Hindari Kepunahan Penyu, Torte Coffee Gandeng Komunitas Banyu Bening Sleman Lepas Tukik di Pantai Goa Cemara

Sleman – Untuk membantu melestarikan populasi penyu yang kian terancam punah, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem laut maka Torte Coffee menggandeng Komunitas Banyu Bening Sleman melakukan pelepasan anak penyu yang baru menetas (Tukik) di Pantai Goa Cemara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (12/8/2025).

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan relawan sebagai perwujudan empati kepada Alam. Volunteer Banyu Bening Sleman, AJ. Purwanto, mengatakan Tukik merupakan simbol keterikatan manusia dengan ekosistem laut. Pelepasan Tukik ke habitat aslinya adalah upaya kecil yang berdampak besar bagi keseimbangan alam.

“Aksi ini menjadi pengingat bahwa alam bukanlah warisan dari leluhur semata, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” ujarnya.

Menurutnya, penyu berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Seperti penyu hijau yang membantu mengontrol pertumbuhan lamun dan penyu sisik yang menjaga keberlangsungan terumbu karang. Pelepasan tukik menjadi bentuk aksi demi mempertahankan keberadaan penyu di laut selatan yang berdampak positif pada kesehatan ekosistem secara keseluruhan.

Pihaknya juga melibatkan komunitas Ranger Konservasi Penyu Mino Raharjo yang bermarkas di Sanden, Bantul untuk membangun sinergi lintas sektor dalam menjaga kelestarian alam. Semakin banyak pihak yang terlibat, maka semakin besar pula daya dukung terhadap program konservasi yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan ini para relawan mendapatkan edukasi mengenai pentingnya penyelamatan penyu secara langsung dari Fajar mewakili Ranger Konservasi Penyu Mino Raharjo. Fajar menjelaskan bahwa secara geografis Goa Cemara yang terletak persis di muara Sungai Opak dan Sungai Progo menjadi daya tarik induk penyu untuk mendarat dan tidak semua pasir pantai didatangi induk penyu.

Fajar juga mengatakan bahwa penyu di dunia hanya tersisa tujuh species saja dan di lindungi pemerintah Republik Indonesia lewat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta perubahannya.

“Istimewanya, enam species penyu tersebut ada di Indonesia,” sambungnya.

Empat dari enam species penyu di Indonesia yang sering terlihat mendarat di Pantai Yogyakarta adalah Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Hijau (Chelonia mydas), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea). Para relawan patut berbangga dan berempati untuk melindungi sekaligus menyelamatkan penyu dari perburuan maupun kematian baik secara alam ataupun akibat ulah manusia yang membuang sampah sembarangan.

“Penyu Belimbing satu-satunya Gigan Penyu yang berbentuk buah belimbing yang berukuran 3,5 meter yang pernah di temui oleh Ranger Konservasi Penyu,” tambah Fajar.

Ia pun menyampaikan bahwa Ranger Konservasi Penyu bertugas menjaga dan menjamin keselamatan penyu yang mendarat di wilayah Pantai Selatan terutama saat melakukan patroli di bulan Mei hingga September di malam hari pukul – secara random. Serta mengajak bagi siapa saja yang berminat mengikuti patroli dapat bergabung di Base Camp Goa Cemara.

“Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula daya dukung terhadap program konservasi yang berkelanjutan,” tutup Fajar. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Disposal Bom Pesawat Dinonaktifkan di Kali Gendol Sebelah Timur Wukirsari, Rumah Warga Alami Kerusakan

Sleman — Tim Gegana Polda DIY sukses menonaktifkan mortir raksasa sepanjang 1,8 meter dengan berat 350 kilogram yang ditemukan di Ngemplak, Sleman. Proses disposal dilaksanakan di Kali Gendol tepatnya di sebelah timur Dusun Srodokan, Wukirsari, Cangkringan, Selasa (12/8/2025).

Sebelum peledakan, Lurah Wukirsari, Handung Tri Rahmawan telah memberikan arahan kepada dukuh yang lokasinya berdekatan dengan penonaktifan bom. Handung meminta pada dukuh untuk segera menginformasikan kepada masyarakat agar tidak beraktivitas di radius 500-1000 meter dari lokasi peledakan. Hal ini dilakukan supaya masyarakat terhindar dari lontaran material yang ditimbulkan oleh ledakan.

Bhabinkamtibmas Wukirsari, Aipda Pitra Restu menjelaskan berdasarkan informasi dari Komandan Sat Brimob Polda DIY, Kombes Edi Sinulingga bahwa peledakan memerlukan lima kali proses, karena empat percobaan awal pada Senin sore belum memicu ledakan. Pada akhirnya, mortir berhasil diledakkan dengan dentuman keras yang terdengar hingga jauh, bahkan serpihan besi terlempar lebih dari satu kilometer dari titik disposal.

Sesaat setelah peledakan, Lurah Wukirsari segera memerintahkan dukuh untuk mendata kerusakan atau dampak yang ditimbulkan oleh penonaktifan bom tersebut.

“Bagi bapak dukuh di sekitaran kali gendol yang warganya terkena dampak, seperti rumah, kendaraan, kandang dan lain-lain monggo untuk di data dan di identifikasi bukti kerusakan maupun material sisa disposal untuk segera dilaporkan,” ujar Handung.

Dampak kerusakan di wilayah Wukirsari terjadi di Padukuhan Cakran tepatnya di Dusun Geblog. Serpihan material bom terlempar kurang lebih satu kilometer mengenai dan melubangi atap asbes. Dukuh Geblog, Yudi Anthoni mengungkapkan jika rumah salah satu warganya ada yang terkena lontaran material bom.

“Laporan yang jelas keliatan baru di tempat Pak Mula Hermawan saja. Semoga tidak ada lagi korban atau kerugian, mengingat ledakan cukup kuat,” jelas Yudi Anthoni.

Selain itu, beberapa warga setempat juga melaporkan penemuan sisa-sisa material bom yang terlempar sampai di persawahan maupun perkebunan warga yang jaraknya cukup jauh dari lokasi. Berdasarkan laporan warga, Bhabinkamtibmas Wukirsari segera mengamankan benda tersebut. Sebab material terbuat dari logam dan menjadi tajam karena efek ledakan, sehingga dapat membahayakan warga apabila terinjak. (Lilik/KIM Wara Aji Cangkringan)




Tanamkan Nasionalisme Sejak Dini Melalui Karnaval Budaya dan Kunjung Museum

Sleman – Dalam rangka menyonsong peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 RI, TK ABA Margokaton I dan Kelompok Bermain (KB) ‘Aisyiyah Darul Falah Susukan Margokaton Seyegan menggelar karnaval budaya dan kunjung museum, Selasa (12/8/2025).

Mengangkat tema budaya, peserta didik TK maupun Kelompok Bermain yang didampingi orang tua mengenakan pakaian adat melakukan karnaval menggunakan kereta mini mengelilingi wilayah Kapanewon Seyegan. Kegiatan itu dilanjutkan dengan kunjungan ke Museum Soeharto di Kemusuk Argomulyo Sedayu.

Kegiatan ini rutin dilakukan oleh TK ABA Margokaton I dan KB ‘Aisyiyah Darul Falah dengan mengusung tema yang tentunya berbeda beda setiap tahunnya. Hal tersebut diungkapkan Kepala TK ABA Margokaton I, Yusi Yuliyati.

“Tahun kemarin kami melakukan karnaval dengan berjalan kaki berkeliling kampung di lingkungan sekolah dengan mengusung tema merah putih. Sedangkan tahun ini kami lakukan dengan mengendarai kereta mini dengan tema adat Nusantara,” ujar Yusi.

“Karnaval seperti ini tentunya diharapkan dapat menanamkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air di kalangan anak-anak,” tambahnya.

Rombongan karnaval disambut dengan ramah oleh staf pengelola museum. Mereka disajikan berbagai macam icebreaking, lagu-lagu nasional. Di lokasi itu, peserta didik juga menyimak sejarah tentang Soeharto, Presiden ke-2 RI yang dikemas dengan film animasi sehingga anak anak cukup antusias memperhatikan.

Kegiatan dilanjutkan fashion show anak dan orang tua yang sudah tampil kompak mengenakan pakaian adat nusantara. Secara bergantian, anak berpasangan dengan orang tuanya berjalan di depan penonton menampilkan gaya uniknya. (Dhian Navitri/KIM Seyegan)




Taragak Diri Indonesia, Menyemai Kepribadian di Era Disrupsi

Sleman – Di bagian barat Kabupaten Sleman, berdiri sebuah lembaga yang lahir dari kerinduan akan jati diri manusia untuk kembali mengenali, merawat, dan mengembangkan potensi terbaik yang dimiliki. Lembaga itu bernama Taragak Diri Indonesia, yang resmi berdiri pada 2 Februari 2020, di tengah gejolak perubahan sosial yang semakin cepat.

Nama Taragak Diri diambil dari bahasa Minangkabau yang berarti rindu akan diri. Bagi pendirinya, ini bukan sekadar istilah puitis, melainkan sebuah filosofi hidup.

“Kami ingin menghadirkan ruang bagi setiap orang untuk menengok kembali siapa dirinya, mengenali kekuatannya, dan mengolahnya menjadi energi positif bagi kehidupan,” ujar Andika Akmal, Co-Founder Taragak Diri Indonesia, Selasa (12/8/2025).

Sejak awal, Taragak Diri Indonesia memilih jalannya sendiri, menjadi event organizer berbasis psikologi dengan fokus pada human quality development.

Mereka memadukan ilmu psikologi dengan format kegiatan yang kreatif dan aplikatif, mulai dari diskusi, layanan psikologis, pelatihan, hingga outbound.

Visi lembaga ini jelas, yaitu menjadi pusat layanan psikologis yang mampu menciptakan bisnis edukasi mandiri unggulan, membentuk pribadi positif dan berintelektual, sekaligus memberi kontribusi sosial bagi masyarakat.

Bagi Andika, visi ini bukanlah sekadar kalimat indah di atas kertas.

“Psikologi itu bukan hanya teori di ruang kuliah. Psikologi harus hidup, bekerja untuk manusia, dan hadir di tengah-tengah masyarakat. Itulah yang kami coba wujudkan,” ungkapnya.

Taragak Diri Indonesia memiliki spektrum layanan yang luas. Konseling individual, pasangan, keluarga, anak, remaja, kesehatan mental umum, hingga konseling karir, semuanya dirancang dengan pendekatan personal yang empatik.

Di sisi asesmen psikologi, lembaga ini menyediakan berbagai tes mulai dari tes kecerdasan, kepribadian, minat dan bakat, gaya belajar, hingga tes kesiapan sekolah dasar. Ada pula layanan untuk kebutuhan industri seperti asesmen potensi akademik atau peminatan jurusan bagi siswa SMA/SMK hingga mahasiswa.

Menurut Andika, layanan ini tidak semata-mata untuk menyelesaikan masalah, tetapi juga untuk membuka peluang perkembangan.

“Kadang, orang datang bukan karena krisis, tapi karena ingin menjadi versi terbaik dari dirinya. Di situ kami hadir untuk membantu,” katanya.

Salah satu ciri khas Taragak Diri Indonesia adalah menggabungkan teori psikologi dengan pengalaman langsung. Melalui pelatihan pengembangan diri dan outbound training, peserta diajak merasakan pembelajaran yang interaktif, membangun keterampilan interpersonal, kepemimpinan, dan kerja sama tim.

Metode experiential learning yang mereka terapkan membuat materi pelatihan lebih membekas.

“Ketika seseorang mengalami langsung sebuah proses, nilai yang dipelajari akan tertanam lebih dalam. Itu sebabnya kami mengemasnya dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan sekaligus bermakna,” jelas Andika.

Taragak Diri Indonesia berdiri di tahun yang sama dengan merebaknya pandemi covid-19, masa sulit bagi banyak usaha dan organisasi.

Namun, tantangan itu justru menjadi pemicu kreativitas. Mereka cepat beradaptasi dengan menghadirkan layanan konseling dan pelatihan secara daring, menjangkau peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kami sadar, perubahan itu cepat. Tapi jika kita punya pijakan yang kuat pada visi dan nilai, kita bisa menemukan cara untuk tetap relevan. Pandemi justru membuka mata kami bahwa layanan ini dibutuhkan lebih luas lagi,” ungkap Andika.

Berkantor di Patran Residence A2-3, Sumbersari, Moyudan, Sleman, Taragak Diri Indonesia kini telah menjadi mitra bagi banyak individu, komunitas, sekolah, dan depan, mereka bertekad memperluas jangkauan program, memperbanyak kegiatan sosial, dan mengembangkan model pelatihan berbasis riset psikologi terbaru.

“Taragak Diri adalah perjalanan tanpa akhir, perjalanan untuk terus mengajak orang kembali ke dirinya, memahami nilainya, dan memberdayakan dirinya untuk kebaikan yang lebih besar,” tuturnya.

Di era yang penuh distraksi, pesan taragak diri terasa semakin relevan, bahwa merawat hubungan dengan diri sendiri adalah kunci untuk membangun kualitas hidup dan masa depan bangsa. (Athiful/KIM Depok)




Margomulyo Sosialisasikan Puskesos sebagai Sistem Layanan dan Rujukan Terpadu Pelayanan Publik

Sleman – Pusat Kesejahteraan Sosial (Puskesos) segera dibentuk di Kalurahan Margomulyo. Banyaknya permasalahan sosial di masyarakat menjadikan tempat bertemunya masalah dan solusi tersebut mendesak untuk segera dibentuk.

Dihadapan 25 peserta dari unsur pamong Kalurahan, BPKal, LPMKal, Kader Kesehatan, Kader ODGP dan tokoh masyarakat, Dinas Sosial Kabupaten Sleman mengadakan kegiatan sosialisasi Puskesos, di ruang Rapat Kalurahan Margomulyo, Selasa (12/8/2025).

Kamituwo Margomulyo, Prasetyo Sujanarko dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan status kemiskinan yang meningkat dan kasus stunting yang cukup tinggi, perlu adanya ruang atau wadah untuk menampung semua permasalahan yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat.

“Lembaga yang akan kita bentuk ini adalah lembaga yang secara resmi memfasilitasi kebutuhan masyarakat untuk penyelesaian masalah sosialnya,” ujar Prasetyo.

Prasetyo berharap Puskesos menjadi solusi mengatasi persoalan sosial masyarakat, sehingga kesejahteraan bisa terwujud.

Perwakilan Puskesos Taman Martani Kalasan, Siti Maemunah selaku narasumber menyampaikan beberapa pertimbangan sehingga Puskesos harus dibentuk. Di banyak kalurahan, kerja sama antar lembaga penanggulangan kemiskinan masih rendah. Dukungan dana operasional juga belum merata sehingga perlu diterbitkan kebijakan yang langsung berdampak pada warga miskin.

“Banyak unsur terkait yang terlibat dalam meningkatkan kesejahteraan sosial ini, yaitu unsur SDM, unsur kelembagaan, unsur pendanaan dan unsur kebijakan,” jelas Siti.

Adapun tugas yang dilakukan adalah Puskesos sebagai front office, Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) sebagai perencana, dan TPK (Tim Penanggulangan Kemiskinan) sebagai back office. Setiap lembaga memiliki tupoksi sendiri, dari menerima pengaduan, penyalur aspirasi, penyelesaian masalah, membuat perencanaan, menjalin kemitraan, pendataan warga miskin, verifikasi, hingga pelaksanaan kegiatan.

“Diperlukan peningkatan kapasitas dalam bentuk pelatihan untuk mengetahui alur penyelesaian permasalahan sosial dan fasilitasi dari tenaga pendamping,” jelas Siti.

Sementara, perwakilan Puskesos Madusera Kalurahan Madurejo Prambanan, Ori Fatmawati sebagai pemateri kedua membagikan pengalamannya dalam menjalankan Puskesos di wilayahnya. Ori menyampaikan suka duka dalam memfasilitasi masalah sosial di masyarakat. Namun sebagai lembaga, Puskesos Madusera juga mempunyai program kerja rutin yang dilaksanakan.

“Berjejaring dengan semua lembaga yang ada di kalurahan dan banyak pihak di luar, sehingga program kerja mendapat dukungan dari banyak pihak. Inilah kunci untuk menyelesaikan masalah sosial termasuk kemiskinan,” ujar Ori penuh semangat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)