TP PKK Kabupaten Sleman Gelar Pembinaan untuk Persiapan Lomba Tingkat Provinsi di Condongcatur

Sleman – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan pembinaan bagi kader PKK Kalurahan Condongcatur. Acara yang berlangsung di Ruang Wacana Loka Kalurahan setempat pada Senin (25/8) pagi ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi lomba PKK tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kegiatan dihadiri oleh lima PKK Padukuhan sampel, yakni Padukuhan Gempol, Gejayan, Manukan, Pringwulung, dan Joho, serta perwakilan Kelompok Kerja (Pokja) 1, 2, 3, 4, dan Kesekretariatan TP PKK Kalurahan Condongcatur.

Dalam sambutannya, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, memberikan apresiasi dan motivasi kepada seluruh kader PKK.

“Kami mendukung penuh upaya kader PKK dalam mempersiapkan diri untuk lomba tingkat provinsi. Semangat dan dedikasi yang telah ditunjukkan patut diapresiasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kamituwa Condongcatur, Al Thovik Sofisalam, menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi digital dan pengelolaan arsip konvensional.

“Digitalisasi merupakan langkah penting untuk inovasi, namun arsip hardcopy tetap harus dijaga sebagai dokumen resmi yang sah,” tegasnya.

Acara pembinaan menghadirkan narasumber dari berbagai instansi. Mayawati Jati Lestari dari Dinas Dukcapil Sleman menyampaikan materi mengenai “Peran PKK dalam Gerakan Indonesia Sadar Adminduk”. Ia menjelaskan pentingnya tertib administrasi kependudukan sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006.

“Setiap penduduk berhak memperoleh dokumen kependudukan yang sah, akurat, dan mutakhir. Peran PKK sangat strategis dalam mewujudkan hal ini,” paparnya.

Narasumber berikutnya, Catur Heni Priana, dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, memaparkan materi tentang tata kelola arsip berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009.

“Arsip merupakan urat nadi organisasi dan bukti otentik setiap kegiatan. Pengelolaannya harus dilakukan dengan cermat dan profesional,” jelasnya.

Dwiningsih, Pengelola Website Dinas Kominfo Sleman, juga hadir memberikan pembinaan mengenai digitalisasi untuk kesekretariatan TP PKK.

“Digitalisasi tidak hanya memudahkan pengelolaan administrasi, tetapi juga mendorong inovasi pelayanan tanpa mengabaikan pentingnya arsip konvensional,” ujarnya.

Kegiatan pembinaan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas kader PKK Kalurahan Condongcatur sehingga lebih siap dan kompetitif dalam ajang lomba tingkat provinsi. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Bakesbangpol dan KPU Sleman Lakukan Evaluasi Sistem Proporsional Daftar Terbuka Pemilu Legislatif

Sleman – Ruang Rapat Semeru, Hotel Prima SR, Sleman, pada Senin (25/8/2025) menjadi saksi terselenggaranya forum penting yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sleman bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman. Forum ini berfokus pada evaluasi sistem proporsional daftar terbuka dalam pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Kehadiran para akademisi, penyelenggara pemilu, partai politik, serta tokoh masyarakat menandai keseriusan semua pihak untuk menelaah kembali sistem yang menjadi pilar demokrasi Indonesia. Dalam sambutan pembukanya, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Sleman, Samsul Bakri mengatakan bahwa sistem proporsional daftar terbuka telah dipakai dalam beberapa kali penyelenggaraan pemilu di Indonesia, di mana pemilih dapat menentukan calon legislatif secara langsung.

Hal ini dipandang lebih demokratis karena memberi ruang partisipasi publik lebih luas. Namun, di balik itu muncul pula berbagai persoalan, mulai dari biaya politik yang tinggi, praktik politik uang, hingga persaingan internal partai yang sering kali kurang sehat.

Samsul berharap forum ini mampu menghadirkan berbagai pandangan kritis sekaligus solusi konstruktif. Menurutnya perlu dipastikan bahwa pemilu bukan sekadar ajang perebutan kursi, melainkan menjadi sarana melahirkan wakil rakyat yang benar-benar berintegritas, kompeten, serta mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Semoga evaluasi yang dilakukan hendaknya tidak berhenti pada tataran konsep saja, tetapi dapat melahirkan rekomendasi nyata bagi perbaikan sistem pemilu ke depan,” tandas Samsul.

Dalam forum evaluasi tersebut, Direktur LIDI Demokrasi Indonesia, Hamdan Kurniawan, M.A. sebagai narasumber menekankan pentingnya melihat sisi positif maupun kelemahan sistem proporsional daftar terbuka maupun tertutup. Bagi partai politik, sistem proporsional terbuka tidak dapat melakukan intervensi karena penentuan calon terpilih berdasarkan perolehan suara terbanyak.

“Selain itu, perebutan suara dalam satu partai cenderung lebih ketat dan keras, serta potensi pembelian suara lebih besar di tingkat grass root,” jelasnya.

Dari sisi positif, sistem ini memberi peluang bagi calon legislatif yang memiliki kapasitas dan kedekatan dengan masyarakat untuk terpilih, meski bukan figur utama partai. Namun, dari sisi lain, sistem ini berpotensi mendorong pragmatisme politik, di mana popularitas dan modal besar kerap menjadi penentu utama kemenangan.

Suasana diskusi berlangsung dinamis. Para peserta aktif menyampaikan pandangan, mulai dari pengalaman lapangan saat menjadi penyelenggara teknis maupun pengawas pemilu, hingga masukan mengenai pentingnya regulasi yang lebih ketat dalam mengontrol biaya kampanye. Ada pula yang menyoroti perlunya pendidikan politik masyarakat agar tidak mudah terpengaruh praktik politik uang, yang sering muncul dalam sistem daftar terbuka.

Lebih lanjut, forum menggarisbawahi pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap tahapan pemilu. Teknologi informasi dinilai bisa menjadi instrumen penting untuk memperkuat integritas pemilu, mulai dari pendaftaran caleg, laporan dana kampanye, hingga rekapitulasi suara. Namun, teknologi perlu diimbangi dengan pengawasan publik agar tidak terjadi manipulasi.

Pemilu bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membangun pemerintahan yang adil dan berpihak pada rakyat. Dengan evaluasi yang jujur dan komprehensif, diharapkan sistem pemilu ke depan mampu melahirkan wakil rakyat yang benar-benar mewakili suara masyarakat, bukan sekadar hasil dari popularitas dan kekuatan finansial. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Dinas Kearsipan Sleman Gelar Sosialisasi Penyusutan Arsip untuk Tingkatkan Efisiensi dan Pelayanan Publik

Sleman – Dinas Kearsipan Kabupaten Sleman menyelenggarakan sosialisasi materi penyusutan arsip bagi para pamong kalurahan se-Kapanewon Ngaglik. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (25/8/2025) di Ruang Pertemuan Kalurahan Sariharjo ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan arsip di tingkat pemerintahan kalurahan.

Catur Hendri Priyana, Arsiparis Muda Dinas Kearsipan Sleman, yang hadir sebagai narasumber, menekankan bahwa penyusutan arsip merupakan langkah penting dalam menyelamatkan aset informasi organisasi.

“Sekitar 65 persen arsip yang ada adalah arsip inaktif, yang seringkali bercampur dengan arsip aktif, non-arsip, maupun duplikat di ruang kerja. Hal ini tidak efisien dan justru dapat menghambat kinerja,” ujarnya.

Catur menjelaskan bahwa meningkatnya volume arsip seiring dengan kinerja dan anggaran organisasi, mahalnya biaya sewa penyimpanan, serta keterbatasan ruang menjadikan penyusutan arsip sebagai kebutuhan mendesak.

“Arsip adalah aset informasi. Jika tidak dikelola dengan benar, organisasi dapat mengalami kerugian karena informasi penting berpotensi hilang,” tegasnya.

Tujuan penyusutan arsip, lanjut Catur, antara lain untuk menghemat tempat dan biaya, memudahkan pengendalian arsip, mempercepat penemuan kembali, serta menyelamatkan arsip bernilai permanen untuk kepentingan pertanggungjawaban nasional.

“Dengan penyusutan, arsip dapat tertata lebih baik, mudah ditemukan, dan pada akhirnya mendukung pelayanan publik yang lebih efektif,” tambahnya.

Dalam paparannya, Catur memaparkan tiga metode penyusutan arsip, yaitu pemindahan arsip inaktif, meliputi penyeleksian, penataan, pembuatan daftar arsip, hingga penandatanganan berita acara.

Metode berikutnya adalah pemusnahan arsip, yang menjadi tanggung jawab pimpinan pencipta arsip melalui prosedur pembentukan panitia penilai, penyeleksian, hingga pelaksanaan pemusnahan.

Terakhir adalah penyerahan arsip ke lembaga kearsipan, dilakukan untuk arsip yang memiliki nilai guna kesejarahan, habis retensi, atau berketerangan permanen sesuai Jadwal Retensi Arsip (JRA).

Di akhir sosialisasi, Catur berharap para pamong kalurahan dapat menerapkan prinsip-prinsip penyusutan arsip secara konsisten.

“Harapan kami, setelah mengikuti sosialisasi ini, para pamong dapat mengelola arsip dengan lebih tertib, sehingga arsip tertata rapi, aman, dan benar-benar bermanfaat sebagai sumber informasi serta aset organisasi,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya tata kelola arsip yang efisien dan akuntabel di tingkat kalurahan, sehingga pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik. (Endarwati/KIM Donoharjo)




Lomba Masak Tumpeng Nasi Kuning Simbol Persaudaraan Padukuhan Salakan

Sleman – Selama ini, aktivitas memasak sering dianggap sebagai ranah ibu-ibu, namun dengan adanya lomba memasak tumpeng nasi kuning bagi para bapak di Padukuhan Salakan, Gamping, Sleman menjadi keunikan tersendiri.

Lomba yang digelar pada hari Minggu (24/8/2025) ini menjadi sarana hiburan yang sehat dan edukatif bagi seluruh warga. Tawa dan canda para bapak saat memasak bukan hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga contoh positif bagi generasi muda bahwa perayaan kemerdekaan dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, membangun kebersamaan, dan tetap menjaga akar budaya.

Dengan semangat kemerdekaan, mereka tidak segan beradu keahlian meracik bumbu, menata lauk, hingga membentuk tumpeng nan indah. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa peringatan hari kemerdekaan bukan sekadar seremonial, melainkan momentum memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan warga.

Berdasarkan keterangan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) Padukuhan Salakan, Sarji bahwa penilaian lomba memasak tumpeng nasi kuning meliputi cita rasa, penyajian dan penampilan, kebersihan, ketepatan waktu memasak, serta kekompakan.

Menurut Sarji, pihaknya memilih menu tumpeng nasi kuning untuk dilombakan karena tumpeng memiliki filosofi mendalam dalam budaya Jawa, melambangkan rasa syukur dan doa agar kehidupan selalu diliputi keberkahan. Ketika para bapak memasaknya dengan penuh semangat, nilai tradisi tersebut semakin terasa kental. Lomba ini pun menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali makna tumpeng kepada generasi muda yang menonton.

Para bapak belajar mengenal bahan-bahan tradisional, mengolahnya dengan kreativitas, serta memahami peran penting menjaga kearifan lokal. “Inilah bentuk nyata bagaimana budaya dapat hidup di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana namun bermakna,” terang Sarji.

Di sisi lain, Dukuh Salakan, Suyana mengatakan lomba memasak nasi tumpeng juga menjadi media untuk menguatkan solidaritas antarwarga. Setiap kelompok peserta yang terdiri dari 5 orang bapak berasal dari hingga sehingga tercipta interaksi yang lebih erat. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kerja sama dan kebersamaan dalam hal apa pun, termasuk memasak.

Tumpeng yang dilengkapi dengan berbagai varian lauk mencerminkan keberagaman yang tetap berpadu menjadi satu kesatuan. Sama halnya dengan bangsa Indonesia yang kaya akan perbedaan, namun tetap bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

“Melalui kegiatan seperti ini, peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Padukuhan Salakan menjadi lebih bermakna dan berkesan,” sambung Suyana.

Usai mencicipi masakan dan melakukan penilaian dewan juri menetapkan sebagai Juara I dengan nilai 431, disusul sebagai Juara II dengan nilai 430, dan sebagai Juara III dengan nilai 421.

Lewat lomba memasak tumpeng, para bapak telah menunjukkan bahwa kebersamaan, kreativitas, dan semangat persatuan sebagai warisan yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




TK Tunas Harapan III Salakan Lakukan Regenerasi Kepemimpinan

Sleman – Di tengah dinamika perkembangan zaman yang serba cepat, dunia pendidikan dituntut untuk selalu berinovasi agar mampu menjawab kebutuhan anak didik. Hal ini disadari betul oleh Taman Kanak-Kanak (TK) Tunas Harapan III Salakan, Kabupaten Sleman yang terus berupaya mengembangkan model pembelajaran kreatif bagi anak usia dini.

Inovasi menjadi kunci agar peserta didik dapat tumbuh dengan karakter kuat sekaligus memiliki kesiapan menghadapi jenjang pendidikan selanjutnya. Hal tersebut diungkapkan Kepala Padukuhan Salakan, Suyana dalam acara pisah sambut Kepala TK Tunas Harapan III dari pejabat lama, Riyantini, kepada pejabat baru, Dita Prasetya Wulandari, sesuai dengan surat keputusan Nomor 10/ TH3/TRh/VII/2025 di Salakan, Gamping, Sleman, Minggu (24/8/2025).

Pergantian Kepala TK merupakan bagian penting dalam siklus kepemimpinan lembaga pendidikan. Setiap kepala sekolah membawa visi, gaya kepemimpinan, serta strategi pengembangan yang berbeda.

“Dengan adanya pergantian, sekolah dapat memperoleh energi baru yang segar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan bagi anak usia dini,” ucap Suyana di hadapan warga masyarakat.

Selain itu, pergantian kepala TK memungkinkan adanya regenerasi kepemimpinan. Kepala sekolah yang baru diharapkan mampu melanjutkan sekaligus menyempurnakan program-program yang sudah ada, serta menghadirkan gagasan inovatif sesuai dengan kebutuhan zaman. Hal ini penting agar sekolah tidak berjalan monoton dan tetap relevan dengan perkembangan pendidikan.

Dinamika ini dapat meningkatkan profesionalitas, memperkuat kerja sama, serta membangun budaya sekolah yang lebih sehat. Dengan begitu, lingkungan belajar anak menjadi semakin kondusif dan berorientasi pada perkembangan terbaik mereka.

Lebih jauh, pergantian kepala TK merupakan cerminan dari tata kelola organisasi yang baik. Transparansi, akuntabilitas, dan kesinambungan program pendidikan dapat terjaga dengan adanya mekanisme pergantian kepemimpinan secara teratur. Sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang berkualitas sejak usia dini.

Sementara itu, Riyantini, yang telah menjabat sebagai Kepala TK Tunas Harapan III selama 40 tahun 4 bulan percaya bahwa pendidikan anak usia dini merupakan fondasi yang akan membentuk karakter dan masa depan bangsa. Karena itu, ia merasa bersyukur telah menjadi bagian dari perjalanan panjang TK Tunas Harapan III dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi anak-anak.

“Semoga apa yang sudah kita bangun bersama dapat terus berkembang dan memberi manfaat yang lebih luas,” tuturnya.

Riyantini pun menitipkan keluarga besar TK Tunas Harapan III Salakan kepada penggantinya dengan penuh keyakinan. Dirinya percaya dengan semangat baru dan ide-ide segar maka sekolah akan semakin berkembang, berprestasi, dan membawa warna baru dalam dunia pendidikan anak usia dini. “Mari kita dukung bersama agar estafet kepemimpinan ini berjalan mulus demi kemajuan bersama,” ajaknya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)