Gebyar Budaya Jogya di Seyegan Semarakan Peringatan 13 Tahun UU Keistimewaan DIY

Sleman – Kapanewon Seyegan menggelar Gebyar Budaya Jogya dalam rangka memperingati 13 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY (UUK DIY). Acara yang mengusung tema “Mupakara Gunita Prasanti Loka” ini berlangsung pada Sabtu (23/8/2025) di halaman Kantor Kapanewon Seyegan dan dihadiri oleh perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Panewu Seyegan, Danramil, Polsek, Kepala Puskesmas, serta seluruh lurah se-wilayah Seyegan.
Panewu Seyegan, Agung Indarto, menyatakan bahwa Gebyar Budaya Jogya merupakan wujud pelestarian budaya berbasis potensi lokal. Kesenian jathilan dipilih karena hampir setiap kalurahan di Seyegan memiliki grup kesenian ini.
“Acara ini juga menjadi ajang kolaborasi dengan pelaku UMKM. Seni budaya berkembang, UMKM meningkat, perekonomian tumbuh, dan akhirnya kesejahteraan masyarakat terwujud,” jelas Agung.
Pernyataan tersebut diamini oleh Ketua Forum Komunikasi UMKM (Forkom UMKM) Seyegan, Marzuni, yang menyebutkan pihak kapanewon menyediakan 10 stand secara gratis bagi UMKM untuk berpartisipasi.
Andre Ferlana, SH, perwakilan Dinas Kebudayaan Sleman, menekankan bahwa kegiatan yang didanai Dana Keistimewaan (Danais) ini berfokus pada dua hal: kebudayaan dan UMKM.
“Dua kegiatan ini dapat dipadukan: kebudayaan dilestarikan, sementara kegiatan ekonomi berjalan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi Kapanewon Seyegan yang berhasil menyerap Danais di tengah pemangkasan anggaran sebesar 50% pada tahun 2025.
“Dengan dana minimalis, semangat harus maksimal,” tandasnya sebelum membuka acara secara resmi.
Pentas seni ditampilkan oleh grup Mekar Budoyo dari Tegal Gentan VI, Margoagung, yang membawakan tiga babak tarian: Putra Adiwilaga, Putri Rengganis, dan Putra Bhadrika. Antusiasme penonton dari berbagai usia membuktikan bahwa jathilan tetap diminati sebagai warisan budaya yang hidup dan dinamis.
Jathilan atau kuda lumping merupakan seni tradisional Jawa yang menampilkan tari dinamis, musik energik, dan unsur spiritual. Kesenian ini berfungsi sebagai hiburan, sarana ritual, dan pelestarian budaya yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal.
Gebyar Budaya Jogya tidak hanya menjadi sarana pelestarian seni tradisional, tetapi juga bukti komitmen masyarakat DIY dalam merayakan keistimewaan melalui budaya dan ekonomi kreatif. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



