Muda-Mudi Mekar Arum Sombangan Siap Meriahkan HUT ke-80 RI

Sleman – Semangat nasionalisme terus digelorakan oleh warga, termasuk para pemuda. Salah satunya datang dari kelompok Muda-Mudi Mekar Arum, Padukuhan Sombangan, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman, yang telah bersiap menyambut peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia.

Melalui rapat koordinasi yang digelar pada Sabtu (26/7/2025) di Masjid Al-Falah Sombangan, para pemuda membahas rangkaian agenda kegiatan kemerdekaan. Hadir dalam rapat tersebut Ketua LPM Sub Unit Sombangan, Ketua RT dan RW, perwakilan PKK, mahasiswa KKN UIN Sunan Kalijaga, serta anggota muda-mudi.

Ketua panitia, Iqbal Dwi Kurniyanto, menyampaikan bahwa kegiatan akan berlangsung sepanjang bulan Agustus dan mengusung semangat kebersamaan seluruh warga.

“Akan ada beragam lomba seperti pukul air, makan kerupuk, estafet bola pingpong, bola voli antar-RT, serta lomba masakan daerah khusus untuk bapak-bapak,” terangnya.

Selain itu, juga akan digelar senam massal dan jalan sehat dengan doorprize menarik, serta puncak acara berupa pentas seni dan fashion show berbahan barang bekas pada 30 Agustus 2025.

Ketua LPM Sub Unit Sombangan, Sugiyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap konsistensi pemuda Mekar Arum dalam menyemarakkan peringatan kemerdekaan setiap tahun.

“Kemerdekaan adalah hasil perjuangan seluruh anak bangsa, bukan hadiah. Maka sudah selayaknya kita isi dengan kegiatan positif sebagai wujud cinta tanah air,” tegasnya.

Setelah menyerap berbagai masukan, peserta rapat sepakat mendukung penuh rangkaian kegiatan yang digagas pemuda, dengan melibatkan dukungan dari Dukuh, LPM, PKK, Ketua RT, RW, serta seluruh warga. (Giek/KIM Moyudan)




DWP UNY dan DLH Sleman Gaungkan Revolusi Sampah Lewat Gerbang Sik Asik

Sleman – Dalam merespons krisis sampah dan penuh sesaknya TPA Piyungan, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman meluncurkan gerakan Gerbang Sik Asik (Gerakan Bebarengan Reresik dan Olah Sampah Organik).

Sosialisasi program digelar oleh Dharma Wanita Persatuan (DWP) UNY pada Jumat (25/7/2025) di Gedung Rektorat UNY.

Ketua DWP UNY, Sulastri Sumaryanto, menyebut Gerbang Sik Asik lahir dari keprihatinan terhadap darurat sampah, terutama di DIY. Data menunjukkan 60% sampah yang dihasilkan merupakan sampah organik, namun belum dikelola optimal.

“Gerakan ini mengajak kita semua mengubah cara pandang—bukan sekadar membuang sampah, tapi mengelola dari sumbernya, yaitu rumah tangga,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran ibu-ibu dalam mendorong budaya baru pengelolaan sampah yang bisa dimulai dari lingkungan keluarga dan kampus.

Sementara itu, Eni Yuliani, pencetus program Gerbang Sik Asik menjelaskan bahwa tantangan utama pengelolaan sampah bukan hanya teknis, tapi juga rendahnya kesadaran masyarakat.

“Gerbang Sik Asik adalah gerakan gotong royong mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Bukan hanya membersihkan, tapi juga bisa memberi manfaat ekonomi,” jelasnya.

Program ini menekankan tiga langkah utama yaitu gotong royong rutin menciptakan lingkungan bersih, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta pengolahan sampah organik seperti dengan lubang biopori.

Dalam praktik langsung, Eni memperagakan cara membuat lubang biopori dari pipa paralon untuk mengurai sampah dapur menjadi kompos. Metode ini dinilai murah, mudah, dan cocok diterapkan di kampus maupun permukiman padat.

Perwakilan DLH lainnya, Mustika Dewi, memperluas perspektif dengan menegaskan bahwa isu lingkungan saling terkait—tak hanya soal sampah, tapi juga sanitasi, konservasi air dan energi, penghijauan, hingga gaya hidup 3R (reduce, reuse, recycle).

“Diet plastik, memilah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang bukan lagi pilihan, tapi keharusan untuk menjaga bumi,” tegasnya.

Gerbang Sik Asik menjadi contoh gotong royong yang relevan dengan tantangan zaman, memberi harapan bahwa perubahanisa terjadi jika dimulai dari bawah dan dilakukan bersama secara konsisten. (Athiful/KIM Depok)




Ziarah Makam Sunan Kalijaga, Rois Kalurahan Argomulyo Teladani Semangat Keagamaan dan Kebudayaan

Sleman – Para Rois dari 22 padukuhan se-Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Cangkringan, melakukan ziarah rohani ke Makam Sunan Kalijaga dan Sunan Demak (Raden Fatah) pada Sabtu (26/7/2025). Ziarah ini turut didampingi Lurah Argomulyo Danang Hendri Bintoro, Kasie Kamituwa Argomulyo Haryadi, sejumlah dukuh, dan penyuluh agama dari KUA Cangkringan.

Dalam sambutannya, Lurah Danang Hendri Bintoro menyampaikan apresiasi kepada para Rois yang selama ini telah aktif menjaga kehidupan keagamaan di tiap padukuhan.

“Semoga kekompakan dan kebersamaan para Rois terus terpelihara untuk kebermanfaatan umat,” ujarnya.

Sementara itu, Haryadi selaku Kasie Kamituwa menambahkan bahwa Rois tidak hanya menjalankan peran keagamaan, namun juga menjadi jembatan pelestarian kebudayaan.

“Ziarah ke makam Sunan Kalijaga ini sarat makna. Sunan Kalijaga adalah simbol akulturasi Islam dan budaya Jawa. Hal ini selaras dengan status Argomulyo sebagai Kalurahan Mandiri Budaya,” jelasnya.

Ia juga menyinggung filosofi mendalam dalam budaya Jawa bernuansa Islam yang diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, seperti pakaian Surjan/Taqwa. Jumlah kancing dan lipatan pada pakaian itu menyimbolkan rukun iman, rukun Islam, dan jumlah rakaat sholat, sebagai wujud harmoni antara budaya dan ajaran Islam.

Ketua Rois Argomulyo, Nur Fatah, menyampaikan terima kasih kepada Pemkal Argomulyo dan KUA Cangkringan yang selalu mendukung dan membina kegiatan Rois.

“Kami berharap kegiatan seperti ini bisa digelar rutin setiap tahun, sekaligus menjadi ajang pembinaan dan peningkatan kapasitas Rois dalam menjalankan tugas sosial keagamaan,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan ziarah ini ditutup dengan kunjungan ke Masjid Agung Jawa Tengah, sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang memperkaya wawasan keislaman dan memperkuat persaudaraan antar-Rois. (Marmansyah/ KIM Wara Aji Cangkringan)




Candirejo Bersholawat Meriahkan Hari Jadi LPMKal Padukuhan Candirejo

Sleman – Ribuan jamaah larut dalam suasana religius dan penuh berkah dalam gelaran Candirejo Bersholawat yang digelar pada Sabtu malam (26/7/2025) di Bonjotan, Padukuhan Candirejo, Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) Candirejo.

Dua tokoh sholawat ternama, Gus Yusuf Macullangit dan Gus Hafidh Makarim, tampil memukau bersama grup Macullangit Yogyakarta, melantunkan pujian dan sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan sholawat menggema penuh semangat, membangkitkan kekhusyukan di antara ribuan jamaah yang datang dari berbagai penjuru.

Suasana makin meriah dengan kehadiran tamu undangan dari Pemerintah Kabupaten Sleman, Muspika Kapanewon Ngaglik, Polsek Ngaglik, Koramil Ngaglik, serta Lurah Sardonoharjo beserta jajaran pamong dan lembaga kalurahan.

“Peringatan hari jadi ini menjadi momentum penting untuk menguatkan nilai spiritual, mempererat persaudaraan, dan memperkokoh gotong royong antarwarga,” ujar Sugeng Riyanto, Dukuh Candirejo sekaligus mewakili panitia.

Acara yang dimulai sejak pukul WIB hingga larut malam ini tidak hanya menjadi ajang syiar Islam, tetapi juga wadah silaturahmi dan penguatan karakter masyarakat melalui budaya religius yang membumi.

Menariknya, kegiatan ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal Macullangit Official di berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Langkah ini menjadi bagian dari strategi syiar dakwah di era digital yang menjangkau khalayak lebih luas.

Ke depan, Candirejo Bersholawat diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu melestarikan tradisi spiritual sekaligus menanamkan nilai keagamaan dalam peringatan-peringatan lokal. Kegiatan ini juga menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengemas acara keagamaan yang menyatukan lintas generasi dan latar belakang. (ESK/KIM DSN)




Transformasi Kurikulum Nasional: Pembelajaran Mendalam Jadi Fokus

Sleman – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan menerapkan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) di semua jenjang pendidikan dasar dan menengah mulai tahun ajaran 2025/2026. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025, sebagai penyempurnaan dari Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam menekankan pendekatan integratif dan berkesadaran. Materi pembelajaran tidak lagi diajarkan secara terpisah, tetapi dikaitkan dengan tema relevan, bahkan lintas mata pelajaran.

“Pendekatan ini memungkinkan satu pokok bahasan terhubung dengan berbagai tema, termasuk lintas disiplin ilmu,” ujar Mu’ti dalam Seminar Nasional Pendidikan bertajuk “Pembelajaran Mendalam: Konsep dan Implementasi” di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sabtu (26/7/2025).

Mu’ti menegaskan bahwa pembelajaran mendalam dapat diintegrasikan dengan kurikulum sebelumnya, seperti Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka. Namun, pendekatan ini memiliki keunikan, yakni fokus pada pendalaman materi secara vertikal, bukan perluasan horizontal.

“Penerapannya mengharuskan penyesuaian muatan setiap mata pelajaran,” tegasnya.

Menurut Mu’ti, pembelajaran mendalam tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman konseptual, tetapi juga mengubah cara berpikir siswa. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong siswa menghubungkan materi dengan pengalaman nyata.

Pendekatan ini didasarkan pada tiga prinsip, yaitu mindful, di mana pembelajaran berlangsung dengan kesadaran penuh, menghargai gaya belajar masing-masing siswa. Berikutnya adalah meaningful, di mana materi diajarkan secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Terakhir adalah joyful, di mana proses belajar menyenangkan tanpa mengorbankan kedalaman materi.

Joyful bukan sekadar hiburan, tetapi kepuasan siswa saat memahami pelajaran,” jelas Mu’ti.

Tujuan akhirnya adalah mencetak lulusan berkarakter kuat: cerdas akademis, beriman, berakhlak, mandiri, kreatif, kritis, kolaboratif, komunikatif, serta sehat fisik dan mental.

Ketua Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen, Suyanto, menyatakan bahwa pendekatan ini menjadi solusi atas krisis pembelajaran di Indonesia. Meski akses pendidikan sudah merata, kualitasnya masih rendah, terlihat dari skor literasi dan numerasi dalam asesmen internasional seperti PISA.

“Guru kerap terbebani tugas administratif, mengurangi fokus pada pengajaran yang esensial,” ujarnya.

Suyanto menekankan bahwa pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru, melainkan penyempurnaan pendekatan sebelumnya seperti CBSA dan PAKEM. Metode ini mendorong integrasi olah pikir, hati, rasa, dan raga secara holistik.

“Belajar harus bermakna, bukan sekadar mengejar nilai,” tegasnya.

Atase Pendidikan KBRI Canberra, Yuli Rahmawati, menegaskan bahwa pembelajaran mendalam memerlukan dukungan ekosistem pendidikan yang kuat. Guru harus difasilitasi untuk menjadi kreatif, bukan sekadar pelaksana administratif.

“Pendidikan guru, termasuk PPG, harus disesuaikan dengan pendekatan ini,” ujarnya.

Yuli juga menekankan peran teknologi dalam memperluas akses pembelajaran dan kolaborasi antarsekolah.

“Transformasi pendidikan harus melibatkan semua pihak: guru, orang tua, dunia usaha, dan industri,” pungkasnya.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. (Athiful/KIM Depok)