Turnamen Biliar PWI Sleman Pererat Sinergi Media dan Pemerintah

Sleman – Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa membuka secara resmi Turnamen Biliar Piala Bupati dan Wakil Bupati Sleman Cup 2025 di Habitt Lounge & Pool, Sabtu (9/8/2025). Acara yang digelar PWI Sleman ini diikuti 100 peserta dari kalangan wartawan, ASN, dan perangkat desa dengan total hadiah Rp9 juta.

Dalam sambutannya, Danang menegaskan turnamen ini bukan sekadar kompetisi olahraga.

“Ini sarana strategis untuk mempererat silaturahmi dan menciptakan kolaborasi positif antara media dengan pemerintah,” ujarnya sambil menambahkan bahwa biliar kini telah menjadi olahraga resmi yang jauh dari stigma negatif.

Ketua PWI Sleman Wisnu Wardhana menjelaskan, turnamen yang menggunakan sistem bola 8 ini merupakan yang keempat kalinya diselenggarakan.

“Kali ini spesial karena pertama kalinya berkolaborasi dengan Dispora Sleman,” ungkapnya. Acara didukung penuh oleh Pemkab Sleman dan sejumlah sponsor.

Hendry Setiawan dari Satpol PP Sleman tampil sebagai juara setelah mengalahkan Fany Arta K (Dinas PMPST) di final. “Saya bangga dengan pencapaian ini meski ada faktor keberuntungan,” ujar Hendry yang menerima trofi Bupati dan uang tunai Rp3 juta.

Ketua Panitia Akhmad Ikhwanudin menyatakan turnamen berjalan lancar tanpa kendala. “Ini akan kami jadikan agenda tahunan untuk memperkuat jejaring lintas profesi di Sleman,” pungkasnya. (Sihbudi/KIM Tempel)




Pentingnya Penyembuhan Fobia Terhadap Ular Melalui Hipnoterapi

Sleman – Ketakutan terhadap hewan ular merupakan salah satu fobia yang paling umum di dunia. Dalam banyak kasus, rasa takut ini terbentuk bukan karena pengalaman langsung, namun akibat cerita, mitos, atau gambaran menyeramkan yang diwariskan turun-temurun. Ular kerap dipersepsikan sebagai ancaman yang selalu mematikan, padahal sebagian besar spesies ular tidak berbahaya bagi manusia.

Fobia ini, jika tidak diatasi, dapat memengaruhi kualitas hidup, bahkan memicu reaksi panik berlebihan yang justru membahayakan diri sendiri. Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar Hipnoterapi, Setyo Hari di Sekretariat Komunitas Kekandhangan Banyuraden, Minggu (10/8/2025) saat memberikan terapi kepada pasiennya.

Di tengah meningkatnya perhatian pada keseimbangan ekosistem, pemahaman yang benar tentang satwa liar, termasuk ular, menjadi sangat penting. Ular memiliki peran besar dalam mengendalikan populasi hama seperti tikus dan serangga. Jika ketakutan yang tidak rasional terus dibiarkan, masyarakat cenderung memilih membunuh ular yang ditemui, alih-alih mengamankan atau memindahkannya secara aman. Akibatnya, keseimbangan alam terganggu dan dapat memicu ledakan populasi hama.

Menurut hari, penyembuhan fobia terhadap ular bukan berarti memaksa seseorang menyukai satwa tersebut, melainkan menumbuhkan sikap rasional dan terukur. Pendekatan psikologis seperti terapi pemaparan bertahap (exposure therapy) dapat membantu mengurangi reaksi panik. “Dengan cara ini, masyarakat bisa belajar mengenali perbedaan antara ular berbisa dan tidak berbisa, serta memahami perilaku alami ular yang umumnya menghindari manusia,” ujarnya.

Di sejumlah daerah, komunitas pecinta reptil dan relawan penyelamat satwa sudah mulai menggelar edukasi publik. Mereka mengajak warga melihat langsung ular dalam kondisi aman, sambil memberikan informasi ilmiah mengenai peran dan karakter satwa tersebut. Kegiatan ini terbukti efektif menurunkan tingkat ketakutan, terutama pada anak-anak yang masih membentuk persepsi tentang dunia sekitar.

Setyo Hari pun mengatakan, fobia yang dibiarkan tanpa penanganan dapat menghambat respons cepat dalam situasi darurat. Misalnya, ketika bertemu ular di pekarangan, seseorang yang panik mungkin mengambil tindakan gegabah, seperti memukul dengan benda keras, yang justru memicu serangan ular. Dengan pemahaman yang tepat, warga bisa memilih langkah aman, seperti menjaga jarak, memantau pergerakan, dan memanggil pihak berwenang atau pawang terlatih.

Pentingnya penyembuhan fobia juga terkait dengan kesehatan mental. Rasa takut yang berlebihan terhadap ular dapat memicu kecemasan yang tidak perlu, bahkan dalam situasi yang sama sekali tidak berisiko. Masyarakat yang sudah mendapat edukasi dan terapi cenderung memiliki rasa percaya diri lebih tinggi saat berada di alam terbuka, sehingga interaksi dengan lingkungan menjadi lebih positif.

Proses penyembuhan fobia memang tidak instan. Diperlukan kolaborasi antara psikolog, ahli biologi, komunitas pecinta reptil, serta tokoh masyarakat untuk membangun budaya hidup berdampingan secara aman dengan satwa liar. Upaya ini bukan hanya untuk keselamatan manusia saja, namun juga demi menjaga keberlanjutan ekosistem yang sehat.

Menurut Setyo Hari, jika ketakutan masyarakat terhadap ular bisa dikelola dengan baik, maka hubungan manusia dengan alam akan menjadi lebih harmonis. Masyarakat yang paham dan tenang menghadapi ular tidak hanya akan lebih aman, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga kelestarian satwa yang selama ini kerap disalahpahami. “Penyembuhan fobia ini adalah bagian dari membangun masyarakat yang berpengetahuan, berempati, dan selaras dengan lingkungannya,” tutupnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Kuatkan Ekonomi Organisasi, BUMA Gandeng Perbankan dan Perusahaan Ritel

Sleman – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman terus menunjukkan perannya bukan hanya di ranah sosial dan keagamaan, namun juga dalam pemberdayaan ekonomi kader. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah melalui sosialisasi kerjasama antara GP Ansor, Indogrosir, dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kantor Wilayah Yogyakarta terkait pengelolaan Toko Badan Usaha Milik Ansor (BUMA).

Sosialisasi yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai III Gedung BRI Cik Ditiro Yogyakarta, Sabtu sore (9/8/2025) menjadi momentum penting untuk memperkuat kapasitas usaha kader, membuka akses distribusi barang, serta mempermudah permodalan yang terintegrasi.

Dalam sambutan pembukanya, Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta, Abdul Muiz mendorong seluruh kader Ansor yang hadir untuk membangun usaha guna mewujudkan kemandirian ekonomi organisasi. Pihaknya menyadari bahwa kekuatan organisasi tidak hanya bertumpu pada kaderisasi dan gerakan sosial saja, melainkan juga kemampuan menciptakan sumber daya ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan.

“BUMA hadir sebagai jawaban atas kebutuhan itu, menjadi wadah untuk menggerakkan ekonomi kader sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

Toko BUMA diharapkan menjadi garda terdepan kemandirian ekonomi GP Ansor di tingkat ranting hingga cabang. Melalui kemitraan dengan Indogrosir, para kader mendapatkan jalur distribusi barang kebutuhan pokok dan produk rumah tangga dengan harga grosir yang kompetitif. Hal ini menjadi peluang besar untuk memotong rantai distribusi yang panjang, sehingga margin keuntungan bagi pengelola toko bisa lebih optimal.

Kerjasama ini diperkuat oleh Sigit Sudomo selaku Small Business Manager Bank Rakyat Indonesia yang menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan mikro dengan skema ringan. Kader atau pengelola toko BUMA dapat mengakses modal kerja tanpa harus khawatir terjerat bunga tinggi atau persyaratan yang memberatkan. “Kehadiran lembaga keuangan resmi ini memberikan rasa aman serta mendorong usaha kader tetap sehat secara finansial,” jelas Muiz.

Jajaran Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Sleman yang hadir mengikuti sosialisasi antara lain Sekretaris PC GP Ansor Sleman, Taufiq Arief Mulyadi, Wakil Ketua Bidang Bisnis Ekonomi Pemberdayaan Masyarakat, H. Ihsanuddin serta beberapa anggota bidang I dan II.

Lebih lanjut, Sekretaris Pimpinan Wilayah GP Ansor Daerah Istimewa Yogyakarta, Lilik Budi Hartanto menegaskan bahwa kemandirian organisasi tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan bantuan eksternal saja. BUMA adalah instrumen nyata untuk membangun sumber pendanaan internal yang berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang baik, keuntungan dari toko dapat dialokasikan untuk program kaderisasi, sosial, dan dakwah yang bermanfaat luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Dedy Kurniawan selaku Senior Manager Special Project Indogrosir melihat kerjasama ini sebagai bentuk sinergi positif antara pelaku usaha ritel dengan organisasi kemasyarakatan. Pihaknya tidak hanya menawarkan suplai barang, namun juga pelatihan mengenai tata kelola usaha, penataan produk, hingga digital marketing. “Dukungan seperti ini diharapkan mampu membuat BUMA bersaing dengan minimarket modern, sekaligus menjaga kearifan lokal di tengah persaingan ritel yang ketat,” tambahnya.

Sebagai pelengkap, BRI memberikan kontribusi lebih dari sekadar pinjaman modal. Pihak bank akan mengedukasi pengelola toko BUMA mengenai literasi keuangan, pencatatan transaksi, dan pengelolaan kas yang sehat. Edukasi ini penting agar usaha yang dibangun tidak hanya besar di awal, tetapi juga bertahan dan berkembang di jangka panjang.

Bagi para kader GP Ansor, keberadaan BUMA memberikan manfaat ganda yaitu lapangan kerja dan akses barang murah. Tak terkecuali masyarakat sekitar pun merasakan dampaknya karena bisa membeli kebutuhan harian dengan harga terjangkau, sekaligus mendukung gerakan ekonomi yang berbasis komunitas. Dengan model ini, perputaran uang tetap berada di wilayah setempat, memperkuat ekonomi perdesaan.

Sosialisasi kerjasama pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan secara kolaboratif, terstruktur, dan visioner. “Langkah ini membuktikan bahwa organisasi kepemudaan seperti GP Ansor mampu menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi umat, sekaligus menjaga nilai-nilai persaudaraan dan solidaritas yang menjadi jati diri organisasi,” pungkas Lilik. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




SDN Margorejo Tempel Cetak Atlet Bridge Berprestasi Nasional Sejak Dini

Sleman – SDN Margorejo di Kapanewon Tempel, Sleman, menjadi salah satu sekolah dasar yang konsisten melahirkan atlet bridge berprestasi di tingkat nasional. Melalui program ekstrakurikuler Mini-Bridge yang diajarkan sejak kelas tiga, sekolah ini telah mencetak juara-juara muda yang bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.

Marsilah, guru olahraga yang telah pensiun namun tetap aktif melatih ekstrakurikuler Mini-Bridge, menjelaskan bahwa permainan ini dirancang untuk melatih disiplin, strategi, dan kerja sama tim sejak dini. 

“Mini-Bridge menyederhanakan aturan bridge standar dengan menghilangkan fase bidding yang rumit, sehingga lebih mudah dipelajari anak-anak,” ujarnya, Sabtu (9/8/2025).

Sejak diperkenalkan pada 2005, tim Mini-Bridge SDN Margorejo telah mencatatkan prestasi gemilang. Mereka lima kali berturut-turut menjadi juara provinsi DI Yogyakarta, bahkan meraih gelar juara nasional pada 2006. 

“Banyak alumni kami yang kini bermain di tingkat yunior dan senior, bahkan ada yang menjadi pelatih bagi adik-adiknya di sini,” tambah Marsilah.

Beberapa siswa bahkan telah masuk Pelatnas (Pelatihan Nasional) dan diproyeksikan mewakili Kabupaten Sleman di Pekan Olahraga Daerah (PORDA) mendatang. Prestasi terbaru mereka termasuk meraih juara nasional tingkat yunior di Malang dan Surakarta.

Keberhasilan SDN Margorejo dalam membina atlet bridge muda menunjukkan bahwa pengenalan olahraga otak sejak dini dapat membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga terlatih dalam strategi, kesabaran, dan kerja sama tim. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




IPHI Seyegan Gelar Pengajian Lapanan untuk Jaga Kemabruran Jamaah Haji

Sleman – Sebanyak 150 jamaah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Cabang Seyegan mengikuti pengajian rutin Lapanan di Masjid Baiturrahman, Margoagung, Sabtu (9/8/2025). Acara yang bertepatan dengan penyambutan 45 jamaah haji Seyegan tahun 2025 ini dihadiri oleh Panewu Seyegan Agung Endarta beserta jajaran pemerintah dan tokoh agama setempat.

H. Waljiono, ., Ketua IPHI Kapanewon Seyegan menekankan pentingnya menjaga kemabruran haji hingga akhir hayat.

“Pengajian rutin ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus pembinaan spiritual bagi jamaah haji,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut, dilakukan penyerahan simbolis kartu anggota IPHI kepada perwakilan jamaah haji 2025 yang memberikan berbagai kemudahan administratif dan pendidikan.

Panewu Seyegan Agung Endarta menyampaikan apresiasi atas peran IPHI dalam membina jamaah haji. “Tahun 2025 mungkin menjadi tahun terakhir pengelolaan haji oleh Kementerian Agama sebelum beralih ke Badan Pengelola Haji,” ungkapnya sambil menekankan pentingnya berbagi ilmu haji kepada masyarakat luas.

Ustadz K.H. Achmad Yunardi dalam tausiyahnya menjelaskan tiga predikat haji: mabrur, mardud, dan makbul. “Haji mabrur diraih dengan niat ikhlas, perilaku terpuji, dan penggunaan harta halal,” jelasnya. Acara yang juga dihadiri oleh Majelis Taklim Perempuan ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin H. Suyadi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)