Belajar Menangkal Kolesterol Jahat Sejak Dini

Sleman — Kolesterol jahat atau LDL (Low Density Lipoprotein) menjadi ancaman nyata bagi masyarakat modern yang cenderung kurang gerak dan bergaya hidup instan. Tak hanya menyerang usia lanjut, kolesterol tinggi kini juga mengintai kelompok usia produktif. Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam pertemuan Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) di Pendhapa Kekandhangan, Banyuraden, Gamping, pada Senin (30/6/2025).

Hadir sebagai narasumber, dr. Shafarina Maulia Prasudia, AIFO-K dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) menegaskan bahwa pencegahan kolesterol harus dimulai sejak dini.

“Kolesterol tinggi sering kali datang diam-diam, tanpa gejala. Inilah yang membuatnya dijuluki ‘silent killer’,” jelasnya.

Dr. Shafarina mengajak masyarakat untuk mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh, makanan cepat saji, serta gorengan. Sebaliknya, ia mendorong untuk memperbanyak asupan serat dari buah, sayur, kacang-kacangan dan biji-bijian, karena terbukti membantu menurunkan kadar LDL dan meningkatkan HDL (kolesterol baik).

Pola makan sehat harus dibarengi aktivitas fisik teratur, seperti berjalan kaki 30 menit per hari, bersepeda, atau berenang. Gaya hidup aktif, menurutnya, menjadi benteng pertahanan alami tubuh dari risiko penyumbatan pembuluh darah.

Tak kalah penting, pemeriksaan kadar kolesterol secara rutin minimal setahun sekali sangat dianjurkan, terlebih bagi mereka dengan riwayat keluarga penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

“Deteksi dini memungkinkan penanganan lebih cepat dan menghindari komplikasi serius,” tegas dr. Shafarina.

Menurutnya, keluarga adalah garda depan dalam membentuk gaya hidup sehat. Orang tua harus menjadi contoh dalam menyajikan makanan bergizi dan membiasakan anggota keluarga untuk aktif bergerak.

“Kebiasaan baik yang ditanamkan sejak dini akan terbawa hingga dewasa,” imbuhnya.

Melalui edukasi seperti yang dilakukan Komunitas Seroja, dr. Shafarina berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga kadar kolesterol sebagai bentuk investasi kesehatan jangka panjang.

“Pencegahan itu lebih murah daripada mengobati. Kolesterol normal berarti hidup lebih panjang, lebih sehat, dan lebih produktif,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Wabup Sleman Dorong Penurunan Kemiskinan Melalui Tiga Program Unggulan

Sleman — Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menghadiri kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penanggulangan Kemiskinan yang diselenggarakan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Sleman bersama Sekretariat Pemberdayaan Masyarakat (SEPEDA MAS), pada Senin (30/6/2025), di Pendopo Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok.

Monev ini merupakan agenda rutin untuk memastikan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di berbagai wilayah Sleman berjalan sesuai arah dan sasaran.

Kegiatan dikemas dalam bentuk diskusi langsung dengan masyarakat, untuk menyerap dinamika lapangan sekaligus memastikan program pemerintah menyentuh kelompok sasaran.

Dalam sambutannya, Danang Maharsa yang juga menjabat sebagai Ketua TKPK Sleman menegaskan bahwa penanggulangan kemiskinan tidak bisa dilakukan pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

“Upaya Pemkab Sleman akan lebih efektif jika didukung data akurat dan partisipasi warga. Perubahan data akibat pandemi menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama,” ujar Danang.

Ia menambahkan, partisipasi masyarakat sangat menentukan kualitas data kemiskinan dan efektivitas program, khususnya dalam memastikan bantuan dan intervensi tepat sasaran.

Danang memaparkan bahwa saat ini Pemkab Sleman tengah memprioritaskan tiga program unggulan dalam penanggulangan kemiskinan yaitu, pertama adalah Perlindungan dan Jaminan Sosial yang menyasar kelompok masyarakat miskin tidak produktif seperti lansia sakit menahun, disabilitas berat, dan warga rentan lainnya.

Program berikutnya adalah Peningkatan Keterampilan dan Pendapatan yang menyasar kelompok produktif, melalui pelatihan dan pendampingan usaha agar mampu mandiri secara ekonomi.

Terakhir adalah pemutusan Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan yang dilakukan dengan memberikan beasiswa pendidikan tinggi bagi anak dari keluarga miskin agar mampu menembus jenjang kuliah.

Melalui strategi tersebut, diharapkan dapat mendorong peningkatan keterampilan, akses pendidikan, dan lapangan kerja, sehingga berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan di Sleman.

“Jika program ini dijalankan secara konsisten dan didukung kolaborasi seluruh pihak, saya yakin kesejahteraan masyarakat Sleman bisa terus meningkat,” pungkas Danang.




Wabup Sleman Apresiasi Pegiat Lingkungan dalam Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025

Sleman — Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menghadiri Peringatan Puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2025 yang digelar pada Senin (30/6/2025) di Gedung Serbaguna Sleman.

Dalam kesempatan tersebut, Danang secara simbolis melepas burung ke alam bebas serta menyerahkan piagam penghargaan kepada para penggiat lingkungan yang dinilai berprestasi dalam menjaga kelestarian alam.

Acara juga dihadiri Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Kusno Wibowo, serta Sekretaris Daerah Sleman, Susmiarto.

Dalam sambutannya, Danang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak, khususnya para penggiat lingkungan yang telah berkontribusi nyata dalam melindungi dan melestarikan lingkungan di Sleman.

“Peringatan Hari Lingkungan Hidup ini adalah wujud nyata kepedulian terhadap kondisi dan kualitas lingkungan. Manusia dan lingkungan saling membutuhkan,” ungkap Danang.

Sejalan dengan tema global Hari Lingkungan Hidup 2025, yaitu “Hentikan Polusi Plastik”, Danang mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan melakukan langkah sederhana seperti pengelolaan sampah mandiri, menanam pohon, dan menggunakan produk ramah lingkungan.

“Saya berharap semua elemen, mulai dari pemerintah, komunitas peduli lingkungan, hingga warga, bergerak bersama menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” imbuhnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Ephipana Kristiyani, dalam laporannya menyampaikan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap 5 Juni sebagai bentuk edukasi dan kampanye penyelamatan lingkungan.

“Tahun ini, Pemerintah Kabupaten Sleman mendukung seruan nasional untuk mengakhiri polusi plastik dan mempercepat capaian pengelolaan sampah nasional,” ujar Ephipana.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan HLH Sleman 2025 telah berlangsung sejak April, antara lain Uji emisi gratis kendaraan roda empat (29 April), Evaluasi kampung hijau dan kampung iklim (7 Mei–12 Juni), Program kali bersih di 34 komunitas sungai (20 April–31 Agustus), dan Aksi bersih lingkungan di sekolah dan masyarakat (1–5 Juni).

Peringatan ini diharapkan menjadi momentum meningkatkan kesadaran kolektif dan memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan.




Monev Jumantik, Upaya Efektif Tekan DBD di Musim Pancaroba

Sleman — Menghadapi musim pancaroba yang rawan peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), Puskesmas Seyegan menggelar Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dari berbagai dusun, Senin (30/6/2025), di Aula Lantai II Puskesmas Seyegan. Kegiatan ini diikuti sekitar 50 kader Jumantik dari dusun-dusun dengan riwayat kasus DBD tinggi.

Susilowati, Kepala Tata Usaha Puskesmas Seyegan, saat membuka acara menyampaikan pentingnya peran Jumantik sebagai garda terdepan dalam pencegahan DBD di lingkungan rumah tangga.

“Idealnya, satu rumah memiliki satu Jumantik. Mereka harus menjadi agen perubahan yang menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan gerakan 3M: menguras, menutup, dan mendaur ulang, termasuk kebiasaan melipat pakaian yang digantung,” tegasnya.

Retno Indriawati, Penanggung Jawab Kesehatan Lingkungan Puskesmas Seyegan, memaparkan peran Jumantik dalam pendeteksian dini dan pemberantasan sarang nyamuk, terutama di tempat-tempat rawan seperti bak mandi, kaleng bekas, dan genangan air.

Ia juga menekankan pelaksanaan 3M Plus, yang mencakup penggunaan larvasida, kelambu, obat nyamuk, hingga pengelolaan lingkungan yang sehat dan bebas sarang nyamuk.

Retno menyampaikan data perkembangan kasus DBD dan Angka Bebas Jentik (ABJ) dari Januari hingga Juni 2025. Hasilnya, terjadi penurunan kasus di beberapa wilayah.

Margoluwih mencatat kasus terendah yaitu 3 kasus DF (Demam Febris) dan 2 kasus DBD, dengan ABJ mencapai 93,2%. Sebaliknya, Margoagung mencatat kasus tertinggi yaitu 35 kasus DF dan 8 kasus DBD, dengan ABJ 89,55%.

“Trend ABJ membaik, terutama di bulan Mei yang mencapai 92,04%, tetapi masih ditemukan beberapa dusun dengan laporan yang belum maksimal,” terang Retno.

Dari diskusi bersama para kader, disimpulkan beberapa hal penting yaitu Laporan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) belum terkumpul maksimal. Selain itu Pemantauan rumah belum menjangkau semua wilayah. Evaluasi lainnya adalah masih ditemukan kader yang merapel laporan bulanan, serta beberapa kader menyatakan pengunduran diri. Evaluasi lain adalah dusun dengan kasus DBD tinggi adalah dusun lama yang berulang.

Peran kader harus ditingkatkan saat ada kasus, sehingga Diperlukan dukungan nyata dari pemerintah kalurahan.

Retno menegaskan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi indikator program DBD, memperkuat koordinasi pencatatan dan pelaporan, serta meningkatkan kesiapsiagaan wilayah Puskesmas Seyegan dalam mengendalikan DBD. (Sutarto Agus / KIM Seyegan)




Pengrawit Muda Asal Banyuraden Siap Tampil di The Local Market Jakarta

Sleman – Untuk mematangkan persiapan menjelang pementasannya di Urban Forest Cipete, Jakarta pertengahan Juli 2025 mendatang, Sanggar Budaya Widya Pramana menggelar latihan karawitan yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Senin malam (30/6/2025).

Partisipasi dalam The Local Market menjadi tonggak baru bagi Sanggar Widya Pramana. Event tersebut dikenal sebagai wadah kreatif tahunan yang memadukan pasar produk lokal, seni pertunjukan, dan ruang temu lintas komunitas urban. Bagi Widya Pramana, ini adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan seni karawitan Banyuraden kepada khalayak metropolitan yang haus akan pengalaman budaya autentik.

Latihan karawitan yang diikuti para pengrawit muda tersebut dipimpin oleh Ki Damar Asmara Sejati yang mencakup tata laras dan irama dalam teknik memainkan gamelan maupun menjaga kekompakan antarpemain saat memperkenalkan seni karawitan Banyuraden kepada khalayak metropolitan yang haus akan pengalaman budaya autentik.

“Latihan ini juga menjadi ajang evaluasi dan penyempurnaan aransemen gending-gending yang akan dibawakan di panggung pertunjukan nanti,” sambung Ki Damar.

Selain aspek teknis, pelatihan ini ditujukan untuk membangun semangat dan kekuatan mental para pengrawit agar tampil percaya diri dan penuh penghayatan. Dengan berlatih bersama secara rutin, tercipta rasa kebersamaan dan solidaritas yang menjadi kunci dalam menyampaikan nilai-nilai budaya Jawa secara utuh kepada penonton. Suasana latihan yang penuh semangat mencerminkan dedikasi sanggar terhadap pelestarian seni karawitan di tengah tantangan zaman.

Dengan kehadiran Sanggar Widya Pramana, diharapkan seni karawitan tidak hanya tampil sebagai tontonan, tetapi juga mampu menginspirasi generasi muda kota besar untuk lebih mencintai tradisi leluhur mereka. Selain itu, anak-anak muda Banyuraden bisa tampil di luar daerah akan menambah pengalaman dan jaringan pergaulan, sehingga membuka jalan kariernya di bidang seni budaya.

Ketika karawitan tumbuh bersama generasi muda, maka mereka tak hanya mewarisi tradisi, tetapi juga menjadi agen yang menghidupkan, mengembangkan, dan menyesuaikan karawitan dengan zaman. Dengan demikian, warisan budaya ini akan terus lestari dan relevan sepanjang masa.

“Pelatihan menjelang pentas ini menjadi sarana penting untuk merawat kesinambungan tradisi budaya lokal, sekaligus menunjukkan eksistensi Banyuraden dalam peta kesenian nasional,” tambah Ki Damar.

Akhirnya, partisipasi Sanggar Widya Pramana dalam The Local Market bukan hanya tentang sebuah pentas seni. Ini adalah cerita tentang bagaimana desa kecil bisa hadir di pusat kota dengan suara-suara tradisi yang penuh makna. Sebagai bukti bahwa budaya lokal, bila dirawat dengan cinta dan kerjasama, akan selalu menemukan panggungnya di mana pun berada. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)