pembaruan data menjadi sangat penting,” ujar Hendri.

Sementara itu, perwakilan Geo Art Science (GAS), Galih selaku fasilitator menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi InaRISK Personal merupakan upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

“Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa lebih aktif dalam mengidentifikasi potensi bencana di wilayahnya, dan dokumen KRB menjadi lebih berbasis data dan partisipatif,” paparnya.

Melalui FGD ini, diharapkan indeks kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Sleman dalam menghadapi bencana dapat terus meningkat, seiring dengan pemahaman dan keterlibatan aktif masyarakat dalam mitigasi risiko bencana. (ESK – KIM DSN Ngaglik)




BPKal Caturtunggal Jaring Aspirasi Kelompok Disabilitas dan Marginal

Sleman — Sebanyak 20 warga termasuk penyandang disabilitas dan marginal, menghadiri forum Jaring Aspirasi yang digelar oleh Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Caturtunggal, Rabu (2/7/2025). Pertemuan ini berlangsung di rumah Ketua RT 014, Padukuhan Papringan, Kalurahan Caturtunggal, Depok, Sleman.

Forum ini bertujuan untuk menampung berbagai keluhan dan masukan dari masyarakat, khususnya kelompok yang selama ini kurang memiliki ruang untuk menyuarakan persoalannya. Kegiatan ini pun dihadiri oleh jajaran anggota BPKal.

Wakil Ketua BPKal Caturtunggal, Syamsudin dalam sambutannya menekankan pentingnya partisipasi semua lapisan masyarakat dalam pembangunan kalurahan. “Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Tidak hanya yang bersuara keras, tapi juga mereka yang sering luput dari perhatian,” ujarnya.

Sejumlah persoalan yang mengemuka dalam forum ini antara lain kesulitan membuang sampah sejak penutupan TPA Piyungan. Hal ini berdampak langsung pada warga, khususnya mereka yang tidak memiliki akses pengelolaan sampah mandiri.

Kemudian permasalahan kepesertaan BPJS untuk para petugas pengangkut sampah yang belum memperoleh kejelasan jaminan sosial, serta kondisi sungai di perbatasan Gowok dan Ambarukmo yang belum mengalami normalisasi. Situasi tersebut menyebabkan terjadinya penumpukan sampah dan aliran air tersumbat.

Adapun masukan dari warga disampaikan secara langsung dan ditanggapi oleh perwakilan BPKal. Seluruh aspirasi dicatat untuk ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas sektor.

Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen Kalurahan Caturtunggal dalam menerapkan prinsip pemerintahan yang inklusif dan responsif. Melalui forum seperti ini, BPKal berharap kebijakan yang lahir ke depan akan lebih berpihak pada kebutuhan riil masyarakat, termasuk mereka yang berada dalam posisi paling rentan. (Oktaviana / KIM Depok)




Tradisi Walimatul Naqi’ah Haji: Syukur dan Edukasi dalam Balutan Kearifan Lokal

Sleman – Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, terutama di pedesaan dan lingkungan yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, penyelenggaraan Walimatul Naqi’ah Haji menjadi salah satu bentuk syukur yang penuh makna.

Tradisi ini tidak hanya menjadi sarana mengungkapkan rasa syukur atas keselamatan dan keberkahan ibadah haji. Namun juga sebagai momen penting untuk berbagi kebahagiaan dengan masyarakat sekitar, seperti yang dilakukan keluarga Hj. Wasilah di kediamannya, Dusun Modinan, Sleman, Rabu malam (2/7/2025) sepulangnya menunaikan ibadah hajinya.

Walimatul Naqi’ah yang dikemas dalam bentuk pengajian, doa bersama, serta jamuan makan yang mengundang keluarga besar, tetangga, tokoh agama, dan masyarakat umum dipandu oleh Kyai Ahmad Shofi yang juga sebagai Rois Syuriah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Banyuraden. Dari sisi budaya, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi dan perekat sosial, mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana yang hangat dan religius. Kegiatan ini mencerminkan semangat gotong royong dan rasa kebersamaan yang masih kuat terjaga di tengah masyarakat.

Usai melaksanakan doa bersama, Kyai Ahmad Shofi mengungkapkan, lebih dari sekadar tradisi, Walimatul Naqi’ah dapat menjadi media edukasi keagamaan. Banyak jemaah haji yang diminta berbagi pengalaman selama di Tanah Suci, baik dari sisi spiritual maupun teknis pelaksanaan ibadah.

“Cerita-cerita ini memberi gambaran nyata bagi masyarakat yang bercita-cita menunaikan ibadah haji, sekaligus menyemai motivasi dan kesiapan mental untuk berangkat di kemudian hari,” jelasnya.

Pentingnya menyelenggarakan Walimatul Naqi’ah juga terlihat dari fungsi spiritualnya. Acara ini dibuka dengan pembacaan doa syukur dan sholawat, serta ceramah agama yang mengangkat tema seputar keutamaan haji dan perubahan akhlak pasca haji. Hal ini mengingatkan jamaah yang baru pulang agar menjaga kemabruran hajinya, sekaligus menginspirasi hadirin untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Dalam era yang serba digital dan individualistik, momen seperti ini menjadi oase yang menghidupkan kembali semangat kebersamaan, religiusitas, dan penghargaan terhadap pengalaman spiritual orang lain.

Sementara itu, dalam sambutannya, Hj. Wasilah menuturkan bahwa pihaknya menggelar kegiatan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ingin berbagi kebahagiaan dengan warga sekitar yang selama ini telah memberikan dukungan dan doa sehingga dapat menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Makkah al-Mukarramah dengan selamat, sehat, dan lancar.

Hj. Wasilah mengakui banyak pelajaran yang diperoleh tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan dalam menjalankan setiap rukun dan wajib haji. Ia berharap pengalaman ini menjadikan pribadi yang lebih baik, lebih taat, dan lebih bermanfaat bagi lingkungan.

“Semoga pula ibadah haji saya diterima dan menjadi hajjah yang mabrur. Aamiin,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Bimtek Mesin Combine Harvester bagi Gapoktan untuk Efisiensi Panen

Sleman – Gapoktan Dadi Mandiri mendapat Bimbingan Teknis (Bimtek) dari PT. Maxxi yang memproduksi mesin Pemanen Padi atau Combine Harvester. Bimtek tersebut berlangsung di Padukuhan Druju Kalurahan Margodadi Kapanewon Seyegan, Rabu (2/7/2025).

Kegiatan ini menghadirkan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Panewu Anom dan Kawat Kemakmuran Kapanewon Seyegan, Kepala BPP Wilayah Seyegan, PPL, Ketua Gapoktan dari lima kalurahan, anggota Gapoktan Dadi Mandiri, dan perwakilan Gapoktan Kalitirto, Berbah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, Siti Rokhayah Dwi Mulyani menyampaikan bahwa Kabupaten Sleman melalui dana pendampingan dari DPR Pusat mendapat hibah alat pasca panen yang berupa Combine Harvester. Pemberian mesin pemanen padi tersebut diberikan kepada Gapoktan dari dua kalurahan yaitu Kalurahan Margodadi dan Kalurahan Kalitirto.

“Dengan Combine Harvester yang dimiliki oleh Gapoktan Dadi Mandiri tersebut harus dibebani dengan target luas tambah tanah yang semakin meningkat,” ujar Siti.

Ia juga memberi gambaran tentang swasembada pangan harus diimbangi dengan meningkatnya budi daya padi dan jagung. Dengan adanya mesin panen tersebut diharapkan pula serapan gabah menjadi meningkat pula.

Siti mengingatkan kepada kedua Gapoktan untuk manajemen operasional dalam pemeliharaan mesin panen yang diterima.

“Bahan bakar minyak dan suku cadang harus dipenuhi sebagai konsekuensi, termasuk pertanggungjawaban berupa laporan penggunaan setiap enam bulan sekali yang mencakup jumlah serapan luasan lahan,” tandasnya.

Salah satu Teknisi PT. Maxxi, Anto memberi penjelasan tentang spesifikasi mesin panen padi dengan seri Bimo 102. Combine Harvester adalah mesin pemanen padi yang dioperasikan oleh satu orang operator dan dua orang helper. Mesin ini memiliki beberapa bagian utama, yaitu header unit yang terdiri atas pengarah (reel guide), serta pisau pemotong (cutter bar) untuk memotong dan mengarahkan batang padi.

“Penggunaan Combine Harvester memiliki banyak manfaat, antara lain hemat waktu dan tenaga kerja, proses panen menjadi lebih cepat dan mudah. Meningkatkan efisiensi panen, hasil panen lebih banyak dan berkualitas. Mengurangi biaya panen, biaya produksi padi menjadi lebih rendah,” jelas Anto.

Ia pun menambahkan bahwa PT. Maxxi bersedia memberi pelatihan dan pendampingan kepada Gapoktan terutama operatornya sehubungan dengan kendala mesin, sparepart, service mesin maupun penggantian oli. Jadwal service I di 50 jam pertama. Mengenai kondisi lahan, Anto menyarankan penggunaan mesin panen harus dalam kondisi padi kering atau bebas dari hujan ataupun embun.

Pada kesempatan itu juga dilakukan praktek dengan operator dan helper dari Gapoktan dengan didampingi mekanik dari PT. Maxxi. Lahan seluas 700 M2 menjadi tempat praktek langsung penggunaan Combine Harvester.

“Standar mesin dengan horse power 102 ini hanya membutuhkan waktu tiga jam untuk luas lahan 1 ha. Kendalanya adalah sudah jarang lahan 1 ha yang berupa hamparan sehingga waktunya jadi bertambah”, jelas Anto mengakhiri pelatihan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)