Dorong UMKM Naik Kelas, Pelaku Usaha Ikuti Program Inkubator PUPM 2025

Sleman – Sebanyak 25 pelaku UMKM Kalurahan Caturtunggal mengikuti program Inkubator Kewirausahaan (PUPM) 2025 yang berlangsung selama tiga hari, mulai 26 hingga 28 Agustus 2025, di LPP Convention Hotel, Demangan, Sleman.

Kegiatan ini merupakan program dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kabupaten Sleman yang bekerja sama dengan Ibisma Universitas Islam Indonesia (UII) sebagai fasilitator. Inkubator kewirausahaan ini diharapkan mampu mendorong UMKM naik kelas dengan peningkatan kapasitas usaha, manajemen, hingga strategi pemasaran digital.

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi Sleman didampingi Penjabat (PJ) Lurah Caturtunggal Feri Ferdian.

 “Melalui program ini, kami ingin UMKM di wilayah Caturtunggal memiliki daya saing lebih kuat dan mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi,” ujar Feri, Selasa (26/8/2025).

Selama tiga hari, peserta mendapatkan berbagai materi antara lain Manajemen Operasional dan SDM, Halal Bisnis, Business Model Canvas, Manajemen SOP, Digital Marketing, hingga Fotografi Produk.

Adapun narasumber yang dihadirkan berasal dari akademisi, praktisi, dan pakar kewirausahaan, termasuk Muchamad Sugarindra, Sani Rachman Soleman, Bagus Panuntun, Hilari Dwi Desuari, Anggia Pitaloka, serta praktisi fotografi Ahmad Fauzi.

Selain pelatihan, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan program pendampingan intensif oleh Ibisma-UII agar para peserta dapat langsung mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam pengelolaan usaha mereka.

Kepala Dinas Koperasi, UKM Kabupaten Sleman diwakili oleh Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi Sleman, Sri Wahyuni Budiningsih menyampaikan bahwa program ini merupakan salah satu langkah nyata pemerintah dalam mendorong pertumbuhan UMKM.

 “UMKM di Sleman memiliki potensi besar, sehingga perlu difasilitasi agar bisa berkembang lebih profesional, kreatif, dan berkelanjutan,” jelasnya.

Dengan kuota terbatas hanya 25 peserta, kegiatan inkubator ini diharapkan menjadi model pembinaan UMKM yang lebih efektif. Sehingga pelaku usaha tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan pendampingan berkelanjutan. (Oktaviana / Kim Depok)




Umbul Puja Mantra #2 Jadi Momen Dekatkan Diri pada Tuhan dan Alam

Sleman – Paguyuban Srawung Paseduluran Anggoro Kasih gelar ritual kebudayaan Umbul Puja Mantra #2, Selasa (26/8/2025) di Candi Kedulan Tamanmartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Anggoro Kasih atau Selasa Kliwon bagi masyarakat Jawa merupakan hari yang wingit (suci atau keramat) dan sakral. Pasalnya, momen itu dianggap sebagai waktu yang tepat untuk mendekatkan diri pada Tuhan, dan menyatu dengan alam melalui ajaran dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Berdasarkan hal tersebut, Paguyuban Budaya Anggoro Kasih bersama Satuan Team Anti Kriminal (STAK), memilih Selasa Kliwon malam Rabu legi untuk melakukan ritual Umbul Kidung Puja Mantra kedua. Adapun tema yang diusung adalah ‘Garuda Amurwa I Bhumi Nusantara’.

Ritual ini diikuti oleh para pemerhati dan pelaku budaya, serta pelaku spiritual dari berbagai komunitas.

Ketua Budaya Sleman, Untung mengungkapkan ritual tersebut muncul akibat adanya kegelisahan para pelaku spiritual atas kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat bawah.

“Ketika logika tidak bisa menjangkau, maka jalan spirituallah yang akan menuntun segalanya. Alam yang akan mengatur kehidupan,” ungkapnya.

Candi Kedulan pun dipilih sebagai tempat pelaksanaan ritual. Hal itu dikarenakan Candi Kdulan merupakan istana tempat singgah Bathara Syiwa Syang penjaga alam semesta. Selain lokasinya yang masih sunyi, candi tersebut juga belum menjadi destinasi wisata yang ramai.

“Kekuatan vibrasi yang tersembunyi masih sangat kuat sehingga lantunan Kidung Puja Mantra laku doa tepat dilakukan, bisa menyatu dengan semesta. Melalui Tuah dan Tulah Bathara Syiwa, kita bermohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk kebaikan bangsa Indonesia,” ujar Untung.

Ritual dimulai dengan lantunan Umbul Kidung Puja Mantra dengan iringan gender yang menambah sakral suasana. Prosesi dilanjutkan dengan penyatuan air dari berbagai sumber diseluruh Nusantara. Tanah juga diambil dari penjuru nusantara.

perwakilan Srawung Paseduluran Anggoro Kasih, Gede Mahesa menjelaskan nantinya air tersebut akan disatukan dengan air dan tanah yang berasal dari Candi Kedulan. Prosesi penyatuan pun akan berlangsung di pelataran Candi Kedulan. Puncak ritual adalah pembakaran Wayang Dasamuka yang merupakan simbol pembakaran sengkala atau singkir Sengkala.

“Kegiatan berakhir dengan pembagian Gunungan Palawijen yaitu gunungan yang berisi berbagai hasil bumi, dan akan diperebutkan para peserta dan tamu undangan. Selanjutnya dilakukan acara ramah tamah,” kata Gede Mahesa.  (Kusnadi / KIM Berbah)




Singkong Mendunia Menembus Batas Rasa: Upaya TP PKK Kabupaten Sleman Tingkatkan Potensi Ekonomi Singkong

Sleman – Tim Penggerak PKK Kabupaten Sleman menyelenggarakan lomba olahan pangan berbahan dasar singkong pada Senin (26/08), di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kabupaten Sleman.

Sebanyak 34 peserta perwakilan TP. PKK Kapanewon se-Kabupaten Sleman unjuk gigi menampilkan olahannya, dengan rincian 17 peserta untuk olahan basah dan 17 peserta untuk olahan kering.

Mengusung tema “Singkong Mendunia Menembus Batas Rasa”, lomba ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengolah singkong, mengingat singkong merupakan komoditas pertanian yang banyak ditemui di Kabupaten Sleman.

Kriteria penilaian meliputi cita rasa, penataan, display, komposisi dan kebersihan. Selanjutnya akan diambil juara I-IV melalui penjurian oleh dewan juri yang berasal dari  akademisi, praktisi, pelaku kuliner serta TP. PKK Kabupaten Sleman.

Mewakili Bupati Sleman, Sekda Kabupaten Sleman menyampaikan lomba ini tak hanya untuk mengembangkan inovasi dalam pengolahan singkong, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan nilai ekonomi agar singkong menjadi panganan dan camilan premium.

“Singkong merupakan potensi lokal yang mempunyai potensi ekonomi besar, baik sebagai bahan maupun industri. Di samping itu singkong memiliki peran penting dalam ketahanan pangan sebagai bahan alternatif selain beras dan jagung. Oleh karenanya melalui lomba ini diharapkan kreativitas masyarakat bisa meningkat dan singkong juga menjadi bahan pangan lokal yang berkelanjutan,” tutur Susmiarto.

Santi Tresnowati, salah satu peserta dari Kapanewon Depok menyampaikan bahwa lomba olahan singkong ini bisa meningkatkan inovasi pengolahan makanan dengan pemanfaatan bahan pangan yang ada di sekitar.

“Kita bisa memanfaatkan bahan yang ada di sekitar kita tanpa perlu modal bahan yang mahal. Melalui lomba ini juga kita bisa mengolah bahan pangan itu sesuai dengan keinginan putra-putri atau keluarga kita di rumah serta bisa dijual juga,” ujar Santi.




BPN Sleman Serahkan 171 Sertifikat Tanah Kasultanan kepada Pemkab Sleman

Sleman – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Pertanahan Kabupaten Sleman menyerahkan 171 sertifikat tanah Hak Milik Kasultanan kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Selasa (26/8/2025). Penyerahan simbolis dilakukan di Pendopo Parasamya Kantor Sekretariat Daerah Sleman.

Kepala Kantor Pertanahan Sleman, Imam Nawawi, menegaskan bahwa penyerahan sertifikat ini merupakan bentuk tanggung jawab institusinya dalam menyelesaikan masalah tanah Kasultanan Ngayogyakarta dan aset pemerintah daerah.

“Ini amanah dan tanggung jawab kita semua untuk menyelesaikan aset-aset pemerintah,” ujarnya.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyambut positif penyerahan sertifikat tersebut. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian sertifikat.

“Sertifikat tanah bukan sekadar dokumen, tetapi bukti kepastian hukum atas hak kepemilikan tanah yang memberikan rasa aman dan melindungi dari potensi sengketa,” tegas Harda.

Harda juga berpesan kepada penerima sertifikat agar dapat memanfaatkan dokumen tersebut dengan baik dan sesuai peraturan perundang-undangan.

“Jangan sampai sertifikat yang sudah diperoleh justru menimbulkan persoalan baru,” imbuhnya.

Sertifikat yang diserahkan terdiri dari 162 bidang tanah kalurahan/desa dan 9 bidang tanah Kasultanan (Sultan Ground/SG) yang tersebar di 11 kapanewon (kecamatan) dan 19 kalurahan (desa) di wilayah Kabupaten Sleman.




Seyegan Perkuat Identitas Digital bagi Penerima Manfaat PKH

Sleman – Sebanyak 25 penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH) di Padukuhan Dukuh, Kalurahan Margoagung, Seyegan, mengikuti sosialisasi administrasi kependudukan dan pembuatan Identitas Kependudukan Digital (IKD) pada Selasa (26/8/2025). Kegiatan kolaboratif ini menghadirkan perwakilan dari Jawatan Umum Kapanewon Seyegan dan pendamping PKH setempat.

Siti Rohmah, Kepala Jawatan Umum Kapanewon Seyegan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari prestasi Padukuhan Dukuh sebagai juara 2 Kegiatan Sisir Adminduk tahun 2022.

“Tingkat kesadaran warga terhadap tertib administrasi kependudukan di sini cukup tinggi,” ujarnya.

Data Dukcapil menunjukkan masih terdapat kekurangan dokumen kependudukan yang perlu dilengkapi, antara lain 7 anak yang belum memiliki Kartu Identitas Anak (KIA), 10 Kartu Keluarga (KK) tanpa lampiran akta pernikahan, dan 11 KK tanpa akta cerai.

“Sasaran IKD adalah generasi muda yang aktif menggunakan android dan melek teknologi,” jelas Siti mengenai kriteria peserta yang diundang. Dari total 80 KPM PKH di wilayah tersebut, hanya 25 orang yang memenuhi kriteria untuk mengikuti sosialisasi IKD.

Dalam kesempatan tersebut, Siti juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjaga keamanan data digital.

“Jangan menanggapi pesan dari nomor tidak dikenal, meskipun menyertakan data identitas kita dengan benar, karena berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan,” pesannya.

Sukron, Pendamping PKH wilayah Margoagung, menambahkan bahwa penyaluran Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) masih dalam proses akibat migrasi penyaluran dana dari Kantor Pos ke sistem ATM.

“Beberapa penerima manfaat sudah menerima kartu ATM namun dananya belum terisi,” jelasnya.

Ke depan, Kalurahan Margoagung berencana mengadakan Safari Gerakan Indonesia Sadar Adminduk (Gisa) di setiap padukuhan untuk memudahkan warga melengkapi dokumen kependudukan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)