Samsat DIY Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Berupa Pembebasan Denda Selama Tiga Bulan

Sleman – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Samsat DIY menggelar program pemutihan pajak kendaraan bermotor berupa pembebasan denda. Kebijakan ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-80 RI, sekaligus 13 tahun diberlakukannya Undang-Undang Keistimewaan DIY. Kebijakan itu ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur DIY Nomor 274 Tahun 2025 dan berlangsung selama tiga bulan, mulai 1 Agustus hingga 31 Oktober 2025

Kepala KPPD DIY, E. Rully Marsianti, menyosialisasikan langsung peraturan tersebut melalui kegiatan monitoring layanan Samsat Keliling “Si Jelita” (Sistem Jemput Lima Tahunan), Selasa (5/8/2025) di Kalurahan Condongcatur. Tidak hanya mendiseminasikan program bebas denda atau pemutihan, Rully pun membagikan brosur kepada masyarakat yang melakukan layanan perpanjangan STNK.

“Bebas denda ini berlaku untuk pajak kendaraan bermotor, bea balik nama kendaraan bermotor dan SWDKLLJ tahun-tahun sebelumnya dengan periode pembayaran mulai 1 Agustus sampai 31 Oktober 2025. Jadi monggo masyarkat untuk menggunakan program ini dengan sebaik baiknya. Jangan lewatkan kesempatan yang baik ini,” jelasnya.

Rully menambahkan masyarakat juga bisa mendapatkan cashback hingga 50 persen dengan syarat tertentu. Cashback maksimal Rp dapat diperoleh dengan melakukan pembayaran melalui aplikasi BPD DIY Mobile.

“Sementara cashback maksimal Rp diberikan untuk pembayaran menggunakan QRIS BPD DIY Mobile, masing-masing dengan kuota 500 transaksi. Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) juga dapat dilakukan melalui berbagai layanan digital seperti SIGNAL, Gotagihan, Tokopedia, Indomaret, dan aplikasi BPD DIY Mobile,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Samsat Sleman melakukan layanan Bus Samsat Keliling di beberapa tempat, yaitu hari Senin di Pasar Potrojayan Madurejo Prambanan, Selasa di Kalurahan Condongcatur, Rabu di Pasar Jangkang Ngemplak, Kamis di halaman Kapanewon Gamping, dan minggu pertama di halaman Stadion Maguwoharjo.

Selain itu, ada juga program ‘SI JELITA” (Sistem Jemput Lima Tahunan) yang akan melayani pengesahan lima tahunan dengan permintaan pelayanan dari masyarakat. Program ini juga menyediakan layanan tetap setiap Selasa pertama awal bulan di Kalurahan Condongcatur.

Untuk mengaksesnya, masyarakat cukup datang membawa kendaraanya baik motor maupun mobil, beserta BPKB, STNK dan KTP asli, untuk layanan perpanjangan pajak lima tahunan.

“Pada hari ini Selasa minggu pertama awal bulan tanggal 5 Agustus 2025 layanan “Si Jelita” di Kalurahan Condongcatur. Masyarakat sangat antusias memanfaatkan layanan ini untuk pembayaran pajak tahunan dan lima tahunan,” ujar Rully.

“Ada 38 melakukan layanan pembayaran pajak lima tahunan dan sebanyak 133 wajib pajak melakukan membayar pajak tahunan. Terima kasih kepada masyarakat yang telah memastikan kendaraan mereka tetap sah dan tertib administrasi,” pungkasnya. (Wasana / KIM Depok)




Metode An-Nahdliyah Sebagai Pondasi Pendidikan Islam Sejak Dini

Sleman – Metode An-Nahdliyah memiliki peran penting dalam membentuk sistem pembelajaran Al-Qur’an yang terstruktur, moderat, dan sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), metode ini bukan sekadar alat bantu teknis, melainkan juga sarana untuk menanamkan karakter dan tradisi keilmuan Islam ala Nahdlatul Ulama sejak usia dini.

Dengan pola yang rapi dan sistematis, santri TPQ diarahkan tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memahami adab, akhlak, dan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini dikatakan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ishlahiyyah Sleman, H.M. Najib Yuliantoro dalam rutinan muroja’ah dan koordinasi metode An Nahdliyah yang berlangsung di Pondok Pesantren Insan Nafia, Cangkringan, Sleman, Selasa (5/8/2025).

Menurutnya, metode An-Nahdliyah merupakan salah satu metode yang cukup populer dan memiliki akar rumput yang kuat di Indonesia dan tercatat di Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai salah satu metode tertua di Indonesia sekitar 23 tahun.

Selain itu, dalam TPQ An-Nahdliyah ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu pertama, adanya Sanad yang jelas. Metodenya membutuhkan perlakuan khusus. Ciri khasnya ada di ketukan dan wajib menggunakan tongkat sebagai titian. Memiliki target satu jilid diselesaikan dalam satu bulan.

Kedua, manajemen majelis pembina Sleman telah berbadan hukum dan resmi tercatat di Kementerian Agama RI. Ketiga, tingkat kepengurusan berada di koordinator kecamatan, kabupaten, dan pusat.

Adapun kantor pusat majelis pembina Sleman berada di Pondok Nurul Ishlahiyyah Bakungan. Sedangkan Pondok Insan Nafia Cangkringan menjadi pusat Pendidikan dan Latihan.

Keunggulan utama metode ini terletak pada penyusunan materi yang bertahap dan terukur, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga bacaan tartil yang sesuai dengan kaidah tajwid. Setiap jenjang belajar sudah disusun sesuai kemampuan anak, sehingga proses belajar lebih terarah dan minim kebingungan.

“Kehadiran buku panduan, sistem penilaian, dan pelatihan guru secara berkala menjadikan metode An-Nahdliyah unggul dalam menjaga kualitas pengajaran di TPQ,” terang Gus Najib.

Dalam metode ini juga ditekankan pentingnya sanad keilmuan dan adab murid terhadap guru. Santri tidak hanya belajar secara kognitif, tetapi juga secara spiritual dan moral. Kegiatan seperti muroja’ah, hafalan, serta pembiasaan ibadah harian menjadi bagian integral dari metode ini. Dengan demikian, TPQ bukan hanya tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kepribadian santri yang berkarakter Islami dan nasionalis.

Penerapan Metode An-Nahdliyah juga memperkuat solidaritas antar-TPQ dalam satu jaringan yang terorganisir. Hal ini penting agar lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak berjalan sendiri-sendiri. Melainkan saling mendukung dalam hal kurikulum, pelatihan guru, hingga program pengembangan anak. Koordinasi antar-TPQ pun memungkinkan pertukaran pengalaman dan peningkatan mutu secara kolektif.

Dengan mengusung prinsip “Belajar Al-Qur’an dengan Gembira dan Terarah”, metode An-Nahdliyah menjadi pilihan tepat bagi TPQ dalam menanamkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an. Di tengah tantangan zaman dan perkembangan teknologi, pendekatan pembelajaran yang adaptif namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisi seperti ini menjadi kunci dalam menjaga generasi Qur’ani yang cerdas, santun, dan cinta tanah air. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Padukuhan Sedogan Belajar dari Kesuksesan Kampung Iklim Kuwang

Sleman – Padukuhan Sedogan menggelar kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan lingkungan sebagai upaya mendukung Program Kampung Iklim (ProKlim) nasional, Senin (4/8/2025). Acara yang berlangsung di Aula Kalurahan Lumbungrejo ini menghadirkan praktisi sukses dari Padukuhan Kuwang, peraih Juara 1 Kampung Iklim Kabupaten Sleman yang sedang dinilai sebagai calon penerima penghargaan tingkat nasional.

Dukuh Kuwang, Yosafat, berbagi pengalaman tentang bagaimana menggerakkan partisipasi warga dalam pengelolaan limbah rumah tangga, sedekah sampah, dan penghijauan lingkungan. “Kesadaran lingkungan harus tumbuh dari hal kecil seperti pemilahan sampah, pemasangan biopori, dan penanaman pohon, kemudian berkembang menjadi gerakan bersama,” jelasnya.

Suratman, Sekretaris Padukuhan Kuwang, menekankan pentingnya administrasi yang rapi sebagai kunci keberhasilan program.

“Empat dokumen wajib yaitu undangan, daftar hadir, notulen, dan dokumentasi harus selalu disiapkan. Administrasi yang baik akan memudahkan proses verifikasi,” tegasnya.

Warga Sedogan menyambut antusias kegiatan ini. Setiyanto, pengurus Kampung Iklim Sedogan, berharap ilmu yang didapat dapat diterapkan untuk meningkatkan status kampung mereka. “Kami ingin Sedogan menjadi Kampung Iklim yang mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.

Kegiatan ditutup dengan penyusunan rencana tindak lanjut, termasuk penguatan kelompok kerja ProKlim dan pelatihan lanjutan tentang pengelolaan sampah dan konservasi air. (Aiss/KIM Ceria Lumbungrejo, Tempel)




24 Kepala Sekolah Muhammadiyah Sleman Ikuti Forum Evaluasi Pendidikan

Sleman – Sebanyak 24 kepala SMA/SMK/MA/SLB Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman mengikuti kegiatan Evaluasi dan Refleksi Pendidikan Muhammadiyah yang digelar Majelis Dikdasmen-PNF PWM DIY di UMY Student Dormitory, Selasa (5/8/2025) . Forum ini menjadi kelanjutan Program Pendidikan Khusus Kepala Sekolah Muhammadiyah (Diksuspala) untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan pendidikan.

Kegiatan bertujuan mengevaluasi kebijakan pendidikan, efektivitas manajerial sekolah, serta merancang inovasi yang relevan dengan tantangan zaman. Muhammad Ikhwan Ahada, Ketua PWM DIY, menegaskan keunggulan sebagai inti pendidikan Muhammadiyah.

“Unggul bukan sekadar baik, tapi harus menjadi yang terbaik. Ini tercermin dalam konsep khair di Al-Qur’an yang menuntut selektivitas, komparasi, dan kompetisi,” tegas Ikhwan. Ia menekankan pentingnya kualitas lulusan, tata kelola, sarana memadai, dan sistem penjaminan mutu sebagai prasyarat keunggulan.

Achmad Muhammad, Ketua Majelis Dikdasmen-PNF PWM DIY, menambahkan peran kepala sekolah sebagai agen perubahan. “Kepala sekolah harus aktif membangun kolaborasi, bukan hanya mengurus administrasi. Ta’awun (gotong royong) dan inovasi adalah kunci menjawab tantangan pendidikan,” ujarnya seraya mengutip keteladanan K.H. Ahmad Dahlan.

Forum menghadirkan sesi berbagi praktik baik dari para praktisi, termasuk Hery Nugroho (Kepala SMA Muh 1 Yogyakarta) dan Sigit Rahmadiantoro (Kepala SMK Muhammadiyah Prambanan). Kegiatan ini diharapkan memperkuat sinergi antarsekolah Muhammadiyah dalam mewujudkan pendidikan Islam yang berkemajuan. (Athiful/KIM Depok)




Lima Pelajar SMP dari Sleman Siap Harumkan Nama Daerah di OSN Tahun 2025 Tingkat DIY

Sleman – Lima pelajar terbaik tingkat SMP dari Kabupaten Sleman resmi ditetapkan sebagai duta daerah dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2025 Cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harapan dan doa agar seluruh proses berjalan lancar serta membuahkan hasil terbaik disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, di Kantor Dinas Pendidikan Sleman pada Senin (4/8/2025).

“Semoga seluruh tahapan dapat berjalan lancar dan hasilnya bisa membanggakan. Kita semua berharap yang terbaik bagi anak-anak yang akan berjuang membawa nama baik Sleman di tingkat provinsi,” ujarnya.

Kelima siswa yang mewakili Sleman dalam ajang OSN cabang IPA tingkat provinsi tersebut merupakan hasil seleksi ketat dari berbagai sekolah dan telah menunjukkan capaian akademik yang menonjol dalam bidang IPA.

Mereka adalah Alman Mustanir Suwadana (SMP Islam Al-Azhar 26 Yogyakarta), Dimas Restu Kunarseto (SMP Negeri 4 Depok), Ksatria Tegar Adi Pamungkas Wicaksana (SMP Negeri 4 Kalasan), Sulthan Adam Putra Arkana (SMP Negeri 4 Pakem), dan Kayyisa Azkiya Maulida (MTSS Sunan Pandanaran).

Kelima peserta ini akan mengikuti babak tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada 13–14 Agustus 2025, dan menjadi bagian dari proses seleksi menuju tingkat nasional.

Pembina OSN IPA Kabupaten Sleman, Dr. Tsania Nur Diyana, turut menyampaikan harapan besarnya kepada para peserta. Ia menekankan pentingnya kesiapan mental dan intelektual dalam menghadapi tantangan olimpiade.

“Kami berharap para siswa bisa tampil maksimal, tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga semangat belajar dan karakter yang kuat. Ini bukan sekadar lomba, tapi bagian dari pembentukan generasi ilmuwan muda Indonesia,” ujarnya.

Kesiapan dan pendampingan terus dilakukan oleh tim pembina guna memastikan peserta tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga mampu mengelola tekanan dan kompetisi di tingkat provinsi.

“Dinas Pendidikan Sleman, bersama para guru dan pembina, berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh selama proses persiapan hingga pelaksanaan,” ungkap Dosen Departemen Pendidikan Fisika UNY tersebut.

Dengan semangat kolaboratif antara dinas, sekolah, pembina, dan keluarga, diharapkan Sleman mampu mencetak prestasi membanggakan dan melangkah ke panggung nasional, membawa nama baik Kabupaten Sleman di kancah pendidikan sains Indonesia. (Athiful/KIM Depok)