Sunardi: Komputer Juga Perlu Perawatan Rutin

Sleman – Pada jaman sekarang, komputer sudah digunakan secara luas baik di hampir semua kegiatan bisnis, sosial maupun pendidikan. Komputer ternyata bukanlah sebuah benda solid-state, yang volume dan bentuknya tetap tidak bergerak. Ada juga bagian yang berputar di dalam komputer atau laptop.

Sunardi, pemilik usaha jual komputer bekas dan service Komputer Aqsa, menunjukkan bagian dalam sebuah laptop. Ditemui di kiosnya di jalan Magelang, Desa Margorejo, Tempel, Sleman, Kamis (14/08/2025), ia menunjukkan sebuah benda pipih kecil.

“Ini adalah fan atau kipas kecil yang terus berputar selama komputer bekerja. Kipas ini menyedot udara luar dan melalui sebuah saluran kecil mendinginkan processor, bagian utama sebuah komputer,” ujarnya.

“Saat komputer bekerja, processor melakukan banyak komputasi dan mengkonsumsi energi listrik yang menimbulkan panas. Bila pendinginan terganggu, kinerja menurun, bahkan mati mendadak, atau tetap hidup namun tidak bisa digunakan, atau hanging, dan bisa mengakibatkan kerusakan fatal,” sambungnya.

Sunardi menjelaskan gangguan pendinginan umumnya timbul saat udara yang disedot dari luar mengandung banyak kotoran lembut. Kotoran tersebut bertahun-tahun secara akumulatif menempel pada bilah fan atau kisi-kisi penyaring.

“Karenanya komputer, terutama bila bekerja pada tempat yang berdebu atau tidak ber AC setidaknya setiap tahun harus di service. Sayangilah komputer anda, agar komputer juga menyayangi dompet anda,” kata Sunardi sambil tersenyum. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Mahasiswa KKN UPY Kenalkan Terapi SEFT Untuk Ketenangan Jiwa

Sleman – Di tengah tekanan hidup yang semakin kompleks, banyak orang mencari cara untuk meredakan stres dan mengelola emosi dengan lebih sehat. Salah satu metode yang mulai dikenal di masyarakat adalah Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT).

Teknik yang menggabungkan pendekatan psikologi modern dengan unsur spiritual ini diperkenalkan oleh Relawan Komunitas Kekandhangan Banyuraden sekaligus Praktisi Hipnoterapi, Setyo Hari Purnomo dalam acara bertajuk Sehat Nurani Jiwa yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Yogyakarta di Pendhapa Sukunan, Banyuraden, Sleman, Kamis (14/8/2025).

Menurut Hari, teknik terapi yang menggabungkan sistem energi tubuh dan terapi spiritualitas dengan metode tapping pada 18 titik meridian di sepanjang 12 jalur energi tubuh membantu seseorang melepaskan beban emosional yang terpendam.

“Tidak hanya untuk mereka yang mengalami trauma berat, SEFT juga bermanfaat bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kualitas hidupnya,” ucapnya dihadapan puluhan lansia.

Bagi para lansia, menjaga kesehatan fisik dan mental menjadi tantangan tersendiri seiring bertambahnya usia. SEFT hadir sebagai metode sederhana yang dapat membantu mereka mengelola emosi, mengurangi stres, dan meningkatkan kualitas hidup.

Dengan kombinasi doa, afirmasi positif, dan teknik ketukan pada titik energi tubuh, SEFT membantu lansia melepaskan rasa cemas atau sedih yang sering muncul akibat permasalahan sosial maupun keluarga.

Melalui relaksasi yang tercipta selama proses terapi, tubuh melepaskan ketegangan otot sehingga rasa sakit berkurang. Selain itu, pendekatan spiritual dalam SEFT membuat lansia merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta, memberikan rasa syukur dan penerimaan yang menenangkan hati.

Lebih lanjut, Hari menambahkan bahwa SEFT bekerja dengan prinsip mengetuk titik-titik tertentu di tubuh, yang dipercaya sebagai jalur energi, sambil mengucapkan afirmasi positif dan doa. Proses ini membantu pikiran dan tubuh terhubung, sehingga emosi negatif perlahan berkurang. Hasilnya mendapat ketenangan dan rasa ringan yang membawa pengaruh baik pada kesehatan fisik.

Uniknya, masyarakat tidak memerlukan alat khusus atau ruangan tertentu untuk melakukannya. Bahkan, setelah mempelajari langkah-langkahnya, teknik ini dapat dipraktikkan secara mandiri di rumah. Namun, pendampingan dari praktisi berpengalaman di awal proses sangat dianjurkan demi memastikan teknik yang dilakukan benar dan hasilnya optimal.

“Dalam banyak kasus, metode ini digunakan untuk membantu penyintas bencana, korban kekerasan, hingga pasien dengan penyakit kronis agar lebih kuat secara mental,” ungkap Hari.

Sementara itu, Ketua Kelompok 7 KKN UPY, Anti Septi Basalti mengatakan melalui kegiatan ini pihaknya mengenalkan metode SEFT berupa relaksasi yang dapat dilakukan oleh para lansia untuk menjaga nurani tetap bersih dan jiwa tetap kuat.

Oleh karena itu, kegiatan dikemas dengan interaksi yang melibatkan semua peserta, agar tercipta rasa kebersamaan dan saling dukung.

“Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh di sini dapat terus dipraktikkan di rumah, sehingga manfaatnya berkelanjutan,” ujar Anti.

Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, SEFT menjadi pengingat bahwa keheningan, doa, dan sentuhan sederhana pada tubuh menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih damai dan bermakna. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




KIM DIY Berlatih Menghidupkan Berita Lewat Storytelling Visual

Sleman – Kekuatan mobile photo journalism (Storytelling Visual) bagi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) terletak pada kemampuannya memotret dinamika masyarakat tanpa harus menunggu peralatan besar atau waktu lama. Dengan hanya berbekal ponsel pintar, anggota KIM bisa langsung mengabadikan momen, mengirimkan foto, dan membagikan informasi ke publik secara real-time.

Bagi KIM, kecepatan dan akurasi dalam menyampaikan berita menjadi kunci keberhasilan menjalankan fungsi literasi informasi di tingkat desa atau kalurahan. Di tengah perkembangan teknologi, Storytelling Visual menawarkan solusi praktis dan efektif untuk mendokumentasikan peristiwa penting di lingkungan sekitar.

Menurut Ketua Pewarta Foto Indonesia, Andreas Fitriatmoko dalam pelatihan foto jurnalistik lanjutan yang berlangsung di Aula Kresna Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (14/8/2025), anggota KIM dapat menggunakan metode EDFAT (Entire, Details, Frame, Angle, Time) untuk mendokumentasikan peristiwa penting di lingkungan sekitar.

“Metode ini membantu anggota KIM menghasilkan foto yang tidak hanya indah, tetapi juga bercerita,” terangnya.

Dengan memotret keseluruhan suasana (Entire) dengan detail penting (Details), maka anggota KIM dapat menghadirkan gambaran utuh mengenai suatu peristiwa, sehingga audiens memahami maknanya secara menyeluruh.

Selain itu, pada tahap frame dan angle dalam EDFAT memastikan subjek utama terlihat jelas dan pesan visual tersampaikan tanpa gangguan. Dengan membingkai subjek secara tepat serta memilih sudut pengambilan yang menarik, anggota KIM bisa menonjolkan pesan inti dan menghindari foto yang terkesan datar atau membingungkan.

Tidak kalah penting, mobile photo journalism memungkinkan siapa saja berperan sebagai citizen journalist. Warga yang kebetulan berada di lokasi kejadian dapat mengabadikan momen, membagikannya, dan menjadi sumber awal berita. Meski demikian, kualitas dan integritas tetap menjadi kunci.

“Foto yang diambil lewat ponsel tidak hanya harus jelas secara visual, melainkan akurat secara kontekstual,” sambung Andreas.

Lebih dari itu, teknik ini memberdayakan anggota KIM untuk berperan sebagai storyteller visual. Mereka tidak hanya mengirimkan informasi, namun juga membangun narasi yang memperlihatkan sisi positif, kearifan lokal, serta potensi daerah. Hal ini penting untuk mengangkat citra wilayah sekaligus menarik perhatian pihak luar yang mungkin tertarik untuk berkolaborasi.

Andreas berpesan kepada peserta pelatihan agar tetap menjaga akurasi dan etika. Foto yang diambil harus merepresentasikan fakta, tidak menyesatkan, dan disertai keterangan yang jelas. Termasuk perlu memahami teknik captioning yang tepat agar pesan visual sampai ke pembaca dengan benar dan tidak memicu kesalahpahaman.

Dengan kemampuan mengabadikan dan menyebarkan momen secara cepat melalui storytelling photo, anggota KIM bukan menjadi penyampai informasi saja, tetapi juga penguat identitas lokal, perekat kebersamaan, dan penjaga narasi positif tentang daerahnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Posyandu Tanjung II Wakili Sleman di Lomba Posyandu Berprestasi Tingkat DIY

Sleman – Prestasi membanggakan kembali diraih Kampung Karangasem Padukuhan Gempol Kalurahan Condongcatur Kapanewon Depok. Posyandu Tanjung II berhasil meraih juara 1 dalam Lomba Posyandu Berprestasi tingkat Kabupaten Sleman tahun 2025. Kemenangan ini mengantarkan Posyandu Tanjung II untuk mewakili Kabupaten Sleman di ajang Lomba Posyandu Berprestasi tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Lomba tingkat provinsi tersebut dilaksanakan pada, Kamis (14/8/2025) secara daring dari Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Suasana penuh semangat terlihat sejak pagi, saat tim Posyandu Tanjung II mempersiapkan paparannya. Tahun ini, Posyandu Tanjung II harus bersaing dengan empat posyandu terbaik lainnya yang menjadi perwakilan dari Kabupaten/ Kota di wilayah Provinsi DIY.

Dukuh Gempol, Ari Susanti mmengungkapkan rasa bangganya atas keberhasilan yang diraih oleh para kader posyandu.

“Selamat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh kader Posyandu Tanjung II atas kerja keras, kekompakan, dan dedikasi yang luar biasa. Berkat semangat dan komitmen bersama, kita berhasil menjadi juara 1 di tingkat Kabupaten Sleman dan kini bisa melangkah ke tingkat provinsi,” ujarnya.

Menurut Ari Susanti, capaian ini bukanlah hasil kerja singkat, melainkan buah dari pembinaan dan kerja sama yang telah dilakukan bertahun-tahun. Posyandu Tanjung II dikenal aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu, bayi, balita, serta kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.

Dukungan penuh juga datang dari Promotor Kesehatan Puskesmas Depok II, Pramidya Ujiana dan Ardika Rahman Putra yang selalu mendampingi proses pembinaan kader.

“Kami senantiasa memberikan dukungan dan semangat kepada kader Posyandu Tanjung II, mulai dari tahap persiapan, pembinaan, hingga pelaksanaan lomba. Prestasi ini sangat membanggakan karena membuktikan bahwa posyandu di wilayah Puskesmas Depok II mampu berkompetisi di level yang lebih tinggi,” ungkapnya Ardika.

Pramija menambahkan bahwa lomba ini tidak hanya sekadar ajang penilaian, tetapi juga sarana untuk mengukur sejauh mana posyandu mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

“Dengan mengikuti lomba ini, kader menjadi lebih termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan, inovasi, dan kreativitas dalam kegiatan posyandu,” imbuhnya.

Keberhasilan Posyandu Tanjung II diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi posyandu-posyandu lain di Sleman untuk terus meningkatkan kinerja dan pelayanan. Tidak hanya demi meraih prestasi, tetapi juga demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini, seluruh kader dan pendukung Posyandu Tanjung II tengah menanti hasil penilaian tingkat provinsi. Terlepas dari hasil akhir, capaian sebagai wakil Kabupaten Sleman telah menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Padukuhan Gempol. (Tri Suhartati / KIM Depok)




Pelatihan KIM DIY: Hasilkan Feature Berkualitas Untuk Literasi Publik

Sleman – Kemampuan menulis feature menjadi keterampilan yang tak kalah penting bagi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Feature bukan sekadar berita lantaran menyajikan kisah dengan kedalaman, narasi yang memikat, dan sentuhan yang mampu menggerakkan pembaca.

Melalui pelatihan pembuatan feature yang berlangsung di Aula Kresna Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) DIY, Kamis (14/8/2025) anggota KIM dapat memperkaya cara mereka menyampaikan informasi, sehingga pesan yang diusung lebih mengena dan berkesan.

Kegiatan yang dihadiri perwakilan dari Forum Kelompok Informasi Masyarakat tingkat kabupaten/kota ini dibuka secara resmi oleh Wiwik Lestariningrum selaku Pranata Humas Muda Dinas Kominfo DIY. Hadir sebagai narasumber Kepala Biro Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA DIY, Nur Istibsaroh yang mengupas tentang mudahnya menulis feature.

“Feature biasanya berisi human interest untuk menghibur dan tidak terikat waktu. Selain itu, gaya dan struktur penulisannya bebas dan berwarna dalam struktur piramida,” ucap Istibsaroh mengawali presentasinya.

Ia pun membeberkan pentingnya nilai berita yang dapat disajikan dalam artikel. Menurutnya, nilai berita dibutuhkan dalam penulisan feature karena menjadi penentu apakah sebuah cerita layak dibaca dan relevan bagi audiens.

Meskipun feature memiliki gaya naratif yang lebih santai dibanding berita straight news, namun unsur nilai berita seperti kedekatan, dampak, human interest, aktualitas, dan keunikan tetap harus hadir.

“Tanpa nilai berita yang jelas, sebuah feature berisiko kehilangan daya tarik dan tenggelam di tengah lautan informasi,” tandasnya.

Selain itu, nilai berita membantu penulis feature memilih sudut pandang atau angle yang tepat. Dengan memahami aspek apa yang membuat sebuah kisah istimewa, penulis dapat menonjolkan elemen-elemen penting yang akan memikat pembaca sejak awal.

Lebih lanjut, Istibsaroh memberikan tips menulis feature seperti pemilihan topik, mengawali dengan riset, menentukan sudut pandang, membuat outline, memulai menulis hingga membaca ulang naskah yang telah selesai.

Wanita yang memiliki sertifikat uji kompetensi wartawan utama ini juga menyampaikan cara mudah mengawali menulis feature. Penulis perlu mengawali artikel dengan kalimat kuat agar pembaca penasaran dan tertarik. Selanjutnya, diskripsikan kalimat kuat tersebut pada lead artikel untuk membawa pembaca seolah-olah berada di tempat kejadian.

“Jangan lupa gunakan kutipan yang relevan dan kuat dalam tubuh feature,” imbuhnya bersemangat.

Istibsaroh berpesan, dalam penulisan feature, hal yang terpenting adalah kemampuan untuk menghidupkan fakta. Penulis tidak hanya menulis apa yang terjadi, namun juga membangun suasana, menggali detail, dan menghadirkan cerita yang membuat pembaca menyimak hingga akhir kalimat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)