Wabup Sleman Apresiasi Gelar Dolanan Anak Kapanewon Sleman dalam Lestarikan Permainan Anak Tradisional

Sleman – Pemerintah Kapanewon Sleman menyelenggarakan Gelar Dolanan Anak dalam rangka 13 tahun Undang Undang Keistimewaan DIY pada Rabu (27/8). Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa hadir secara langsung dalam acara tersebut.

Danang mengapresiasi acara tersebut dalam rangka melestarikan permainan anak tradisional ditengah maraknya penggunaan gawai pada anak. Menurutnya, dalam permainan atau dolanan anak tradisional terdapat nilai-nilai positif yang baik bagi perkembangan motorik dan sensorik anak.

“Saya mengapresiasi penyelenggaraan acara ini dalam rangka melestarikan dolanan anak tradisional. Dolanan anak tradisional memiliki nilai-nilai positif bagi tumbuh kembang anak,” ujar Danang

Lebih lanjut, Danang mengatakan Pemkab Sleman berkomitmen untuk terus mendukung upaya pelestarian budaya salah satunya dolanan anak yang saat ini pamornya mulai tergerus oleh teknologi dan gawai.

Sementara itu, Panewu Sleman, Rasyid Ratnadi melaporkan bahwa gelar dolanan anak dilaksanakan dalam rangka 13 tahun UU keistimewaan DIY. Ia berharap dengan kegiatan ini menjadi motiviasi untuk meningkatkan taraf pembelajaran di tingkat usia paud.

Lebih lanjut, kegiatan ini didanai oleh Dana Keistimewaan DIY serta bertujuan melestarikan budaya jogja melalui gelar dolanan tradisional anak dan meningkatkan kterampilan anak khususnya di Kapanewon Sleman sekaligus menjadi media pembelajaran untuk persiapan masuk jenjang sekolah dasar.

“Harapan kita semoga kegiatan ini bisa mendukung pencapaian Kabupaten Sehat dan Kabupaten Layak Anak,” kata Rasyid

Acara ini diikuti oleh Satuan Paud Sejenis atau SPS se-Kapanewon Sleman dan Sekolah Dasar di Kapanewon Sleman.




SAH Banyu Bening Sleman Galakkan Gerakan AMPL Berbasis Masyarakat

Sleman – Di tengah meningkatnya tantangan ketersediaan air bersih, berbagai upaya berbasis masyarakat mulai mendapatkan perhatian serius. Salah satunya adalah program penguatan kapasitas lokal untuk Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) yang belakangan digalakkan di berbagai daerah.

Program ini mendapat dukungan nyata dari Sri Wahyuningsih, founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman yang selama bertahun-tahun menginisiasi gerakan pemanfaatan air hujan sebagai sumber daya alternatif.

Wahyuningsih memberikan edukasi dan penjelasan detail dihadapan warga Dusun Tanjung dan Dusun Onggosoro mengenai metode baru yang disebut Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Tempursari, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (28/8/2025).

Menurutnya, penguatan kapasitas lokal menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat. Namun juga aktor utama dalam menjaga ketersediaan air minum dan kebersihan lingkungan.

“Air hujan adalah berkah yang jatuh dari langit. Sayang sekali kalau hanya dibiarkan mengalir begitu saja tanpa dikelola,” ujar Wahyuningsih.

Pihaknya mengajak warga untuk belajar mengolah, menyimpan, dan menggunakan air hujan dengan aman. Lebih jauh, program ini mengajarkan bagaimana pemanfaatan air hujan terhubung dengan aspek kesehatan lingkungan, mulai dari penyediaan air minum hingga pengelolaan sanitasi rumah tangga.

Selain mengatasi persoalan air, program AMPL ini juga mendorong lahirnya gaya hidup baru yang lebih ramah lingkungan. Misalnya, warga diajari cara menampung air hujan untuk menyiram tanaman, hingga mengolahnya menjadi air layak minum. Sehingga, ketergantungan terhadap sumber air tanah dapat dikurangi.

“Hal ini penting untuk mencegah penurunan muka tanah dan menjaga keseimbangan ekosistem,” ucap Wahyuningsih.

Ketika warga memiliki pengetahuan dan keterampilan, maka keberlanjutan program AMPL akan terjamin sebagai investasi jangka panjang untuk hidup sehat. Anak-anak pun diajak mengenal siklus air, pentingnya kebersihan lingkungan, serta cara sederhana mengolah air hujan. Harapannya, nilai-nilai keberlanjutan dapat diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga budaya hemat air menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, keberadaan program penguatan kapasitas lokal untuk AMPL juga memperkuat kohesi sosial masyarakat. Warga diajak bergotong-royong membangun sistem penampungan air hujan, membersihkan saluran, hingga mengelola bank sampah. Semua itu menciptakan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap sumber daya yang ada.

Jika gerakan ini dilakukan secara konsisten, maka desa-desa bisa menciptakan perubahan nyata berupa mandiri air dan sehat lingkungannya. Air hujan adalah hadiah Tuhan, tinggal bagaimana manusia mengelolanya dengan bijak, (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Kembul Bujono Makan Bersama untuk Kebersamaan Indonesia

Sleman – Kembul bujono merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan leluhur, sebagai wujud syukur dan kebersamaan warga masyarakat. Tanpa membedakan kedudukan pangkat jabatan dan status sosial.

Semua masyarakat duduk lesehan di atas tikar yang sama. Mengibaratkan semua lilo legowo (menerima dengan Ikhlas) menempatkan diri dalam gelaran kedudukan yang sama, tidak ada perbedaan apapun.

Ketua RT 03 RW 14 Rejosari, Jogotirto, Berbah, Ikhsan Nur Hadi dalam sambutannya mengatakan pada masa lalu, hidangan dalam tradisi kembul bujono tersaji menggunakan wadah tradisional berupa ancak atau tambir dari anyaman bambu. Nasi dibentuk tumpeng, dikelilingi lauk ayam tempe tahu dan gudangan. Wadah makan mempergunakan pincuk dari dau pisang.

“Kembul bujono makan bareng kali ini sebagai wujud syukur warga atas karunia Allah untuk keselamatan, kebersamaan, gotong royong yang terbangun selama ini. Semoga kebersamaan ini selalu terjaga selamanya,” ucap Ikhsan pada acara kembul bujono, Rabu (27/8/2025) di rumah Eny Nurjanah, Rejosari, Jogotirto, Berbah.

Ikhsan juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua warga yang telah bersama- sama mendukung kegiatan positif yang sudah berlangsung. Untuk selanjutnya diharapkan warga bisa lebih kokoh dalam kegotongroyongan dan kebersamaan dalam membangun lingkungan kehidupan warga.

“Jangan lupa mengelola sampah masing-masing. Jangan menyerahkan kwajiban mengelola sampah kepada orang lain,” pesan Ikhsan. (Kusnadi / KIM Berbah)




Koramil 11 Depok melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) di Pasar Kolombo

Sleman – Dalam rangka stabilisasi harga pangan khususnya beras, Kodim 0732/Sleman melalui Koramil 11/Depok melaksanakan Gerakan Pangan Murah (GPM) bekerja sama dengan Bulog. Gerakan tersebut berlangsung di Pasar Kolombo, Kalurahan Condongcatur, Depok Sleman, Kamis (28/8/2025).  

Danramil bersama Wadanramil menerjunkan delapan Personil Koramil 11/Depok membawa beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) kemasan 5 kg yang disediakan untuk pengunjung Pasar Kolombo dan masyarakat. Beras tersebut dipatok dengan harga per kemasan atau setara harga per kilogram.

Danramil 11 Depok, Kapten Infantri Wahyani menjelaskan gerakan pangan murah ini sebagai wujud kepedulian terhadap ketahanan pangan masyarakat. Aksi ini bertujuan memberi akses bahan pokok dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Masyarakat pun nampak antusias membeli beras tersebut.  

“Alhamdulillah, sebanyak 2 ton atau 400 kemasan 5 kilogram habis terdistribusi dibeli masyarakat. Kami membantu masyarakat mendapatkan beras dengan harga yang lebih murah. Ini bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus meringankan beban ekonomi masyaakat,” jelasnya.

Wahyani menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk sinergi TNI dengan Bulog, dan pemerinta dalam menjaga stabilitas haga dan pasokan pangan.

“Diharpkan dapat memberikan solusi konkret dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mengatasi dampak ekonomi akibat fluktuasi harga kebutuhan pokok,” tandasnya.

Kegiatan penjualan beras murah ini bukan hanya dilaksanakan di Pasar Kolombo Condongcatur saja. Tetapi di wilayah teritorial Koramil 11/Depok yaitu di Pasar Nologaten Caturtunggal yang telah dilaksanakan pada, Rabu 27 Agustus 2025. Selain itu, gerakan ini juga direncanakan dilangsungkan di Pasar Stan Maguwoharjo.

Lurah Pasar Kolombo, Kuwat menyambut baik kegiatan TNI dalam program ketahanan pangan masyarakat dengan menyalurkan beras murah kepada warga masyarakat.

“Kami selaku pengelola Pasar Kolombo Condongcatur terbuka kepada instansi atau pengusaha dan lainya, seperti dealer motor, distributor produk makanan untuk melakukan kegiatan promosi/bhakti sosial di Pasar Kolombo. Seperti hari ini oleh Koramil 11/ Depok yang pada prinsipnya kegiatan promosi kepada masyarakat dan pengunjung pasar sehingga dapat memperoleh harga yang lebih murah,” ucapnya. (Wasana / KIM Depok)




Sasar Generasi Muda, Maguwoharjo Gelar Sosialisasi Keselamatan Lalu Lintas dan Bahaya Narkoba

Sleman – Upaya membangun kesadaran generasi muda terkait pentingnya keselamatan di jalan dan bahaya narkoba terus diperkuat oleh berbagai pihak. Hal ini tampak dalam kegiatan Sosialisasi Keselamatan Berlalu Lintas dan Bahaya Narkoba yang diselenggarakan di Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Rabu (27/8/2025).

Ketua Komisi C DPRD DIY, Nur Subiyantoro menegaskan bahwa tertib berlalu lintas merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan peradaban sebuah bangsa. Menurutnya, kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan di jalan raya tidak hanya menyangkut aspek keselamatan pribadi, tetapi juga mencerminkan karakter kolektif bangsa.

“Tertib di jalan merupakan cerminan bangsa yang besar. Karena itu, mari kita semua patuhi rambu lalu lintas. Ingat, keselamatan adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Nur Subiyantoro.

Selain mengedukasi tentang lalu lintas, kegiatan tersebut juga menghadirkan BNNP DIY untuk memberikan penyuluhan mengenai bahaya narkoba.

Kepala Tim Pencegahan BNNP DIY, Hindun Kurnia menyampaikan penjelasan mengenai jenis-jenis narkotika dan dampak buruk yang ditimbulkannya, baik secara fisik, mental, maupun sosial.

Ia menekankan bahwa peredaran narkoba di DIY sudah cukup memprihatinkan dan menjadi ancaman serius bagi generasi muda.

“Kita perlu bersama-sama melindungi diri dan keluarga dari bahaya narkoba. Sudah banyak kasus ditemukan di DIY, karena itu jauhilah narkoba sejak dini,” pesan Hindun. (SRI RAHAYU/KIM DEPOK)