UPY Terapkan Metode Asesmen untuk KKN Berdampak Nyata di Masyarakat Sleman

Sleman – Sebelum melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), 12 mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) melakukan asesmen mendalam di Padukuhan Sukunan, Kalurahan Banyuraden, Sleman. Langkah ini bertujuan memastikan program KKN benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Afrida Firdausi (Teknik Biomedis) dan Syarifatul Muawinati (Gizi) selaku perwakilan mahasiswa menyatakan nahwa Asesmen ini penting untuk memahami karakter dan kebutuhan warga sebelum menyusun program kerja. Mereka berkoordinasi dengan Komunitas Kekandhangan Banyuraden sebagai mitra lokal.

Adnan Iman Nurtjahjo, Sekretaris Komunitas Kekandhangan, mengapresiasi pendekatan ini.

“KKN UPY berbeda karena diawali dengan pemetaan kebutuhan. Ini menjamin program lebih tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.

“Komunitas siap memfasilitasi mahasiswa berinteraksi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama hingga kelompok UMKM,” tambah Adnan.

Melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam, mahasiswa mengidentifikasi tiga fokus program yaitu penguatan UMKM lokal, Pendampingan pendidikan anak usia dini, dan edukasi lingkungan berkelanjutan

Aryo Tejo, Koordinator Mitigasi Satwa, menekankan nilai edukasi dari proses ini.

“Mahasiswa belajar bahwa pengabdian masyarakat membutuhkan empati, bukan hanya teori akademik,” jelasnya.

Pendekatan partisipatif ini menciptakan hubungan kolaboratif antara mahasiswa dan warga. “Kami merasa dihargai karena program benar-benar berdasarkan kebutuhan kami,” tutur salah satu warga Sukunan.

Metode asesmen mendalam ini diharapkan dapat menjadi standar pelaksanaan KKN di berbagai perguruan tinggi. Keberhasilan KKN seharusnya diukur dari dampak berkelanjutan, bukan sekadar jumlah kegiatan.

UPY menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan KKN yang transformatif melalui pendekatan berbasis kebutuhan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)




Klinik ‘Aisyiyah Panggeran Resmi Beroperasi, Perkuat Akses Kesehatan Masyarakat Sleman

Sleman – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan resmi membuka Klinik Pratama ‘Aisyiyah Panggeran di Kalurahan Triharjo, Sleman, Jumat (1/8/2025). Peresmian klinik ini dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrohman, yang menekankan pentingnya kesadaran kesehatan berbasis medis.

Dalam tausiyahnya, Agus mengutip hadis Nabi tentang pentingnya menjaga kesehatan dan waktu luang. “Dua nikmat yang sering dilalaikan manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Keduanya modal utama membangun peradaban,” ujarnya. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berobat ke tenaga kesehatan profesional, bukan mengandalkan pengobatan non-ilmiah.

Agus menceritakan kontribusi Muhammadiyah di bidang kesehatan sejak 1919, dimulai dari relawan kebencanaan saat Gunung Kelud meletus. “Pada 1923, klinik sederhana didirikan di Notoprajan, Yogyakarta, sebagai cikal bakal PKU Muhammadiyah,” jelasnya.

Warsiti, Ketua Majelis Kesehatan ‘Aisyiyah sekaligus Rektor UNISA Yogyakarta, menyatakan klinik ini diharapkan menjadi pusat transformasi sosial. “Tidak hanya untuk berobat, tapi juga edukasi hidup sehat, gizi, dan kesehatan mental,” tegasnya.

Sementara itu, Widiastuti, Ketua PWA DIY, menekankan pentingnya tata kelola klinik yang profesional. “Manajemen harus tertib, pelayanan prima, dan berpihak pada masyarakat kecil,” ucapnya.

Agung Armawanta, Asisten Sekda Sleman Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, mengapresiasi kehadiran klinik ini. “Ini memperluas akses kesehatan yang terjangkau dan inklusif,” katanya. Ia berharap klinik dapat bersinergi dengan fasilitas kesehatan lain di Sleman.

Acara ini juga dihadiri oleh Ketua PDA Sleman Hanik Rosyada, Kadinkes Sleman Cahya Purnama, Dekan FKIK UMY Arlina Dewi, serta unsur Forkopimka Sleman. (Athiful/KIM Depok)




DMI Sleman dan BPJS Ketenagakerjaan Sosialisasikan Program Jaminan Sosial bagi Takmir Masjid

Sleman – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan dan Bank Syariah Indonesia (BSI) menggelar sosialisasi program jaminan sosial ketenagakerjaan bagi para pengurus masjid. Kegiatan ini digelar Jumat (1/8) di Pendopo Puspadenta, Kantor Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman.

Acara ini bertujuan meningkatkan partisipasi takmir, imam, muadzin, dan marbot dalam program BPJS Ketenagakerjaan. Saat ini, sebanyak orang dari 274 masjid di Sleman telah menjadi peserta aktif. Khusus di Kapanewon Depok, terdapat 197 peserta dari 17 masjid.

Basuki, perwakilan DMI Kabupaten Sleman, menyatakan bahwa pendanaan iuran BPJS Ketenagakerjaan untuk tahap awal masih bersumber dari kas masjid.

“Kami bersama pemerintah daerah sedang berupaya agar ke depan biaya iuran bisa dibantu melalui APBD, seperti insentif untuk RT/RW atau petugas parkir,” ujarnya.

Ketua DMI Kapanewon Depok, Muhammad Suryadi, menambahkan bahwa sosialisasi di Kalurahan Caturtunggal menjadi penutup rangkaian kegiatan di wilayah tersebut.

Acara juga diisi dengan penyerahan simbolis manfaat BPJS Ketenagakerjaan kepada ahli waris oleh Penjabat Lurah Caturtunggal. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya perlindungan jaminan sosial bagi para pengurus masjid yang telah berdedikasi melayani masyarakat.

Peserta sosialisasi mendapatkan penjelasan mengenai manfaat program, mekanisme klaim, serta rincian iuran. BPJS Ketenagakerjaan menawarkan pilihan dua hingga empat program dengan iuran mulai dari hingga per bulan, mencakup jaminan kecelakaan kerja, kematian, hari tua, dan pensiun. (Oktaviana/KIM Depok)




Gladhi Karawitan Lansia Banyuraden demi Lestarinya Budaya Jawa

Sleman – Sebagai sarana pelestarian budaya lokal yang melibatkan langsung para lansia sebagai pelaku utama, Layanan Lansia Terintegrasi Kalurahan Banyuraden menggelar gladhi karawitan khusus lansia yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Sleman, Jumat (1/8/2025).

Melalui latihan karawitan yang dipandu Ki Damar Asmoro Sejati dari Sanggar Widya Pramana, para lansia diberikan ruang untuk mengekspresikan diri, sekaligus mempertahankan identitas budaya Jawa di tengah arus modernisasi.

Gladhi karawitan terbukti mampu memberikan efek relaksasi, meningkatkan rasa percaya diri, serta mempererat hubungan sosial antarsesama peserta. Dengan mengikuti latihan secara rutin, para lansia merasa dihargai dan kembali memiliki peran sosial yang bermakna di masyarakat.

Ini menjadi bentuk pendekatan holistik terhadap pelayanan lansia yang tidak hanya menekankan aspek kesehatan fisik, tetapi juga mental dan sosial. Hal tersebut diungkapkan oleh Manajer Operasional Layanan Lansia Terintegrasi Kalurahan Banyuraden, Sayekti Rahayu.

Selain itu, kegiatan yang melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas PGRI Yogyakarta ini mendukung upaya pemberdayaan lansia melalui pendekatan berbasis potensi lokal. Sekaligus meningkatkan kesejahteraan psikologis dan emosional lansia. Sehingga dapat menjadi contoh nyata bahwa pemberdayaan lansia dapat dilakukan dengan cara yang kontekstual, berbasis budaya, dan memiliki dampak jangka panjang.

Pelatihan seni karawitan diikuti oleh puluhan lansia yang berasal dari delapan padukuhan se-Kalurahan Banyuraden yaitu Banyumeneng, Kanoman, Dukuh, Somodaran, Kaliabu, Dowangan, Sukunan, dan Modinan sebagai penjaga nilai-nilai tradisional yang masih relevan untuk diwariskan.

Ketika lansia memainkan alat gamelan dengan penuh ketekunan, itu memberi pesan kuat bahwa budaya adalah sesuatu yang perlu dijaga bersama, bukan sekadar konsumsi hiburan. Interaksi antar generasi yang tumbuh dari kegiatan ini sangat penting untuk kesinambungan budaya lokal.

Mengikuri gladhen karawitan menjadi terapi alami yang menyenangkan bagi lansia. Lewat irama musik gamelan dapat menenangkan pikiran, menyegarkan suasana hati, dan merangsang kerja otak. Dengan kata lain, karawitan adalah seni yang juga berfungsi sebagai sarana pemulihan psikologis.

Aktivitas ini mendorong lansia untuk tetap memiliki mobilitas sosial dan membangun relasi yang sehat. Sewaktu latihan karawitan, mereka terlibat dalam diskusi, belajar bersama, dan bekerja dalam tim. Hal ini membangun semangat kolektif dan rasa saling memiliki di antara sesama lansia.

“Semangat gotong royong yang tumbuh dari latihan ini bisa menjadi contoh bagi lingkungan sosial yang lebih luas,” ucap Sayekti.

Melalui kegiatan ini, pihaknya ingin menunjukkan bahwa pendekatan berbasis budaya lebih efektif dalam menjangkau dan melibatkan lansia ketimbang pendekatan birokratis semata. Seni, khususnya karawitan, menjadi bahasa yang dekat dan akrab bagi generasi tua. Dengan begitu, program ini bisa menjangkau lebih banyak lansia dan meningkatkan partisipasi aktif mereka dalam kehidupan desa.

“Dengan menjadikan seni karawitan sebagai sarana pemberdayaan lansia, Banyuraden tidak hanya menjaga nilai-nilai budaya, namun juga membangun masyarakat yang inklusif, sehat, dan bermartabat, di mana setiap usia punya ruang untuk tumbuh dan berkontribusi,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Resmi Dilantik, PJ Lurah Maguwoharjo Komitmen Emban Amanah Penuh Tanggung Jawab

Sleman – Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok melangsungkan proses pelantikan dan serah terima jabatan dari Pelaksana Tugas (Plt) Lurah kepada Penjabat Lurah (PJ) Lurah Maguwoharjo, Jumat (1/8/2025).

Pelantikan yang berlangsung khidmat ini diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan doa bersama. Acara dilanjutkan dengan pembacaan surat keputusan pemberhentian Plt. Lurah Maguwoharjo, Heri Santoso, serta pengangkatan Penjabat Lurah baru, Muhammad Falaq Susanto, yang juga menjabat sebagai Penewu Anom Kapanewon Depok.

Proses pengukuhan dilakukan langsung oleh Panewu Depok, Djoko Muljato, disaksikan sejumlah unsur pimpinan daerah, di antaranya perwakilan dari Setda Sleman, lurah se-Kapanewon Depok, BPKal Maguwoharjo, Babinsa, Puskesmas Depok 1, serta staf kalurahan dan unsur masyarakat lainnya.

Heri Santoso dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan permohonan maaf atas segala kekurangan selama menjabat sebagai Plt. Lurah Maguwoharjo. Ia telah menjabat sebagai Plt. Lurah Maguwoharjo selama kurang lebih satu tahun tujuh bulan.

“Saya sampaikan terima kasih dan permohonan maaf bila selama menjalankan tugas masih banyak kekurangan, baik kegiatan yang sudah ataupun belum terlaksana,” katanya.

Sementara itu, PJ Lurah Maguwoharjo terlantik, Muhammad Falaq Susanto dalam sambutannya mengungkapkan tekad untuk mengemban amanah dengan penuh tanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya program ketahanan pangan yang menjadi fokus pemerintah pusat.

“Saya sampaikan terima kasih atas amanah yang diberikan. Salah satu program yang akan menjadi fokus sesuai yang diamanahkan oleh pemerintah pusat adalah ketahanan pangan,” tutur Falaq.

Kegiatan ini diakhiri dengan penyerahan berita acara serah terima jabatan, sebagai simbol peralihan kepemimpinan secara resmi dan tertib.

Peserta yang hadir tampak antusias dan berbahagia menyambut dilantiknya Penjabat Lurah Maguwoharjo yang baru. Mereka berharap kepemimpinan baru ini dapat membawa kemajuan nyata bagi kalurahan. (Andri Sheva P – KIM Depok)