Warga Sardonoharjo Bersatu dalam Gerakan Bersih Sungai “Resik-Resik Kali”

Sleman – Ratusan warga Padukuhan Turen, Sardonoharjo menunjukkan kepedulian lingkungan melalui gerakan bersih sungai “Resik-Resik Kali” di Kali Pelang. Kegiatan yang digelar Minggu (3/8) ini menjadi bukti nyata semangat gotong royong masyarakat dalam menjaga kelestarian alam.

Lurah Sardonoharjo Harjuno Wiwoho, membuka acara dengan penekanan pada pentingnya sungai sebagai sumber kehidupan.

“Sungai yang bersih mencerminkan masyarakat yang berbudaya lingkungan. Hari ini kita bukan sekadar membersihkan, tapi meneguhkan komitmen untuk masa depan anak cucu,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan ini menjadi tradisi berkelanjutan, bukan hanya seremonial belaka.

Samsudin, Koordinator Acara dari Karang Taruna Dharma Satria Nusnatara menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ekosistem sungai. “Kami ingin mengajak semua lapisan masyarakat berperan aktif mengurangi pencemaran air,” jelasnya.

Peserta yang terdiri dari berbagai usia terlihat antusias membersihkan sampah plastik, ranting, dan lumpur dari aliran sungai. Selain aksi bersih-bersih, panitia juga memberikan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga untuk mencegah pembuangan limbah ke sungai.

Acara yang berlangsung sejak pukul WIB ini semakin meriah dengan pembagian doorprize berupa peralatan rumah tangga. Pemerintah Kalurahan berharap kegiatan ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga memperkuat persaudaraan antarwarga.

Gerakan Resik-Resik Kali menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dapat menciptakan perubahan positif bagi lingkungan. Dengan semangat gotong royong, warga Sardonoharjo membuktikan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. (ESK – KIM DSN NGAGLIK)




Donor Darah Warnai Perayaan HUT RI ke-80 di Perumahan Sleman

Sleman – Semangat kemerdekaan diwujudkan warga Perumahan Puri Margomulyo Asri (PMA) Jamblangan, Margomulyo, Sleman melalui kegiatan bakti sosial donor darah. Acara yang digelar di Serambi Masjid At Taufiq PMA ini berhasil mengumpulkan 25 pendonor dari 37 calon yang mendaftar.

Sutarto Agus, Ketua RW 028 PMA, mengungkapkan kebanggaannya atas antusiasme warga. “Ini pertama kalinya kami menyelenggarakan donor darah di perumahan ini. Kami melakukan berbagai upaya sosialisasi untuk mengajak partisipasi warga,” ujarnya. Strategi yang dilakukan termasuk menyebarkan informasi ke institusi pendidikan mulai dari PAUD hingga SMK, serta memanfaatkan pengumuman di masjid-masjid sekitar.

Beni Sujendro, Ketua PMI Seyegan yang hadir mendampingi kegiatan, memberikan apresiasi atas inisiatif warga. “Kami sangat mendorong kegiatan seperti ini, terutama untuk menjaring pendonor pemula. PMI bahkan rutin mengadakan donor darah di sekolah-sekolah menengah,” jelas Beni. Ia menyarankan agar kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin enam bulan atau setahun sekali di PMA.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud nyata semangat gotong royong di hari kemerdekaan, tetapi juga membantu mengatasi masalah kekurangan stok darah di Kabupaten Sleman. Sutarto mengungkapkan bahwa data pendonor beserta golongan darahnya telah didokumentasikan dengan rapi. “Ini memudahkan kami jika suatu saat ada kebutuhan darah darurat,” tambahnya.

Keberhasilan acara ini membuka peluang untuk melibatkan generasi muda lebih aktif. Sutarto berharap kedepannya Karang Taruna bisa mengambil alih penyelenggaraan, sekaligus menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada remaja. “Kami juga berencana membuat konten TikTok untuk menarik minat generasi muda menjadi pendonor,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Jurnalis Diajak Jadi Agen Perubahan dalam Pelestarian Sumber Daya Air

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menggandeng Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman untuk melatih puluhan jurnalis dalam program “Jurnalis Tangguh Bencana” di Taman Wisata Alam Air Panas Cangar, Sabtu (2/8/2025). Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman media tentang pengelolaan sumber daya air sebagai bagian dari mitigasi bencana.

Sri Wahyuningsih, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, memaparkan inovasi sistem pengelolaan air hujan kepada jurnalis dari kelompok kerja Grahadi dan Indrapura. “Kami memperkenalkan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) sebagai solusi pemenuhan kebutuhan air bersih sekaligus mengurangi eksploitasi air tanah,” jelasnya.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik langsung teknologi pengolahan air hujan. Wahyuningsih mendemonstrasikan proses elektrolisis air yang mampu memisahkan air menjadi dua jenis – air basa untuk konsumsi dan air asam yang bermanfaat sebagai obat luar. “Air asam hasil elektrolisis efektif untuk mengatasi radang tenggorokan, sakit gigi, dan sariawan,” tambahnya.

Pelatihan ini menekankan peran strategis jurnalis dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sumber daya air. “Jurnalis harus mampu tidak hanya melaporkan bencana, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pencegahan dan solusi berkelanjutan,” tegas Wahyuningsih.

Para peserta juga terlibat langsung dalam aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menanam berbagai bibit pohon produktif seperti durian, jambu air, dan mangga di kawasan wisata. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keragaman hayati sekaligus mencegah erosi tanah.

Program ini diharapkan dapat mencetak jurnalis yang tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga agen perubahan dalam pelestarian sumber daya alam. “Dengan pemahaman yang baik tentang mitigasi bencana, jurnalis dapat menyajikan berita yang tidak hanya informatif tetapi juga inspiratif,” pungkas Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Warga Sleman Hidupkan Kembali Tradisi Merti Mbelik untuk Jaga Kelestarian Air

Sleman – Ratusan warga dari tiga dusun di Padukuhan Ngalangan, Kalurahan Sardonoharjo, Kabupaten Sleman menggelar tradisi Merti Mbelik sebagai bagian dari rangkaian Merti Padukuhan Ngalangan Tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung Minggu (3/8/2025) ini menjadi wujud nyata pelestarian lingkungan melalui kearifan lokal dengan membersihkan dan merawat tiga sumber mata air utama di wilayah tersebut.

Kepala Dukuh Ngalangan, Indra Gunawan, menjelaskan bahwa tradisi tahunan ini merupakan warisan leluhur yang terus dilestarikan.

“Merti Mbelik bukan sekadar kegiatan bersih-bersih, tapi bentuk tanggung jawab kami terhadap keberlanjutan sumber air bersih dan pelestarian budaya,” ujarnya.

Tiga sumber air yang dibersihkan secara gotong royong meliputi Mbelik Gayam di Dusun Ngalangan, Mbelik Slamet di Dusun Baransari, dan Mbelik Cuwo di Dusun Rejosari.

Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, ibu-ibu PKK, karang taruna, hingga anak-anak. Tradisi Merti Mbelik tidak hanya memperkuat nilai kebersamaan warga, tetapi juga menjadi bukti komitmen Ngalangan dalam menjaga lingkungan. Prestasi ini tercermin dari keberhasilan Ngalangan meraih juara ketiga Lomba Kampung Hijau Kabupaten Sleman tahun ini sebagai perwakilan Kapanewon Ngaglik.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan urbanisasi di wilayah dengan kepadatan penduduk mencapai lebih dari jiwa di Kecamatan Ngaglik, tradisi Merti Mbelik menjadi penanda pentingnya menjaga keseimbangan alam. Kegiatan ini diharapkan dapat terus memupuk kesadaran masyarakat akan pelestarian lingkungan, khususnya sumber daya air yang semakin kritis. (Andy Ahmad AZ – KIM DSN Ngaglik)




Gotong Royong Petani dan Pemerintah Wujudkan Jalan Tani di Sleman

Sleman – Suasana khas pedesaan yang tenang di Padukuhan Candi Karang, Sardonoharjo, Minggu (3/8/2025) berubah menjadi semarak dengan digelarnya kenduri pembukaan Jalan Tani. Acara yang dihadiri puluhan petani dan perangkat desa ini menjadi bukti nyata sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam membangun infrastruktur pertanian.

Ulu-Ulu Kalurahan Sardonoharjo, Anang Setiawan, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada para petani yang telah merelakan sebagian lahannya untuk pembangunan jalan. “Ini bukan sekadar soal akses transportasi, melainkan investasi untuk masa depan pertanian kita,” ujarnya di tengah hamparan sawah yang mulai menguning.

Prosesi dimulai dengan doa bersama yang dipimpin Rois setempat, memohon kelancaran pembangunan dan keberkahan hasil pertanian. Pemerintah Kalurahan turut memberikan bantuan logistik dan operasional alat berat sebagai bentuk dukungan konkret terhadap inisiatif warga.

Anang menegaskan bahwa dukungan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah desa untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan. “Bantuan kami mungkin kecil, tapi yang terpenting adalah semangat gotong royong yang telah ditunjukkan warga,” tambahnya.

Setelah prosesi kenduri, alat berat langsung memulai pengerukan jalur jalan. Antusiasme petani terlihat ketika mereka turut serta membersihkan semak dan mengarahkan jalur pembangunan. Suara mesin bego yang menggelegar menjadi penanda dimulainya pembangunan infrastruktur yang akan memudahkan distribusi hasil pertanian.

Pembangunan jalan tani ini diharapkan dapat mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan efisiensi pengangkutan hasil panen. Lebih dari itu, acara ini telah memperkuat ikatan sosial warga dan menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan berbasis masyarakat dapat terwujud.

“Kami yakin langkah kecil hari ini akan membawa dampak besar bagi kesejahteraan petani di masa depan,” pungkas Anang menutup acara yang dihadiri kelompok tani setempat, tokoh masyarakat, dan perangkat desa ini. (ESK – KIM DSN NGAGLIK)