Karangmalang Fest 2025 Hidupkan Semangat Kebersamaan Warga

Sleman – Suasana Minggu pagi di kawasan Caturtunggal, Depok, Sleman tampak lebih semarak dengan terselenggaranya Karangmalang Festival 2025 di Balai Padukuhan Karangmalang, Minggu (24/8/2025).

Puluhan warga antusias menghadiri kegiatan yang berlangsung dalam rangka memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.

Festival yang mengusung jargon Karangmalang Handarbeni #3 ini menghadirkan beragam agenda, mulai dari senam pagi, jalan sehat, hiburan rakyat, hingga layanan cek kesehatan gratis yang didukung oleh Puskesmas Depok III.

Kegiatan ini tidak hanya memberi ruang rekreasi, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan serta memperkuat semangat kebersamaan di lingkungan padukuhan.

Pj. Kepala Padukuhan Karangmalang, Wiraka Demastiarno, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme warga. Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangun keguyuban masyarakat Karangmalang.

“Festival ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas kemerdekaan, sekaligus menjadi ruang untuk menumbuhkan semangat handarbeni atau rasa memiliki terhadap padukuhan. Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut sebagai sarana mempererat tali persaudaraan antarwarga,” ungkapnya.

Rangkaian acara Karangmalang Fest 2025 berbarengan dengan kegiatan Sunday Morning Karangmalang (Sunmor) yang rutin digelar di kawasan sekitar kampus UGM dan UNY.

Kegiatan mingguan ini menghadirkan berbagai kuliner, produk UMKM, hingga kerajinan lokal.

Sunmor sendiri memiliki sejarah panjang sejak 1980-an, ketika penjual lontong sayur pertama kali membuka lapak di Lembah UGM.

Seiring waktu, pada medio 1990-an, kawasan tersebut semakin ramai dengan pedagang yang menawarkan beragam kebutuhan masyarakat, mulai dari makanan, pakaian, souvenir, hingga perlengkapan sehari-hari.

Kehadiran Sunmor menjadi daya tarik tersendiri bagi warga, mahasiswa, dan wisatawan lokal.

Fikri Wildan, mahasiswa pascasarjana UNY, mengungkapkan bahwa Sunday Morning menjadi ruang rekreasi yang menyenangkan.

“Saya sering datang ke Sunmor untuk sekadar jajan, jalan-jalan, atau jogging bersama keluarga. Suasananya meriah dan cocok untuk melepas penat di akhir pekan,” ujarnya.

Melalui Karangmalang Fest 2025 yang bersamaan dengan kegiatan Sunday Morning, warga tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kebersamaan, kreativitas, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Liga Bridge Siswa Nasional 2025 Resmi Bergulir di Sleman

Sleman – Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (GABSI) Kabupaten Sleman kembali menggelar Liga Bridge Siswa Nasional (LBSN) 2025. Program yang merupakan inisiatif GABSI Pusat ini akan berlangsung hingga September 2025. Setelah sebelumnya digelar di SDN Margorejo Tempel, pada Sabtu (23/8/2025) turnamen dilaksanakan di SDN Mangunan, Caturharjo, Sleman. Selanjutnya, kompetisi akan berlangsung secara bergilir di beberapa Sekolah Dasar di wilayah Kabupaten Sleman.

Karebet, selaku Tournament Director dan juga Wakil Ketua II Pengda GABSI DIY Bidang Bina Prestasi, menjelaskan bahwa pada sesi ini terdapat 28 pasang pemain tingkat SD yang memainkan Mini-Bridge pada 14 meja yang terbagi dalam dua pool. “Seluruh atlet berasal dari wilayah Sleman,” ujarnya.

Sementara itu, di ruang lain, pertandingan untuk kategori SMP dan SMA diikuti oleh 6 pasang pemain yang memainkan Bridge standar. “Mereka datang dari seluruh provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,” tambah Karebet.

Lebih lanjut, Karebet menyampaikan bahwa melalui seri turnamen LBSN ini akan terpilih pasangan bridge siswa terbaik sebagai bibit atlet unggulan asal Sleman maupun DIY.

“Dengan LBSN, kami berharap minat bermain bridge di kalangan siswa sekolah di Provinsi DIY akan semakin berkembang,” harapnya.

Ia juga menekankan bahwa permainan bridge tidak hanya melatih kecerdasan, tetapi juga memupuk kerja sama dan tanggung jawab atas keputusan kontrak yang dibuat.

“Bridge mengedepankan etika tinggi dan mengendapkan sifat egois individu,” jelas Karebet. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Kirab Budaya Warnai Merti Dusun Gejayan

Sleman – Suasana meriah menyelimuti Dusun Gejayan, Condongcatur, siang ini saat digelar Kirab Budaya sebagai puncak rangkaian acara Merti Dusun. Warga dari berbagai kalangan turut serta memeriahkan kegiatan tahunan yang bertujuan melestarikan tradisi dan mempererat kebersamaan.

Dalam sambutannya, Dukuh Gejayan H. Nuryanto, menegaskan pentingnya menjaga warisan budaya lokal. “Kegiatan ini dalam rangka melestarikan budaya. Lestari budaya, lestari budayaku,” ujarnya di hadapan masyarakat yang hadir.

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap terselenggaranya acara ini. “Kami mendukung penuh, baik secara moril maupun spiritual, agar kegiatan Merti Dusun ini terus berjalan dengan baik,” ungkapnya.

Merti Dusun disebutkannya sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus memperkuat jalinan persaudaraan antarwarga.

Kemeriahan kirab budaya kali ini berjalan lancar berkat dukungan berbagai pihak, termasuk relawan Condongcatur seperti Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satlinmas, Destana, KSB, RAPI, dan lintas sektor yang turut serta dalam mengamankan jalannya acara. Kekompakan serta kerja sama yang baik menjadi kunci sukses penyelenggaraan Merti Dusun Gejayan tahun ini. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Kesenian Jathilan Mekar Budoyo Tegal Gentan Dilestarikan Generasi Muda di Seyegan

Sleman – Paguyuban Kesenian Jathilan “Mekar Budoyo” dari Tegal Gentan, Margoagung, Seyegan, tampil tunggal dalam Gelar Budaya Jogja Kapanewon Seyegan 2025. Pagelaran yang berlangsung di Halaman Kantor Kapanewon Seyegan pada Sabtu (23/8) itu disaksikan langsung oleh Andre Ferlana dari Seksi Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Panewu Seyegan Agung Indarta, beserta jajarannya dan masyarakat umum.

Panewu Kapanewon Seyegan, Agung Indarta, mengungkapkan bahwa Jathilan Mekar Budoyo dipilih untuk tampil karena pada 2024 lalu berhasil meraih juara 1 lomba Jathilan se-Kapanewon Seyegan dan mewakili wilayahnya maju ke tingkat kabupaten.

Andre Ferlana dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Gelar Budaya ini sebagai wadah penggalian potensi dan pelestarian budaya. Ia khususnya mengapresiasi penampilan Paguyuban Jathilan Mekar Budoyo yang seluruh pemainnya masih berusia muda, menunjukkan bahwa regenerasi budaya berjalan dengan baik.

Menurut Dukuh Tegal Gentan, Subarjo, Paguyuban Kesenian Jathilan Mekar Budoyo berdiri pada tahun 2000 atas inisiatif sesepuh dan dukungan Dukuh Tegal Gentan saat itu, Suhardi Martono.

“Ketua paguyuban pertama adalah Tomo Bashir dan Sardiono, kemudian dilanjutkan secara estafet oleh Cipto Diharjo, Karyadi, dan Purwanto. Dengan demikian, telah terjadi lima kali regenerasi kepengurusan selama 25 tahun terakhir,” ungkap Subarjo.

Keberhasilan regenerasi ini tidak lepas dari dukungan warga muda yang tetap mencintai dan melestarikan kesenian tradisional. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya penari dan penabuh gamelan dari kalangan pemuda, putri, bahkan anak-anak yang seluruhnya berasal dari masyarakat Tegal Gentan.

Pelatih pertama Jathilan Mekar Budoyo adalah Tomo Bashir dan Setro Pawiro, yang kala itu masih menggunakan gaya tradisional. Pada masa kepelatihan Suranto dan pelatih sekarang, Fajar Tri Kaloka (pemegang kendang), kelompok beralih menggunakan gaya kreasi baru. Latihan rutin diadakan sebulan sekali, dengan tambahan sesi khusus jika akan ada pertunjukan.

Saat ini, paguyuban telah memiliki perlengkapan lengkap seperti kuda kepang, gamelan, dan kostum sendiri sehingga siap tampil kapan saja. Pada 2023, mereka juga mendapatkan bantuan alat musik dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman yang masih digunakan hingga kini.

Jathilan Mekar Budoyo telah tampil di berbagai festival dan event, seperti di Titik 0 KM, Wisata Breksi, Kaliurang, sejumlah hotel, serta acara syukuran dan hajatan warga. Prestasi yang telah diraih antara lain juara 1 se-Kabupaten Sleman tahun 2013 dan juara 1 se-Kapanewon Seyegan 2024.

Paguyuban juga mendapatkan pembinaan dari Dinas Kebudayaan Sleman, termasuk bantuan Dana Keistimewaan untuk pentas pada Juli 2025 lalu. Diharapkan event serupa terus berlanjut dan dukungan dana tetap dialokasikan untuk kemajuan seni budaya di Kapanewon Seyegan. (Sulistiyono/KIM Seyegan)




UMKM Berbah Buktikan Peduli Lingkungan Sambil Berbisnis di Gelar Semarak Kemerdekaan

Sleman – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kapanewon Berbah menunjukkan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan dengan menggelar aksi pungut sampah usai berdagang dalam Gelar UMKM Semarak Kemerdekaan, Sabtu (23/8/2025). Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Kadisono, Tegaltirto, ini dipimpin langsung oleh Panewu Berbah Djaka Sumarsana dan Kepala Jawatan Kemakmuran Berbah Ringgo Anthoni Surya.

Meski berorientasi pada pencarian keuntungan, para pedagang menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Dengan menggunakan capit sampah yang disediakan Forum Lingkungan Hidup (FLH) Kapanewon Berbah, mereka membersihkan area lapangan usai acara berlangsung.

“Kegiatan ini bentuk kepedulian kami untuk meringankan tugas petugas kebersihan. Meski tanggung jawab utama ada pada mereka, kami ingin turut serta menjaga kebersihan,” ujar Djaka Sumarsana.

Lapangan Kadisono sebagai venue acara merupakan lapangan sepak bola yang rutin digunakan masyarakat. Oleh karena itu, kebersihannya harus dijaga dari sampah berbahaya seperti sisa makanan yang dapat menyebabkan licin, kaleng, pecahan beling, dan tusuk sate yang berpotensi melukai pengguna lapangan.

Sri Andayani, Ketua UMKM Kapanewon Berbah yang akrab disapa Yani, menjelaskan bahwa seluruh pedagang telah diimbau untuk menjaga kebersihan sejak awal. Panitia juga menyediakan trash bag di setiap lapak sebagai tempat sampah sementara.

“Kami terus mengingatkan baik pedagang maupun pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya,” tegasnya.

Antusiasme juga ditunjukkan oleh salah satu pelaku UMKM asal Klodangan, Sendangtirto, Mbak Icha. Sebagai anggota FLH dan penggiat bank sampah, ia memisahkan sampah yang masih memiliki nilai jual, seperti botol plastik dan kardus.

“Sampah botol dan kardus bisa ditabung di bank sampah untuk menambah pemasukan. Daripada dibuang percuma, lebih dimanfaatkan secara ekonomis,” ujarnya.

Aksi ini membuktikan bahwa UMKM tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga berkontribusi aktif dalam pelestarian lingkungan dan kebersihan ruang publik. (Kusnadi/KIM Berbah)